On This Day 2011, Gary Speed Akhiri Hidupnya

Backpass

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

On This Day 2011, Gary Speed Akhiri Hidupnya

Di penghujung November 2011, Gary Speed diundang ke studio BBC sebagai pundit untuk program Football Focus. Selepas acara, ia bersama dengan Alan Shearer pergi ke Manchester untuk menyaksikan bekas timnya, Newcastle United menghadapi Manchester United di Old Trafford. Pertandingan pun usai pukul lima sore, Speed pulang ke rumahnya di Cheshire, sekitar satu jam berkendara dengan mobil.

Esoknya, ia menggemparkan media Inggris.  Tubuhnya tergantung di garasi, disaksikan oleh Louise, istri yang dinikahinya pada 1996. Lousie jelas kaget. Ancamannya untuk bunuh diri ternyata bukan sekadar gurauan. Empat hari sebelumnya, Speed sempat mengirimkan pesan singkat pada Louise tentang ancaman bunuh diri. Baik Louise maupun Shearer, sahabat dekatnya, tidak tahu pasti motif apa yang membuat Speed mengakhiri hidupnya secara tragis.

Kematian Speed membuat kaget semua orang. Presenter Football Focus, Dan Walker, menuturkan bahwa tidak ada yang aneh saat Speed berkunjung ke studio BBC. Ia bahkan berjanji untuk kembali datang sebelum natal. “Dia dengan penuh semangat membicarakan mengenai masa depan. Tidak ada indikasi ke arah itu (bunuh diri),” kata Walker pada Telegraph.

Rekannya di timnas Wales, Robbie Savage, bercerita kalau Speed sempat hadir di program televisi yang ia pandu. “Dia begitu bersemangat saat bicara di telepon kemarin. Kami tertawa bersama. Sekitar tiga atau empat minggu lalu, ia datang ke acaraku. Ia duduk di bangku paling depan. Ia mencintai acara tersebut. Ia mencintai hidupnya. Ia mencintai keluarganya,” kata Savage.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, lewat juru bicaranya mengungkapkan rasa kesedihan yang mendalam atas kepergian Speed. Menurutnya, Speed dihormati oleh penggemar sepakbola di Inggris dan Wales sebagai pemain dan manager.

Kematian yang mengejutkan ini membuat diadakan penyelidikan mendalam. Coroner, atau orang yang menginvestigasi sebuah kasus tertentu, mengungkapkan tidak ada bukti yang jelas kalau Speed ingin mengakhiri hidupnya. Sementara itu, pihak kepolisian mengatakan kematian Speed tidak mencurigakan. Artinya, tidak ada dugaan pembunuhan atau motif lain atas kemaitan tersebut.

Speed merupakan salah satu pemain paling berpengaruh di Wales. Catatan bermainnya di Liga Inggris termasuk yang terbanyak setelah Ryan Giggs. Total, ia bermain sebanyak 677 kali dan mencetak 103 gol.

Awal karir Speed di sepakbola terbilang mengesankan. Bersama Leeds United, ia menjuarai Liga Inggris pada musim 1991/1992, setelah menjadi juara divisi dua pada dua musim sebelumnya. Pada 1993, Speed masuk dalam PFA Team of The Year. Di Leeds ia bermain 248 kali dan mencetak 39 gol. Pada musim 1996/1997 ia hijrah ke Everton dan bermain di sana selama dua tahun.

Speed pun pindah ke Newcastle United dan bermain di sana hingga tujuh musim. Ia bermain 213 kali dan mencetak 29 gol. Setelah di Newcastle, Speed pun bermain untuk Bolton Wanderers dan Sheffield United.

Pada awal 2011, Speed ditunjuk sebagai juru racik Wales. Ia berhasil mengangkat Wales dari peringkat 117 FIFA naik menjadi ranking 45 FIFA. Atas prestasi tersebut FIFA menganugerahi gelar “Best Mover” bagi Wales.

Selamat jalan Speed. Godspeed!

Sumber gambar: telegraph.co.uk

Komentar