Terbit dan Terbenam Sepakbola Negeri Matahari

Cerita

by Febrian Hafizh Muchtamar

Febrian Hafizh Muchtamar

All time poser.

Terbit dan Terbenam Sepakbola Negeri Matahari

Secara mengejutkan, Tim Nasional Jepang bisa menekuk Swedia 3-2, dalam cabang olahraga sepakbola di Olimpiade Berlin 1936. Momen itu sarat akan makna kebahagiaan bagi masyarakat Negeri Matahari. Mereka mengingat momen tersebut, dengan sebutan Miracle of Berlin atau Keajaiban Berlin.

Tidak mudah mempopulerkan sepakbola saat itu. Pasalnya, olahraga bisbol dan sumo mengakar sangat dalam di diri setiap orang Jepang. Kepopuleran dua olahraga itu, membuat sepakbola sulit untuk berkembang. Namun momen yang terjadi di Berlin, setidaknya sedikit mengubah cara pandang terhadap si kulit bundar.

Dari usia muda sampai tua, sepakbola terlihat di sudut-sudut tempat. Mereka saling berjibaku merebut bola, seakan merasa seperti Shogo Kamo, Akira Matsunaga, dan Tokutaro Ukon. Ketiganya adalah pahlawan, yang mencetak gol untuk Jepang saat mengalahkan Swedia di Olimpiade Berlin 1936.

Meski begitu, keriuhan sepakbola di Jepang sontak terhenti. Periode 1939 sampai 1945 terjadi Perang Dunia 2, Jepang terlibat di dalamnya. Jepang tengah menduduki wilayah Cina Timur, sementara Amerika Serikat (AS) adalah pemasok bahan-bahan vital ke beberapa negara. Jepang, yang menerima bala bantuan, malah membuat AS meradang.

Pihak AS tidak menyetujui Jepang menduduki wilayah Cina Timur. Akhirnya Negeri Paman Sam pun menghentikan ekspor barang ke Jepang pada akhir tahun 1941. Jenderal Angkatan Udara Jepang, Tomoyuki Yamashita, memerintahkan serangan dari udara ke pangkalan Angkatan Laut AS di Pearl Harbor, Hawaii.

Sebanyak 2.403 tentara AS pun tewas dan melukai 1.178 lainnya. Serangan tersebut dinilai sebagai kejahatan perang di saat perundingan damai tengah berlangsung. Tidak lama setelah serangan Pearl Harbor, keduanya menyatakan perang satu sama lain.

Sejak akhir 1930-an, AS tengah mengembangkan bom nuklir dan selesai pada musim panas 1945. Sekutu mengetahui itu dan memperingatkan Jepang untuk menyerah, sebelum ada kematian besar-besaran. Namun, Jepang tidak kunjung mengibarkan bendera putih.

Tepat pada 6 Agustus 1945, sebuah bom uranium bernama Little Boy dijatuhkan di Hiroshima. Kota itu pun luluh lantak, puluhan ribu orang tewas seketika. Sementara 146 ribu orang lainnya tewas tiga bulan pasca serangan.

Tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945, bom plutonium berjuluk Fat Man jatuh di Nagasaki. Kurang lebih 80 ribu orang meregang nyawa. Sebagian besar orang yang mati di dua kota tersebut, adalah warga sipil.

Sepakbola Pasca Perang Dunia 2

Jepang harus memulihkan diri. Kerugian secara material dan nyawa tentunya tidak sedikit. Meski hanya menyasar kota Hiroshima dan Nagasaki, talenta-talenta sepakbola di penjuru tempat turut hilang. Bom nuklir sangat menyakitkan.

Pasca serangan AS, aktivitas dan popularitas sepakbola meredup. Hal itu semakin ditegaskan Federasi Sepakbola Jepang (JFA) yang memutuskan keluar dari keanggotaan Federasi Sepakbola Dunia (FIFA). Di sisi lain, olahraga bisbol malah semakin melejit usai Perang Dunia 2.

Jepang membuka lembaran baru sepakbola. Bermula dari Shizuoka, bagian barat daya Tokyo, gairah sepakbola Jepang bangkit. Dari situ, kepercayaan diri terhadap sepakbola meningkat. Pada 1950, JFA pun kembali menjadi bagian FIFA.

Keseriusan Jepang kembali menapaki sepakbola, ditunjukkan saat terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 1964 pada 1959. Demi mempersiapkan tim untuk berlaga di tanah sendiri, rombongan JFA berangkat ke Jerman untuk mempelajari ilmu sepakbola. Akhirnya, JFA berhasil menggaet pelatih asal Jerman, Dettmar Cramer untuk menangani Timnas Jepang.

Cramer juga menyepakati program jangka panjang: mengembangkan sepakbola Jepang secara keseluruhan. Dalam jurnal “Grassroots Football Development in Japan (2017)”, Cramer menyarankan membangun sistem pendidikan pelatih, memulai liga sepakbola profesional, meningkatkan kualitas wasit, membangun sistem untuk perekrutan wasit, serta pembangunan stadion untuk pelatihan timnas.

