Mengkhidmati Hari Bawa Bekal Nasional

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengkhidmati Hari Bawa Bekal Nasional

Tanggal 12 April diperingati sebagai “Hari Bawa Bekal Nasional”. Mungkin terdengar “apa banget, sih?”, tetapi segala sesuatu pasti ada alasannya (kecuali cinta).

Dalam sebuah bincang-bincang di televisi, sang narasumber menyatakan kalau membawa bekal dari rumah memberikan setidaknya dua keuntungan untuk karyawan. Pertama, kesehatan mereka terjamin karena makanan diolah sendiri. Kedua, karyawan bisa lebih produktif karena tak perlu keluar dari tempat kerja mereka untuk makan siang.

Alasan terakhir mungkin lebih tepat sebagai keuntungan buat bos yang selalu memeras keringat karyawannya. Hancurkan kapitalis! Hidup buruh!

Penulis biasanya hanya membawa bekal kalau tabungan sudah tipis. Selebihnya, warung nasi adalah pilihan yang mulia. Peringatan “Hari Bawa Bekal Nasional” lantas membuat saya merenung. Benarkah membawa bekal itu menguntungkan? Mengapa saya tidak merasa demikian?

***


Pria paruh baya itu buru-buru membereskan barang dagangannya. Nasi kuning yang ia bawa, baru terjual beberapa bungkus saja. Saat ditanya akan pergi ke mana, ia menjawab singkat, “Pindah. Salah tribun.”

Saat itu, penulis tengah berada di tribun samping utara Stadion Siliwangi. Lokasinya persis di sebelah kiri tribun VIP. Sudah menjadi kebiasaan para penghuni di tribun tersebut khususnya untuk membawa bekal makanan dari rumah saat pertandingan. Sehingga menjadi hal yang lumrah menyaksikan para suporter makan bersama-sama saat jeda babak pertama.

Sore itu, lampu stadion baru saja dinyalakan, sementara pertandingan masih menyisakan waktu setengah jam. Namun, seorang penjaja minuman telah memasukkan dagangannya ke tas. Ia pun berbincang dengan koleganya yang lain.

“Sekarang mau ke mana?” tanya rekannya yang lain.

“Ke Cimahi. Ada konser musik,” kata penjaja minuman tersebut sibuk membereskan dagangannya tanpa sedikitpun menatap rekannya tersebut.

“Naik apa kamu ke sana? Angkot? Keburu beres konsernya juga,” ucap rekannya tersebut, “Lagian di Cimahi kayaknya hujan.”

“Tidak apa-apa, kerja saja dulu, yang penting halal. Rejeki sudah ada yang atur,” sang penjaja minuman itu pun bergegas pergi. Tak lama kemudian, ia menghilang dalam kerumunan.

Dua pekan lalu, pertandingan babak semifinal Piala Bhayangkara diselenggarakan di Stadion Si Jalak Harupat yang mempertemukan Persib Bandung menghadapi Bali United. Keberhasilan Persib menjadi tuan rumah bukan cuma membuat senang Bobotoh, tetapi juga penjual makanan yang mangkal di stadion.

“Ke Jakarta, Kang?” tanya penjual cuanki membuka perbincangan. Saya pun mengangguk. “Liga kapan mulai ya?” tanyanya dengan tatapan kosong.

Dalam perbincangan usai bubaran pertandingan tersebut, mamang cuanki tersebut bersyukur pertandingan kembali diselenggarakan di (Kabupaten) Bandung. Soalnya, pada hari pertandingan, ia bisa menghemat tenaga karena bisa ngetem di stadion.

Usai membayar, si mamang cuanki pun langsung membereskan dagangannya dan berjalan pergi menuju angkot jurusan terminal Leuwi Panjang. Penulis curiga kalau ia berasal dari “grup” Cuanki Cianjur yang ngekos di Cicaheum. Ia mesti berjualan sejauh itu (30-an kilometer), untuk mengais rejeki, yang biasa hadir saat ada pertandingan.

Kondisi senada juga mungkin dirasakan oleh para penjual makanan “musiman” yang berjualan hanya saat pertandingan dilangsungkan. Setiap harinya mereka mungkin berjualan, berkeliling mencari pelanggan.

Sasaran utama mereka tentu suporter yang datang ke stadion dan kelaparan. Harga yang mereka patok pun sama seperti biasa mereka berjualan. Bukannya mereka tidak mau menaikkan harga, tapi pesaing mereka sudah kelewat banyak sehingga harga pun menjadi lebih kompetitif.

Bayangkan misalnya, saat ada pertandingan pada 12 April, lalu semua suporter membawa bekal. Bagaimana dengan nasib mereka yang berjualan makanan?

