Bagaimana Sepakbola Negeri Gajah Putih Mendominasi Asia Tenggara

Cerita

by Ifsani Ehsan Fachrezi

Ifsani Ehsan Fachrezi

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bagaimana Sepakbola Negeri Gajah Putih Mendominasi Asia Tenggara

Semarak gejolak persepakbolaan di negara Asia Tenggara (ASEAN) tidak kalah meriah dibanding dengan negara-negara maju. Sejumlah 11 negara bersaing ketat untuk menunjukkan siapa yang terbaik dalam mengolah si kulit bundar di atas lapangan ASEAN. Berbagai event sepakbola secara khusus diselenggarakan hanya untuk negara kawasan ini.

Piala Tiger atau kini dikenal sebagai Piala AFF menjadi hajat persepakbolaan negara Asia Tenggara yang disambut dua tahun sekali. Adanya kompetisi tersebut membuat iklim sepakbola Asia Tenggara lebih hidup dan berkembang. Selain itu, kompetisi ini menjadi ajang unjuk gigi kekuatan negara masing-masing di kawasan regional.

Seperti halnya dalam sebuah kompetisi, pastinya terdapat peta kekuatannya tersendiri. Negara yang kuat hingga negara yang sering jadi lumbung gol nampak terlihat jelas. Kamboja, Laos, Timor Leste dan Brunei Darussalam termasuk negara yang belum menunjukkan sinar mereka di Asia Tenggara. Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, Vietnam dan Filipina cenderung tidak konsisten. Negara-negara tersebut sesekali menjadi semifinalis, finalis, hingga menyabet gelar juara kecuali Indonesia, Myanmar dan Filipina. Indonesia? Ya, Indonesia. Tidak salah lagi.

Sementara Thailand, menjadi negara yang paling konsisten mendominasi persepakbolaan Asia Tenggara. Sepak terjang mereka di Asia Tenggara seakan tidak ada yang menandingi sebagai musuh abadi. Indonesia sebagai negara yang paling sering menemani Thailand di laga puncak Piala AFF, selalu berhasil dihabisi.

Sejak kemunculan Piala Tiger di tahun 1996, Thailand memang sudah menunjukkan sinyal sebagai negara terkuat dengan menjuarai Piala Tiger pertama. Kemudian, Thailand pun menjadi negara pertama yang menjadi juara beruntun, pada tahun 2000 dan 2002. Dominasi terjadi hingga detik ini, kala Thailand kembali melibas Indonesia di final Piala AFF 2020 dengan kemenangan telak sekaligus terbanyak sepanjang sejarah final Piala AFF.

Dana Segar Thailand Premier League dan Sumbangsih Buriram United

Kaki-kaki magis talenta sepakbola Thailand didukung pula oleh iklim liga yang baik, hingga fasilitas klub yang memadai para pemainnya. Tak hanya itu, pendidikan sepakbola yang bersifat fundamental pun menjadi salah satu kunci bagaimana sebuah negara memiliki kekuatan sepakbola yang bagus. Kemudian, pemeliharaan talenta dari jenjang usia muda hingga emas pun patut dipelihara dengan baik, bahkan berkarier di negara yang lebih maju dalam urusan sepakbola.

Thailand Premier League (TPL) menjadi wadah klub-klub besar Thailand unjuk gigi di kompetisi teratas. Animo masyarakat Thailand yang besar membuat perusahaan swasta tertarik menghabiskan dana untuk menjadi sponsor klub hingga liga.

Perusahaan minuman, Chang Beer Thailand, hingga produsen kendaraan, Toyota menjadi sumber dana segar bagi elemen kompetisi sepakbola Thailand. Toyota menjadi sponsor TPL sejak tahun 2013 hingga sekarang menjadi faktor bagaimana liga dikelola secara profesional. Bukan hanya dari Toyota sebagai sponsor liga, True Tv sebagai hak siar TPL menjadi salah satu sumber dana terbesar dengan kontrak kerja terbaru dari tahun 2017 hingga 2020 senilai 126 Juta dollar.

Selain itu, salah satu klub sukses Thailand, Buriram United menjadi wajah sepakbola Thailand yang terkelola dengan baik. Chang Beer Thailand sebagai sponsor besarnya menggelontorkan dana segar untuk pembangunan klub ini. Fasilitas seperti training ground hingga stadion dibangun sebagai fondasi jangka panjang klub kebanggaan kota Buriram, Thailand.

