Sam English dan Rasa Bersalahnya kepada Pangeran Celtic

Klasik

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sam English dan Rasa Bersalahnya kepada Pangeran Celtic

“Aku bermain dalam tujuh tahun terakhir ini tanpa perasaan senang sekali pun;" seperti itulah kira-kira ucapan Sam English saat ia memutuskan untuk pensiun di usia 28 tahun.

Meski ia sudah menjajaki karier bersama Liverpool, Queen of The South dan Hartepool United, dalam rangka “pelarian dirinya” dari Skotandia, ia tetap dihantui perasaan bersalah akibat peristiwa nahas saat membela Glasgow Rangers di kampung halamannya, Skotandia.

Peristiwa nahas itu terjadi pada 5 September 1931 lalu. Saat itu, kesebelasan Glasgow Celtic yang belum terkalahkan di kancah liga harus melawat ke Ibrox untuk menghadapi Glasgow Rangers. Ia sekaligus menjadi laga Old Firm Derby pertama pada musim itu.

Babak pertama dilalui tanpa satu gol pun. Rangers baru menemukan momentum saat Sam English, penyerang mereka, mempunyai peluang lewat bola terobosan yang dikirimkan oleh salah seorang pemain tengah. Sebagai penyerang, Sam English tentu tak ingin menyia-nyiakan peluang ini untuk menembakkan tendangan ke gawang Celtic yang dijaga oleh John Thomson.

Sang kiper, Thomson, sebagai pemain yang tersisa di jantung pertahan Celtic saat itu, melakukan hal nekat untuk mengamankan bola tersebut. Namun nahasnya, ketika bola berhasil dihalau, ia malah bertabrakan dengan Sam English. Alhasil, kepalanya berbenturan dengan lutut penyerang Rangers tersebut.

Sebanyak 80.000 penggemar kedua kubu yang hadir di stadion terhenyak seketika. Thomson yang langsung terbaring, mengangkat tangannya yang mulai membeku ke atas menandakan dirinya “menyerah” atas insiden ini. Darah mengucur deras dari kepalanya menjadi pertanda buruk bagi keselamatan sang kiper.

Aksi penyelamatan nekat ini sebetulnya bukan yang pertama kali buat Thomson saat membela Celtic. Sebagai kiper muda (22 tahun saat itu), John Thomson dikenal sebagai kiper yang gemar melakukan aksi akrobatik meski tubuhnya hanya bertinggi 5ft 9 ½ inc atau sekitar 176 cm.

Bahkan, sebelum tragedi di bulan September tersebut, Thomson sempat bertubrukan dengan pemain Airdrieonians pada bulan Februari 1930. Insiden itu menyebabkan patah tulang rahang dan kehilangan dua giginya. Ia juga absen dari tim selama beberapa bulan akibat kenekatannya tersebut.

Namun, untuk kali ini, ia tak bisa lagi menghindar dari maut. Tragedi tubrukannya dengan Sam English membuat tengkoraknya retak dan pembuluh arterinya pecah. Beberapa saat setelah insiden, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi di kepalanya, namun operasi tersebut tidak berhasil.

Tulisan kami lainnya tentang Old Firm Derby;


Pada malam harinya, John Thomson menghembuskan nafas terakhirnya di usia 22 tahun. Pemakaman dilaksakan di Cardenden dan dihadiri hampir 30.000 suporter Celtic yang melakukan long-march dari kota Glasgow untuk mengawal kepergiannya menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Perlu diketahui juga, jarak Glasgow menuju Cardenden sekitar 88 kilometer.

Sepanjang jalan dipenuhi orang yang berduka melepas kepergian sang pangeran Celtic tersebut. Padahal, jika saja ia masih hidup, Thomson meruapkan kiper paling berbakat di Skotlandia, bahkan di Britania Raya saat itu.

Wilie Maley, pelatih Celtic saat itu berujar bahwa “talenta Thomson di bawah mistar gawang sangatlah luar biasa. Ketika kawanku  dari Fifeshire merekomendasikan untuk melihat Thomson muda bermain, kami langsung berinisiatif untuk mengontraknya saat itu padahal ia masih berumur 17 tahun. Kegemilangannya juga membuat ia menjadi pilihan utama kami (Celtic) saat usianya baru menginjak 18 tahun.”

Sam English, bagaimanapun, sangat merasa bersalah saat itu. Dibenaknya, ia menganggap dirinya seperti perenggut nyawa orang lain. Padahal, ia tentu tak bermaksud untuk melakukan tindakan tersebut.

Pada upacara pelepasan jenazah di Glasgow, Sam English menangis seunggukan meratapi tragedi tersebut. Rekan-rekannya yang lain tak tinggal diam, ia ditenangkan supaya tak berlarut-larut jatuh dalam penyesalan.

Seminggu kemudian, Sam English berkunjung menuju kediaman dari orang tua John Thomson yang juga rumah dari mendiang John di daerah Fifeshire, Skotlandia. Orang tuanya pun telah rela anaknya pergi untuk selama-lamanya dan meyakinkan bahwa Sam English tidak bersalah. Bahkan, orang tua John mendoakan yang terbaik untuk karier Sam ke depannya.

Namun, doa orang tua John tak ada artinya. Sam English tetap dicemooh oleh sebagain besar pecinta sepakbola Skotalndia, apalagi oleh para penggemar Celtic. Ejekan-ejekan yang tak ada hentinya tersebut memaksa ia “melarikan diri” untuk meneruskan karier sepakbolanya di Inggris. Karier sepakbolanya terhenti di umur 28 tahun karena ia merasa hampa dan tidak bisa menikmati permainan.

Kini, nama John Thomson diabadikan sebagai nama kompetisi sepakbola yang bernama “ The John Thomson Trophy” yang diselengarakan untuk anak-anak di Cardenden, Fifeshire, Skotlandia.

Foto: cahiersdufotball.net

Komentar