Malam Persebaya 1927

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Malam Persebaya 1927

Pada babak semifinal dan final Piala Kemerdekaan 2015, terdapat partai hiburan yang melibatkan Persebaya 1927. Pada babak semifinal kedua, mereka menjalani pertandingan segitiga dengan menghadapi Merah Putih All Star dan Persibo Bojonegoro. Sementara pada babak final, Persebaya menghadapi Persekap Pasuruan.

Sontak tak sedikit yang terheran-heran akan keikutsertaan Persebaya ini. Karena di Piala Presiden yang digagas Mahaka, Persebaya United tergabung di grup A bersama Persib Bandung, Martapura FC, dan Persiba Balikpapan.

Teman-teman dan rekan saya yang cukup awam tentang dualisme dalam tubuh Persebaya ini lantas serentak bertanya pada saya yang tengah berada di Surabaya; "Jadi yang bener itu Persebaya yang mana, sih?”

Pada artikel ini, saya tak akan mengatakan bahwa Persebaya ini palsu dan Persebaya yang lainnya asli. Saya hanya akan menceritakan apa yang terjadi saat Persebaya 1927 berlaga di laga eksebisi yang digagas Tim Transisi ini.

Bermain di stadion kebanggaan rakyat Surabaya, Gelora Bung Tomo, laga sebelum partai final Piala Kemerdekaan 2015 menjadi magnet yang luar biasa bagi arek-arek Suroboyo. Meski stadion berkapasitas 50 ribu penonton ini tak penuh, diperkirakan bahwa laga ini disaksikan lebih dari 25 ribu penonton secara langsung.

Jumlah ini tentunya cukup fantastis untuk sekadar laga hiburan. Apalagi para penonton tetap diharuskan untuk membeli tiket supaya bisa masuk ke dalam stadion dengan harga normal.

Banyak faktor yang membuat para pendukung Surabaya yang dikenal dengan Bonek Mania ini berbondong-bondong menyaksikan laga uji tanding ini. Salah satunya, kerinduan mereka untuk menyaksikan Persebaya secara langsung.

Menurut Andie Peci, pentolan Bonek Mania, Persebaya sudah dua tahun tak bermain di Gelora Bung Tomo yang merupakan kandang mereka. Tak heran jika laga tersebut, meski bertajuk eksebisi, menjadi momentum bagi Persebaya dan Bonek Mania untuk membuktikan eksistensi mereka.

“Sudah dua tahun kita bersama-sama berkumpul di tempat ini,” kata Andie Peci lewat pengeras suara. “Di stadion kebanggaan kita Gelora Bung Tomo ini, mari kita jadikan pertandingan kali ini sebagai momentum bahwa tanpa PSSI, kita tak mati. Salam satu nyali!”

Tak ayal sepanjang pertandingan Gelora Bung Tomo begitu bergemuruh. Nyanyian-nyanyian khas Bonek Mania seperti yang berjudul "Persebaya Emosi Jiwaku" terus didengungkan di seluruh stadion. Nyanyian-nyanyian kritik pada PSSI pun dilantunkan tak hanya sekali dua kali.

Pada laga itu, pendukung Persekap Pasuruan pun hadir meski hanya mengisi satu tribun dengan jumlah yang kalah jauh dibandingkan dengan pendukung Persebaya. Kedua pendukung saling bertegur sapa. Dimulai dari nyanyian pendukung Persekap yang berterima kasih atas jamuan Bonek Mania, dan disambut dengan gemuruh tepuk tangan dari seisi stadion.

Bonek Mania pun ikut bertepuk tangan saat pemain Persekap mencetak gol. Sebuah momen yang jarang terlihat di pertandingan sepakbola Indonesia.

Pemain-pemain yang menghuni skuat Persebaya pada laga melawan Persekap itu pun dihuni oleh pemain-pemain yang pernah mengharumkan nama Persebaya di kancah sepakbola nasional. Nama-nama seperti Mat Halil, Rendi Irwan, Basuki, hingga dua pemain asing, Cristian Carrasco dan Antonio Claudio.

Antonio Claudio yang merupakan bek asal Brasil sendiri menjadi pemain yang membuka keunggulan Persebaya. Memanfaatkan sepak pojok Rendi, tandukan pemain yang akrab disapa Toyo ini pun tak mampu dibendung kiper Persekap.

Carrasco yang pernah menjadi bomber andalan Persebaya dengan mencetak 18 gol dari 24 pertandingan pada musim 2004-2005, mencetak hattrick pada laga yang berakhir dengan skor 5-1 untuk Persebaya ini. Seperti biasa, setiap berhasil mencetak gol, penyerang asal Cile tersebut langsung mengenakan topeng Spiderman.

Tampaknya bermain di hadapan puluhan ribu Bonek Mania ini terasa spesial bagi Carrasco. Saat digantikan pada babak kedua, ia menghampiri announcer pertandingan dan mengambil pengeras suara demi mengucapkan terima kasih pada Bonek.

“Terima kasih kepada semua pihak, Bonek Mania, Persebaya, semoga yang terbaik diberikan kepada kita semua. Terima kasih,” ungkap penyerang 37 tahun tersebut di tengah-tengah pertandingan.

Saat turun minum, terdapat aksi Bonek Mania yang menunjukkan protes pada manajemen Persebaya dan penolakan terhadap Persebaya United. Spanduk penolakan ini pun kemudian disambut tepuk tangan seisi stadion.

DSC_1370

Pada akhir pertandingan, para pemain Persebaya pun tak langsung kembali ke ruang ganti. Dipimpin kapten kesebelasan, Mat Halil, mereka menyempatkan diri untuk melakkan victory lap mengelilingi stadion untuk menyapa para Bonek Mania.

DSC_1373

Malam 13 September 2015 memang seperti "Malamnya Bonek Mania". Koreo dari tribun utara, kembang api, flare, chant-chant yang menggema di stadion, serta kemenangan yang diraih Persebaya, menyemarakkan kerinduan mereka terhadap kesebelasan yang mereka cintai, Persebaya 1927.

Bonek1
Bonek2

foto: @bungtheloe

Komentar