Je Suis Palestine, Demi Kebebasan Hidup dan Bermain Bola

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Je Suis Palestine, Demi Kebebasan Hidup dan Bermain Bola

Kami berbelasungkawa kepada korban penembakan di kantor tabloid satir Charlie Hebdo.

"Je Suis Charlie", begitu kata Geoge Clooney saat "berpidato" di hadapan wartawan, sebelum gelaran Golden Globe 2015 dimulai. Clooney hanyalah satu dari sekian banyak selebritis yang memberikan rasa empatinya atas penembakan brutal kelompok ekstrimis yang menyerang kantor Charlie Hebdo di Paris, Prancis.

Sebagian besar media massa, terutama di Eropa dan Amerika, memempatkan banner di halaman muka bertuliskan "Je Suis Charlie" atau dalam bahasa Indonesia berarti "Saya Charlie". Aksi simpatik pun dilakukan sejumlah warga, bukan hanya di kota-kota besar di Prancis, tapi juga di dunia.

Namun, pernahkah dari Anda yang mendengar ada selebritas yang secara lantang berkata "Je Suis Palestine"? atau "Ana Filistine"?

Seminggu setelah penembakan terjadi, tabloid itu laku keras. Dailymail melaporkan, sejumlah kios penjual koran dan majalah, kewalahan karena permintaan akan tabloid Charlie Hebdo meningkat drastis. Dalam sekali penerbitannya tiap minggu, Charlie Hebdo biasanya hanya terjual 30 ribu kopi, tapi setelah peristiwa berdarah tersebut bisa mencapai tiga juta eksemplar! Penerbit pun berencana menaikkan kapasitas produksi hingga lima juta eksemplar.

Secara kasar, benar-benar kasar, tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga korban dan siapapun yang terlibat, tapi ada fakta yang sebenarnya benar-benar mengganjal. Apa arti dari lonjakan produksi tersebut bagi Charlie Hebdo?

(Sumber gambar: mirror.co.uk)


Merenggut Hak Hidup

Di mana-mana, tidak ada yang membenarkan merenggut hak hidup seseorang. Jangankan nyawa mereka yang punya keluarga, nyawa calon bayi yang belum dilahirkan saja sudah dilindungi. Mayoritas negara di dunia, pada umumnya, tidak melegalkan aborsi. Ini sejalan dengan "Universal Declaration of Human Rights" atau "Piagam Hak Asasi Manusia" �yang dikeluarkan PBB pada 10 Desember 2008 di Prancis. Poin nomor satu dan yang paling utama adalah "Hak untuk hidup".

Pada 8 Juli tahun lalu, Israel meluncurkan operasi militer ke wilayah Gaza. Operasi yang bernama "Operation Protective Edge" tersebut setidaknya merenggut 2,200 korban jiwa yang mayoritas merupakan warga sipil.

Dari serangan itu, ada dua kejadian yang membuat siapapun yang mendengarnya marah. Kamis, 17 Juli 2014, empat anak di pesisir Gaza tengah asyik bermain bola. Di pantai yang sunyi itu, aktivitas mereka sempat terekam oleh kamera jurnalis. Suka cita itu nyatanya berubah sunyi.

Tiba-tiba saja kapal perang Israel meluncurkan misil dari arah laut. Mereka menghancurkan sejumlah bangunan. Mereka pun menyasar empat anak tersebut sebagai target pengeboman. Selang beberapa detik setelah misil diluncurkan, suara ledakan terdengar keras. Seketika itu pula keheningan melanda untuk beberapa saat.

Lalu, puluhan orang berlarian ke arah pesisir pantai. Sejumlah jurnalis pun turut berhamburan menuju pantai melihat apa yang sedang terjadi. Keadaan pun berubah menjadi menegangkan. Ada yang berteriak, ada pula yang menangis. Mereka lantas menggotong empat anak yang tak berdaya tersebut. Ada noda darah dari kulit mereka. Namun, yang pasti, mereka tak bernafas lagi.

Hal ini pada akhirnya mendapat perhatian dari khalayak ramai, tak terkecuali dari Paus Francis Bergoglio, pemimpin umat Katholik dari Vatikan. Ia merancang sebuah pertandingan persahabatan untuk mempromosikan kedamaian dalam kekacauan dan kekerasan di Jalur Gaza. Pertandingan bertajuk "Match for Peace" tersebut mengundang sejumlah sepakbola ternama mulai dari Gianluigi Buffon, Diego Maradona, hingga Roberto Baggio.

Seorang seniman asal Israel,� Amir Schiby, pun mendedikasikan karyanya untuk empat anak tersebut. Dalam gambar yang direka Schiby, terlihat ada empat anak yang tengah mengejar bola. Namun, itu semua hanyalah bayangan. Hanya bola sepak yang benar-benar terlihat nyata. Karya Schiby pun dipertunjukkan berbarengan dengan aksi bermain bola di lokasi tempat terbunuhnya anak-anak tersebut. Hingga Agustus 2014, tercatat 577 anak-anak menjadi korban karena konflik di Gaza.

Dari fakta di atas, apakah ada gerakan yang hampir sama masifnya dengan "Je Suis Charlie"?

Ada Apa dengan Amerika dan Eropa?

Apakah kebebasan berpendapat jauh lebih penting dan kritis ketimbang kebebasan untuk hidup?

