Green Street dan Tentang Kekuatan Tak Kasatmata

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Green Street dan Tentang Kekuatan Tak Kasatmata

Pada 1977 silam, sebuah rumah yang dihantui di Jalan Green Street, Enfield, menjadi bahan perbincangan seluruh Inggris. Kisahnya ditulis di Daily Mail dan Daily Mirror, diinvestigasi dan diterbitkan dalam bentuk buku, serta didramatisasi dalam bentuk film.

Apa yang terjadi di Green Street bukan sekadar kisah misteri karena jalannya cerita memancing kontroversi. Kisah di Green Street terjadi cukup lama yakni dua tahun. Sejumlah pihak menyebut kejadian di sana sebagai rekayasa, sebagian lagi yakin kalau itu adalah sesuatu yang nyata.

***

Gesekan antar suporter di Piala Eropa masih terus terulang. Sebelumnya, hal ini sempat menjadi perbincangan di media saat suporter Rusia dianggap menyerang suporter Inggris, sebelum dan setelah pertandingan. UEFA memberi peringatan keras kepada kedua kesebelasan negara bahwa mereka akan didiskualifikasi kalau hal serupa kembali terulang.

Rabu (15/6) kemarin, setidaknya 36 orang ditahan usai kericuhan di Lille yang melibatkan suporter Inggris, Prancis, Rusia, dan polisi huru-hara. Seperti diberitakan Kompas, polisi mencegah bentrokan dengan menembakkan gas air mata. Pertikaian pun meluas pada Rabu malam dan melibatkan lebih banyak kelompok. Sirine ambulans pun terdengar tanpa henti membawa korban yang mulai berjatuhan.

Setidaknya dalam sepekan terakhir, terdapat enam peristiwa gesekan antara suporter Inggris dengan suporter Rusia. Suporter Prancis, sebagai tuan rumah, pun murka karena menganggap kedua kelompok suporter tak menghargai mereka sebagai tuan rumah.

Sejumlah pengamat maupun praktisi hooligan di Inggris tidak sepakat dengan apa yang dilakukan oleh pihak kepolisian Prancis yang menggunakan pendekatan represif kepada para suporter.

“Interaksi pertama Anda dengan pendukung sepakbola mestinya tidak dengan menembakkan gas air mata atau menggunakan tongkat,” kata Geoff Pearson, akademisi hukum kriminal dari Universitas Manchester.

Soal apa yang terjadi di Prancis di mana suporter Inggris bersikap provokatif, hal tersebut dimaklumi oleh Geoff, “Mereka melakukan seperti apa yang biasa mereka lakukan.”

“Pertanyaan besarnya adalah adalah bagaimana grup kecil ini diperbolehkan masuk tanpa dicek, dan mengapa polisi merasa satu-satunya respons mereka adalah dengan menggunakan tongkat dan gas air mata?” tanya Geoff.

Sementara itu, Wakil Kepala Polisi Inggris, Mark Roberts, menyoroti soal serangan yang dilakukan oleh suporter Rusia. Pasalnya, sepanjang 10 tahun berkutat di dunia kerusuhan sepakbola, serangan suporter Rusia itu adalah sesuatu hal yang paling serius dan terkoordinasi.

Roberts bukannya tanpa alasan. Pasalnya, ada sejumlah penggemar Rusia yang mempersenjatai diri dengan gum shields yang biasa digunakan petinju di mulut, sarung tinju, dan bandana.

“Inggris punya masalah dengan hooligan di masa lalu. Namun, orang-orang Rusia amat berbeda. Mereka adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Mereka amat terorganisasi dan bertekad untuk melakukan serangan dalam tingkat agresivitas yang tidak pernah aku temui selama 10 tahun terakhir,” ungkap Roberts.

Baik Geoff maupun Roberts tentu memiliki alasan mengapa mereka berani bicara seperti itu. Keduanya memiliki pengalaman mengatasi dan mempelajari hooliganisme yang sudah lekat dengan Inggris.

Hingga saat ini, kasus yang melibatkan kekerasan suporter di Inggris berhasil ditekan. Sejumlah cara telah diterapkan seperti dengan memasang CCTV di setiap sudut stadion, sampai mengawal suporter tandang dan memasukkan mereka ke bus. Tujuannya tentu untuk meminimalisasi bertemunya dua suporter tanpa pengawasan yang bisa memperbesar peluang terjadinya gesekan.

