Tak Perlu Demokrasi di Lapangan Hijau

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tak Perlu Demokrasi di Lapangan Hijau

Senin (22/3) lalu, mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew tutup usia. Lee memimpin Singapura sejak 1959 dan mundur pada 1990. Wafatnya Lee disambut dengan hari berkabung selama tujuh hari di Singapura. Lee adalah pemimpin yang berpengaruh bagi negara jajahan Inggris tersebut.

Menjadi perdana menteri selama lebih dari tiga dekade, Lee dikenal sebagai pemimpin tangan besi. Ia tak segan untuk memenjarakan lawan politik dan mengekang kebebasan bicara. Meski dipimpin secara otoriter, toh Singapura tetap menjadi yang terdepan khususnya dalam bidang ekonomi dan pariwisata, bukan hanya di Asia Tenggara, tapi juga dunia.

Pengekangan kebebasan berekspresi membuat Singapura berada dalam peringkat bawah indeks demokrasi. Korbannya tentu saja media. Beberapa literatur diterbitkan terkait sensor berita dan media yang tumpul ke atas. Namun, tidak terjadi perlawanan. Kondisi ini berbeda dengan di Indonesia saat Presiden Soeharto, kala itu, membredel tiga media; Tempo, Editor, dan Detik, pada 1994. Masa tersebut menjadi titik tolak media untuk terus melawan yang diejawantahkan dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Apakah masyarakat Singapura pada umumnya “se-lemah” itu? Mengapa mereka rela hidup dalam kekangan penguasa yang memupus hak lahiriyah manusia untuk bicara? Jawabannya adalah karena demonstrasi tidaklah efektif. Alih-alih protes, masyarakat malah ditangkap dan dampak buruknya jauh lebih besar. Lagipula, apa yang mau diprotes? Kalaupun pemerintah melakukan nepotisme, toh masyarakat juga masih hidup makmur dan sejahtera.

Hal ini seharusnya bisa diterapkan di atas lapangan sepakbola. Demokrasi tidaklah diperkenankan. Dalam hal ini, wasit adalah penguasa mutlak yang otoriter. Mereka yang protes harus segera dilumpuhkan dan dienyahkan.

Percaya pada Wasit


Wasit adalah entitas paling penting di atas lapangan. Ia yang memimpin jalannya pertandingan. Integritas dan kredibilitas sepakbola selamanya ada di tangan wasit, bukan FIFA.

Wasit tidak akan fokus jika para pemain meragukan keputusannya. Kepercayaan dari para pemain adalah alasan utama mengapa wasit berbentuk manusia masih digunakan hingga saat ini di sepakbola.

Bentuk dari ketidakpercayaan adalah protes. Saat pemain memprotes wasit, artinya ia menumbuhkan rasa tidak percaya yang merembet pada ketidakpatuhan atas putusan wasit di atas lapangan. Sialnya, pemain sepakbola masa kini sering berbohong kala protes. Ini yang berbahaya karena wasit sering terpengaruh oleh tipu daya para pemain yang kian canggih.

Bentuk kebohongan yang paling sering dilakukan adalah tidak mengaku soal siapa yang terakhir kali menyentuh bola out. Anda bisa melihat bagaimana para pemain refleks menuduh lawannya yang membuang bola, dengan gestur tangan mengikuti hakim garis saat bola out. Pesepakbola selalu ingin mendapatkan tendangan sudut ketika menyerang, dan tendangan gawang ketika bertahan.

Kebohongan yang paling ekstrem dan biasanya mendapat perhatian khusus dari wasit adalah pura-pura terjatuh. Hal ini juga bahaya karena kredibilitas wasit akan tercoreng jika ia memberi pelanggaran padahal pemain tersebut hanya berpura-pura. Jarang ada kejadian di mana wasit memberi kartu kuning bagi pemain yang pura-pura terjatuh dengan kontak minimal.

Atas hal ini, sejumlah wasit mau tidak mau melakukan keputusan yang “berlebihan”, seperti memberi kartu kuning yang sebenarnya tidak perlu kepada pemain muda.

KickTV membuat sebuah film dokumenter tentang wasit yang berjudul “El Arbitro”. Film berdurasi 30 menit tersebut menampilkan wasit La Liga Spanyol, Miguel Perez Lasa, yang memimpin dua pertandingan antara Sevilla melawan Villareal dan Barcelona melawan Espanyol.