Israel adalah negara dan entitas yang istimewa bagi Amerika dan Eropa. Meski secara nyata berpartisipasi menghabisi warga sipil setiap tahunnya, seolah tidak ada hukuman moral yang mampu menjinakkan Israel.

Begitulah faktanya, sama seperti di sepakbola. Asosiasi sepakbola Israel tidak diterima, dan tidak diinginkan di Asia. Mayoritas negara Asia pada 1950 hingga 1960-an selalu menolak bertanding jika berhadapan dengan Israel. Pun dengan Indonesia.

Bahkan, negara-negara Asia mempersilakan Israel lolos ke babak play-off Piala Dunia, untuk menghadapi wakil Eropa. Alasannya tidak lain karena masalah moral. Atas dasar ini pula, Israel muak dan memilih pindah ke zona Oseania. Namun, karena faktor geografis, Israel pun tak betah. Pada akhirnya, UEFA mau menampung Israel yang tak lagi mendapat tempat di Asia pada 1994.

Ya, UEFA menerapkan standar ganda pada Israel. Israel secara nyata melanggar statuta FIFA pasal 3, yang berbunyi, "Diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap negara, orang pribadi, atau sekelompok orang dengan membawa-bawa etnis, jenis kelamin, bahasa, agama, politik, atau alasan lain sangat dilarang dan akan dihukum lewat suspensi atau dihapus dari keanggotaan."

Baca juga: Sepakbola Israel Dibenci di Asia, Diterima di Eropa

Yerussalem Ditolak, Kemenangan Atas Nama Kemanusiaan



UEFA sempat tertekan setelah pada September tahun lalu, mengumumkan bahwa Israel ditolak untuk menyelenggarakan Piala Eropa 2020 yang digelar di 13 kota. Sebelumnya, tim sepakbola Palestina serta sejumlah NGO (Non-govermental organization�organisasi nirlaba), mengirim surat protes kepada presiden UEFA, Michel Platini. Isi suratnya, mereka meminta Israel dikeluarkan dari UEFA karena melakukan kejahatan perang, termasuk merusak sarana olahraga Palestina.

"Rakyat Palestina di Gaza menikmati permainan indah jauh lebih besar dari siapapun. Namun, Israel meluncurkan perang terhadap sepakbola. Mereka membunuh pesepakbola, mengebom stadion, dan menolak pemain timnas lewat untuk menjalani pertandingan," tutur Abdulrahman Abunahel, koordinator Palestinian Boycott, Divestment, and Sanctions National Committe.

Benar, Israel memang sering menyulitkan timnas sepakbola Palestina. Pemain yang berasal dari Gaza, mesti melewati wilayah Israel untuk mencapai Tepi Barat, tempat timnas Palestina bermarkas. Untuk itu, mereka harus mendapatkan visa yang sebenarnya sulit dikeluarkan oleh pemerintah Israel.

Meski dengan segala keterbatasan itu, Palestina berhasil berlaga di Piala Asia 2015 yang digelar di Australia. Satu jatah di AFC Challange Cup, berhasil mengobarkan api perjuangan kembali membara. Ya, ribuan warga Palestina turun ke jalan menyambut keberhasilan tersebut. Bagi mereka, ini bukan sekadar kemenangan, tapi merupakan sebuah protes akan aksi kekerasan.

(Sumber gambar: talkceltic.net)


Di Eropa, sejumlah kelompok suporter bukannya tidak ada yang mendukung perjuangan Palestina. Namun, mereka tak berdaya karena UEFA dengan tegas memberikan sanksi. Aksi mereka yang membawa bendera Palestina ke stadion, dianggap sebagai membawa pengaruh politik ke dalam stadion. UEFA bahkan mengkategorikan bendera Palestina sebagai "simbol terlarang".

Baca juga: Perjuangan Palestina Menuju Piala Asia 2015

Ketika Kelompok Ultras Kompak Mendukung Perjuangan Palestina

Dukung Palestina, Celtic, Dundalk dan St Johnstone Dihukum Uefa



Saat ini,�Charlie Hebdo kembali menayangkan kartun "Mahomet" yang diasosiasikan dengan Nabi Muhammad. Bagi Muslim, penayangan wajah dari seorang nabi adalah hal yang dianggap merendahkan. Apalagi jika sosok tersebut direndahkan dengan gambar-gambar tidak layak, seperti yang saat ini dilakukan�Charlie Hebdo. Bagi saya, gambar-gambar tersebut meski dengan atas nama kebebasan berpendapat, tetap saja tidak layak tayang. Itu bukan sebagai bentuk kebebasan berpendapat, melainkan sebagai bentuk penyerangan dan provokasi untuk umat Islam.

Jadi, apakah kita akan terus berteriak lantang mengasosiasikan diri dengan tabloid satir yang secara jelas merendahkan seseorang yang dihormati banyak orang? Atau mulai membangun solidaritas bagi mereka yang jelas-jelas teraniaya dan terenggut hak hidupnya?

Je Suis Palestine, Ana Falistin, ik ben Palestina, wo Shi Balestian, io sono Palestine, watashi wa Paresuchinadesu, ich bin Palaestina, soy Palestina, I am Palestine, Saya Palestina!



Sumber gambar: silversnaps.co.uk

Komentar