Thomas Tuchel: Pemikir Cemerlang dengan Mental Pemenang

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Thomas Tuchel: Pemikir Cemerlang dengan Mental Pemenang

Hanya lima bulan setelah Thomas Tuchel dipecat Paris Saint-Germain, ia sukses membawa Chelsea meraih trofi Liga Champions. Pelatih asal Jerman ini memberi The Blues trofi UCL kedua, sekaligus menebus kekalahan final musim lalu ketika ia takluk dari Bayern Muenchen-nya Hansi Flick.

Kemenangan di Porto amatlah istimewa bagi Tuchel. Keluarganya datang saat Kai Havetz dan kawan-kawan mengungguli Manchester City. Selain itu, ia berhasil mengalahkan kolega sekaligus rival yang amat berpengaruh di karier kepelatihannya, Josep Guardiola.

Ketika menangani Mainz 05 dan Borussia Dortmund, timnya terlalu inferior dari Bayern asuhan Pep. Kini, di partai terbesar sepanjang kariernya, Tuchel keluar sebagai pemenang. Sejak menangani Chelsea pada Januari 2021, ia selalu menang dalam tiga pertandingan lawan Man City-nya Guardiola.

Jauh sebelum menangani Chelsea, Tuchel memang diakui secara luas sebagai pelatih cerdas dan inovatif. Keberhasilan Liga Champions menegaskan statusnya sebagai salah satu pemikir paling cemerlang di dunia sepakbola sekarang.

Sejak menjadi pemain, Tuchel telah menunjukkan kecerdasan taktis yang unggul. Ia bermain untuk Stuttgarter Kickers dan SSV Ulm hingga terpaksa pensiun dini karena cedera parah pada 1998. Ia sempat menempuh studi administrasi bisnis dan menjadi pelayan bar untuk mempersiapkan hidup di luar sepakbola. Namun, ia terobsesi kepada permainan ini kemudian pilih terjun menjajaki karier kepelatihan.



Pelatih kenamaan Jerman, Ralf Rangnick mempekerjakannya di tim muda VfB Stuttgart. Tuchel membimbing tim U-19 die Schwaben juara kompetisi Bundesliga junior. Meskipun demikian, kepribadiannya yang galak membuat Stuttgart tak memperpanjang kontrak sang pelatih.

Tuchel kemudian menjadi pelatih FC Augsburg II. Sebelum bergabung, ia menuntut klub untuk bantu mendanainya meraih lisensi setingkat UEFA Pro. Lisensi tersebut didapatkannya setelah melalui kursus enam setengah bulan di Akademi Hennes Weisweiler.

Erich Rutemoeller, mantan kepala pelatihan die Akademie, mengingat Tuchel sebagai murid yang pendiam. Meskipun tidak menonjol di kelas, ia merupakan pembelajar yang tekun dan cerdas.

“Dia paham ilmu melatih, kedokteran olahraga, fisiologi, dan psikologi. Dia sejak awal adalah murid yang sangat baik,” kata Rutemoeller kepada The Guardian.

Karier Tuchel semakin moncer ketika menangani tim muda Mainz 05. Ia membawa tim muda Mainz juara Bundesliga U-19, sesuatu yang belum pernah dicapai die Nullfuenfer. Di partai final, mereka mengalahkan Borussia Dortmund yang waktu itu diperkuat Mario Goetze.

“Saya melihat [Mainz vs Dortmund U-19] bersama Juergen [Klopp],” kata Direktur Olahraga Mainz, Christian Heidel. “Setelah pertandingan, Juergen berkata: ‘Terdapat 10 pemain yang lebih baik di Dortmund, tetapi mereka kalah dari satu tim yang lebih baik’,” lanjutnya.

Bakat melatih Tuchel mengesankan direksi Mainz. Hanya setahun usai ditunjuk menangani tim muda, ia dipromosikan menjadi pelatih tim utama, menggantikan Juergen Klopp yang meninggalkan klub.

Keputusan berani tersebut berbuah manis bagi Mainz. Tuchel tak hanya membawa klub selamat di Bundesliga. Die Nullfuenfer bahkan sempat mencicipi finis di peringkat lima pada 2010/11.

Tak hanya kuat dari segi taktis, Tuchel juga cakap mengembangkan kapasitas para pemain. Ia mengembangkan berbagai metode latihan agar skuadnya bisa bersaing di papan atas.

Kunci dari latihan Tuchel adalah pembiasaan pemain untuk membentuk perilaku. Ia tidak ingin sekadar memberi instruksi tentang cara bermain yang diinginkannya.

Untuk membentuk perilaku yang diinginkan, Tuchel perlu memastikan para pemainnya melakukan suatu secara berulang-ulang dan otomatis. Ia menyuruh bek berlatih dengan bola tenis di tangan untuk mencegah mereka menarik jersi lawan dan dengan demikian melakukan pelanggaran. Ia membuat para pemain bertanding dengan bola kecil untuk melatih kontrol dan akurasi tekel. Untuk mendorong para pemain melakukan pergerakan diagonal, ia menyuruh mereka berlatih dalam lapangan berbentuk berlian atau heksagonal.

“Lewat bentuk lapangan, kami membuat kondisi bagi para pemain, kami memaksa mereka mengeluarkan kreativitas lewat kondisi dari luar,” kata Tuchel.

Selain itu, ia juga terbuka untuk mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak. Saat menangani Mainz, ia pernah mengundang dua penulis dari blog analisis taktik Spielverlagerung, Rene Maric dan Martin Rafelt. Ia meminta dua analis tersebut menyumbangkan gagasan untuk meningkatkan permainan Mainz.

“Mereka [Mainz] bertanya soal artikel saya tentang Swansea. Itu musim pertama Swansea di Premier League dan mereka mengalahkan Man City. Artikel ini bicara tentang meraih kemenangan sebagai tim yang lebih inferior. Mainz waktu itu masih sangat terfokus kepada serangan-balik. Bagi mereka, menarik bahwa ada tim yang inferior tetapi masih bisa melakukan sesuatu dengan penguasaan bola. Thomas punya rasa ingin tahu dan ingin menemukan sesuatu yang tidak dia mengerti,” kata Rafelt.

Kecerdasan melatih dipadukan Tuchel dengan kemauannya berusaha memahami para pemain. Saat menangani Chelsea, ia berupaya memahami satu per satu pemainnya dan berbicara dengan mereka. Para pemain yang tak berkontribusi banyak di era Frank Lampard pun berupaya diyakinkan Tuchel dan diberi kesempatan.

“Sejak menit pertama, para pemain merasakan koneksi hebat dengan dia [Tuchel]. Dari pertemuan pertama dan pertandingan pertama, rasanya seperti dia sudah ada di sini untuk dua tahun. Kami saling mengerti sejak hari pertama kedatangannya,” kata Mateo Kovacic.

Bagi Tuchel, dan Chelsea, kemenangan Liga Champions barulah awal. Selanjutnya, targetnya jelas mematahkan duopoli Manchester City dan Liverpool di Premier League.

Komentar