Apa Kabar Liga 1 2019?

Nasional

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Apa Kabar Liga 1 2019?

Kita sudah tahu bahwa Liga 1 2019 akan terlambat mulai sejak pengujung musim lalu. Agenda politik nasional pada April ini memaksa aktivitas olahraga mengalah. Terakhir, PT Liga Indonesia Baru selaku operator liga Indonesia menyatakan kompetisi liga baru akan digelar pada 8 Mei. Rencananya, seluruh informasi akan resmi diumumkan pada awal April mendatang.

"Jadi, tinggal kami padukan dengan federasi terutama juga sekaligus dengan regulasi untuk Liga 1 dan Liga 2, karena itu saling berkaitan antara regulasi dengan jadwal, persyaratan pemain dan sebagainya, sehingga itu akan kami rilis berbarengan," ucap Direktur Utama Interim PT LIB, Dirk Soplanit, seperti yang dikutip Bola.net.

Awal April yang dimaksud Dirk Soplanit sebenarnya cukup ambigu. Batasan "awal bulan" jelas relatif. Tapi tentu kita harap jadwal tersebut bisa segera rilis sedini mungkin, benar-benar terjadi di awal April: antara 1 sampai 5 April.

Jika betul akan dirilis pada awal April, kerja cepat Dirk dan Gusti Randa (Komisaris PT LIB) patut diapresiasi. Barangkali, kemampuan ini yang membuat mereka dipercaya mengurus manajemen interim PT LIB. Bayangkan, berkat kerja cepat dua sosok tersebut, jadwal bisa tersusun hanya dalam tempo satu bulan sejak keduanya ditunjuk.

Perlu diketahui, PT LIB baru kehilangan banyak anggota direksi dan komisarisnya selepas Rapat Umum Pemegang Saham. Glenn Sugita (komisaris utama), Berlinton Siahaan (direktur utama), dan Irzan Pulungan (direktur) memutuskan mundur. Adapun Risha Adi Wijaya (CEO) dan Tigorshalom Boboy (COO) diberhentikan. Mengingat bahwa Dirk dan Gusti juga merangkap pekerjaan sebagai anggota Exco PSSI, mereka hendak menunjukkan kalau mereka kapabel untuk jabatan ini meski masyarakat menyangsikan.

Lupakan dulu kritik dari Ketua Umum Persipura Jayapura, Benhur Tomi Mano, yang merasa tidak pernah ada bahasan terkait pemecatan Tigor dan Risha dalam RUPS. Justru, kita yang harus maklum. PSSI tengah disibukkan oleh `kerja sama` dengan pihak kepolisian. Belum lagi undangan dari pelbagai media untuk menjadi narasumber, salah satunya bahkan sampai berjilid-jilid.

Menariknya, seluruh hal tersebut justru semakin menegaskan PSSI (selalu) gagap dalam menyiapkan kalender kompetisi jangka panjang. Pemimpin PT LIB dipilih oleh anggota Exco PSSI. Karut-marut yang terjadi dalam tubuh PT LIB pun menjadi sebuah pekerjaan rumah besar bagi PSSI.

Merilis jadwal hanya dengan jangka waktu sekitar satu bulan dari pelaksanaan jelas jauh dari kata ideal. Hal ini, salah satunya, terkait dengan kemungkinan terjadinya perubahan regulasi.

Berkaca pada dua musim pertama Liga Indonesia di bawah nama Liga 1, kita bisa melihat perubahan regulasi yang signifikan di setiap awal musimnya. Pada 2017, kita diperkenalkan dengan istilah Marquee Player sebagai jalan bagi klub untuk menambah kuota pemain asing.

Di tahun yang sama, setiap kesebelasan juga wajib menurunkan minimal tiga pemain U-23 sebagai starter di setiap pertandingan minimal selama 45 menit. Aturan ini diperhalus pada musim 2018. Setiap kesebelasan jadi `hanya` wajib mendaftarkan tujuh pemain U-23 di daftar skuat. Sedangkan istilah Marquee Player dihapus.

