Mind of Peace: Kesaksian Penulis The Damned United tentang Sastra, Clough dan Sepakbola

Football Culture

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Mind of Peace: Kesaksian Penulis The Damned United tentang Sastra, Clough dan Sepakbola

“You cannot compete against the actual narrative of football,” kata David Peace, penulis The Damned Utd. “It’s just too powerful.” Juga, Peace berpendapat bahwa dalam beberapa hal, sepakbola seperti agama.

Hasil kerja Anthony Clavane – yang ditampilkan dalam edisi pertama majalah The Blizzard dengan judul Mind of Peace– memungkinkan kita memahami isi kepala Peace seperti media Inggris berusaha memahami isi kepala Brian Clough.

Mengingat The Blizzard tidak mudah diakses dan pemikiran-pemikiran Peace terlalu sayang untuk dilewatkan (lain hal, memahami pemikiran Peace akan membuat kita lebih memahami The Damned Utd), kami menerjemahkan hasil wawancaranya untuk Anda.

Mengapa Anda menulis The Damned Utd?

Leeds United selalu berada di latar belakang buku-buku Red Riding dan karenanya selama beberapa lama saya memiliki separuh gagasan untuk menulis novel yang menceritakan sejarah rahasia Leeds United. Gagasan asli saya, yang sekarang pasti terdengar aneh, melibatkan David Harvey, eks penjaga gawang Leeds, dalam karavannya di Kepulauan Orkney di Skotlandia, merekam semua yang ia ucapkan dengan tape recorder – sembari minum wiski gandum, minuman yang ia sukai – untuk berusaha memahami sejarah Leeds United. Gagasan awalnya adalah hantu Leeds yang datang mengganggu Harvey.

Jadi saya menghabiskan enam bulan pertama melakukan riset sejarah Leeds United secara keseluruhan. Namun sementara saya melakukan riset, dua hal terjadi: insiden Bowyer-Woodgate dan Leeds bangkrut. Dan karenanya cerita tampak tak ada ujungnya dan sulit menentukan di titik mana saya harus berhenti. Juga, saya tidak tahu seberapa jauh Leeds akan jatuh.

Jadi The Damned Utd, awalnya, akan berkisah mengenai Harvey, atau ‘Sang Penjaga Gawang’, menceritakan sejarah rahasia Leeds United, dan Brian Clough menceritakan kisah 44 hari. Saya merasa cerita 44 hari selalu menjadi bagian dari gagasan saya karena pertandingan sepakbola paling pertama yang pernah saya saksikan adalah pertandingan pertama Clough sebagai manajer Leeds, pada Juli 1974, ketika ia memimpin Leeds menjalani pertandingan testimonial di Huddersfield. Saya berusia tujuh tahun ketika itu dan saya berusaha mendapatkan tanda tangan Trevor Cherry dan saya ingat melihat Clough turun dari bus dan ayah saya berkata, “itu Brian Clough.” Dan kemudian pertandingan terakhir Clough untuk Leeds adalah ketika ia membawa kesebelasan kembali ke Leeds Road untuk pertandingan malam di ajang Piala Liga melawan Huddersfield. Jadi kota itulah yang mengakhiri cerita 44 hari.

Soal sepakbola, ayah saya selalu suka berbicara mengenai tiga hal yang sama. Ia melihat The Busby Babes. Jadi ia berbicara tentangnya. Ia sedang sekolah keguruan di London ketika Tottenham meraih double. Jadi ia juga berbicara mengenai itu. Dan kemudian ada cerita 44 hari Clough. Mengapa mereka menawari pekerjaan kepada Clough? Mengapa ia menerimanya? Apa yang terjadi selama 44 hari itu?

