Mempertanyakan Penunjukan Alfred Riedl

Editorial

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Mempertanyakan Penunjukan Alfred Riedl

Penantian tersebut terjawab sudah. PSSI menunjuk Alfred Riedl sebagai pelatih baru timnas senior Indonesia. Pelatih asal Austria tersebut kembali ditunjuk untuk menangani Indonesia pasca dicabutnya sanksi FIFA pada 16 Mei 2016. Turnamen internasional yang akan segera dihadapi Riedl dan Indonesia adalah Piala AFF pada akhir tahun 2016 nanti.

Untuk kali ketiga Alfred Rield dipercaya PSSI untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia. Pria asal Austria itu secara resmi diumumkan sebagai pelatih `Skuat Garuda` pada Jumat (10/6). Padahal sebenarnya Riedl tidak pernah dipanggil untuk melakukan fit and proper test seperti kandidat pelatih lain yang dikabarkan akan menangani Timnas Indonesia seperti Nil Maizar dan Indra Sjafrie.

Penunjukan pelatih timnas adalah salah satu dari lima program yang diusung oleh PSSI pasca terlepas dari sanksi FIFA. Secara waktu, akan ada tiga waktu jeda internasional yang bisa dimanfaatkan Alfred Riedl sebelum Piala AFF, yakni 29 Agustus-6 September, 3-11 Oktober, dan 1-15 November.

Namun dengan ditunjuknya kembali Riedl, hal ini menunjukkan PSSI belum berubah. Setelah sekian lama vakum, mereka seolah tak memiliki pilihan lain ketika pelatih incaran seperti Nil Maizar dan Indra Sjafrie gagal didatangkan. Sementara Riedl, terakhir kali dipecat PSSI karena Indonesia babak belur di Piala AFF 2014.

Riedl sendiri lantas memerintahkan Wolfgang Pikal untuk memilihkan daftar national pool yang berisi calon-calon pemain timnas. Sejak dipecat PSSI, Riedl memang tak beredar di Indonesia. Karenanya ia menginstruksikan Wolfgang memilihkan pemain untuk kemudian ia seleksi dari waktu ke waktu.

Selain itu, ada hal lain yang justru menjadi sangat penting dan patut menjadi perhatian terkait penunjukan kembali Riedl. Yaitu soal kepercayaan dan integritas, baik itu pada Riedl sebagai pelatih timnas, ataupun PSSI sebagai pengelola timnas.

PSSI terbilang lambat dalam penunjukan pelatih. Pengunduran pengumuman pelatih bahkan dilakukan sebanyak dua kali yang rencananya awalnya akan diumumkan pertengahan Mei. Pengumuman Riedl sendiri baru terjadi hampir sebulan setelahnya. Setelah lambat, PSSI hanya kembali menunjuk Riedl.

Keadaan diperparah dengan kenyataan bahwa Riedl tidak mengikuti fit and proper test yang dilakukan oleh PSSI kepada kandidat calon pelatih Indonesia lain. Ini seperti menggambarkan bahwa PSSI “asal tunjuk” untuk sosok yang nantinya akan menangani timnas Indonesia. Jangan lupakan pula ketika pelatih sekelas Nil Maizar, Sutan Harhara atau Rudy Keltjes perlu melakukan tes terlebih dahulu, Riedl yang dua kali gagal tidak melakukannya dan tiba-tiba diperkenalkan sebagia pelatih baru timnas.

Riedl memang memiliki portofolio yang mentereng. Sepakbola Vietnam berkembang pesat ketika berada di bawah arahan Riedl. Laos yang biasanya menjadi pesakitan juga tampil cukup tangguh ketika Riedl menjabat sebagai pelatih kepala, setahun sebelum ia ditunjuk menangani Indonesia. Ia juga punya pengalaman di Austria sebagai pemain profesional, dan sempat menangani timnas Austria.

Namun bersama Indonesia, Riedl harus diakui tidak memiliki banyak prestasi yang dibanggakan. Setelah berhasil membawa Indonesia menjadi runner-up di Piala AFF pada tahun 2010, performa Riedl bersama Indonesia menukik tajam. Bahkan pada Piala AFF edisi tersebut bisa dibilang Riedl tidak mampu mencapai ekspektasi yang sudah dibebankan kepadanya. Tampil superior sepanjang turnamen, Riedl dan Indonesia tampil buruk di partai final, terlepas dari skandal dan kontroversi yang mengiringi partai puncak kejuaraan antar negara Asia Tenggara tersebut.

Tidak lolos dari fase grup pada gelaran Piala AFF tahun 2014 juga menjadi sebuah catatan hitam. Meskipun selalu sulit dan kalah bersaing di level Asia, Indonesia adalah salah satu kekuatan besar dalam kancah sepakbola Asia Tenggara. Maka ketidakberhasilan melaju dari fase grup pada Piala AFF tahun 2014 adalah sebuah kejadian yang bisa dibilang memalukan.

Terkait pengalaman melatih Riedl juga bukan menjadi jaminan. Walaupun sarat pengalaman melatih di Asia Tenggara, wilayah ini bukan wilayah yang sama ketika Riedl masih berpetualang di wilayah yang terkenal sebagai produsen padi ini. Peta kekuatan berubah seiring dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti Filipina dan Myanmar.

Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana pada tahun 2014 Indonesia dihantam Filipina dengan skor telak 4-0. Padahal hampir satu dekade sebelumnya, dengan lawan yang sama Indonesia mampu menang dengan skor besar 13-1. Banyak yang berubah dalam peta kekuatan sepakbola Asia Tenggara saat ini. Dan sudah disebutkan sebelumnya, bahkan banyak yang berubah dalam sepakbola Indonesia saat ini.

Alih-alih mendapatkan dukungan yang hilang pasca masa kelam ketika Indonesia mendapatkan sanksi dari FIFA, PSSI menurunkan integritas mereka dengan menunjuk kembali Riedl. Padahal, jikapun memang mencari pelatih sulit, masyarakat Indonesia pasti rela menanti lebih lama jika PSSI benar-benar serius mencari pelatih berkualitas untuk timnas Indonesia. Eh, ini malah Riedl lagi.

PSSI harusnya mencari `pelatih baru`. Pelatih baru ini dalam artian pelatih yang memiliki visi dan misi yang lebih segar dari peatih timnas sebelumnya. Ya, PSSI harusnya menunjuk pelatih baru yang benar-benar berkualitas agar bisa memperbaiki kualitas dan prestasi sepakbola Indonesia, bukan memberikan kesempatan pada Alfred Riedl gagal untuk ketiga kalinya.

Komentar