Aksi kekerasan yang dilakukan suporter Inggris kian menurun terlebih dengan harga tiket yang semakin mahal. Hal ini seolah menjadi penyaring buat suporter yang ingin merusuh untuk datang ke stadion. Sejumlah kesebelasan pun memberikan sanksi tegas buat suporternya yang berulah sampai larangan untuk memasuki stadion hingga seumur hidup. Media pun kian jarang memberitakan adanya bentrokan antar suporter di Inggris. Kalaupun ada dampaknya bisa dibilang tidak begitu besar, salah satunya bentrokan antara suporter Everton dan Manchester United di partai semifinal Piala FA, di mana bahkan tidak terlihat sisa-sisa gesekan.

Berdasarkan data Pemerintah Inggris dalam “Football-Related Arrests and Football Banning Order Figures Season 2013-14”, tercatat ada 112 suporter Manchester United yang ditangkap. Menurut kolumnis ESPNFC, John Brewin, catatan ini jauh menurun karena pada 1970-an sampai 1980-an, jumlah tersebut adalah angka untuk satu hari!

Untuk perbandingan lainnya, pada musim 2013/2014 terdapat 2273 orang yang ditahan karena dianggap melakukan pelanggaran atau hanya 0,01 persen dari jumlah penonton Premier League yang hadir ke stadion. Bandingkan dengan musim 1988/1999 di mana 6185 suporter ditangkap dalam semusim.

Penurunan aksi hooliganisme ini tentu tak lepas dari upaya Pemerintah Inggris baik itu lewat kepolisian maupun federasi sepakbolanya, agar budaya bentrok tak kelewat sering. Pengurangan intensitas pertemuan antarkelompok suporter, membuat kekerasan karena gesekan bisa diminimalisasi.

Populer lewat Green Street

Hooliganisme kian populer setelah Lexi Alexander menyutradarai Green Street (2005) yang dibintangi Elijah Wood (The Lord of The Rings 2000-2003) dan Charlie Hunnam (Pacific Rim, 2013).

Film tersebut memperlihatkan bagaimana kelompok suporter West Ham United, Green Street Elite, berperilaku saat menyangkut sepakbola. Ada banyak hal yang ditunjukkan seperti menyerang bar lawan, menutup wajah saat masuk stadion, sampai memprovokasi suporter lawan di stadion.

Tidak sedikit penggemar yang terpengaruh dan menjadikan film Green Street sebagai referensi sekaligus awalan untuk mencari lebih lanjut apa itu hooligan. Tidak sedikit pula yang meniru dan mengimplementasikan baik dalam gaya busana maupun berperilaku di Indonesia.

***

Green Street yang dipopulerkan Lexi Alexander, terbentang 12 kilometer sebelah tenggara dari Green Street yang dipopulerkan James Wan dalam The Conjuring 2 (2016). Namun, keduanya memberikan rasa takut yang hampir sama: ketakutan akan sosok yang tak terlihat.

Dalam kasus James Wan, ketakutan itu muncul dari kekuatan tak kasat mata yang menghantui Keluarga Hodgson selama dua tahun (bahkan hingga saat ini); sebuah ketakutan yang menggiring BBC membuat film dokumenter khusus berjudul Enfield Poltergeist.

Sementara itu, ketakutan dalam “Green Street” versi Lexi Alexander berasal dari ketidakmampuan manusia mengidentifikasi sesama jenisnya. Kekuatan tidak terlihat itu mengontrol otak untuk melakukan sesuatu yang “tidak manusia”. Manusia normal mana yang melempari bar dengan batu? Manusia mana yang menghajar manusia lain sampai tersungkur tak berdaya dengan motif menghabisi nyawa?

Ketakutan itu kini muncul di Prancis dalam gelaran Piala Eropa 2016. “Kekuatan tak kasatmata” hadir saat Inggris bertemu dengan Rusia dan di sejumlah kelompok lain seperti Jerman dengan Ukraina. Sama seperti kekerasan, kebanyakan orang suka menonton film horor, tapi tak ada satupun yang mau mengalaminya.

Komentar