Hasil jerih payah Cramer, membuat Jepang bisa melaju sampai babak delapan besar Olimpiade 1964. Bahkan pada 1965, kompetisi domestik pertama, bernama Japan Soccer League (JSL) dibentuk. JSL adalah wujud keberhasilan Jepang di tangan Cramer dalam mengembangkan sepakbola.

JSL menjadi pusat perhatian masyarakat. Tidak sedikit orang yang berusia 12 sampai 40 tahun ingin menjadi pesepakbola. Meski begitu, sejatinya JSL memprioritaskan pengembangan pemain berusia 12 tahun ke bawah. Hal itu terlihat dari peningkatan jumlah pendaftar dari 68,950 di tahun 1979, dan 264,617 di tahun 1987. Peningkatan yang signifikan daripada kelompok umur lain.

Apalagi, ketika popularitas sepakbola semakin naik, kala komik Captain Tsubasa muncul pada 1981 sampai 1988. Kemudian menjadi serial animasi televisi yang tayang mulai 1983-1986. Tsubasa mendorong anak-anak di Jepang untuk menjadi pesepakbola profesional.

Di usia dini, Jepang punya cara sendiri untuk mengasah pemain mudanya. Para pemain muda dituntut menyentuh bola sebanyak satu juta kali, kalau sanggup bisa satu miliar. Teknik tersebut akan membuat koordinasi antara otot, panca indera, dan otak menjadi baik.

Jika teknik latihan menyentuh bola sudah tercapai, teknik yang lebih rumit bisa dengan mudah dipahami. Mungkin terlihat membosankan, tetapi hasil latihan semacam itu tidak akan mengecewakan. “Kami senang bermain sepakbola, dan akan lebih senang jika bisa lebih mahir lagi bermain sepakbola,” ungkap salah satu bekas pemain muda Jepang.

Rasanya, jika dibandingkan dengan Indonesia, teknik latihan jauh lebih luar biasa. Usia dini tidak dituntut latihan dasar, tetapi langsung bermain, cetak gol, dan harus menang. Teknik dasar, seperti operan pendek diajarkan oleh Shin Tae-yong yang datang pada 2019.

Target Juara Piala Dunia 2092

Era 1970-an dan 1980-an bukan waktu yang baik untuk sepakbola Jepang di pentas internasional. Barulah pada 1996, Jepang ikut Olimpiade dan Piala Dunia 1998. Sampai sekarang, Jepang tidak pernah absen di pentas kompetisi dunia.

Sejak terlibat di Piala Dunia 1998, Jepang mematok target sungguhan: juara Piala Dunia 2092. Meski ukuran Pildun bukan perkara kecil, bukankah mungkin untuk menggapainya? Bagi Jepang, tentu sangat mungkin.

Gagasan memenangkan Pildun 2092 muncul pada 1992. Di tahun tersebut, masa suram sepakbola Jepang berakhir. Demi menggapai impian tersebut, JFA membentuk J-League (J1) pada 1993. J1 mengubah total kompetisi domestik Jepang; tim-tim yang berlaga berstatus profesional.

JSL diisi oleh tim-tim amatir, sehingga tidak ada peningkatan yang baik bagi skena sepakbola Jepang. Makanya, perlu sebuah gebrakan untuk menjadi profesional. Salah satu caranya, dengan membuat kompetisi domestik yang lebih serius dan berkelanjutan.

Saat pertama kali bergulir, J1 terdiri dari 10 tim profesional. JFA tidak menuntut banyak tim yang berpartisipasi di J1, mengingat J-League Division 2 (J2) baru muncul pada 1998. J2 berfungsi sebagai tahap awal tim profesional merangkak ke divisi teratas.

Sebelum melangkah ke J2, setiap tim amatir dari JSL akan diinspeksi terlebih dahulu. Rupanya tim-tim amatir semakin banyak, sehingga tidak tertampung di J2. Lalu, pada 2014, J-League Division 3 (J3) dibentuk untuk menampung tim baru. J3 pun mengambil alih peran menjadi ujung tombak sepakbola profesional Jepang.

Untuk menjadi profesional, tim-tim yang berada di bawah level J-League, harus memiliki status “J-League 100 Year Plan” yang mulai berlaku pada 2014. Perlu dicatat, setiap tim yang akan melangkah menjadi profesional, tidak harus juara di JSL. Apabila syarat “J-League 100 Year Plan” terpenuhi, bisa promosi ke J3.

Syarat menjadi tim profesional Jepang tergolong cukup rumit. Untuk prasyarat, setiap tim sudah berbadan hukum, memiliki fasilitas stadion di tempat tim berada, dan memiliki akademi sepakbola yang aktif tidak kurang selama satu tahun.

Setelah persyaratan terpenuhi, fasilitas stadion berkapasitas 5 ribu kursi dan memiliki rata-rata kehadiran penonton tidak kurang dari 2 ribu. Yang pasti, tim harus memiliki pendapatan tahunan minimal 150 Juta Yen dan tidak ada utang berlebih.

Dari situ, kita bisa menyimpulkan: untuk menjadi profesional, yang terpenting harus mapan, kemahiran belakangan.

Jago sepakbola, bagi Jepang, adalah prioritas. Namun untuk mencapai titik tersebut, harus punya rencana jangka panjang. Rencana tersebut dipupuk lewat profesionalisme, keberlanjutan, dan pendidikan usia dini.

Komentar