Rangnick dan Pentingnya Kekuasaan Bagi Dirinya

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Rangnick dan Pentingnya Kekuasaan Bagi Dirinya

Bukan Ernesto Valverde atau Mauricio Pochettino. Manchester United telah menentukan Ralf Rangnick sebagai pengganti Ole Gunnar Solskjaer di kursi pelatih. Kabar ini pun disambut dengan respons positif dari para pendukung Man United. Rekam jejaknya menunjukkan bahwa Old Trafford kedatangan sosok yang bisa diharapkan.

Semua berawal sejak Rangnick menjadi Direktur Olahraga RB Leipzig. Ia berhasil mengubah pandangan publik terhadap klub. Dari musuh bersama yang telah menodai aturan “luhur” 50+1 di Jerman, menjadi salah satu tim terbaik Jerman yang dipenuhi talenta-talenta menarik, permainan atraktif, dan langganan kompetisi antar klub Eropa. Bayangkan apa yang bisa dilakukannya bersama tim sekelas Man United yang sudah dipenuhi pemain bintang dan dibekali sejarah panjang.

Memang, saat ini status Rangnick di Man United hanya sebatas interim. Namun, menurut Fabrizio Romano, pihak klub sudah menjanjikan posisi lain untuk diisi Rangnick seusai musim 2021/22. Posisi sebagai konsultan klub dengan kekuasaan untuk mengambil keputusan. Janji ini adalah bagian penting dari keputusan Rangnick datang ke Manchester. Kekuasaan adalah kunci dari kesuksesan Rangnick sejauh ini.

Rangnick adalah sosok yang tidak pernah berhenti menunutut, memikirkan hal-hal yang perlu dilakukan untuk membuat klub lebih baik. “Dia adalah sosok yang memiliki banyak tuntutan dan permintaan. Terkadang mungkin sampai dianggap berlebihan oleh beberapa orang. Tapi ia melakukan hal tersebut karena dirinya tahu apa yang ingin dilakukan dan mau berkembang serta menciptakan inovasi secepat mungkin,” jelas salah satu ofisial Bundesliga kepada Athletic.

Mantan Direktur Schalke, Rudi Assauer, adalah salah satu pihak yang pernah merasakan kerasnya kepala Rangnick. “Ia berusaha memberi tahu seorang pengemudi bis bagaimana caranya untuk mengemudi,” maki Assauer. Bekerja di bawah Assuer menjadi kesulitan tersendiri bagi Rangnick, yang pada akhirnya menangani Schalke bahkan tak sampai satu musim penuh.

Kendati demikian, dalam waktu singkat tersebut, Rangnick berhasil memperkenalkan Manuel Nueur dan Sergio Pinto ke tim senior Schalke, serta mendatangkan Rafinha dan Kevin Kuranyi.

Kuranyi tidak pernah bermain di bawah asuhan Rangnick di Stuttgart. Ketika Rangnick mengasuh tim senior (1999-2001), Kuranyi masih di level akademi. Waktu penyerang keturunan Brasil itu promosi ke tim utama, Rangnick sudah lebih dulu pergi ke Schalke. Kuranyi membela Schalke hingga 2010 dan, hingga kini, tercatat sebagai salah satu pemain terproduktif yang pernah dimiliki klub. Ia salah satu contoh kejelian Rangnick memilih talenta jauh sebelum dirinya bekerja untuk RedBull.

Selain Kuranyi, banyak pemain-pemain pilihan Rangnick yang pada akhirnya bersinar atau sampai menyandang status ikon di klub mereka. Timo Hilderbrand, Aleksandr Hleb (Stuttgart), Jiri Stajner, Jan Simak (Hannover), Sebastian Rudy, Gylfi Sigurdsson, Roberto Firmino (Hoffenheim), Ralf Faehrmann, Gerald Asamoah, Jermaine Jones (Schalke), Willi Orban, Tyler Adams, Amadou Haidara (RB Leipzig). Ini juga baru sebagian!

Tentu Rangnick tidak bekerja sendirian untuk bisa mendapatkan pemain-pemain berkualitas. Sistem pencarian dan pemilihan pemain sangat penting bagi Rangnick. Ini membuat dirinya hanya ingin dikelilingi orang-orang terbaik di sekitarnya guna membangun kompetensi, satu dari "tiga K" yang harus dimilik klub di mana Rangnick berada.

