Tidak Ada yang Salah dengan Permainan Defensif

Football Culture

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tidak Ada yang Salah dengan Permainan Defensif

Banyak yang mencemooh permainan Chelsea di bawah arahan Jose Mourinho. Chelsea bermain seperti kesebelasan medioker saat bertanding menghadapi lawan-lawan yang setara atau memiliki kemampuan individu lebih baik. Mereka menerapkan permainan defensif yang dianggap mengesalkan. Tidak heran jika strategi tersebut diolok-olok sebagai �"parkir bus�".

Ada yang berkomentar bahwa permainan macam tersebut merusak keindahan sepakbola. Pertanyaannya adalah apa yang salah dari permainan defensif? Bukankah dengan cara tersebut Chelsea kini memuncaki klasemen dan berpeluang besar menjuarai liga?

Baca: Serangan Balik Chelsea yang Fleksibel


Bertahan Sebagai Strategi Bukan Jati Diri

Entah apa yang ada di benak Mourinho dalam menilai kemampuan kesebelasan yang ia asuh. Mou selalu merendah dengan menganggap diri mereka lebih medioker ketimbang kesebelasan yang dianggap setara, maupun memiliki kemampuan individu yang lebih baik, dengan cara bermain bertahan.

Faktanya, strategi bertahan hanya digunakan ketika Chelsea, atau kesebelasan yang diasuh Mourinho, bertanding melawan kesebelasan yang lebih tangguh. Menghadapi kesebelasan lain, mereka biasanya bermain terbuka dan dominan dalam menyerang.

Ini yang membuat strategi bertahan atau �"parkir bus�" tidak tepat jika disebut �"ciri permainan Chelsea/Mourinho�". Pilihan diksi yang lebih tepat adalah �"variasi permainan bertahan Chelsea/Mourinho�".

Mendulang Sukses

Tidak ada yang salah dengan permainan bertahan, satu hal yang membuat Chelsea melaju hingga babak semifinal Liga Champions 2013/2014. Musim ini, permainan tersebut tidak sevulgar tahun lalu. Chelsea masih memiliki inisiatif yang besar untuk membombardir serangan lawan lewat serangan balik. Faktor komposisi pemain yang lengkap menjadi alasan.

Seperti biasa, ketika bertahan hampir semua pemain turun dan membantu pertahanan. Namun, Mou memiliki strategi yang berbeda dengan menempatkan pemain dengan kemampuan berlari cepat, sebagai andalan dalam serangan balik. Ini ditunjang dengan kehadiran Cesc Fabregas yang memiliki umpan terobosan akurat.

Hingga pekan ke-34, Chelsea masih bertengger di puncak klasemen Liga Inggris, dengan jarak 10 poin dari Manchester City dan Arsenal yang ada di peringkat kedua dan ketiga.

Hal yang Paling Menyakitkan

Apa yang paling menyakitkan dari permainan defensif adalah kebobolan; tidak peduli kapanpun waktunya. Bermain bertahan sama artinya dengan meminimalisasi peluang yang didapatkan kesebelasan. Hampir sepanjang waktu mereka mengejar bola dan mengganjal lawan agar tidak memasuki area pertahanan.

Jika kesebelasan sudah kebobolan, mau tidak mau mereka harus mengubah formasi dan membalas ketertinggalan. Ini tentu saja merusak rencana awal dan harus kembali membangun strategi yang sesuai. Pasalnya, bukan tidak mungkin malah lawan yang ikut-ikutan bermain bertahan.

Chelsea tahu benar soal kebobolan ini. Apalagi, mereka pernah merasakan bagaimana sakitnya kebobolan pada menit-menit akhir, oleh bekas pemain sendiri.

Pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions musim ini, Chelsea unggul terlebih dulu lewat Branislav Ivanovic pada menit ke-36. Lalu, PSG membalasnya lewat Edinson Cavani pada menit ke-54.

Ini yang membuat Mou lebih memilih bermain bertahan pada leg kedua. Pasalnya, hasil seri 0-0 saja sudah mampu membawa Chelsea lolos ke babak perempat final. Chelsea bahkan mencetak gol pada menit ke-81 lewat Gary Cahill. Selepas gol tersebut, perkejaan John Terry dan kolega tidaklah berat. Mereka tinggal �"parkir boeing 737�" selama sembilan menit tersisa.

Sial bagi Chelsea, karena bekas pemain mereka, David Luiz, pada menit ke-86. Chelsea sempat kembali unggul setelah Eden Hazard mencetak gol pada menit ke-96 lewat titik putih. Namun, hari itu Chelsea diajarkan bagaimana mengesalkannya menghadapi kesebelasan yang bertahan. Pada menit ke-114, atau satu menit jelang babak pertama perpanjangan waktu berakhir, Thiago Silva mencetak gol penyeimbang, yang membuat PSG unggul agregat gol.

Ada dua hal yang membuat Chelsea belajar: mengesalkannya menghadapi lawan yang bertahan dan tidak adilnya pertandingan karena yang mencetak gol adalah bek, seperti yang biasa dilakukan Chelsea; tidak adil karena gol-gol semacam itu selalu tercipta dari servis bola mati maupun tendangan pojok, yang memiliki potensi gol lebih tinggi ketimbang serangan dengan permainan terbuka.

Kesimpulan



Boring, boring, Chelsea.

Penggemar Arsenal sepatutnya tidak pantas meneriakkan chant seperti tertulis di atas. Apakah chant tersebut akan mengubah permainan Chelsea menjadi tidak lebih boring? Tentu saja tidak. Chant tersebut justru memberi keyakinan pada Mourinho bahwa strategi yang digunakannya jelas-jelas berhasil.

Cemoohan seharusnya diteriakkan pada pemain Arsenal yang tidak mampu menembus pertahanan ketat Chelsea. Dalam sepakbola, ada satu kesebelasan yang menyerang dan satu yang bertahan. Lantas, mengapa penggemar meminta kesebelasan yang jelas-jelas bermain bertahan untuk mengubah strateginya dengan bermain terbuka? Mengapa mereka tidak meminta kesebelasan yang menyerang untuk bermain lebih agresif dan tajam?

Jika Chelsea mampu membuat pertahanan yang begitu kokoh dan rapat, mengapa kesebelasan lain tidak bisa membangun serangan yang tajam dan menakutkan?

Mourinho pun menjawab tentang siapa yang boring dalam konferensi pers usai pertandingan. "Mungking fans Arsenal tidak bernyanyi (boring) untuk kami," kata Mou seperti dikutip The Telegraph, "Boring adalah 10 tahun tanpa gelar. Itu sangat boring. Anda mendukung kesebelasan, dan menunggu, menunggu, terus menunggu hingga bertahun-tahun tanpa gelar Liga Primer, itu yang sangat boring."

Benar, strategi Mou benarlah berhasil. Terkadang ia meradang karena minimnya dukungan (dalam bentuk chant) penonton saat bermain kandang. Mungkin Mou lupa, kalau saking berhasilnya strategi defensif tersebut, penggemar Chelsea sudah ketiduran sebelum kick off.



Sumber gambar: talksport.com

Komentar