Piala AFF 2020 Sebagai Lembaran Baru Thailand

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Piala AFF 2020 Sebagai Lembaran Baru Thailand

“Kita tidak perlu lagi bermimpi. Saya yakin delapan atau mungkin 12 tahun lagi, kita akan ikut serta di Piala Dunia,” kata bek senior Thailand Theerathon Bunmathan setelah pertandingan ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2018. Ungkapan yang begitu optimis mengingat ketika itu Bunmathan dan kawan-kawan baru saja dibantai empat gol tanpa balas oleh tim Samurai Biru.

Optimisme tersebut bukanlah tanpa dasar. Di level Asia Tenggara, tim yang dijuluki Gajah Perang itu sudah mencatatkan diri sebagai pemegang gelar Piala AFF terbanyak (1996, 2000, 2002, 2014, 2018). Di Piala Asia, meskipun belum pernah juara, Thailand bisa dibilang langganan. Tampil dalam tujuh edisi berbeda, menjalani 24 pertandingan, termasuk partai 16 besar di Piala Asia 2019.

Piala Dunia adalah satu-satunya kompetisi yang belum diikuti mereka di kategori pria mereka. Ya, pria. Timnas Perempuan Thailand sudah lebih dulu lolos dan ikut serta di Piala Dunia 2015 & 2019. Perlahan tapi pasti, hal itu sepertinya akan terwujud. Mungkin di 2026 atau 2030 seperti perkataan Bunmathan. Itu ada di masa depan, sekarang Piala AFF 2020 yang ada depan mata. Target juara pun langsung dikumandangkan oleh Kepala Pelatih Thailand Alexandre Poelking.

“Thailand bisa memenangkan turnamen ini. Saya tahu Vietnam adalah tim kuat dan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa bulan lalu mereka bahkan main di ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia. Tapi kami akan membawa pulang Piala AFF ke rumah,” kata Poelking.

Untuk memenuhi target juara, Poelking menggabungkan dua genarasi berbeda di Piala AFF 2020. Nama-nama berpengalaman Tristan Do, Theerathon Bunmathan, dan Chanathip Songkrasin disatukan dengan talenta-talenta muda seperti Supachok Sarachat, Jonathan Khemdee, serta Thanawat Suengchitthawon.

Selain Sarachat, semua nama di atas sudah pernah bermain di luar negeri. Suengchitthawon dididik di Leicester City. Khemdee merupakan jebolan akademi klub Denmark, Odense Boldklub, dan sudah menjalani debut bersama tim senior pada Oktober lalu di ajang DBU Pokalen. Tristan Do belajar di akademi Strasbourg dan pernah membela Gazelec Ajaccio. Sedangkan Bunmathan dan Chanathip membela klub divisi utama Jepang, J1. Masing-masing Yokohama F.Marinos dan Consadole Saporro.

Bunmathan bahkan sudah berstatus juara J1 di musim 2019. Walaupun saat ini statusnya hanyalah pemain pinjaman dari Vissel Kobe, Bunmathan bermain lebih dari dua ribu menit untuk F.Marinos dan terlibat dalam tujuh gol dari total 68 gol yang disarangkan saudara Manchester City tersebut.

Teerasil Dangda dan Generasi Emas Ketiga

Bicara soal Manchester City, mantan pemain the Cityzens Teerasil Dangda juga masih dipanggil oleh Poelking. Meski kini jarang dimainkan, Teerasil adalah salah satu penyerang paling ganas dalam sejarah Piala AFF. Tiga kali meraih gelar topskorer, sosok kelahiran 1988 tersebut sudah melesahkan 15 gol di semua ajang Piala AFF yang ia ikuti. Hanya terpaut dua gol dari Noh Alam Syah (17).

Teerasil sering kali dilihat sebelah mata hanya karena tidak pernah bermain untuk Manchester City. Ia dilihat sebagai anak titipan dari Thaksin Shinawatra, pemilik klub sebelum kedatangan uang Abu Dhabi. Padahal, ia adalah salah satu penyerang paling ganas di negaranya yang juga sempat menjadi wajah utama generasi emas ketiga Thailand.

Generasi emas pertama Thailand seperti Piyapong Pue-on, Vorawan Chitavanich, dan Sompong Watana membuat Gajah Perang diakui sebagai Raja Asia Tenggara dengan meraih tiga medali emas SEA Games secara beruntun (1981, 1983, 1985). Kemudian status tersebut dipertegas oleh Kiatisuk ‘Zico’ Senamuang dan kawan-kawan, generasi emas kedua Thailand yang berhasil menjuarai Piala AFF tiga kali (1996, 2000, 2002). Teerasil adalah sosok yang diyakini akan menjadi pemimpin genarasi emas ketiga.