Berjualan makanan tidak sama dengan jualan kaus atau syal. Berjualan makanan butuh perhitungan matang di awal. Soalnya, kalau dagangan tidak terjual, makananpun akan berakhir di tempat sampah.

Sebagai manusia, ada kalanya kita ingin berbagi kebahagiaan. Toh, para pedagang pun bukan pengangguran yang meminta-minta. Saat kita mengeluarkan sejumlah uang, kita mendapatkan keuntungan yang sepadan. Di sisi lain, apa yang kita lakukan bisa memperpanjang nafas para pedagang yang memang hanya menggantungkan hidupnya dari berdagang.

Hampir semua penulis Pandit Football membeli makanan di warung nasi dekat kantor. Ambil rata-rata terdapat 10 penulis yang menghabiskan 15 ribu rupiah untuk sekali makan. Berarti, dalam satu hari, warung nasi tersebut bisa memeroleh omset 150 ribu sehari. Jika pada 12 April semua penulis membawa bekal, berarti warung tersebut akan kehilangan omset 150 ribu ditambah 10 porsi nasi bungkus yang sia-sia.

***


Apakah membawa bekal benar-benar sehat? Jawabannya relatif, tergantung dari bagaimana kita mengolah bahan makanan.

Apakah membawa bekal membuat kita irit? Belum tentu.

Misalkan begini. Penulis ingin membuat ayam rica-rica. Bahan-bahan yang diperlukan adalah dua potong ayam (15 ribu/dada filet), cabe rawit merah (lima ribu/100gram), garam gurih(tujuh ribu/300gram), minyak Tropica (15 ribu/1 liter), kecap Bango (8 ribu/135ml), MSG (9 ribu/250gr), bawang putih dan bawang merah (10 ribu/paket), gula pasir lokal (10 ribu/1kg).

Kalau ditotal, biaya untuk membuat ayam rica-rica untuk dua potong ayam adalah 79 ribu, belum dihitung biaya beli gas melon, paket internet untuk browsing resep, serta biaya bensin untuk belanja ke pasar. Belum lagi risiko gagal dan tidak sesuai selera.

Membuat makanan untuk porsi sendiri malah akan merugikan, kecuali memang dibuat untuk banyak porsi. Di sisi lain, ada warung nasi yang begitu mulia menjaga agar para generasi penerus bangsa ini tidak mati kelaparan.

Saya kuliah di jurusan jurnalistik. Sudah sering terdengar topik pembicaraan soal “kematian” media cetak. Seorang dosen pernah bilang kalau sebenarnya media cetak secara tidak langsung menjual iklan ketimbang menjual isi berita. “Digratiskan pun mungkin tidak masalah, karena pendapatan mereka sebagian besar dari iklan, bukan dari langganan, apalagi pembeli eceran,” ucapnya.

Coba Anda pikirkan kembali mengapa Anda masih membeli koran dalam bentuk fisik. Benarkah Anda amat membutuhkan informasi? Atau ini lebih karena alasan kemanusiaan? Benarkah Anda membeli koran karena Anda tak bisa membayangkan apa yang akan dikerjakan loper koran di perempatan kalau Anda tak membelinya karena sudah khusyuk membaca Detikcom dari telepon genggam? Benarkah?

Hal yang hampir mirip juga terjadi pada penjual makanan. Memangnya Anda akan mati dalam sekejap kalau tidak ada tukang bakso yang lewat? Atau Anda akan sakau kalau tiap malam tidak makan martabak? Toh, Anda bisa membuatnya di rumah. Toh, kalau Anda bertualang ke Zimbabwe tukang bakso pun sepertinya akan sulit ditemui.

Benarkah Anda membeli makanan di luar karena Anda benar-benar lapar? Ataukah ada alasan kemanusiaan di baliknya? Lantas, apa yang ada di benak Anda ketika ada gerakan yang mengajak Anda selama sehari berhenti makan di warung nasi, yang menghentikan “alasan kemanusiaan” itu?

Alasan "agar lebih produktif" itu terbilang aneh. Anda dibayar oleh kantor, perusahaan, pabrik, atau perusahaan outsourcing. Apakah tujuan Anda mendapatkan uang adalah untuk ditanam agar tumbuh pohon uang yang tinggi dan rimbun?

Anda membayar pajak. Benarkah pajak tersebut terasa oleh tukang cendol, tukang cuanki, atau warung nasi? Mengapa Anda tidak memberi dampak yang lebih signifikan, yang lebih terasa buat mereka?

foto: maksindo.com

Komentar