Sebelum melakukan riset, kesan saya mengenai Clough berdasar kepada dua trofi European Cup yang ia menangi bersama Forest, memukul penggemar di lapangan dan menjadi, menyedihkannya, karikatur dirinya sendiri. Kemudian ada rumor mengenai kebiaasan minum dan mengonsumsi bung. Jadi reputasinya tidak begitu baik. Dan setelah pensiun ia orang yang gemar berkomentar di media mengenai apa saja; kadang sambil mabuk, semuanya dapat dilihat di YouTube. Inilah kesan saya mengenai dirinya sebelum saya menulis buku ini. Namun ketika saya melakukan riset mengenai kehidupannya, yang berarti melacak semua buku yang pernah ditulis mengenai dirinya – dan juga memeriksa semua surat kabar lokal di Derby – saya menjadi sadar sehebat apa dirinya waktu masih bermain, bagaimana karirnya selesai begitu cepat, dan bagaimana ia sebenarnya masih dapat berkembang lebih baik lagi. Dan mengenai waktu-waktu yang ia habiskan di Hartlepools dan Derby. Dan the strike.

Begitulah Clough mengambil alih buku ini, dan ‘kamu’ menjadi Clough berkata kepada diri sendiri, dalam present tense, mengenai kenangannya.

Salah satu kenangan tersebut, mengenai lari naik turun tangga di stadion sebagai pemain, berusaha kembali bugar setelah menderita cedera parah, bisa saja menjadi scene dari The Loneliness of the Long Distance Runner atau This Sporting Life. Seberapa besar pengaruh novel-novel para realis hebat utara pada tahun 50 dan 60-an terhadap Anda?

Satu hal yang membuat saya yakin – membuat saya memutuskan bahwa buku ini akan bercerita mengenai Clough dan bukan sejarah Leeds United – adalah ketika melakukan riset saya menemukan bahwa Clough nyata-nyata merujuk Alan Sillitoe dan David Storey. Dan merekalah penulis-penulis yang ingin saya beri penghormatan. Ayah saya, yang berasal dari kelas pekerja, terinspirasi oleh penulis-penulis seperti Sillitoe, Storey, John Braine dan Stan Brastow. Mereka menangkap momen ketika orang dari kelas pekerja mampu melampaui kemampuan mereka sendiri.

Saya pada awalnya tertarik kepada novel-novel sejenis Sherlock Holmes, Ernest Hemingway dan Raymond Chandler, serta Dashiel Hammett dan Georges Simenon – yang membuat saya tertarik kepada novel kriminal. Namun ayah saya juga memiliki novel-novel realis utara di rumah. Sillitoe, Storey, dan Braine juga membaca Hemingway dan para penulis novel kriminal itu dan mereka menggunakan gaya Amerika yang lugas dan clipped. Begitulah semuanya terbentuk.

Clough menceritakan waktu yang ia habiskan sebentar di Leeds lewat sudut pandang orang pertama namun, sebagaimana Anda katakan, ada narasi kedua – yang mengisahkan karirnya sebagai pemain dan ketika ia (menjadi manajer) di Derby. Untuk ini Anda menggunakan sudut pandang orang kedua, kata ganti yang tidak konvensional, yang sangat tidak biasa.

Semuanya berhubungan dalam sebuah lingkaran sempurna cerita. Ceritanya berakhir di hari ke-44 namun kenangan membawa Anda ke hari pertama. Jadi “kamu” terakhir adalah Clough menerima tawaran menjadi manajer Leeds. Saya harus memikirkan cara membedakan antara present tense dan past. Salah satu caranya adalah dengan menulis dalam past tense, namun saya ingin menampilkan ‘kamu’ dalam italics, dalam sudut pandang orang kedua, untuk menjadi Brian Clough yang mengingat-ingat 1974, bukan Brian Clough pada 1990. Bagaimana kita mengingat diri kita sendiri? Ketika Anda menceritakan hal-hal yang Anda lakukan sejak terakhir kali kita berjumpa, yang Anda ceritakan bukan Anthony saat ini, melainkan Anthony di masa lalu. Yang Anda ceritakan bukan orang yang berbeda, namun bukan juga orang yang sama, yang Anda ceritakan adalah orang kedua.