Meski pada akhirnya genarasi emas ketiga Thailand baru tercipta setelah kehadiran Bunmathan, Adisak Kraisorn, dan Chanathip, kehadiran Teerasil (dan Teeratep Winothai) berhasil membuat Thailand tetap ditakuti selama masa transisi.

Dari tiga pemain Thailand yang dibawa ke Manchester City, hanya Teerasil yang bisa bertahan di tim nasional dan menjuarai Piala AFF 2016 bersama Chanathip, Bunmathan, dan Tristan Do. Sisanya, Kiatprawut Saiwaew dan Suree Sukha hanya bertahan lima tahun di tim nasional (2005-2010).

Hampir pensiun selepas Piala Asia 2019, kenyataanya ia masih mendapatkan tempat di dalam skuad Thailand. Entah itu saat Thailand dibesut Kiatisuk, Milovan Rajevac, Akira Nishino, ataupun Poelking, selalu ada tempat untuk Teerasil. “Saya akan terus main selama tim nasional membutuhkan saya,” kata Teerasil usai Thailand gugur di Piala Asia 2019. Sampai sekarang, dia masih dibutuhkan sampai masuk skuad Piala AFF 2020.

Simbiosis Mutualisme dengan Jepang

Sama seperti Chanathip dan Bunmathan, Teerasil juga pernah bermain di Jepang. Pada 2018, berstatus sebagai pinjaman dari Muangthong United, Teerasil hampir selalu mendapatkan menit bermain di Sancfrecce Hirosima. Ia mencatat tujuh gol dan tiga asis 37 penampilannya di sana.

Sanfrecce sebenarnya ingin mempermanenkan Teerasil, tapi mereka gagal mencapai kesepakatan dengan Muangthong United. “Perlu diingat Mui -sapaan Teerasil- sudah tidak muda lagi. Dia berusia 30 tahun dan Sanfrecce tidak memiliki cukup dana untuk memenuhi standard permintaan kami. Mui seorang profesional, ia menerima keputusan Muangthong,” jelas agennya, Jirachot Changchana.

Nasib Teerasil berbeda dengan adik angkatannya, Chanathip, yang lebih dulu merasakan atmosfer J1 setahun sebelumnya. Muangthong United dengan senang hati melepas gelandang serang berjuluk Thailand Messi itu ke Consadole. Bahkan saat masih berstatus pinjaman sekalipun, niat Consadole mendatangkan salah satu jika bukan talenta terbaik generasi emas ketiga Thailand itu dianggap sebagai hal monumental oleh Muangthong.

“Hari ini mimpi seorang pemain Thailand terwujud. Kami mengirim pemain Thailand pertama yang akan bermain di Jepang. Sudah cukup lama kami berkomunikasi dengan Consadole, dan ini bukan keputusan mudah mengingat belum pernah ada pemain Thailand yang bermain di Jepang. Kami tahu Chanathip adalah talenta luar biasa, dia harus main divisi utama. Consadole sudah melakukan kontak sejak mereka di divisi dua tapi baru saat mereka mengunci tiket promosi, kami memberikan lampu hijau kepada mereka,” jelas Presiden Muangthong United Pongsak Pholanan.

Kehadiran Jay -sapaan Chanathip- ini juga memberikan dampak positif ke J1, berkat dirinya pihak liga berhasil mendapatkan hak siar dua tahun di Thailand. Kesepakatan itu masih terus berlanjut setidaknya hingga 2022.

Baca juga: Negeri Matahari Semakin Membuat Chanathip Bersinar

Disebut-sebut sebagai pemain Thailand pertama yang merumput di Jepang, Jay sebenarnya sudah punya pendahulu bernama Witthaya Laohakul. Hanya saja Laohakul tidak bermain di era J1. Aktif di periode 1970-an, dirinya membela Yanmar Diesel yang kini dikenal sebagai Cerezo Osaka.

Penampilannya bersama Yanmar Diesel membuat berhasil menarik minat Herta Berlin. Hanya saja dirinya tidak bisa mengimbangi diri dengan kompetisi di Jerman. “Saya begitu malas. Pelatih minta jantung saya berdetak di angka 150 kali dalam satu menit. Sementara saya hanya bisa 90 maksimal. Saya tidak bisa melewati tes kebugaran pertama di Hertha. Sempat berpikir bahwa mereka mungkin akan lebih tertarik merekrut istri saya sebagai pemain dengan kondisi seperti itu,” kata Laohakul.

