Gutta Percha, Pabrik Cipetir, dan Sepakbola Indonesia

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Gutta Percha, Pabrik Cipetir, dan Sepakbola Indonesia

Cipetir adalah paradoks tentang Indonesia. Bagaimana tidak? Ia tersebar di mana-mana bahkan menjadi misteri oleh mereka, warga Eropa Raya. Mereka keheranan kenapa banyak lempengan berbahan seperti karet bertuliskan “Tjipetir” bertebaran. Tanpa malu, mereka mengambil lempengan tersebut, berfoto bersama, mengunggahnya ke internet, lalu menuliskannya.

Apa yang membuat “Tjipetir” atau Cipetir menjadi hal yang menarik untuk dituliskan dan ditelusuri asal mulanya? Ia hanyalah lempengan berbahan seperti karet yang terdampar di pantai-pantai. Namun nyatanya, ia nampak sungguh memesona. Saat dipengang, teksturnya menyerupai karet, tapi lempengan tersebut bukanlah karet. Ia berasal dari getah daun Gutta Percha, yang tumbuh subur di Desa Cipetir, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.


Lokasi sebaran lempengan "Tjipetir" (Sumber gambar: BBC.co.uk)

Getah itulah yang nantinya dapat menghasilkan sejumlah produk berkualitas seperti bola golf, keperluan medis, ban, bola, isolasi kabel bawah laut, dan lainnya. Pabrik yang mulai beroperasi pada 1885 tersebut kini berada di bawah naungan perusahaan milik negara PTPN VIII Sukamaju. Saat ini, pabrik tersebut masih beroperasi, tapi bila ada pesanan saja.

Lantas, keliaran itu muncul dalam benak.

Saya mengandaikan lempengan “Tjipetir” tersebut adalah pesepakbola Indonesia. Bagaimana mereka “terdampar” di Eropa dan melanglangbuana di sana. Setelah bergabung dengan tim Eropa, para fans mulai berdatangan menghampiri para pesepakbola Indonesia. Fans berfoto bersama, mengunggahnya tanpa malu ke jejaring sosial, dan menuliskannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, kita bukan cuma perlu sebuah “pabrik” untuk menghasilkan pesepakbola berkualitas, tapi juga “mesin” khusus yang bertugas mengelola potensi yang dimiliki. Konon, pengolahan Gutta Percha di pabrik Cipetir menggunakan batu granit yang didatangkan dari Italia. Cerita saat itu menunjukkan bahwa tidak mungkin mendatangkan batu yang sebegitu besar dan berat lewat jalur transportasi biasa. Maka diperlukan kekuatan “khusus”, untuk mengangkat batu tersebut ke Cipetir karena ketiadaan alat berat pada saat itu.


Pabrik Cipetir di Indonesia. (Sumber gambar: Dailymail.co.uk)

Pengelolaan Gutta Percha sendiri menurut aktivis Sukabumi Heritage, Dedi Suhendra, seperti yang dikutip dari Detik, terbilang modern. Dari kebun, Gutta Percha dipilih dan diseleksi oleh pengepul, lalu dinaikkan ke atas troli yang membawanya langsung ke pabrik. Setelah itu, mesin yang menentukan semuanya.

Artinya, untuk mengolah pemain yang memiliki potensi, diperlukan tenaga kepelatihan yang memang sudah siap untuk itu. Kita bisa lihat sejumlah sekolah sepakbola asing di Jakarta, misalnya, yang memiliki pelatih asing untuk mengelola bakat-bakat pemain muda. Ironisnya, pelatih asing tersebut bukan berasal dari Eropa yang jaraknya jauh, tapi dari Singapura dan Malaysia.

Pendidikan Kepelatihan

Kita terlalu sering bicara soal bakat dan potensi. Hal tersebut akan percuma jika Indonesia tak memiliki tenaga kepelatihan yang mumpuni. Perlu bagi operator Liga Indonesia untuk menaikkan standar kompetensi pelatih dengan syarat minimal lisensi B AFC misalnya, untuk tim yang berlaga di Liga Super.

Saat ini, tenaga kepelatihan belum dipandang sebagai profesi yang meyakinkan untuk masa depan. Padahal, melihat banyaknya klub sepakbola yang ada, maka diperlukan pula jumlah pelatih yang sepadan. Ini yang membuat PSSI khususnya tergerak untuk lebih mempopulerkan kursus kepelatihan sepakbola sebagai sebuah profesi.

Di Amerika, rataan gaji per tahun untuk pelatih tim sepakbola mencapai 22 ribu dollar atau sekitar 271 juta rupiah per tahun dan 22,5 juta rupiah per bulan. Namun pelatih di sini mirip seperti “asisten pelatih” seperti di Indonesia. Mereka bertugas merencanakan porsi dan jenis latihan serta memberitahukan kondisi pemain, lawan, dan hal lain kepada pelatih kepala.