Akan saya ceritakan dari mana suara ‘kamu’ itu berasal. Ketika saya tumbuh, saya bersama ayah dan ibu biasa mengunjungi Leeds setiap dua pekan. Mereka belanja dan mengunjungi Queen’s Hotel untuk minum teh, berpura-pura menjadi posh, dan saya mengunjungi toko buku Austicks. NME pada masa itu biasa membicarakan Dostoevsky dan Beckett dan saya tidak mengenali mereka. Saya tidak bisa memeriksa siapa mereka lewat internet, tentu saja. Jadi pada suatu hari saya membeli Company, oleh Samuel Beckett, yang ditulis dalam sudut pandang orang kedua, karena buku itu bercerita mengenai kenangan.

Kemudian, di akhir 1980an, saya takjub oleh Bright Lights, Big City-nya Jay McInerney, yang lagi-lagi ditulis dalam sudut pandang orang kedua. Ketika saya di Manchester Poly dan menulis novel yang ditolak oleh semua orang, saya menulis satu karya yang narasi dalam sudut pandang orang pertama, satu lagi dalam sudut pandang orang kedua, dan satu lainnya dalam sudut pandang orang ketiga. Saya tidak menghasilkan karya yang baik. Namun dalam 1983 ada narasi orang kedua. Dan ada lagi dalam Occupied City. Jadi saya selalu menyukainya. Itu adalah sudut pandang yang jarang digunakan...

Pengaruh Beckett sangat kuat, terutama dalam kebiasaan Anda menggunakan pengulangan untuk memberi ilustrasi mengenai sifat obsesif Clough dan aspek rutin sepakbola.

Ada suara hati Clough berkata: ‘Kamu percaya kepada sepakkbola; kepada pengulangan sepakbola.’ The Damned Utd, dan gaya Anda secara keseluruhan, terkenal banyak melibatkan pengulangan. Itu menjadi salah satu ciri khas Anda. Hingga titik di mana – dan saya rasa ini adalah penghargaan yang sesungguhnya – hal itu sering ditampilkan dalam bentuk parodi.

Kita selalu mengingat ulasan-ulasan yang tidak menyenangkann. Saya ingat seseorang menggambarkan The Damned Utd sebagai ‘Samuel Becket-lite’. Namun saya menganggapnya sebagai pujian. Ada sebuah parodi dalam sabotage.com-nya James Brown – menampilkan Phil Brown fiksional – yang menurut saya fantastis. Dalam semua buku saya, saya banyak menggunakan pengulangan. Keseharian kita sangat berulang. Itu bisa menjadi buruk karena hal tersebut perlahan-lahan menghancurkan Anda, namun itu juga bisa, di waktu-waktu sedih, menopang. Di tingkat pribadi, saya sangat merasa tertopang oleh, contohnya, jadwal pertandingan liga.

Ya, tepat sebelum kita memulai wawancara ini Anda memeriksa hasil pertandingan sepakbola hari ini. Anda tampak terbenam dalam dunia itu.

Sepakbola memberi struktur kehidupan pada kita. Bagaimana sebuah musim dibentuk. Pengulangan musim. Namun jika kita menjuarai Cup, atau meraih promosi, kita merasa bahagia atas pengulangan. Pada akhirnya, sepakbola adalah metafor mengenai bagaimana kita menjalani hidup.

Mengapa Anda tidak menjadikan Brian Clough fiksi – memberinya nama berbeda?

Tidak bisa. Kita tidak dapat menentang narasi sepakbola yang sesungguhnya. Terlalu kuat. Orang-orang merendahkannya dengan menyebutnya opera sabun. Tapi itu bukan opera sabun – itu drama.

Anda kembali ke Yorkshire dua tahun lalu, setelah tujuh belas tahun di Jepang. Anda menulis The Damned Utd di Tokyo. Anda pasti sedikit tertinggal dari transformasi sepakbola yang luar biasa.

Saya tidak begitu tertinggal. Di Jepang saya berlangganan Sky TV. Sebelum ada internet, ayah saya biasa mengirimi saya bagian olahraga akhir pekan. Dan kehadiran internet membuat saya dapat mengikuti seluruh pertandingan Huddersfield Town. Saya cukup menyadari semua hal yang terjadi.