“Itu yang menurut saya membedakan Jepang dengan negara lain. Kalian mengetahui perkembangan dunia, tahu apa yang harus diperbaiki dan terus melatihnya secara konsisten,” lanjutnya. Saat dirinya mendengar kabar Jay bermain di Jepang, Laohakul pun ikut memberikan pujian. “Dia harusnya sudah sejak lama ada di sini. Dirinya memang punya kualitas, bahkan menurut saya dia sudah bisa bermain di Jerman”.

Jay memang memang berhasil menjadi sensasi tersendiri di Jepang. Ia hampir selalu menjadi pilihan di Consadole. Jika tidak dilanda badai cedera, ia mungkin akan selalu bermain dua ribu menit lebih setiap musimnya. Di musim pertama saja, dari 17 pertandingan yang tersisa di liga sejak dirinya bergabung, hanya tiga kali ia tidak dimainkan selama 90 menit penuh.

Kesuksesan Jay ini kemudian membuka pintu untuk pemain-pemain Thailand lain untuk mendapat tempat di J1. Hanya setahun setelah kedatangan Jay, Bunmathan dicoba Vissel Kobe sebagai pemain pinjaman dari Muangthong United. Bermain dengan Andres Iniesta dan Lukas Podolski, penampilan Bunmathan tidaklah buruk. Ia permanen di sisi kiri Vissel, tapi tidak seleluasa dibandingkan saat membela timnya saat ini Yokohama F.Marinos.

Pemain kelahiran 6 Februari 1990 itu sering kali diandalkan sebagai playmaker oleh timnya saat ini, Yokoma F.Marinos. Ia aktif naik membangun serangan, mengatur tempo, dan membuka ruang sembari menyisir sisi kiri lapangan. Begitu menawan permainan Bunmathan, ia bahkan sempat dirumorkan menjadi incaran Galatasaray.

“Dia adalah pemain kunci bagi tim saya. Dirinya bagus dalam bertahan dan tahu bagaimana caranya memulai sebuah serangan,” puji Ange Postecoglu, pelatih yang membawa F.Marinos juara J1 dan hingga tulisan ini dibuat berstatus manajer Celtic FC.

Keberhasilan Bunmathan dan Chanathip baru awal dari gulungan bola salju yang bisa semakin besar. Dua pemain dari generasi emas ketiga Thailand, tiga bahkan jika kita menghitung Teerasil, sudah merasakan hidup dengan sepakbola Jepang dan itu membuka pintu untuk generasi keempat.

Sejak musim 2019, Badan Liga Jepang mengizinkan pemain Asia Tenggara untuk datang dan tidak dihitung sebagai pemain asing. “Kesuksesan yang kita raih bersama Thailand bisa menjadi model bisnis kami,” ungkap Pewakilan J.League Kei Oyama.

Thailand sendiri tiga tahun lebih dulu menerapakan peraturan serupa. Dari lima pemain asing yang diizinkan membela satu tim dalam sebuah pertandingan, harus ada satu pemain dari Asia Tenggara. Kemudian regulasi itu diperbaharui menjadi tiga pemain asing, bebas dari mana saja, satu pemain asing asal negara Asia apapun, dan tiga pemain ASEAN (3+1+3). Alasannya tentu berbeda.

“Kami yakin ini akan semakin mengangkat Thailand sebagai pusat sepakbola ASEAN,” kata Presiden Asosiasi Sepakbola Thailand Somyot Poompanmoung. Dari kebijakan itupun muncul nama-nama seperti Aung Thu (Myanmar), Yanto Basna, Terens Puhiri (Indonesia), Irfan Fandi (Singapura), Dominic Tan (Malaysia), Patrick Reichelt (Filipina), hingga Van Lang Dam (Vietnam) di divisi tertinggi Thailand. Nama terakhir bahkan sudah berhasil menembus J1 setelah mendapatkan tawaran dari Cerezo Osaka.

Pemain Thailand sudah terbukti di Jepang, Liga Thailand membuka pintu untuk pemain Asia Tenggara lainnya untuk mencoba peruntungan mereka. Sejauh ini baru Van Lang Dam yang berhasil memaksimalkan hal tersebut.

Tapi bukan tidak mungkin hal ini membuka pintu pemain-pemain Asia Tenggara secara konsisten pergi dan bersaing di Eropa mengingat Jepang juga salah satu destinasi utama para pencari bakat. Walaupun Thailand sendiri sudah menjalin kerjasama dengan Bayern Muenchen untuk program pengembangan pemain muda.

Simbiosis mutualisme antara Thailand dan Jepang membuat J.League pun tidak sungkan-sungkan untuk mengikutsertakan mereka dalam agenda sepakbola mereka. Terakhir, J.League membangun lapangan untuk anak-anak bermain sepakbola di Distrik Ratchathewi, Bangkok.

