4 Aspek Taktik yang Membuat Timnas U-19 Layak Tersingkir

Editorial

by Zen RS

Zen RS

Board of director | Panditfootball.com

4 Aspek Taktik yang Membuat Timnas U-19 Layak Tersingkir

Lini Tengah yang Minim Variasi

Saat berjaya di Piala AFF U-19 atau kualifikasi Piala Asia U-19, trio lini tengah Indonesia bermain solid dengan pembagian tugas yang rapi dan permutasi posisi dan peran yang juga begitu terpola.
Evan Dimas-Hargianto-Zulfiandi bermain solid sebagai sebuah unit. Ketiganya bisa bermain sejajar guna membentuk formasi 4-3-3, bisa juga bermain dengan poros ganda yang memungkin Evan menjadi pemain no-10 dalam formasi 4-2-1-3, kadang salah satu dari Zulfiandi atau Hargianto bisa naik ke atas menemani Evan Dimas guna membantuk formasi 4-1-2-3.

Apa pun formasinya, trio gelandang ini saat itu memperlihatkan cara bermain yang bagus sebagai sebuah unit. Mereka selalu berada dalam jarak dekat, rapat, dan memungkinkan satu sama lain saling mengumpan guna membebaskan siapa pun yang sedang memegang bola dari tekanan lawan.

Evan menjadi inti dari unit lini tengah ini. Dia selalu ditopang secara maksimal oleh Hargi dan Zul. Keduanya selalu mendekati Evan, membiarkan Evan mendapatkan ruang yang memadai, guna secara empuk mengirimkan umpan-umpan panjang maupun umpan-umpan terobosan ke sepertiga akhir lapangan, terutama ke area di antara bek tengah dan full-back. Asumsinya: Ilham atau Maldini bisa mengeksploitasi ruang yang terbuka itu dengan kecepatannya.

Cara main ini juga agaknya sudah bisa dibaca oleh lawan. Baik Uzbekistan (terutama di 30 menit pertama) maupun Australia, tidak pernah membiarkan trio lini tengah Indonesia bermain leluasa. Mereka selalu mencoba memastikan trio lini tengah Indonesia tak mendapatkan ruang yang memadai untuk saling menopang satu sama lain.

30 menit pertama saat menghadapi Uzbekistan adalah neraka bagi Indonesia. Begitu sulit Evan Dimas menguasai bola di lini tengah. Mereka dipaksa untuk melepas bola ke lebar lapangan secepat-cepatnya saat kedua flank Indonesia belum dalam posisi ideal. Atau, lini tengah Indonesia akan dengan mudah kehilangan bola. Di babak pertama, Uzbekistan praktis selalu berhasil merebut bola Indonesia di lini tengah.

Sialnya, kedua flank Indonesia bermain begitu monoton. Ilham atau Maldini sangat jarang turun ke bawah atau bergerak ke tengah untuk menambah jumlah pemain di lapangan tengah guna mengacaukan tekanan lawan. Saat kedua flank Indonesia tetap ajeg menunggu kiriman bola di tepi lapangan di area pertahanan lawan, trio lini tengah Indonesia justru sedang kelabakan membebaskan diri dari tekanan.

Satu-satunya gol yang dicetak oleh Indonesia dalam dua laga pertama, yaitu oleh Paulo Sitanggang ke gawang Uzbekistan, memperlihatkan sebuah alternatif yang sayangnya gagal diulang.

Gol itu lahir karena bola dengan rapi dialirkan dari lini belakang kiri melalui Fatchu Rahman. Bola terus bergulir di sisi kiri, tapi tidak lekas dilempar jauh ke pertahanan lawan, tapi merayap dulu ke lini tengah. Gelandang tengah Indonesia kemudian ada yang bermain melebar, mendekati Ilham, guna melakukan umpan satu dua. Terus begitu sampai bola memasuki pertahanan lawan.

Imbasnya, gelandang Uzbekistan pun terpancing bermain melebar. Sehingga ketika bola tiba di kaki Dinan di tengah, ada ruang yang terbuka yang bisa dimanfaatkan oleh Paulo Sitanggang. Saat Paulo menerima bola dari Dinan, dia punya ruang yang luas untuk mengambil keputusan mengeksekusi tendangan jarak jauh.

Melulu memaksakan (1) alur bola selalu dan hanya selalu berputar di antara trio lini tengah dan (2) dengan sayap yang menunggu jauh di atas, sama saja memudahkan lini tengah lawan melakukan pressing. Dan dengan itulah, unit lini tengah Evan-Hargi-Zulfi/Paulo bisa "dipisahkan" dari unit menyerang yang diisi oleh Ilham-Maldini-Dinan.

Paradigma penguasaan bola ala Pep di Barcelona, misalnya, melibatkan semua pemain, bahkan sejak dari kiper yang dididik untuk betul dalam membuat umpan. Barca tak pernah menumpukan penguasaan bola hanya pada tiga pemain, misalnya Xavi, Iniesta dan Busquet, thok! Tidak ada ceritanya flank (bahkan mereka memang tak mematok pemain ajeg di lebar lapangan) hanya menunggu umpan terobosan menjelang daerah sepertiga akhir lapangan. Semua terlibat dan melibatkan diri.

Membawa Barcelona dalam uraian ini semata untuk memperlihatkan konteks: betapa berbahayanya menumpukan penguasaan bola hanya pada tiga pemain. Kesalahan taktikal yang sudah keliru sejak fondasinya.

Halaman Berikutnya: Tak Bisa Atasi Pressing Lawan

Komentar