Saat ini, kursus kepelatihan tingkat provinsi misalnya, tidak diberitakan atau diiklankan besar-besar di media. Ini yang membuat kabar tersebut tersebar ke kalangan terbatas saja. Padahal, misalnya jika kursus kepelatihan tersebut dapat menjaring banyak calon pelatih, niscaya potensi-potensi tersebut akan lebih baik lagi.

Misalnya, salah seorang rekan pernah melatih tim sepakbola suatu universitas. Namun, karena tidak pernah mengikuti kursus kepelatihan, ia tidak membuat silabus yang bisa menentukan keluaran dari latihan yang selama ini dijalani. Bukti nyatanya, ia dan timnya tak pernah memenangkan apa-apa.

Silabus menjadi penting agar kita tahu muatan apa yang cocok diterapkan dan tidak. Saat akan menjalani kompetisi misalnya. Satu bulan jelang kompetisi, seharusnya tidak cocok lagi bagi pelatih menggempur para pemainnya dengan latihan fisik berat. Hal tersebut mestinya telah dilakukan enam hingga delapan bulan sebelumnya, karena ketahanan fisik tidak bisa dilakukan secara instan.  Mestinya, jelang kompetisi dimulai pendekatan yang lebih tepat adalah memberikan materi tentang taktik yang akan digunakan guna mengarungi kompetisi.

Hal seperti ini yang kemudian luput dari perhatian. Contoh lainnya tim SMA. Biasanya pelatih dari tim tersebut adalah guru olahraga sekolah yang bersangkutan. Apa mungkin guru yang memiliki pengetahuan umum tentang olahraga, dipaksa mengajarkan taktik sepakbola, cara membaca data, dan lain-lain? Perlu seseorang yang khusus memahami sepakbola. Hal terbaiknya, ia adalah guru yang secara otomatis mengetahui tahapan-tahapan dalam pembelajaran atau pelatihan, sehingga mengetahui keluaran seperti apa yang dibutuhkan.

Contoh lain misalnya tim futsal yang akan bertanding di kompetisi lokal. Tidak sedikit tim futsal yang lebih sering berlatih match, ketimbang memoles taktik dan fisik. Ini tidak lain karena tidak banyaknya pilihan pelatih, terutama bagi mereka yang memang tak memiliki budget khusus untuk itu.

Coba bayangkan dengan kehadiran banyak pelatih, setidaknya ia menurunkan ilmu dan cara yang ia gunakan kepada para pemainnya. Nantinya, mungin di tingkat lingkungan rumah atau pekerjaan, ia telah memahami harus melakukan apa dan tahu harus bagaimana. Hal ini pun akan diserap kembali oleh rekan-rekannya di lingkungan tersebut.

Ketika kecil, saya pernah bermain untuk tim setingkat RW. Kami dilatih dua orang. Keduanya adalah bapak-bapak pemain “timnas” RW yang sering melanglang buana bermain tarkam. Setiap Minggu pagi kami berlatih dengan porsi latihan yang itu-itu saja. Memang, ada peningkatan kualitas fisik dan teknik. Namun, secara taktik nol besar. Kami tak memiliki pengetahuan bagaimana seharusnya match preparation dilakukan. Kami juga tak mengerti asupan makanan seperti apa jelang pertandingan.

Dengan banyaknya pelatih yang sudah mendapatkan pendidikan khusus, setidaknya pengalaman tersebut dapat menjangkau hingga tingkat RW sekalipun. Bayangkan bagaiamana jadinya nanti para pemain Indonesia di kemudian hari.

Menjadi Gutta Percha

Menurut sejumlah berita yang beredar, Gutta Percha hanya tumbuh subur di kawasan Cikidang, Sukabumi. Namun, lambat laun pihak swasta menebang pohon tersebut karena permasalahan lahan. Akhirnya pohon Gutta Percha kian sulit untuk ditemukan.

Belanda, kala itu, tahu benar kualitas macam apa yang dibutuhkan Eropa. Getah Gutta Percha adalah jawabannya. Satu kilogram Gutta Percha dihargai tiga juta rupiah. Menurut Republika, pabrik Cipetir adalah satu-satunya yang memproduksi Gutta Percha di dunia.

Gutta Percha adalah primadona bahan-bahan di Eropa. Di Jerman, Gutta Percha dijadikan sebagai obat-obatan medis.

Refleksi dari tulisan di atas adalah jika pabrik adalah akademi atau sekolah sepakbola, dan mesin adalah pelatih yang berkualitas, maka, mestikah para talenta muda kita menjadi Gutta Percha? Saya pikir jawabannya tidak. Karena kita, Indonesia, sudah terlampau istimewa.

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar