Belajarlah (Memberantas Match Fixing) Hingga Ke Negeri China

Editorial

by redaksi

Belajarlah (Memberantas Match Fixing) Hingga Ke Negeri China

Hidup di Ruang Ganti

Bagi Declan Hill, penulis buku "The Fix: Soccer and Organized Crime", menyuap wasit seperti dalam kasus Lu Jun adalah cara paling sulit dalam mengatur pertandingan. Mungkin saja sang wasit bisa memberikan penalti, atau kartu merah. Namun, tetap saja pengaruhnya terbatas.

Menurut Declan lagi, cara paling mudah kedua adalah dengan mempengaruhi 4-5 pemain yang akan bermain dalam satu laga, sementara cara paling mudah pertama adalah menyuap pemilik klubnya langsung.

Di China, ketiga praktek ini sama-sama digunakan.

Pemilik klub akan memperoleh pundi-pundi uang dari match fixing ini dengan cara menaruh uang di meja judi. Mereka mendapat keuntungan besar karena sudah tahu hasil pertandingan timnya. Sementara untuk mayoritas pemain, menerima suap jadi cara untuk menyambung hidup.

Sebenarnya, menyalahkan faktor ekonomi untuk korupsi, dalam sejarah manusia, hampir sama tuanya dengan praktek korupsi itu sendiri. Tapi, adanya gap kesejahteraan pemain pun memang benar terjadi.

John Hollins, salah seorang pemain asing di kompetisi domestik China, pernah bercerita pada koran The Guardian. Membeli pertandingan di China sangat mudah, karena hanya segelintir pemain dan wasit saja yang gajinya meroket. Ketika Hollins bermain untuk Shenyang Tiger Star pada 2004, ia pernah bertemu dengan banyak pemain yang tinggal di ruang ganti. Banyak juga yang kekurangan gizi hanya untuk sekedar menjalani latihan.

Situasi ini makin memburuk semenjak timnas China terlempar dari Piala Dunia 2002, tanpa pernah mencetak satu gol pun. Kala itu, kompetisi domestik ditinggalkan sponsor dan investor sehingga kondisi pemain makin terpuruk. Padahal, di sisi lainnya, ekonomi China semakin membaik sehingga uang yang berputar di bandar judi semakin meningkat.

Pemain asing lainnya bercerita, bahwa rata-rata gaji yang diterima oleh para pesepakbola lokal China hanya mencapai kurang lebih 4 juta rupiah. Tidak cukup untuk membiayai keluarganya, dan kadang datangnya terlambat. Sebelum pertandingan-pertandingan penting, pemain ini lalu ditawari uang hingga lebih dari 90 juta rupiah, untuk memastikan hasil pertandingan.

"Bek jadi pemain yang paling sering ditawari uang suap, karena mereka bisa membiarkan pemain lawan mencetak gol. Kiper juga jadi target yang populer. Kadang-kadang, malah seluruh tim yang ikut disuap. Tapi itu hanya pada kasus-kasus khusus saja," ujar pemain yang tak mau menyebutkan namanya pada The Guardian itu.

Gagal Menjual Simpati

Kemuakkan akan korupsi, praktek busuk, dan keterpurukan sepakbola China ini pada akhirnya mencapai puncaknya. Pada 2008, di semifinal sepakbola Olimpiade, puluhan ribu suporter China meneriakkan tuntutan pengunduran diri presiden CFA. Pada 2009, gerakan untuk memberantas pengaturan pertandingan ini pun diluncurkan.

Di bawah kepemimpinan Wei Di, seorang dengan background olahraga air dan tidak pernah berurusan dengan sepakbola sebelumnya, serangkaian investigasi dimulai. Namun, bisa dikatakan, cara-cara yang dilakukan hampir melanggar batas etika. China memilih melawan kelihaian para match-fixer dengan menggunakan kecerdikan lagi.

Sebagaimana dilaporkan BBC, sejak akhir 2009 hingga akhir 2011, ratusan orang yang bekerja di sepakbola secara diam-diam dibawa dari tempat kerjanya ke pusat investigasi. Semacam ada penangkapan terselubung. Di tempat penyidikan itu, mereka lalu dipaksa mengeluarkan nama-nama lain yang tersangkut kasus match-fixing.

Karena terisolasi dan tak tahu rekan mereka telah mengatakan apa, mereka ketakutan dan akhirnya mengakui semua perbuatan.

Dari kelompok kecil yang ditangkap mula-mula, ratusan nama didapatkan polisi. Di akhir penyelidikan, lebih dari 50 orang yang terdiri atas pengurus federasi, wasit, pemain, agen pemain, manager, pelatih, serta sponsor dijerembabkan ke dalam penjara.

Dari orang-orang yang ditangkap itu, terdapat mantan kapten timnas China dan empat orang yang bermain di Piala Dunia 2002. Pun demikian dengan ketua komite wasit yang mendapatkan hukuman paling lama, yaitu lebih dari 10 tahun penjara.

Dalam hal penangkapan ini, polisi dan komite investigasi tak bekerja sendirian. Saat pemain atau pelatih ditangkap, dan mereka menghilang dari tempat kerjanya, media massa hanya akan melaporkan bahwa atlet/pelatih yang bersangkutan tidak terlihat di tempat kerjanya.

Media juga akan menyiarkan pengakuan para pesakitan ini secara langsung, sehingga publik tahu cara-cara mereka mengatur pertandingan.

Jutaan rakyat China mendukung aksi ini dan lalu melontarkan berbagai komentar di media sosial. Bahkan, saat mantan petinggi CFA menuduh polisi menggunakan kekerasan dalam penyelidikan, tidak ada yang mau memberikan simpati, atau peduli tentang cara-cara tidak etis polisi.

Borok dalam sepakbola sudah kadung membusuk dan mesti dipotong. Meski dengan memakai pisau, dan melakukannya sendirian.

Menerka Kapan Subuh Datang

Saat paling gelap dan hitam adalah ketika subuh akan menjelang. Demikian pameo itu menyebar. Bagi sepakbola China, belasan tahun korupsi, pengaturan pertandingan, dan inkompetensi itu boleh dikatakan sebagai saat-saat paling gelap dalam sejarah sepakbola mereka.

Lalu, dengan berbagai penangkapan itu, apakah subuh telah datang?

Bisa jadi iya, dan bisa jadi tidak. Hal pertama yang patut diingat, seperti yang diungkapkan Declan Hill, adalah hasrat akan judi sudah ada semenjak ratusan tahun sebelumnya. Penangkapan bisa terjadi, namun praktek judi belum bisa dihapuskan hingga ke akarnya. Dan ketika pihak yang berperan di sepakbola mulai bertaruh untuk timnya sendiri, ini jadi awal korupsi di sepakbola.

Hal kedua adalah, investigasi seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada 2001, CFA juga sempat diselidiki, dan beberapa orang sempat ditangkap. Namun beberapa bulan menjelang berlaganya timnas di 2002, hukuman ini diputihkan.

Namun, apapun yang terjadi di masa depan, mesti diakui bahwa saat ini sepakbola profesional China berada pada titik paling bersihnya. Jika memang gelap masih panjang, setidaknya mereka telah mulai menyalakan api.


Komentar