Perez pun bercerita panjang lebar soal bagaimana kepribadiannya yang dingin saat pertama kali memimpin. Ia tak segan memberikan kartu bagi pemain yang melawan ataupun protes. Dalam film tersebut, Perez memberi kartu kuning kepada Lionel Messi yang kala itu masih berusia 21 tahun. Alasannya, karena Messi memprotes keputusan hakim garis dengan berteriak. Menurut Perez, wasit terpaksa memberi kartu kuning kepada pemain muda agar di kemudian hari, ia segan untuk melakukan protes dan menjadi pelajaran agar menghormati wasit.

“Sampai segitunya,” tulis komentar di channel Youtube KickTV tentang upaya Perez agar pemain menghormati wasit. Hal ini menjadi wajar karena pesepakbola masa kini semakin berani mengintervensi keputusan wasit. Wasit adalah manusia yang sistem dalam pikiran serta emosinya tidak selalu stabil dan sempurna. Diakui atau tidak, tekanan tersebut pastilah sedikit banyak memengaruhi keputusan wasit saat itu, atau di masa mendatang.

Hal ini yang membuat Zlatan Ibrahimovic kesal karena para pemain Chelsea mengerubungi wasit Bjorn Kuipers. Ia pun melabeli para pemain Chelsea “bertingkah layaknya bayi”. “Saat aku mendapat kartu merah semua pemain Chelsea berdatangan,” kata Zlatan, “Aku merasa seperti mendapati banyak bayi di hadapanku.”

Menutup Mulut Penonton


Sumber gambar: dailymail.co.uk

Selain oleh pemain, Perez juga mengakui kalau dirinya mendapat tekanan besar dari penonton. “Kami sering mendapatkan ejekan dan hinaan,” kata Perez, “Itu seperti menjadi takdir buat kami.”

Kala memimpin laga Sevilla menghadapi Villareal, hinaan dengan kata tak pantas meluncur deras dari seisi stadion. Pasalnya, Perez memberi kartu kuning bagi pemain Sevilla. Ejekan macam itu, apalagi dilakukan secara masif dalam bentuk koor, tentu akan memengaruhi mental dan psikologis wasit yang memimpin pertandingan. Ini membuat wasit menjadi gugup dan bisa saja malah condong memberi keuntungan bagi tuan rumah.

Semestinya setiap operator liga melarang penonton untuk menghina dan menekan wasit. Hukuman yang diberikan harusnya sama seperti penonton yang meneriakkan kata-kata rasis. Tanpa tekanan penonton, wasit bisa menjadi garda terdepan yang menjaga integritas dan kredibilitas pertandingan sepakbola. Tanpa wasit, pertandingan sepakbola hanya sekadar candaan.

Meningkatkan Kredibilitas Pertandingan


FIFA sering bicara soal “integritas” dan “kredibilitas”. UEFA juga menolak kepemilikan pihak ketiga karena alasan “integritas”. Padahal, integritas dan kredibilitas paling utama di sepakbola dipegang oleh wasit yang memimpin pertandingan. Namun, hingga saat ini wasit belum mendapatkan tempat yang utama di sepakbola.

Berkembangnya industri sepakbola nyatanya tidak turut mendongkrak gaji wasit. Dalam setahun, wasit utama Premier League hanya mendapatkan 35-70 ribu pounds. Angka tersebut setara atau lebih kecil dari gaji satu pekan rata-rata pemain Arsenal.

Ini yang membuat wasit tidak mengandalkan pekerjaannya di sepakbola. Menjadi wasit agaknya hanya menjadi “kesibukan” ketimbang “profesi”. Perez misalnya. Ia memiliki pekerjaan “sampingan” sebagai sales toko perlengkapan rumah tangga. Di Inggris, sejumlah wasit juga memiliki pekerjaan lain di luar sepakbola. Mereka sadar kalau kehidupan mereka di sepakbola tidak akan lama, dan tidak akan selamanya.

Saat ini beberapa operator liga memiliki peraturan wasit yang memimpin pertandingan maksimal 45 tahun. Dengan rata-rata wasit yang memimpin pertandingan pertama di kompetisi teratas berusia 30 tahun, berarti wasit hanya memiliki 15 tahun untuk bergelut di dunia sepakbola.

Dengan karir yang pendek dan gaji yang tidak lebih besar dari sejumlah pemain, di sini “integritas” yang kemudian dipertanyakan. Bukan tidak mungkin wasit mendapat “penghidupan” lain di sepakbola.

Wasit semestinya diupah yang layak. Ia harus berlaku seperti halnya robot yang selalu sempurna. Angka 3.500 euro agaknya masih terlalu kecil bagi wasit yang memimpin pertandingan di Spanyol. Untuk persiapan saja, mereka biasanya minimlah sudah menganalisa cara bermain kesebelasan sehari sebelumnya.

