Angka Dua untuk Si Nomor Dua

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Angka Dua untuk Si Nomor Dua

Piala AFF 2016 telah usai. Indonesia lagi-lagi gagal meraih gelar juara di final kelimanya ini. Menghadapi Thailand di Rajamangala Stadium pada Sabtu, 17 Desember 2016, Indonesia takluk dengan skor 2-0. Dua gol Sirod Chattong membuat Indonesia kalah agregat 3-2.

Hasil ini jelas memupuskan ekspektasi masyarakat Indonesia yang begitu merasa dekat dengan perayaan juara. Langkah demi langkah di Piala AFF 2016 ditapaki dengan perlahan tapi pasti. Keraguan-keraguan di setiap laga sempat diterbangkan oleh lolosnya Indonesia ke laga final.

Indonesia pun sepanjang Piala AFF 2016 ini selalu mencetak dua gol. Menang, seri, ataupun kalah, Indonesia selalu mencetak dua gol, tak kurang tak lebih. Tapi sayang, kebiasaan ini tak berlanjut pada leg kedua final.

Di leg kedua, Indonesia justru kalah oleh angka kesukaannya itu; dua. Dua-nol pemirsa. Angka dua kembali menaungi Indonesia di partai puncak. Namun angka dua kali ini tidak menjadi milik Boaz Solossa cs., melainkan milik Teerasil Dangda dan kawan-kawan.

Atas kekalahan 2-0 ini, Indonesia pun harus puas menjadi peringkat dua di Piala AFF 2016 ini. Nomor dua, lagi-lagi nomor dua. Sebelumnya, sudah empat kali hanya berstatus menjadi nomor dua. Sekarang merupakan yang ke-5. Masyarakat Indonesia rasanya sudah berkali-kali diduakan oleh Piala AFF.

Sebagaimana rasanya diduakan oleh kekasih, menjadi nomor dua di Piala AFF pun rasanya tak kalah pedih, setidaknya bagi pemain. Tengok air mata yang berderai dari para pemain Indonesia usai wasit meniupkan peluit tanda pertandingan berakhir.

Apalagi kali ini, segala kemungkinan tampak seolah agak berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dari Portugal, Leicester, mitos Teerasil Dangda sebagai top skorer, dua gol yang selalu dicetak, semuanya seolah mengarah pada Indonesia yang tampaknya bisa menjadi juara, untuk kali ini saja setidaknya.

Tapi sudah dari jauh-jauh hari, sebagian atau mungkin mayoritas, sudah siap dengan apa yang terjadi pada leg kedua ini. Tak sedikit tampaknya yang sudah siap untuk kecewa di partai puncak Piala AFF ini. Tapi bisa diyakini juga, meski tak terlalu berekspektasi, ada di sudut hati terkecil mereka berharap Indonesia bisa menjawab keraguan itu, seperti yang terjadi di setiap langkah Indonesia sejauh ini di Piala AFF 2016.

Kemenangan 2-1 di Stadion Pakansari leg pertama pun membuat seolah harapan untuk juara bukan lagi sekadar harapan, tapi kenyataan yang bisa diwujudkan. Sulit untuk menolak perasaan yakin bahwa Indonesia bisa juara, membendung rasa percaya diri bahwa perjuangan para pemain Indonesia, dengan segala keterbatasannya di Piala AFF kali ini, bisa diganjar dengan hadiah yang pantas; gelar juara.

Tapi sekali lagi tidak. Sama seperti empat gelaran di mana Indonesia selangkah lagi mengangkat trofi juara, Indonesia kembali harus puas menjadi nomor dua. Nomor dua lagi.

Meskipun begitu, patutnya kita menyadari, bahwa lawan yang Indonesia hadapi di final, Thailand, memang benar-benar layak menjuarai Piala AFF 2016 ini. Mereka sepanjang tahun ini menghadapi lawan-lawan kuat seperti Irak, Qatar, Korea Selatan, Arab Saudi, Jepang, dan Australia jelang Piala AFF 2016. Sementara Indonesia? Sempat tak aktif lebih dari setahun dari sepakbola internasional, aturan dua pemain per klub, disibukkan dengan kongres, dsb.

Bisa dilihat bukan, Thailand melakukan "pemanasan" yang lebih berkelas dibanding Indonesia. Sementara Indonesia "pemanasan" dengan masalah-masalah yang justru hadir dalam tubuh sepakbola Indonesia itu sendiri.

Mungkin memang, Indonesia belum saatnya juara. Hanya menjadi nomor dua kali ini bisa jadi peringatan pada kita bahwa level sepakbola Indonesia, meski cukup tangguh di Asia Tenggara, belum melampaui level Thailand dengan segala kesempurnaannya.

Tapi bagaimanapun, kita tetap harus berterima kasih pada setiap keringat yang sudah diteteskan para pemain, staf pelatih, serta pendukung Indonesia yang terus berjuang melawan ketidakmungkinan. Ya, terima kasih timnas Indonesia. Meski kita kembali hanya bisa menjadi nomor dua, perjuangan kalian, perjuangan kita semua, mungkin memang belum layak untuk merayakan trofi Piala AFF. Kita harus mengakui itu.

Sekali lagi, terima kasih, Indonesia!

Komentar