Apa pendapat Anda tentang sepakbola zaman sekarang, mengingat beberapa orang memuji The Damned Utd karena membangkitkan ‘zaman keemasan sepakbola’ di pertengahan tahun 70-an, ketika sepakbola tampak lebih otentik, lebih nyata, lebih gigih, lebih mewakili kelas pekerja, lebih bersentuhan dengan orang-orang biasa – terutama para penggemar?

Sepanjang abad 20 dan memasuki abad 21, sepakbola bertindak sebagai metafor dari apa yang terjadi dalam masyarakat. Saya menyaksikan sepakbola bersama ayah saya di tahun 70-an. Kami pergi ke Huddersfield ketika kami bermain kandang dan ke Leeds ketika mereka bermain kandang. Jadi kami menonton pertandingan satu kali sepekan. Ia mengeluhkan sepakbola modern yang tidak seperti tahun 70-an. Ia bilang semuanya sudah rusak.

Kakek saya, yang melihat kesebelasan juara Huddersfield di tahun 20-an, mengatakan hal yang sama pada ayah saya ketika ayah saya masih bocah. Bill Shankly, sekitar tahun 1973, berkata, “sekarang ada pemain-pemain yang memiliki kolam renang, lapangan tenis, dan mobil sport namun mereka tidak memiliki medali.” Sekarang ini ada pemain yang gaji per pekannya melebihi penghasilan seumur hidup orang lain namun mereka tidak pernah memenangi apa pun. Kelebihan dan keterpencilan sepakbola mencerminkan kelebihan dan keterpencilan yang lazim dalam masyarakat sekarang.

The Damned Utd banyak medapat kritik karena menggunakan karakter nyata dalam fiksi Mengapa Anda merasa jenis tulisan seperti itu lebih diterima di Eropa daratan dan di Amerika Serikat?

Aktivitas bercerita dimulai dengan mengingat kejadian-kejadian tentang orang-orang yang nyata. Kita percaya bahwa Beowulf benar-benar ada. Drama Yunani dan Skahespeare menggunakan orang-orang nyata. Kita menghabiskan banyak waktu memikirkan sepakbola. Berspekulasi, membayangkan, berfantasi tentangnya. Sepakbola tidak akan ada tanpa imajinasi. Kata Bunuel (Luis Bunuel, filmmaker Spanyol), “tidak ada kenyataan tanpa imajinasi, tidak ada imajinasi tanpa kenyataan.” Keduanya saling berdampingan.

Dan bagi saya, ketika saya tumbuh, Brian Clough adalah sosok yang sangat terkenal. Dia bukan hanya manajer sepakbola, namun ia juga selalu tampil di media; ia bukan pria yang tertutup seperti, contohnya, David Moyes. Ia muncul di televisi, menulis kolom di surat kabar, ditirukan oleh Mike Yarwood dan diwawancarai oleh Michael Parkinson, benar-benar memprovokasi orang-orang. Orang-orang membicarakan dirinya dan berusaha memahami caranya berpikir. Ia menciptakan sebuah persona.

Pada masa di mana aku tumbuh, manajer sepakbola juga bertindak sebagai pundit. Clough, Malcolm Allison, Jack Charlton – mereka semua menciptakan persona fiksi yang sangat hebat. Orang-orang kelas menengah masuk ke ddunia sepakbola dalam jumlah yang besar, dan The Damned Utd mendapat keuntungan darinya.

Nick Hornby adalah pionir dalam hal ini. Bahkan saat itu “orang-orang terdidik” bersikap, menyebut The Damned Utd hanya sebuah novel  tentang manajer sepakbola. Kemudian beberapa orang jadi curiga karena itu sebuah novel. Saya rasa hal-hal seperti ini sangat Inggris. Di Eropa daratan dan Amerika hal-hal seperti ini tidak terjadi. Kita di Inggris sangat waspada terhadap pretensi dan kepura-puraan. Kita lebih memilih suara dari orang-orang yang “berhasil”.

Saya sudah menjalani tur buku di Eropa dan, ketika berbicara dengan jurnalis-jurnalis dari Perancis dan Italia, mereka mengharapkan kita memiliki banyak pengetahuan mengenai buku dan musik juga tentang politik dan olahraga. Sepakbola adalah bagian dan bingkisan dari budaya yang lebih luas. Mereka tidak memandang kita sebelah mata.

