Nasionalisme Semu Sepakbola Indonesia dari Ketua PSSI

Editorial

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Nasionalisme Semu Sepakbola Indonesia dari Ketua PSSI

Ketua umum PSSI, Edy Rahmayadi, melarang Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin Armaiyn bermain di Malaysia. Mereka baru saja dikontrak oleh kesebelasan asal Malaysia, Selangor FA. Edy khawatir nantinya permainan keduanya terbaca oleh para pemain Malaysia yang memperkuat timnasnya.

Kekhawatiran ini bisa jadi berlebihan. Logika kelirunya adalah jika para pemain, manajer, dan penonton di Malaysia bisa memata-matai permainan Evan dan Ilham Udin karena mereka bermain di sana.

Namun, narasi dari skenario di atas adalah kekhawatiran dari banyak orang Malaysia karena melihat dua pemain Indonesia. Padahal jika dibalik, justru sebenarnya Evan Dimas dan Ilham Udin adalah dua pemain Indonesia yang melihat banyak orang dan pemain Malaysia. Jadi, sebenarnya siapa yang memata-matai siapa?

“Kalau mata duitan, ya, repot juga kita. Gak ada jiwa nasionalisme. Nanti akan saya kumpulkan segera,” kata Edy, juga mengomentari soal kondisi ekonomi, dikutip dari Indosport.

Pernyataan ini juga terkesan menyalahkan niat seseorang untuk bekerja dan mencari uang. Padahal jika dilarang, bisa jadi yang melarang sudah melanggar hak asasi manusia. Lagipula tidak ada hubungannya pemain yang bekerja di luar negaranya adalah mereka yang tidak nasionalis.

Memahami pernyataan Edy dari perspektif TNI

Dalam pernyataan terbarunya di tvOne, Edy langsung mencontohkan Ilija Spasojevic yang dinaturalisasi menjadi Warga Negara Indonesia (ini berarti Spaso tidak nasionalis terhadap negaranya sebelumnya, Montenegro). Ada baiknya kamu melihat rekaman wawancara Edy di bawah ini.

Ada dua hal yang ia tekankan, yaitu nilai-nilai kebangsaan (nasionalisme) dan finansial. “Masalah tekad, jiwa juang, itu tidak boleh dibatasi. Nyawa pun harus ia berikan untuk bangsa ini,” katanya.

Pernyataan di atas tentu menunjukkan hal yang berkaitan jika tidak diaplikasikan di sepakbola; di TNI (Tentara Nasional Indonesia) misalnya. Kita sebetulnya bisa mewajarkan pernyataan Edy jika kita meninjaunya dari sudut pandangnya sebagai Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat.

Namun, ini tidak lantas membenarkan keseluruhan pernyataannya, karena bagaimanapun, pemain sepakbola bukan lah TNI... kecuali mungkin para pemain PS TNI... mungkin, ya.

Kemudian Edy juga mempertanyakan jika pemain-pemain Indonesia yang bermain di Malaysia, ketika kembali, mereka tidak lebih baik. Untuk menjawab pertanyaan Edy ini, ada beberapa pemain Indonesia yang pernah berkiprah di Malaysia.

Beberapa pemain itu adalah Elie Aiboy, Ilham Jayakesuma, Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, Kurniawan Dwi Yulianto, Budi Sudarsono, Hamka Hamza, Patrich Wanggai, Dedi Kusnandar, dan yang terakhir, juga di Selangor, adalah Andik Vermansyah. Spasojevic bahkan juga sempat bermain di Malaysia sebelum ia dikontrak oleh Bhayangkara FC di tahun ini.

Mereka memang pemain yang sedang dalam masa puncak kariernya ketika pindah ke Malaysia, sehingga ketika mereka kembali ke Indonesia mungkin mereka akan kelihatan seperti biasa saja. Jadi, pernyataan Edy ada benarnya jika kita melihat rekam jejak di atas.

Alasan pemain Indonesia berkarier di Malaysia

Akan tetapi selain uang, ada satu faktor yang membuat para pemain Indonesia tertarik berkompetisi di negara lain di Asia Tenggara, terutama Malaysia. Kita bisa melihat salah satu kesebelasan Malaysia, Johor Darul Takzim, pernah menjuarai Piala AFC 2015. Mereka juga menjadi semi-finalis pada 2016 dan berhasil mengangkat nama Malaysia di Benua Asia.

Hal di atas membuat kita sadar Liga Indonesia sedang ketinggalan dengan Liga Malaysia. Timnas Indonesia boleh saja unggul peringkat FIFA (per Desember 2017), yaitu 154 berbanding dengan Malaysia di posisi 174. Namun dari peringkat liga yang dirilis secara berkala oleh AFC, Liga Malaysia berada di peringkat ke-13 di Asia, sementara Indonesia di peringkat ke-24.

Di Asia Tenggara, Liga Indonesia (peringkat ke-24) bukan saja ketinggalan oleh Liga Malaysia (13), tetapi juga oleh Liga Australia (8), Thailand (10), Vietnam (17), Filipina (21), dan Singapura (23).

Kualitas liga ini yang menjadi salah satu sorotan. Sementara di Indonesia, regulasi saja bisa berubah-ubah. Akan tetapi, Edy menyangkal. “Regulasi tidak berubah, tapi kepentingan timnas kita wadahi di klub ini. Pembinaan-pembinaan ini ada di klub,” dalihnya.

Lanjut ke halaman kedua mengenai tinjauan dari penelitian ilmiah, respons pihak Malaysia dan kedua pemain, serta logika nasionalisme yang semu.

Komentar