Memulai Lembaran Baru di AFF 2020

Melihat usia pemain-pemain generasi emas ketiga Thailand yang sudah ada di akhir 20-an mereka atau bahkan telah memasuki 30-an, Piala AFF 2020 menjadi waktu yang tepat bagi Thailand mempersiapkan generasi berikutnya. Batal berangkat ke Rusia di 2018, gagal ke Qatar 2022, dan jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 belum tentukan. Tak ada yang tahu sampai kapan pemain-pemain dari genarasi emas ketiga Thailand ini akan bertahan. Sehingga sudah sewajarnya Piala AFF dijadikan Thailand sebagai lembaran baru.

Apalagi mengingat Alexandre Poelking belum pernah menjalani pertandingan resmi bersama tim nasional. Pertandingan terakhir Thailand berlangsung 15 Juni 2021, sementara Poelking baru ditunjuk pada Bulan September.

Dari lima pertandingan terakhir Thailand, masalah utama mereka sebenarnya ada di kesiapan lini pertahanan. Uzbekistan berhasil membobol gawang mereka empat kali dengan memaksimalkan bola terobosan melewati empat bek sejajar Thailand. Gol Kadek Agung ke gawang Thailand ketika Indonesia bertemu Thailand di Kualifikasi Piala Dunia 2022 (3/6) juga melalui proses serupa.

Lemahnya sektor pertahanan menjadi perhatian tersendiri di mata para pendukung Thailand. Sudah ada perbincangan di antara mereka terkait ide naturalisasi pemain untuk memperbaiki masalah ini.

Thailand sebenarnya tidak asing dengan naturalisasi, akan tetapi sejauh ini semua pemain yang mereka berikan paspor adalah keturunan dan belum pernah membela negara lain di level U23 ke atas. Charyl Chappuis tinggalkan Swiss U20 untuk Thailand U23, Kevin Deeromram hanya bermain untuk Swedia hingga level U19 sebelum akhirnya pindah ke Thailand. Tidak ada yang murni dari lama ia tinggal di sana atau jalur perkinahan, beda dengan Cristian El Loco Gonzales ketika dinaturalisasi Indonesia.

Paul Murphy dari Thai League Central menyarankan Thailand masih menggunakan cara yang sama untuk memasukkan pemain ‘asing’ ke tim nasional. Namun ia juga memberikan opsi nama-nama penyerang seperti Cleiton Silva, Birame Diouf, dan Dragan Boskosevic. Semua tidak mempunyai keturunan Thailand tapi sudah lama tinggal di Thailand.

Sama seperti nama-nama di atas, Poelking juga bukan sosok yang asing dengan sepakbola Thailand. Sebelum ditunjuk sebagai nakhoda tim nasional, ia pernah menjadi asisten pelatih (2012-2013), dan pernah menangani tiga klub Thailand yang berbeda sebelum pindah ke Ho Chi Min City di Vietnam pada 2020. Akan tetapi tidak ada pemain naturalisasi baru yang dipanggil oleh Polking untuk Piala AFF kali ini. Ia justru memanggil Teerasil Dangda yang sudah berusia 33 tahun.

"Saya mengenal pemain-pemain ini. Beberapa dari mereka sudah pernah saya latih, bahkan ada juga yang menjadi lawan di atas lapangan ketika masih aktif bermain. Saya percaya dengan tim ini," jelas Poelking. Minim laga kompetitif menjelang turnamen, langkah yang diambil Poelking masuk akal. Mayoritas pemain ia dipanggil sudah memiliki 10 penampilan lebih bersama timnas dan dikenal oleh dirinya.

Akan tetapi ia juga memasukkan lima pemain debutan yang belum sekalipun merumput dengan seragam Thailand, termasuk bek berusia 19 tahun, Jonathan Khamdee yang bermain di divisi tertinggi sepakbola Denmark. Belum diketahui apakah Khamdee akan menjadi pilihan utama sepanjang turnamen, tapi setidaknya Poelking sadar akan masalah yang ditinggalkan pendahulunya, dan memanggil darah baru untuk membela Tim Nasional Thailand.

Memulai lembaran baru bukan berarti menghadapinya dengan kepala kosong. Sekalipun Piala AFF 2020 bisa dilihat sebatas persiapan Thailand menerobos Piala Dunia di masa depan, bukan berarti mereka setengah hati menjalaninya. "Semua orang tahu kami datang ke Singapura untuk membawa pulang gelar juara," kata Teerasil Dangda senada dengan Poelking.

Komentar