Indonesia vs Kamboja: Menanti Pesta Gol

Cerita

by Febrian Hafizh Muchtamar

Febrian Hafizh Muchtamar

All time poser.

Indonesia vs Kamboja: Menanti Pesta Gol

Piala AFF 2020 fase Grup B akan mempertemukan Indonesia vs Kamboja di Stadion Bishan pada Kamis (9/12) pukul 19.30 WIB. Ini adalah kali ke-16 mereka bertemu di seluruh kompetisi. Indonesia lebih perkasa dengan mengantongi 14 kemenangan, sekali imbang, dan menelan satu kekalahan.

Terakhir kali mereka bertemu di Piala AFF pada 2008, Kamboja dipermalukan 0-4 oleh Indonesia. Sedangkan jika merujuk laga terakhir di pertandingan persahabatan pada 2017, Angkor Warriors pun mengalami nasib yang sama di tangan Indonesia.

Tren Buruk Kedua Kesebelasan

Selama keikutsertaan dalam lima edisi Piala AFF, Kamboja hanya mampu menorehkan tiga kemenangan. Tentunya bukan hal mustahil mengubah nasib di Piala AFF 2020.

Kamboja mencoba peruntungan dengan mengganti juru taktik Felix Dalmas dengan Ryu Hirose beserta Keisuke Honda. Duo asal Jepang tersebut diharapkan bisa mengangkat kemampuan Kouch Sokumoheak dan kolega.

Kenyataannya, Kamboja lagi-lagi menelan pil pahit. Sejak pindah tangan ke Hirose dan Honda, angkor warriors langsung menelan tiga kekalahan beruntun dengan skor telak di kualifikasi Piala Dunia 2022: Bahrain (0-8), Irak (1-4), dan Iran (0-10).

Meski begitu, mereka sempat lepas dari performa buruknya dengan menang dua leg kontra Guam di kualifikasi AFC 2023. Kemenangan tersebut harusnya bisa menjadi bekal Angkor Warriors untuk melanjutkan tren positif.

Pada Piala AFF 2020, Kamboja lebih dulu bertanding melawan Malaysia pada Minggu (5/12). angkor warriors rupanya tidak bisa membendung gempuran Malaysia yang bisa menyarangkan tiga gol. Anak asuh dari duo Jepang tersebut baru bisa memecah kebuntuan di menit akhir babak kedua.

Kekalahan Kamboja sekilas mengingatkan Indonesia yang punya catatan buruk di awal laga. Pada dua edisi terakhir, Indonesia selalu gagal meraih poin penuh di laga pembuka Piala AFF (2-4 vs Thailand pada 2016, 0-1 vs Singapura pada 2018).

Namun, perlu digarisbawahi, kontestan pada dua edisi tersebut cukup kuat dibandingkan Kamboja yang acap kali menjadi lumbung gol bagi Timnas Garuda. Dari semua kompetisi, Indonesia sudah menyarangkan total 74 gol ke gawang Kamboja. angkor warriors sendiri hanya melesatkan tujuh gol, selisih 67 gol.

Beda Nasib Lini Tengah

Kamboja dan Indonesia sama-sama memiliki pemain berpengalaman di lini tengah. Kouch Sokumoheak sebagai pengatur tempo Angkor Warriors, sedangkan Timnas Garuda punya Evan Dimas.

Sokumoheak adalah pemain paling senior di skuad Kamboja yang bertandang ke Singapura. Ia telah menjadi bagian dari Timnas Kamboja sejak 2006 dan memiliki jumlah caps paling banyak di Angkor Warriors.

Pemain kesebelasan Nagaworld FC itu mencicipi 12 pertandingan Piala AFF selama karirnya. Sayangnya, dari 12 penampilan, ia nihil mencetak gol dan asis.

Lain cerita dengan Evan Dimas. Di level junior, ia pernah merengkuh juara Piala AFF U-19 2013. Semenjak itu, Evan menjadi langganan hingga sekarang kembali menjadi bagian dari Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. Evan memiliki caps terbanyak (34) kedua dalam skuad yang dibawa Shin Tae-yon ke Singapura, di bawah Muhammad Fachrudin (37).

Panggung Striker Rajin

Jika Indonesia punya Ezra Walian, maka Kamboja punya Chan Vathanaka. Keduanya sama-sama bertipe striker deep-lying forward yang rajin menjelajah posisi ke beberapa koridor. Saat laga kontra Malaysia, Vathanaka sering kali melebar ke sisi kanan dan kiri lapangan untuk membuka ruang atau menjadi penyambung antarlini.

Vathanaka adalah sedikit pemain yang berhasil mencapai level di luar kompetisi Kamboja. Di masa mudanya, ia sudah merumput di klub divisi 3 Liga Jepang, Fujieda MYFC lalu berkarier bersama klub Malaysia, Pahang FC. Meski tidak banyak menit bermain, setidaknya Vathanaka mampu mematahkan stereotip Kamboja sebagai negara sepakbola terburuk.

Selama memakai jersey Kamboja, Vathanaka punya raihan gol yang lumayan banyak. Pemain 27 tahun ini sudah cetak 17 gol dari 46 penampilan. Raihan ini bahkan hampir mendekati legenda Angkor Warriors era 1995-2002, Hok Sochetra (20).

Di sisi Indonesia, Ezra Walian pun demikian. Kala melawan Myanmar dalam laga uji coba, pemain naturalisasi ini menyumbang satu gol dan satu asis. Torehan yang Ezra raih berkat permainannya yang sering melebar.

Pemain berdarah Belanda ini, saat Indonesia dalam skema menyerang, tidak jarang menyisir ke sisi kanan. Alhasil, ia bisa melesatkan umpan silang yang disusul sundulan Ricky Kambuaya menjadi gol.

Beruntung keduanya memiliki striker dengan visi yang tidak melulu cetak gol. Setidaknya itu lah yang dirasakan Indonesia. Namun bagi Kamboja, mereka harus meramu taktik yang lebih baik untuk mengkonversi peluang-peluang yang sering dilesatkan Vathanak.

Menarik untuk disimak, bagaimana Indonesia menampilkan permainan haus gol seperti laga-laga sebelumnya, atau Kamboja yang harus berhenti menjadi lumbung gol serta lihai memanfaatkan peluang.

Komentar