Diungkapkan atau tidak, manajemen dan jajaran pelatih klub jelas butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan regulasi tersebut. Persiapan yang dilakukan sepanjang pra-musim bisa jadi sia-sia. Bahkan, dalam skenario terburuk, nasib dan karier pemain bisa terancam.

Sinergi regulator dan operator untuk mencapai kesepakatan terkait jadwal dan regulasi (terutama jangka panjang) berpengaruh besar atas kualitas kompetisi itu sendiri. Selain memberikan kesempatan bagi klub untuk mempersiapkan diri, langkah ini juga dapat meningkatkan ketertarikan sponsor yang melihat adanya ruang untuk perencanaan bisnis.

Liga Thailand bisa menjadi contoh. Mereka telah mengumumkan bahwa seluruh pertandingan pada musim 2019 akan menggunakan teknologi Video Assistant Referee (VAR) sejak akhir 2018. Kebijakan ini dilakukan untuk memerangi pengaturan skor yang melanda liga pada 2017.

Tidak terlalu sulit bagi setiap klub untuk mempersiapkan diri karena musim 2019 dimulai pada Februari. Apalagi VAR sebenarnya sempat diterapkan selama setengah musim 2018.

Musim 2019 juga menjadi musim perdana Liga Thailand hanya diikuti oleh 16 peserta, dikurangi dari sebelumnya 18 tim. Perubahan ini telah diketahui oleh seluruh klub sejak Oktober 2017.

Kebijakan mengurangi jumlah peserta itu diambil demi kepentingan tim nasional. Dengan kalender kompetisi yang lebih singkat, diharapkan para pemain berada dalam kondisi yang lebih bugar ketika harus membela timnas.

Bukan hanya Thailand yang menjadikan timnas sebagai dasar kepentingan dalam menjalankan kompetisi liga. Negara tetangga, Malaysia, juga demikian.

Liga Super Malaysia memang tidak sampai mengurangi jumlah tim, namun The Malaysian Football League (MFL) selaku operator telah mempersiapkan kalender kompetisi 2019 dan 2020 sejak 2018. Di akhir tahun ini, kalender untuk 2021 akan dirilis.

"Kalender ini difinalisasi setelah berkonsultasi dengan pelatih tim nasional senior dan junior untuk memastikan mereka memiliki waktu yang cukup dalam mempersiapkan tim," tulis pernyataan resmi MFL seperti yang dikutip NST.

Negara-negara Asia memang memiliki agenda besar pada 2019, yakni Kualifikasi Piala Dunia 2022 dan Piala Asia 2023. Putaran pertama digelar pada Juni dengan format dua leg, diikuti oleh 12 tim terbawah Ranking FIFA. Putaran Kedua, yang berformat penyisihan grup, akan digelar mulai September (dua pertandingan). Lalu, masing-masing dua pertandingan digelar pada Oktober dan November, sebelum dilanjutkan pada 2020.

Menilik agenda tersebut, tentu rasanya tepat jika Liga Thailand memutuskan mengurangi jumlah klub dan menetapkan pekan pertandingan terakhir pada 26 Oktober. Liga Super Malaysia yang hanya diikuti 12 klub akan berakhir pada Juli.

Liga Indonesia sebenarnya menjadi liga dengan jumlah peserta terbanyak se-Asia Tenggara (18 klub). Otomatis memakan waktu paling panjang. Dalam situasi keterlambatan seperti sekarang, ditambah periode libur Lebaran, Liga Indonesia seperti kejar setoran untuk mengakhiri musim 2019 sebelum berganti tahun. Itu semua tentu terjadi karena "keterlambatan" operator liga memutar kompetisi di awal musim.

Baca juga: Agar Jadwal Liga Indonesia Bisa Selesai Tepat Waktu


Simak opini dan komentar redaksi Panditfootball terkait jadwal Liga 1 yang belum juga rilis di Kamar Ganti Pandit lewat video di bawah ini:



Komentar