Apakah Anda gentar oleh tuntutan mahal John Giles, yang mengklaim Anda menggambarkannya secara salah sebagai tokoh utama pemecatan Clough?

Masalah itu tidak pernah sampai ke pengadilan. Masalahnya selesai tanpa pengadilan oleh penerbit. Saya tidak pernah minta maaf kepada John Gilles dan saya tidak akan pernah minta maaf kepadanya. Karena saya tidak merasa melakukan kesalahan. Namun ancaman karena pencemaran nama baik sebesar puluhan ribu pound sterling, untuk “kerusakan psikologis”, memang menodai bukunya.

Anda suka versi filmnya?

Begitu bukunya terbit, beberapa sutradara yang sangat bagus tertarik menjadikannya film. Salah satunya adalah Stephen Frears, yang ingin membuatnya sebagai penghargaan terhadap This Sporting Life. Ia ingin membuatnya gigih dan hitam putih. Saya pikir ini luar biasa. Namun untuk alasan yang entah apa, ia menarik diri. Dan saya tidak terlibat dalam pembuatan film. Ada usaha untuk menjauhkannya dari buku karena versi buku mendapat sorotan negatif dari keluarga dan para bekas pemain Clough. Saat pertama kali melihat filmnya, saya rasa ada penampilan dan adegan yang luar biasa – namun saya juga merasa versi film adalah penggambaran yang nyaris melenceng dari versi bukunya. Sedikit sekali hubungannya dengan versi buku.

Tapi saya sudah menonton filmnya dua kali – salah satunya bersama putra saya, yang belum membaca bukunya namun sangat menyukai filmnya – dan saya mengenal banyak orang yang membaca bukunya karena sudah menonton filmnya. Jadi saya tidak ingin tampak tidak sopan. Filmnya membantu buku mendapat banyak pembaca baru. Namun saya tetap merasa filmnya perlu dibuat ulang. Dalam versi hitam putih.

Apakah George, putra Anda yang berusia 14 tahun, berencana membaca The Damned Utd?

Ia membaca beberapa halaman pertama namun ia menutup bukunya dan berkata, ‘saya tidak suka gayanya.’ Ia mengaku bahwa buku favoritnya adalah Argos Catalogue.

Beberapa pembaca yang tidak memiliki latar belakang sastra merasa gaya penulisannya membingungkan.

Tidak pernah ada yang berkata kepada saya bahwa narasi dengan sudut pandang orang kedua menyulitkan – kecuali putra saya.

Istri Brian Clough, Barbara, berkata, “bagaimana bisa ada sebuah novel tentang orang nyata?” Namun Anda menulis “ini adalah sebuah fiksi berdasarkan fakta.”

Ada postmodernisme malas yang mengatakan bahwa semuanya adalah fiksi. Dalam hidup, bagaimanapun, kita tahu ada kebenaran. Namun hubungan seorang individu dan sepakbola sangat subyektif dan sangat personal. Dalam hal ini sepakbola seperti agama. Jadi bagaimana bisa kita menulis buku faktual yang sangat obyektif mengenai 44 hari Clough di Elland Road? Tidak akan ada yang bisa melakukannya. Autobiografi para pemain sepakbola modern yang ditulis ghost writer, dan cara kita menulis laporan pertandingan, meninggalkan lubang besar untuk imajinasi. Kita melihat, katakanlah, Ally McCoist dan Neil Lennon di garis tepi dan kita ingin mengetahui apa yang mereka katakan dan kita mulai berimajinasi... Sepakbola tidak akan menjadi apa-apa tanpa imajinasi.

Apakah Anda merasa novel yang sama baiknya dapat ditulis mengenai Harry Redknapp, Alex Ferguson, José Mounriho – yang, seperti Clough, hebat?

Bukan hanya mereka harus hebat. Diperlukan drama dan narasi sepakbola. Manajer, jika ingin bertahan dalam drama sepakbola, harus memiliki karakter. Jika tidak, mereka akan hancur.

Komentar