Ini juga dilakukan Perez yang menganalisis permainan Barcelona. Ia berkali-kali mengingatkan dua asistennya untuk waspada saat Xavi menggiring bola. Beban mereka akan bertambah berat jika Bojan atau Messi bermain. Bola-bola lambung dengan pergerakan cepat tidak bisa terelakkan. Mau tidak mau hakim garis mesti jeli dan harus memutuskan dalam waktu sepersekian detik.

Wasit yang Kredibel


Latihan wasit FIFA. (Sumber gambar: refarbiter.wordpress.com)

Di Spanyol, setiap bulannya para wasit La Liga berkumpul untuk dievaluasi dan disegarkan ulang. Federasi memberi materi teknik, hingga fisik. Tidak lupa, mereka juga membahas bagaimana situasi dan kondisi terkini permainan sepakbola di Spanyol, sehingga wasit bisa menentukan keputusan yang tepat.

Saat bertanding, wasit didampingi dua hakim garis, satu asisten wasit, dan satu technical delegate (TD) dari komisi wasit. TD bertugas mengevaluasi kinerja wasit di lapangan untuk dilaporkan ke federasi. Di Spanyol, ada sistem promosi-degradasi bagi wasit setiap tahunnya.

Kompetisi di “dunia perwasitan” memang keras. Pada musim 2007/2008 ada 25 wasit di La Liga. Untuk mencapai tingkatan teratas, 25 wasit tersebut sudah merasakan bagaimana memimpin pertandingan divisi bawah dan saling sikut untuk menjadi yang terbaik dengan wasit lainnya.

Rintangan paling sulit adalah kala memasuki Divisi Segunda atau tingkat kedua dalam sistem liga di Spanyol. Terdapat 125 wasit yang terdaftar, tapi hanya 11 pertandingan yang dimainkan setiap pekan. Setiap tahunnya hanya ada empat wasit yang bisa promosi ke La Liga. Bagi mereka yang “biasa-biasa”, jangankan promosi, sudah dipercaya memimpin pertandingan saja, barangkali adalah anugerah yang luar biasa; karena di Spanyol, wasit dibayar per pertandingan. Kalau tidak memimpin pertandingan, ya mereka mau makan apa?

Melihat seleksi alam yang begitu ketat, wajar rasanya jika pemain, pelatih, dan penonton mempercayakan semua hal yang ada di atas lapangan kepada wasit. Mereka adalah manusia pilihan yang sudah melalui ujian. Mereka yang memimpin pertandingan adalah yang terbaik di antara wasit lain di negara tersebut.

Tegas pada Pemrotes


KO! (Sumber: sg.news.yahoo.com)

Sejak Singapura mengadakan pemilu pertama pada 1959, Partai Aksi Masyarakat (People’s Action Party) selalu menang. Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan yang mengekang kebebasan berpendapat dan kebebasan media. Ini yang membuat Singapura berada dalam peringkat bawah indeks demokrasi.

“Saya harus memenjarakan lawan, tanpa pengadilan, baik komunis, sauvinis, atau ekstrimis agama. Jika saya tidak melakukannya, negara ini akan hancur,” kata Lee Kuan Yew seperti dikutip Kompas.

Ini juga yang mestinya dilakukan wasit. Walaupun keputusannya salah dan pemain benar, ia tak bisa mencabut keputusannya karena keputusan wasit adalah mutlak dan absolut. Tidak ada seorang pun yang bisa mengintervensi wasit untuk mencabut keputusannya. Jangankan pemain, Sepp Blatter sekalipun tidak memiliki wewenang untuk itu.

Jika pemain protes dan memosisikan diri sebagai oposisi dari keputusan wasit, ia harus segara diperingatkan, atau kalau perlu “dipenjarakan”.

“Dicintai atau ditakuti, saya selalu percaya bahwa apa yang dikatakan Machiavelli adalah benar. Jika tidak ada yang menakuti saya sebagai pemimpin, maka saya tidak ada artinya,” kata Lee Kua Yew yang semestinya dipahami benar oleh wasit, operator liga, dan federasi. Jika ini diterapkan barangkali industri sepakbola akan semaju Singapura dalam urusan ekonomi dan pariwisata.

Sumber gambar: scmp.com

 Baca juga:

Agar Wasit Top Dunia Siap Tempur

Pemilik Klub Dihukum karena Siksa Wasit

Wasit Inggris Lebih Baik dari Wasit Italia

Komentar