Premier League Menipu Kita Semua Melalui Warna dan Suara

Klasik

by redaksi

Premier League Menipu Kita Semua Melalui Warna dan Suara

Tidak semua penonton bisa beruntung menyaksikan Premier League secara langsung di Inggris. Atmosfer pertandingan yang disajikan di stadion seharusnya lebih menarik daripada penonton hanya menyaksikannya dari rumah atau layar gawai mereka.

Mengantarkan pengalaman menonton serupa di stadion untuk penonton di rumah mungkin hanya bisa dicapai dengan teknologi virtual reality (VR).

Namun tak perlu VR, Premier League justru bisa menyajikan atmosfer pertandingan di ruang keluarga yang lebih hebat daripada di stadion. Mereka melakukannya dengan memanfaatkan—atau dalam kasus ini adalah “sedikit memanipulasi”—dua hal ini: warna dan suara.

Rumput Premier League Selalu Lebih Hijau daripada Rumput Tetangga

Mengesampingkan kualitas permainan, Premier League dianggap sebagai liga yang paling enak ditonton secara visual. Adolfo Bara, managing director of sales and marketing untuk La Liga mencoba memberikan pandangannya dengan membandingkan visual Premier League dengan La Liga Spanyol.

Pada acara Soccerex 2016, dia berkata: “Masalahnya, di Spanyol sangat panas ketika summer. Jika kamu lihat, pada September di banyak stadion, rumputnya berwarna kuning. Di La Liga kadang pencahayaannya bagus, kadang tidak; beberapa rumput hijau, beberapa rumput kuning. Masalahnya, itu tak konsisten.”

Kemudian dia mengatakan jika pencahayaan di stadion-stadion Premier League bisa dibilang merata bagusnya. Selain itu, letak geografis Inggris yang berada lebih di utara juga membuat rumput-rumput di sana bisa terlihat lebih hijau.

Stephen Westland, profesor sains warna di University of Leeds, mencoba memberikan pemahamannya untuk mendukung hipotesis ini.

“Pada dasarnya, ketika seseorang ditanya warna yang mereka suka, mereka cenderung lebih suka warna yang lebih ceria (colourful) dibandingkan yang tidak. Orang-orang juga lebih suka gambar yang lebih berwarna dan tajam,” katanya.

Akan tetapi selain tinjauan alamiah dan saintifik di atas, tim produksi Premier League juga melakukan pengaturan kontras dan warna di studio sebelum didistribusikan ke seluruh dunia dan ditangkap oleh penonton melalui layar televisi.

Perbandingan tampilan visual televisi pada Premier League, La Liga, Bundesliga, Serie A, MLS, dan Liga 1

Meski tidak ada keterangan resminya, beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mempercerah dan mempertajam warna adalah dengan memodifikasi warna dari sumber siaran dan memiliki kamera berkualitas tinggi. Itu pada akhirnya bisa menghasilkan visual rumput yang lebih enak dipandang.

Selain itu, penggunaan warna-warna kontras pada visualisasi (tipografi, skor, penunjuk waktu, transisi replay, dll) juga turut memengaruhi peningkatan atmosfer Premier League di layar kaca penonton. Visual-visual ini lah yang tidak didapatkan oleh penonton di stadion.

Premier League Lebih Bising Justru di Televisi, Bukan Stadion

Selain warna dan visualisasi lainnya, Premier League juga melakukan penyesuaian terhadap audio; meski untuk bagian yang ini, beberapa olahraga di Amerika Serikat sudah jauh lebih unggul.

Tergantung kualitas televisi dan sistem suara (sound system), tapi secara umum ada banyak suara yang dihasilkan dari siaran Premier League di televisi: suara penonton, chant yang jelas, sampai suara bola yang ditendang atau membentur gawang.

Jika memerhatikan secara seksama, selain kamera, ada banyak mikrofon yang diletakkan di pinggir lapangan dan di belakang gawang. Peletakan itu diatur sedemikian rupa sehingga bisa menciptakan atmosfer pertandingan lebih hidup di televisi.

Beberapa contoh peletakan mikrofon di stadion – sumber: live-production.tv

“Kamu selalu ingin mendengar suara bola,” kata Andrew Stoakley, orang yang bertanggung jawab untuk sound mixing di olahraga bisbol Amerika Serikat. Suara-suara itu lah yang seolah tak penting, tapi justru mendefinisikan pertandingan olahraga, terutama sepakbola.

“Di lapangan kami sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang dramatis. Kami sudah memiliki potensi untuk interaktivitas dalam hal mikrofon; mikrofon-mikrofon [di atas lapangan] itu adalah bagian dari rencana kami [untuk membuat pertandingan lebih hidup],” kata Martin Black, konsultan suara untuk Sky.

“Selama pertandingan, suara dari stadion ditangkap dan dicampur (mix) ke dalam audio Dolby Atmos. Tim lapangan ada untuk melakukan sound mixing dan memberi nasihat tentang kualitas audio pertandingan,” tulis tim dari Dolby yang mengurusi suara Premier League.

Selain suara-suara di atas lapangan, suara dari tribune juga turut membuat atmosfer pertandingan semakin hidup meski pertandingan disaksikan jauh dari stadion. “Ketika nonton Premier League di stadion sana, justru ternyata tidak sebising di TV audionya,” kata Amal Ganesha, Pendiri Ganesport Institute.

Ada tambahan level suara dan kebisingan di televisi. Itu adalah bagian dari cara mereka untuk membuat pertandingan terasa hidup, bahkan lebih hidup daripada di di stadion, sehingga mereka bisa mengemas sebuah pertandingan sebagai produk unggulan kelas atas.

Siaran Sepakbola sebagai Produk Berkualitas Tinggi

Manusia secara umum adalah makhluk yang bergantung dengan audio dan visual. Melalui banyak pengaturan di dua aspek ini, Premier League mampu “menipu” penonton di layar kaca sehingga mereka seolah merasakan atmosfer pertandingan seperti di stadion.

Padahal penonton di stadion belum tentu merasakan atmosfer Premier League selengkap ketika hanya berada di depan layar televisi.

Itu semua bisa dicapai oleh penonton Premier League layar kaca karena penonton layar kaca mendapatkan warna rumput yang lebih hijau, warna seragam yang lebih tajam, visualisasi transisi dan tipografi pendukung, suara aksi di lapangan yang sangat jelas, suara penonton yang membahana, suara komentator, dan masih banyak lagi.

Teknik pengambilan gambar juga turut berperan. “Suguhan pertandingan sepakbola sudah selayaknya dianggap produk. Bahkan jika kita perhatikan, beberapa kali kamera mengalihkan sorotan jika ada keributan yang tensinya agak tinggi di Premier League,” kata Amal, yang juga pernah bekerja di Manchester City.

“Saya rasa itu bagian dari cara mereka menganggap pertandingan sepakbola profesional seperti sebuah produk yang kualitasnya harus dijaga. Karena jika pertandingan sepakbola masuk TV terus ada rusuh atau ribut, maka akan menurunkan kualitas produk tadi. Kalau kualitasnya turun, nilai sponsor juga turun,” lanjutnya.

Dengan strategi-strategi yang tepat, ternyata meski hanya berstatus penonton layar kaca, para konsumen yang menonton melalui pemegang hak siar Premier League—di mana pun—malah mampu merasakan atmosfer audio dan visual pertandingan yang lebih hebat dan lengkap daripada menonton langsung di stadion.

Komentar