Hikayat Penggunaan Syal di Sepakbola

Football Culture

by redaksi 25651

Hikayat Penggunaan Syal di Sepakbola

Scarf atau syal dalam bahasa Indonesia, merupakan salah satu aksesoris yang terbilang wajib dalam menonton sebuah pertandingan sepakbola. Syal yang memiliki warna, motif, maupun tulisan yang mewakili identitas klub, menjadi benda yang sering kita lihat dalam keseharian, baik dari televisi maupun menyaksikan langsung di tribun stadion.

Tapi pernahkah terpikir darimana awal penggunaan dan perkembangan penggunaan syal di sepakbola? Untuk itu, mari kita runut sejarahnya terlebih dulu.

Menurut History of the Scarf yang ditulis oleh Patrick Smith, syal diperkirakan berasal dari kebudayaan Romawi. Syal diambil dari kata Latin "Sudarium" yang berarti "pakaian keringat" atau yang berarti pakaian yang berfungsi untuk mengelap keringat yang berada di daerah dahi atau wajah. Awalnya, syal digunakan untuk membuat badan terhindar dari kotoran (mungkin fungsinya kurang lebih seperti handuk), bukan untuk menghangatkan area leher seperti sekarang.

Penggunaan syal juga digunakan sebagai salah satu kelengkapan seragam perang yang digunakan oleh pasukan Tiongkok di masa pemerintahan Kaisar Shih Huang Ti pada abad ke-17. Penggunaan syal meluas berkat orang-orang Prancis hingga saat ini terkenal sebagai pencetus mode. Syal (scarf) berasal dari kata dalam bahasa Kroasia yaitu kravata yang berarti dasi atau sesuatu yang ditaruh di leher.

Budaya pemakaian syal di sepakbola berawal dari Inggris. Cuaca dingin yang sering dijumpai di sana membuat orang Inggris terpaksa memakai jaket tebal ketika menyaksikan timnya bertanding. Alhasil, mereka mengekspresikan dukungan kepada tim sepakbola kesayangannya dengan menggunakan syal. Pada saat itu keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk menggunakan jersey sepakbola, karena jersey hanya dibuat untuk kalangan pemain.

Penggunaan syal di sepakbola diawali dengan pemakaian warna syal yang senada dengan warna kostum tim yang didukung. Seiring kemajuan dalam industri tekstil, pembuatan syal dari bahan wol yang memiliki motif belang-belang atau yang disebut bar scarf muncul. Desain klasik bar scarf merupakan favorit bagi orang-orang di Inggris dan Australia hingga saat ini. Seusai kemunculan bar scarf, ada juga syal yang bisa menempatkan tulisan dan gambar pada syal, meskipun hasilnya belum rapi seperti sekarang ini.


Roberto Mancini mengenakan syal berjenis bar scarf saat menangani Man City

Seiring dengan kemajuan teknologi, kini semua bisa dimungkinkan dalam produksi syal. Berbagai bahan, motif, corak, dan warna, mampu dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi keinginan para penggila sepakbola. Pemakaian bahan wol pada awal abad ke-19 mulai digantikan oleh wol sintetis, katun, dan polyester. Produksi syal berskala besar biasanya dibuat di negara-negara pengeskspor bahan tekstil seperti Tiongkok, India, dan Indonesia.

Syal akhirnya mengalami perubahan fungsi dari yang tadinya digunakan sebagai pelindung tubuh dari kedinginan, menjadi salah satu aksesoris yang sifatnya bsa dikatakan wajib bagi semua pendukung sepakbola. Hal ini dapat dibuktikan dari maraknya penggunaan syal pada pertandingan sepakbola di negara-negara yang bahkan cenderung hangat dan malah panas sekalipun. Suporter sepakbola di negara tropis seperti Asia, Amerika Selatan, maupun Afrika, tak luput dari penggunaan aksesoris ini.

Hal ini terbukti di negara manapun yang menjual syal sebagai salah satu merchandise wajib yang dimiliki pendukung sepakbola selain jersey. Mungkin Anda juga yang tinggal di Indonesia memiliki syal klub kebanggaan, bukan?

Terbukti juga pada penyelengaraan turnamen akbar seperti Piala Eropa 2004 lalu di Portugal. Portugal yang memiliki iklim yang hangat dibanding negara-negara Eropa lainnya mempertunjukkan koreografi syal oleh pendukung tim berjuluk Selecao tersebut. Fenomena ini menegaskan bahwa syal sudah beralih kegunaan dari awalnya yang merupakan pelindung dingin menjadi sebuah benda yang menjadi hasil dari kultur sepakbola modern.

Koreografi 'Wall of Scarves' yang ditunjukan suporter timnas Portugal di Piala Eropa 2004
Koreografi 'Wall of Scarves' yang ditunjukan suporter timnas Portugal di Piala Eropa 2004

Reaksi tentang penggunaan syal di sepakbola pun bermacam-macam. Mulai dari memaklumi syal sebagai salah satu produk dari kultur sepakbola, hingga mencela budaya tersebut sebagai kebudayaan yang tidak cocok dipakai oleh pendukung sepakbola yang tinggal di negara yang beriklim hangat, seperti yang diutarakan oleh jurnalis Wall Street Journal, Jonathan Clegg.

Cara pemakaiannya pun bermacam-macam. Ada yang digunakan normal untuk dikalungkan di leher maupun untuk sebagai kelengkapan untuk melakukan koreografi di tribun stadion, seperti diputar-putarkan ke udara atau membuat koreografi khusus dari syal yang dibentangkan kedua tangan.

Seiring kegunaannya yang telah beralih fungsi menjadi aksesoris wajib, penggunaan syal juga menjadi alat kampanye atau sarana menyampaikan sesuatu. Mulai dari memuja pemain favorit, memperkenalkan pemain baru kepada pendukung, menunjukkan protes, aksi charity, bahkan hal-hal konyol yang bersifat belum pasti sekalipun. Contohnya, ketika pedagang di sekitara stadion Old Trafford menjual syal bertuliskan Jose Mourinho sebagai manajer terbaru mereka.

Fenomena syal yang sering mendapat hujatan adalah syal setengah-setengah atau yang di Inggris disebut half-half scarves. Penggunaan half scarves ini biasanya dipakai untuk menyambut sebuah laga bigmatch seperti derby atau laga final, juga biasanya dipakai untuk menunjukkan persahabatan antar suporter atau tim.

Fenomena' half-scarves' yang banyak menuai cemoohan, namun masih banyak peminatnya
Fenomena' half-scarves' yang banyak menuai cemoohan, namun masih banyak peminatnya

Belum lagi yang terjadi baru-baru ini, misalnya. Pedagang di sekitaran stadion King Power yang menjual bertuliskan Leicester "juara Liga Primer", padahal laga masih tersisa enam pekan lagi.

Syal yang tadinya digunakan sebagai penolak hawa dingin berubah fungsi menjadi kelengkapan pendukung sepakbola. Tak hanya berubah fungsi, syal juga menjadi media bagi pendukung sepakbola untuk mengekspresikan berbagai gagasan. Kini, tidak bisa ditampik bahwa syal merupakan bagian dari budaya sepakbola yang tak terpisahkan.

Foto: irishpost.ie, diehardscarves.com, dreamteamfc, dailymail

[tr]

ed: fva

Komentar