“Kita tidak hanya memikirkan cara untuk memenangkan gelar. Jika hanya itu saja, RedBull Salzburg sudah bisa melakukannya. Kita butuh mendatangkan dan mengembangkan pemain muda. Pemain-pemain muda ini nantinya dapat dijual dengan harga tinggi jika kita membutuhkannya untuk dijual,” jelas Rangnick yang pernah menjabat sebagai Direktur Olahraga RedBull Salzburg sebelum pindah ke Leipzig. Sadio Mane, Naby Keita, dan Kevin Kampl adalah beberapa contoh pemain yang dipilih saat ia menjabat di sana.

Kesuksesan pemain-pemain yang dipilih Rangnick bersinggungan langsung dengan K kedua yang harus dimiliki klub Ralf Rangnick: Kapital. Hleb didatangkan Stuttgart dari BATE Borisov dengan dana 150 ribu Euro, kemudian dijual seharga 15 juta Euro ke Arsenal. Jan Simak didatangkan dari Ceko ke Hannover dengan dana 250 ribu Euro, kemudian dijual kepada Bayer Leverkusen melebihi enam juta Euro. Firmino, pemain terakhir yang dibeli Rangnick untuk Hoffenheim dengan dana empat juta Euro bisa dijual klub seharga 25 juta ke Liverpool.

Belum lagi saat dirinya berkecimpung di klub milik RedBull, entah itu Salzburg ataupun Leipzig. Mane, Keita, Sabitzer, Oberlin, Upamecano, Joshua Kimmich, Emil Forsberg, sampai Timo Werner merupakan pemain pilihan Rangnick. Coba hitung sendiri berapa dana yang didapatkan RedBull dari nama-nama di atas.

Begitu suksesnya Rangnick ketika menjabat sebagai direktur olahraga ataupun manajer di RB Leipzig dan Salzburg, pihak RedBull sampai memberikan jabatan Direktur Olahraga Global kepada dia. Bukan hanya terlibat di Jerman dan Austria, tapi sampai ke Brasil bersama RB Bragantino. Klub terakhir bisa mencapai final Copa Sudamericana 2021 berkat fondasi yang disusun Rangnick. Padahal sebelumnya, RedBull memiliki catatan buruk di sepakbola Brasil, hanya semusim mendapat sentuhan Rangnick, tim mereka lolos ke final turnamen terbesar kedua di Amerika Selatan.

“Kapital sendiri bisa menghasilkan kesuksesan. Tapi dengan kompetensi dan konsep yang jelas, kapital akan datang dengan sendirinya,” jelas pria kelahiran 29 Juni 1958 tersebut.

Konsep adalah K terakhir dalam kunci Rangnick, dan mungkin ini yang paling dibutuhkan Man United. “Konsep adalah hal paling penting. Di sini kita menentukan DNA klub, gaya permainan, dan identitas. Sesuatu yang harus tetap bisa dilihat sekalipun tim sedang bermain buruk di atas lapangan,” kata Rangnick.

Sejak Man United ditinggal Sir Alex Ferguson, mereka tidak hanya gagal meraih piala. Mereka juga perlahan kehilangan identitas. Entah itu David Moyes, Louis van Gaal, atau Jose Mourinho, tim mengikuti gaya dan identitas yang ingin dibangun oleh masing-masing manajer. Itu tidak salah, namun apabila identitas yang ingin diciptakan berganti-ganti dua tahun sekali, tidak ada gambaran jelas yang bisa mendeskipsikan Man United. Pada akhirnya, Ole Gunnar Solskjaer pun terlihat bingung, tak punya ide bagaimana timnya harus bermain. Padahal, konsep adalah hal paling penting. Tanpa ide tidak akan tercipta sebuah konsep.

“Anda lihat Pep Guardiola, Jurgen Klopp, atau Diego Simeone. Mereka punya konsep yang jelas. Di dalam kepala mereka ada gambaran sepakbola yang sempurna untuk masing-masing. Pep senang dengan pemain berkemampuan teknis tinggi, Jurgen Klopp lebih heavy metal, mereka punya konsep tersebut. Pada akhirnya kita pun bisa mengidentifikasi, ini sepakbola Pep, begitu sepakbola Klopp, dan seterusnya,” jelas Rangnick dalam

>seminar Coach Voices.

