Langkah Pertama Singapura Untuk Kembali Berjaya

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Langkah Pertama Singapura Untuk Kembali Berjaya

Status tuan rumah Piala AFF 2020 menjadi berkah tersendiri bagi Singapura. Sejak edisi kelima (2002, dahulu masih bernama Piala Tiger) format kompetisi dimainkan di dua negara atau lebih. Namun, pandemi COVID-19 membuat format kompetisi harus kembali dipusatkan ke satu tempat lagi.

Kamboja, Thailand, dan Indonesia sempat mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah, tapi pilihan jatuh kepada Singapura. “Singapura menang karena berhasil memberikan gambar yang jelas tentang protokol kesehatan dan keamanan untuk turnamen ini,” jelas Presiden AFF, Khiev Sameth.

Kabar ini jelas disambut dengan bahagia oleh Asosiasi Sepakbola Singapura (FAS). “Kami merasa bersyukur dan bangga bisa menjadi tuan rumah Piala AFF 2020. Saya berterimakasih kepada pemerintah karena sudah mendukung dan membantu kami terkait masalah keamanan AFF. Bagaimana turnamen seperti Piala AFF dapat digelar di negara kami pada masa sulit seperti ini menjadi kesempatan emas bagi sepakbola Singapura,” kata Presiden FAS Lim Kia Tong.

Mendengar FAS memuji pemerintah Singapura terbilang langka. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara keduanya tidaklah erat, FAS seperti harus tunduk ke pemerintah. Sementara jika prestasi sepakbola Singapura mengalami penurunan, FAS yang harus bertanggungjawab bukan pemerintah.

Salah satu kasus yang paling ketara memperlihatkan hal ini terkait dengan status kewarganegaraan gelandang Oxford United, Ben Davis. Ketika itu, Davis diangkut Fulham dari Singapore Sports School dan mendapatkan kontrak untuk bergabung dengan akademi dan masa depan di Liga Primer Inggris. Akan tetapi, Kementerian Pertahanan Singapura tidak mengizinkan Davis untuk berangkat ke Inggris karena harus menjalani wajib militer.

Memiliki tiga paspor, Singapura, Thailand, dan Britania Raya, Davis pun akhirnya meninggalkan Tim Nasional Singapura yang sudah ia bela sejak masih berada dalam kategori U16, pindah ke Thailand, dan berangkat melanjutkan kariernya di Inggris. Hal serupa juga terjadi pada Adam Swandi. Pemain Lion City Sailors tersebut harus melupakan kontrak dari FC Metz karena diwajibkan ikut tugas negara.

Bentrok antara pemerintah dan asosiasi menjadi gambaran Singapura dalam beberapa tahun terakhir, meski demikian pembinaan sepakbola mereka tetap dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Asia Tenggara sampai masuk ke dalam daftar kunjungan rutin pemandu-pemandu bakat klub Eropa.

Jika menarik sedikit lebih ke belakang, tepatnya ke 2002, FAS membentuk sebuah klub bernama Young Lions yang diisi talenta-talenta lokal berusia 23 tahun ke bawah untuk berkompetisi di liga profesional Singapura. Hasilnya, mereka sukses meraih gelar juara Piala AFF 2004 dan 2007 dengan pemain-pemain Young Lions seperti Agu Casmir, Khairul Amri, dan Baihakki Khaizan sebagai poros utama.

Cara ini memang tidak bisa terus-menerus diandalkan. Ketika negara-negara rival seperti Thailand, Malaysia, bahkan Indonesia mulai mengorbitkan talenta mereka ke luar negeri untuk bermain di lingkungan kondusif dan level lebih tinggi, Singapura kesulitan untuk mengirim pemain mereka ke negara lain karena peraturan pemerintah. Apalagi, Singapore Premier League (SPL) sebagai divisi sepakbola utama di sana didominasi tim satelit Jepang, Albiirex, dan juga tidak begitu menarik untuk warga mereka sendiri ataupun sponsor.

“Bagaimana caranya kita bisa memaksimalkan potensi sepakbola Singapura ketika hal tersebut selalu dihalangi oleh pemerintah. Lihat saja di Piala AFF U19, Laos bahkan bisa mencetak lima gol melawan kita. Gabungkan itu dengan kenyataan bahwa SPL gagal menarik minat penonton atau sponsor, masa depan sepakbola Singapura sangat kelam apabila akar permasalahannya tidak diberantas,” tulis Alif Chandra dari GOAL Singapura.