Pembangunan fasilitas dan pengelolaan klub yang baik berbanding lurus dengan prestasi yang diraih. Buriram United menjadi pengemas gelar juara terbanyak TPL dengan total enam gelar juara. Dominasi Buriram United sebagai klub raksasa Thailand menjadi panutan bagaimana sebuah klub di Thailand bahkan Asia Tenggara dalam mengelola klub.

Bukan perihal gelar juara, melainkan dalam mencetak pemain muda dan merawat talenta negara adalah hal lain yang perlu diperhatikan sebuah klub. Buriram United Academy menghasilkan bibit bakat berkualitas bagi Thailand. Salah satunya ada nama Supachok Sarachat yang tampil gemilang di Piala AFF 2020. Bahkan, Buriram United menjadi salah satu klub dengan penyumbang terbanyak pemainnya untuk Timnas Thailand.

Menjadi Role Model Kompetisi Sepakbola Asia Tenggara

Kini TPL tidak hanya didominasi oleh Buriram United, Chonburi, maupun Muangthong United sebagai tim raksasa. Namun, kontestan klub lain memiliki kekuatan yang setara dalam perebutan gelar juara TPL. Chiangrai United (juara musim 2019) dan BG Pathum United (juara musim 2020/2021) mengambil alih dominasi liga dari Buriram United setelah di tahun sebelumnya meraih gelar juara secara beruntun.

Kehadiran turnamen domestik menjadi ajang rotasi pemain disamping sibuknya klub berkompetisi di TPL. Thai FA Cup dan Thai League Cup menjadi turnamen yang diikuti oleh lintas divisi liga Thailand. Banyaknya kompetisi memaksa klub untuk merotasi pemainnya dengan alasan stamina dan keterbatasan fisik. Maka dari itu, banyaknya sebuah kompetisi mendorong kesempatan besar bagi pemain muda potensial untuk unjuk gigi di kompetisi tertinggi.

Tidak hanya itu, sebuah kompetisi pendidikan muda pun disiapkan secara khusus dengan batas usia maksimal 19 tahun. Thailand Youth League dan U19 Thailand Championship menjadi wadah bagi talenta muda berkompetisi. Thailand Youth League menampung kelompok usia U13, U15, U17, dan U19. Dan U19 Thailand Championship menjadi kompetisi dengan sistem turnamen.

Banyaknya kompetisi, terutama di usia muda akan membantu menerapkan sistem pelatihan dan pengenalan sebuah jiwa kompetitif sebelum melaju ke tahap selanjutnya.

Ini menjadi dinamika yang baik bagi sebuah persepakbolaan suatu negara kala kompetisi kelompok usia hingga profesional terkelola dengan baik.

Baiknya pengelolaan TPL menjadi role model bagaimana sebuah liga di negara Asia Tenggara idealnya bergulir. Aliran dana hingga piramida kompetisi berjalan dan dikelola secara profesional. Liga Thailand sangat ideal untuk pemain Asia Tenggara untuk berlabuh. Nama pemain Indonesia yang pernah mencicipi liga Thailand seperti Ryuji Utomo, Yanto Basna, Terens Puhiri, hingga Todd Ferre.

Hanya Ryuji dan Basna yang betah merumput di liga Thailand sampai saat ini, pasalnya Terens dan Todd hanya bermain satu musim saja. Hal unik terjadi kala Basna bergabung dengan klub Khon Kaen Fc. Ketika hendak berlatih, ia tampaknya seperti diajari kembali mengenai dasar sepakbola. Dengan begitu, sang pemain terbaik Piala Jenderal Sudirman 2016 tersebut heran. Ia sempat berpikir untuk pulang kampung karena di Indonesia dapat menerima gaji yang lebih besar di klub besar Indonesia, daripada hijrah ke Thailand dan diajari sepakbola kembali.

Hal tersebut menjadi cerminan bagaimana sebuah klub atau pengajaran sepakbola yang bersifat fundamental tertanam dalam diri pemainnya. Seorang pemain Indonesia yang menyabet gelar pemain terbaik ajang pra-musim pun masih terkendala masalah fundamental dalam bermain sepakbola hingga diajari kembali di klub-nya. Ini menunjukkan jika dalam hal teknik pengajaran sepakbola yang bersifat fundamental, Thailand berada di atas Indonesia.