Akan tetapi, semua kembali lagi ke masalah kekuasaan. Rangnick bisa mendapat kesuksesan karena ia diberi kepercayaan untuk memiliki kuasa. Bahkan bisa mengelilingi dirinya dengan kumpulan terbaik dalam bidangnya. Entah itu Julian Nagelsmann, Adi Hutter, Marco Rose, Jesse Marsch, hingga Thomas Tuchel sekalipun pernah bekerja bersama Rangnick.

Masalahnya, tidak semua orang senang melihat seseorang memiliki kekuasaan sebesar itu. Rangnick diambil Man United dari Lokomotiv Moscow pun menjadi berkah tersendiri untuk klub Rusia tersebut. Setelah Rudi Assauer di Schalke, publik Lokomotiv Moscow mungkin menjadi kelompok pertama yang gagal dimenangkan hatinya oleh Rangnick.

Datang mengisi jabatan Manajer Direktur Olahraga dan Komunikasi Lokomotiv Moscow, Rangnick punya satu ide di kepala, “Saya ingin membuat Lokomotiv menjadi RedBull versi Rusia”. Hal ini tak disambut baik oleh suporter Lokomotiv Moscow dan perbuatan Rangnick selama menjabat juga gagal membantu dirinya diterima, justru lebih dibenci lagi.

Baru datang, ia langsung menendang Marko Nikolic dari posisi Kepala Pelatih Lokomotiv. Terlepas dari prestasi Nikolic membawa Lokomotiv menjuarai Piala Rusia 2020/2021 dan sedang duduk di empat besar Liga Rusia. Bukan hanya mengganti kepala pelatih, Rangnick juga memberi lampu hijau untuk menjual kapten tim, Grzegorz Krychowiak, ke sesama tim Liga Rusia, Krasnodar.

Ini dilakukan dengan jabatan sebagai Manajer Direktur Olahraga dan Komunikasi. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, dia juga memasukkan sesama Jerman, Thomas Zorn, sebagai direktur teknis meski memiliki catatan buruk di tim sebelumnya, Spartak Moscow. Marcus Gisdol, Jerman lainnya juga ditunjuk sebagai pengganti Nikolic. Dengan kehadiran dua sosok ini, Rangnick pun dengan leluasa ikut memilih susunan pemain.

Mungkin dengan kehadiran Rangnick, Lokomotiv berhasil meyakinkan pemain-pemain berkualitas seperti Tin Jedvaj (mantan wonderkid Bayer Leverkusen), Alexis Beka Beka, dan Konstantin Maradishvili, iya. Namun di sisi lain, ia juga menghabiskan 30 juta Euro saat laporang keuangan klub sedang merah.

Seakan tidak bisa diam dengan kekuasaannya, Rangnick juga memberikan nomor punggung 10 yang sudah dipensiunkan sejak 2013 untuk dipakai oleh Tino Anjorin, seorang pemain pinjaman dari Chelsea. Nomor punggung yang sudah sempat dipensiunkan sebagai bentuk penghormatan kepada Dmitri Loskov, pemain dengan rekor 400 penampilan dan 128 gol diberikan kepada pemain pinjaman! Bukan untuk Rifat Zhemaletdinov atau Anton Miranchuk yang setidaknya sudah tampil lebih dari 100 kali untuk klub, tapi ke pemain pinjaman.

Tapi itulah yang terjadi saat satu orang diberi kekuasaan. Dia berpengalaman, sukses, dan terbukti sudah memberikan fondasi kuat untuk tim sepakbola milik RedBull. Akan tetapi saat ia ingin coba membentuk RedBull baru di Rusia, dirinya justru dibenci. Di tangan Rangnick “on the wheel” bukan bukan lagi kata-kata untuk meledek Man United. Kali ini, kata-kata itu bisa diterjemahkan secara harafiah. Pertanyaannya, mungkinkah Rangnick dapat kekuasaan sebesar itu dari Keluarga Glazer di Man United?

Komentar