Dari peringkat FIFA pun terlihat Singapura perlahan-lahan turun. Dari posisi ke-149 di 2015, mereka sempat turun ke peringkat 173 pada 2018, terendah sepanjang sejarah keanggotaannya di FIFA. Belakangan, (per Oktober 2021) baru naik lagi ke tangga nomor 160. Memang naik, tapi jauh dari harapan pencinta sepakbola Singapura yang pernah melihat negara mereka masuk 100 besar FIFA setahun setelah menjuarai Piala AFF 2004.

Secercah Harapan Bernama Lion City Sailors

Kelam kelabu bukan berarti tanpa harapan. Jika masalah utama sepakbola Singapura adalah terkait kepentingan negara dan kondisi liga yang seakan menahan kemajuan talenta-talenta yang ada, jawaban paling masuk akal adalah meningkatkan level kompetisi domestik. Untuk hal itu, diperlukan klub-klub yang lebih berani menggelontorkan uang untuk urusan sepakbola. Terutama di masalah sarana dan prasarana.

FAS bisa berencana bagaimana mereka terus akan mengedepankan sepakbola akar rumput dan mengembangkan infrastruktur untuk kepentingan sepakbola Singapura, tapi jika hal itu tidak dukung klub peserta SPL yang pada akhirnya menjadi tempat pemain hidup dan berkarier, pasti hasilnya tak jauh beda dengan kondisi saat ini. Untungnya, ada Lion City Sailors.

Diawali oleh keputusan pengusaha lokal sekaligus orang terkaya kedua di Singapura, Forest Li, untuk terjun ke dunia sepakbola dengan mengakuisisi Home United. Lion City Sailors bukan hanya menjadi tim terbaik di negaranya tapi juga memiliki fasilitas dan koneksi di atas rata-rata.

”Menjadi tim yang berawal dari Home United sangat membantu. Kami datang bukan untuk menghapus sejarah Home United. Mereka bisa disebut sebagai contoh profesionalitas sepakbola di Singapura dan salah satu tim paling sukses di sini. Kami hanya ingin memberi gambaran baru. Memperlihatkan bahwa sepakbola bisa diangkat ke level berikutnya,” jelas Badri Ghent selaku general manajer klub.

“Anda lihat Johor Darul Ta’zim (JDT), saya rasa mereka adalah contoh bagaimana uang berpengaruh besar di dunia sepakbola. Mereka selalu menghabiskan uang setiap musimnya, tapi pada akhirnya bisa bicara cukup banyak di Liga Champions Asia,” ungkap Kepala Pelatih Lion City Sailors, Aurelio Vidmar.

“Tapi pada akhirnya semua masalah standard dan saya rasa semua bisa bangga dengan standard di klub ini. Dari masalah teknis, psikologi, nutrisi, hingga sains olahraga, kami berhasil mengangkat level sepakbola Singapura,” tambahnya.

Baru resmi berdiri 14 Februari 2020, Lion City Sailors sudah berhasil menjalin hubungan dengan Borussia Dortmund untuk urusan pembinaan talenta muda. Mereka juga dipenuhi pemain-pemain tenar level nasional seperti Hassan Sunny, Adam Swandi, Gabriel Quak, dan Harris Harun yang berhasil dipulangkan dari JDT. Mereka juga berani mengeluarkan 1,8 juta Euro untuk membeli penyerang Brasil, Diego Lopes, dari penghuni divisi utama Portugal, Rio Ave.

Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengangkat level sepakbola Singapura dan mematahkan dominasi Albiirex yang sudah menguasai SPL dalam lima tahun terakhir.

Kesuksesan Lion City Sailors berpengaruh ke Tim Nasional Singapura. Sebanyak 14 dari 28 pemain yang dipanggil ke skuad Piala AFF 2020 berasal dari Lion City Sailors, lalu ditambah dengan tiga anak legenda Fandi Ahmad (Irfan, Ilham, Ikhsan), di mana nama terakhir kini bermain di Eropa bersama klub Norwegia, Jerv, setelah menyelesaikan wajib militer-nya.

Sepakbola Singapura mungkin sedang mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah habis masa jaya mereka. Setidaknya, begitulah yang terlihat dari peringkat FIFA. Namun bukan berarti mereka tak bisa merasakannya lagi. Berstatus sebagai tuan rumah di Piala AFF 2020, ini adalah panggung terbaik bagi mereka untuk membuktikan bahwa sepakbola Singapura masih bisa berbicara banyak dan bukan hanya mengandalkan sejarah.

Komentar