Getol Mencari Ilmu ke Luar Negeri

Kekuatan Thailand tidak hanya berasal dari iklim kompetisi sepakbola di negaranya, melainkan pemainnya yang getol dalam menimba ilmu. Tidak hanya berkutat di dalam negeri, para pemain hijrah ke negara yang lebih maju dalam hal pengelolaan sepakbola.

Thailand memiliki ikatan erat dengan Jepang dalam hal sepakbola. Nama yang terbilang sukses berkarier disana adalah Chanatip Songkrasin dan Theerathon Bunmathan. Sepak terjang Chanatip di liga teratas Jepang cukup gemilang. Penampilan apiknya bersama Hokkaido Consadole Sapporo mencatatkan 14 gol dan 15 assist dalam 93 penampilan, membuat dirinya menjadi sosok dalam tim tersebut.

Kemudian, Theerathon Bunmathan menjadi satu-satunya pemain Thailand yang membawa klub liga teratas Jepang, Yokohama F. Marinos mengemas gelar juara di tahun 2019, dengan tampil sebanyak 25 kali. Sebagai pemain Asia Tenggara, ia menjadi satu-satunya pemain yang masuk jajaran kesebelasan pertama terbaik AFC tahun 2020, bersanding dengan Takumi Minamino, Sardar Azmoun, dan Son Heung-min.

Sebelum nama dua nama besar tersebut bersinar, ada nama Teerasil Dangda yang malang melintang di benua biru. Namanya sempat heboh ketika dirinya menjadi salah satu pemain Thailand yang ikut trial bersama tim besar liga Inggris, Manchester City. Diboyongnya Teerasil ke Manchester biru tidak terlepas dari peran seorang pebisnis dan mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra.

Sepak terjang Teerasil di Manchester City tidak begitu terlihat, hingga diambil alihnya Manchester City ke pangkuan Abu Dhabi Group, Teerasil pulang kampung. Namun, dirinya memiliki pengalaman dan ilmu yang berharga di sebuah klub kelas atas Inggris.

Di tahun 2014, Teerasil kemudian melanjutkan kiprah di benua biru. Almeria, klub kasta satu liga Spanyol menjadi tempat ia berlabuh. Sempat kesulitan dalam beradaptasi di liga Spanyol, ia memulai debut pada tanggal 23 Agustus 2014, kala Almeria bertemu dengan Espanyol. Teerasil hanya mengemas satu gol dari 10 penampilan selama membela Almeria.

Sebuah Representasi Kecil Kelas Eropa

Namun, ini bukan perihal menit bermain regular, namun sebuah ilmu dan pengalaman bagi Teerasil dan negaranya. Pengalaman malang melintang di Eropa membuatnya tampil ganas di kompetisi tingkat Asia Tenggara.

Paling kentara adalah ketika ketiga pemain ini menjadi karakter utama di gelaran Piala AFF 2020. Theerathon tampil di sisi bek sayap, memiliki play making yang baik dalam mengirimkan umpan silang yang akurat. Chanatip mengoleksi pemain terbaik yang ke tiga, dan pencetak gol terbanyak bersama Teerasil Dangda. Kemudian, empat gol Teerasil di AFF 2020, sekaligus mencatatkan rekor baru sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah dengan mengemas 19 gol.

Pengelolaan liga yang profesional, hingga talenta yang baik membuat negara Thailand dilirik oleh La Liga untuk menjalin kerja sama dengan federasi Thailand. Hal tersebut terjadi, berawal dari nama Teerasil yang kala itu tiba di Almeria. Selain pasar Asia Tenggara, khususnya Thailand yang memiliki potensi, talenta sepakbola Thailand pun dianggap lebih mentereng ketimbang negara Asia Tenggara lain, contohnya Teerasil Dangda. Dengan begitu, La Liga dan federasi Thailand sepakat akan bekerja sama hingga tahun 2023.

Dengan kata lain, pemain yang malang melintang di negara yang sepakbola-nya lebih maju akan membuka jalur bagi pemain muda di negara asalnya. Theerathon dan Chanatip di liga Jepang dan Teerasil di liga Spanyol.

Kabar baiknya, Thailand akan menjadi negara yang terus mendominasi kawasan Asia Tenggara, dan memiliki level setara dengan negara yang berkiprah di benua Asia. Semuanya berkesinambungan, daya tarik pendukung yang besar, sumber dana mengalir, pengelolaan liga dan klub yang baik, hingga alokasi talenta yang terarah menjadi rahasia tersendiri mengapa dominasi Thailand sungguh kentara di Asia Tenggara.

Komentar