Menantikan Hasil dari Pola Baru yang Sedang Dibangun Brendan Rodgers

Editorial

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Menantikan Hasil dari Pola Baru yang Sedang Dibangun Brendan Rodgers

Setelah melewati musim yang luar biasa, Liverpool kembali harus terseok-seok di papan tengah pada awal musim ini. Dalam enam pertandingan awal Liverpool hanya meraih 7 poin dari hasil dua kemenangan dan satu kali imbang. Dengan permainan yang masih kurang stabil, Liverpool harus kalah dari West Ham United dan Aston Villa yang di atas kertas seharusnya bisa mereka kalahkan.

Banyak pertanyaan muncul soal apa yang sedang terjadi pada Liverpool saat ini. Permaianan atraktif Liverpool yang selalu bisa menyulitkan lawan, tiba-tiba hilang dari permainan Liverpool musim ini. Liverpool yang musim lalu mampu mencetak 102 gol di sepanjang musim, kini kesulitan untuk mencetak satu gol saja ke gawang Aston Villa dan FC Basel

Padahal jika dilihat dari susunan pemain, Liverpool memiliki banyak amunisi baru musim ini. Pemain inti yang menjadi kunci permainan di musim lalu pun sebagian besar masih ada di tim Liverpool musim ini. Praktis hanya Luis Suarez, amunisi Liverpool musim lalu yang kini tidak ada lagi di tim Liverpool.

Tapi Liverpool juga sudah memiliki pengganti Suarez. Mario Balotelli merupakan pemain yang tidak buruk-buruk amat untuk dijadikan pengganti Luis Suarez. Kekhawatiran soal sifat bengal Balotelli pun tidak terjadi. Setidaknya hingga saat ini, Rodgers telah berhasil mengendalikan Balotelli untuk menjadi seorang pemain sepakbola yang baik. Bahkan Rodgers berhasil membuat seorang Balotelli ikut mundur saat timnya diserang.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada liverpool saat ini? Sepenting itukah peran Luis Suarez di Liverpool sehingga kepergiannya merusak sistem permainan Liverpool?

Jika kita Lihat lebih dalam, ada satu perubahan yang terjadi dari permainan Liverpool musim ini jika dibandingkan dengan musim lalu. Dalam 6 pertandingan yang sudah dijalani Liverpool musim ini, Liverpool banyak melepaskan umpan silang di sepanjang pertandingan.

Musim lalu Liverpool adalah klub dengan umpan silang per pertandingan paling sedikit di premier league. Liverpool rata-rata hanya melepaskan 17 kali umpan silang per pertandingan.

Bandingkan dengan apa yang mereka lakukan pada 6 pertandingan pertama. Meski memang mungkin kurang pantas jika membandingan data satu musim dengan 6 pertandingan, namun Liverpool memang terlihat sedang mencoba memainkan gaya permainan yang berbeda. Dalam 6 pertandingan awal, Liverpool rata-rata melepaskan 21 umpan silang. Angka ini merupakan yang kesembilan terbanyak di Liga Inggris.

Jumlah umpan silang ini sejalan jika kita lihat dengan apa yang dilakukan kedua bek sayap utama Liverpool musim ini. Mereka kini lebih sering memasang dua bek sayap muda asal Spanyol, Alberto Moreno dan Javier Manquillo. Sedangkan dua bek Inggris yang musim lalu menjadi langganan di tim inti Liverpool, Glen Johnson dan Jon Flanagan, harus rela menjadi cadangan.

Baik Moreno dan Manquillo adalah dua bek sayap yang sangat gemar melepaskan umpan silang. Sejak masih bermain di La Liga, kedua pemain ini sudah banyak melepaskan umpan silang.

Manquillo tercatat melepaskan satu kali umpan silang setiap 31 menit bermain saat di Atletico Madrid. Ketika di Liverpool, Manquillo tercatat melepaskan satu kali umpan silang setiap 29 menit.

Sedangkan Moreno tercatat melepaskan satu kali umpan silang setiap 39 menit saat di Sevilla. Di Liverpool, intensitas umpan silangnya bertambah dua kali lipat dengan melepaskan satu kali setiap 19 menit bermain.

Catatan kedua bek sayap baru Liverpool ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Glen Johnson dan Flanagan musim lalu. Glen Johnson hanya melepaskan umpan silang setiap 41 menit sedangkan Flanagan baru melepaskan satu kali umpan silang setelah bermain 181 menit.

Lalu apa maksud dari peningkatan jumlah umpan silang Liverpool ini? Jika kita ingat-ingat lagi kekalahan Liverpool dari Chelsea di Anfield musim lalu. Mungkin kita bisa mengaitkannya dengan apa yang sedang ingin dibangun Rodgers musim ini di Liverpool.

Yang dimaksud disini bukan Rodgers ingin melatih pemain Liverpool agar tidak terpeleset saat bermain. Namun jika kita ingat lagi salah satu penyebab Liverpool tidak bisa menembus pertahanan Chelsea adalah akibat rapatnya pertahanan Chelsea. Mourinho memerintahkan para pemainnya ketika itu, untuk tidak meninggalkan posisi mereka sedikitpun agara tidak tercipta ruang yang bisa dimanfaatkan Liverpool. Hampir kesebelas pemain Chelsea berdiri rapat di daerah pertahanannya sendiri.

Hasilnya, sepanjang 90 menit pertandingan Liverpool sama sekali tidak bisa menembus pertahanan Chelsea. Mereka bahkan melakukan kesalahan sendiri yang beruah dua gol bagi Chelsea ke gawang Mignolet.

Satu hal yang terlihat jelas dari pertandingan ini adalah Liverpool sangat lemah ketika menghadapi tim yang bermain menunggu. Serangan Liverpool musim lalu memang sangat berbahaya jika lawan bermain terbuka. Serangan balik cepat mereka terbukti berhasil mencuri banyak gol ke gawang lawan musim lalu.

Namun ternyata Liverpool tidak memiliki banyak opsi serangan saat melawan tim yang bermain rapat di wilayah sendiri. Hal ini terlihat dari usaha tendangan gawang yang dilakukan Liverpool hanya bisa dilakukan dari luar kotak penalti pada pertandingan tersebut. Padahal musim lalu Liverpool adalah klub kelima yang paling sering melepaskan tendangan ke gawang dari dalam kotak penalti.

Apa yang terjadi pada pertandingan melawan Chelsea ini menjadi satu pekerjaan rumah Brendan Rodgers. Tim-tim lain yang sudah melihat hal ini tentu akan dengan mudah menyiapkan cara menangkal strategi serangan milik Liverpool. Apalagi musim ini Liverpool harus berlaga di Liga Champions yang mengharuskan mereka melawan klub-klub dari berbagai liga di Eropa yang memiliki karakteristik permainan yang beragam.

Pekerjaan rumah inilah yang sedang coba diselesaikan Rodgers pada awal musim ini. Rodgers ingin membangun pola permainan yang sedikit berbeda dari apa yang biasa diperagakan Liverpool musim lalu. Salah satu opsi serangan yang sedang dia bangun adalah serangan melalui sayap.

Serangan melalui sayap akan memaksa striker Liverpool untuk lebih sering berduel dengan bek-bek lawan. Striker Liverpool mau tidak mau harus lebih sering beradu dengan bek-bek lawan, untuk mampu menciptakan peluang dari umpan silang.

Dari sini, kemungkinan Rodgers sedang merancang satu pola serangan Liverpool yang mampu menembus pertahanan rapat lawan. Dengan lebih terbiasanya para pemain Liverpool berduel dengan bek lawan, maka seharusnya Liverpool juga lebih terbiasa saat menghadapi lawan yang bermain rapat di wilayah pertahanan.

Jika kita melihat dua striker yang didatangkan Liverpool musim ini memang sejalan dengan hal ini. Mario Balotelli dan Rickie Lambert adalah dua striker yang memiliki kemampuan duel lebih baik dari Suarez dan Sturridge.

Gol pertama Mario Balotelli bagi Liverpool yang tercipta saat pertandingan Liga Champions melawan Ludogorets mungkin merupakan skema yang sedang dibangun Rodgers. Gol tersebut tercipta setelah Balotelli berduel melawan dua bek Ludogorets yang menjaganya, untuk menerima umpan silang Alberto Moreno. Setelah memenangkan posisi akhirnya Balotelli mampu melepaskan tendangan ke gawang dengan mudah.

Sejauh ini Rodgers memang selalu berhasil menjawab harapan pendukung Liverpool. Setelah hadir saat Liverpool dalam kondisi terpuruk, Rodgers berhasil membangun satu per satu pondasi yang dibutuhkan Liverpool untuk bangkit. Kini Rodgers tengah menghadapi satu lagi tantangan yang harus dia selesaikan di Liverpool. Belum ada yang bisa menjawab apakah Rodgers kembali berhasil melewatinya atau justru kali ini Rodgers harus gagal.

Komentar