Villarreal: Kota Kecil, Mimpi Besar

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Villarreal: Kota Kecil, Mimpi Besar

Ketika Villarreal merampungkan transfer Diego Forlan dari Manchester United pada 2004, klub berupaya menyertakan klausul pertandingan persahabatan. Namun, Setan Merah menolak. Presiden klub, Fernando Roig Alfonso menanggapinya dengan santai, “Jangan khawatir. Mereka akan datang — dan secara cuma-cuma,” kata Roig sebagaimana diwartakan The Guardian.

Setahun kemudian, Man United benar-benar datang ke El Madrigal. Setelah transfer Forlan, dua klub ini bertemu lima kali dan Villarreal tak pernah kalah. Di final Europa League 2021, Kamis (27/5/2021) dini hari waktu Indonesia, kedua tim kembali bertemu dan pihak yang menolak proposal partai persahabatan menelan kekalahan.

Villarreal menjadi juara Europa League setelah mengalahkan Manchester United. Skuad asuhan Unai Emery mesti menjalani 120 menit dan babak adu penalti untuk menyabet trofi. Kedua tim bermain imbang setelah Gerard Moreno dan Edinson Cavani mencetak gol.

Saat adu penalti, ke-10 pemain outfield mencetak gol; dari Gerard Moreno hingga Pau Torres, dari Juan Mata hingga Victor Lindeloef. Masing-masing kiper harus mengambil tendangan penentu. Geronimo Rulli pun menjadi pahlawan, sukses mengonversi penalti sekaligus mementahkan tembakan David De Gea.

Keberhasilan menjuarai Europa League amat berarti bagi Villarreal. Ini adalah trofi mayor pertama bagi klub. Meskipun bermain di empat semifinal Eropa dan satu semifinal Copa Del Rey pada abad 21, The Yellow Submarine belum meraih trofi bergengsi sepanjang sejarah. Tiga titel yang pernah mereka raih hanyalah gelar minor, yakni satu Tercera Division (divisi keempat Spanyol) dan dua kali juara bersama Piala Intertoto.



Kemenangan ini sekaligus menegaskan status Villarreal sebagai klub kecil yang berani bermimpi besar. Sebutan “klub kecil” di sini bukanlah ejekan. Ditinjau dari berbagai aspek, mereka memanglah klub kecil.

Klub ini berbasis di kota yang hanya berpenghuni sekitar 50.000 orang; teramat kecil dibanding dua tetangganya yang juga memiliki klub sepakbola: Valencia dan Castellon de la Plana. Seluruh penduduk Villarreal, atau, nama resminya: Vila-real, bahkan tidak bisa memenuhi kursi Old Trafford, masih sisa sekitar 25.000 tempat duduk.

Basis suporter Villarreal pun tidak besar-besar amat. Awal musim lalu, sebelum pandemi, pemegang tiket musiman klub ada di angka 19.000, paling sedikit nomor sembilan di La Liga. Sebagai perbandingan, rival The Yellow Submarine di tujuh besar musim ini, Real Betis memiliki pemegang tiket musiman nyaris tiga kali lipat (50.373). Stadion Villarreal, Estadio de la Ceramica, pun berkapasitas kecil, hanya muat 25.000 orang. Hanya ada tujuh tim di La Liga 2020/21 yang memiliki stadion lebih kecil dari Villarreal.

Bujet Villarreal pun tergolong bersahaja. Melansir survei Sports Intelligence, bujet gaji pemain Villarreal untuk 2019/20 adalah 1,73 juta dolar per tahun. Barcelona, yang mencatatkan pengeluaran gaji terbesar di La Liga, memiliki bujet tujuh kali lipat Villarreal. Lawan mereka di final Europa League, Manchester United memiliki bujet gaji hampir lima kali lipat.

Di balik segala kesederhanaan itu, Villarreal konsisten menantang papan atas La Liga. Delapan tahun terakhir, The Yellow Submarine hanya dua kali finis di luar enam besar. Pencapaian terbaik klub adalah mengunci posisi runner-up liga pada 2007/08, terpaut delapan poin dari Real Madrid yang menjadi juara.

The Yellow Submarine dan Era Fernando Roig

Villarreal menghabiskan sebagian besar eksistensinya di papan bawah piramida liga. Klub ini didirikan pada 10 Maret 1923 dan berlaga di kompetisi regional Valencia selama puluhan tahun. Pada 1950-1970-an, klub mengalami beberapa kali promosi-degradasi dari liga nasional ke tingkat regional.

Pada awal 1940-an, Villarreal sempat bubar. Komunitas lokal yang tak ingin sepakbola menghilang dari kota pun membentuk klub-klub baru. Klub yang paling menonjol saat itu adalah CA Foghetecaz. Klub ini kemudian diakui sebagai pewaris resmi Villarreal. Foghetecaz berganti nama jadi Villarreal CF mulai 1954.

Salah satu warisan Foghetecaz yang bertahan hingga kini adalah warna kebesaran klub. Tadinya, jersey Villarreal berwarna putih-hitam. Pada 1947, menjelang musim bergulir, putra dari presiden Villarreal waktu itu ditugaskan berbelanja seragam pemain ke Valencia. Namun, sesampainya di toko, stok seragam putih dan berbagai warna lain habis. Ia pun membeli satu-satunya set seragam yang tersisa, kebetulan berwarna kuning. Para pemain menyukai warna itu dan memutuskan untuk sekalian mengganti warna celana menjadi biru. Warna kuning-biru ini dikenakan Villarreal hingga 2003, saat mereka beralih ke jersey kuning sepenuhnya.

Baca juga: Unai Emery yang Enigmatik

Warna baru tersebut akhirnya membuahkan julukan Villarreal yang tersemat hingga sekarang: The Yellow Submarine. Julukan ini merupakan hasil dari pertemuan identitas lokal klub dengan spirit anak muda yang tersentuh globalisasi.

Pada 1967, teknologi pemutar rekaman berdaya baterai telah sampai ke Villarreal. Anak-anak muda menggunakan alat itu untuk memutar musik. Di partai-partai Villarreal, sekelompok suporter muda kerap menyetel tembang grup rock yang ngetren pada waktu itu, The Beatles. Tembang yang kerap didendangkan para suporter adalah “Yellow Submarine”. Mereka pun mengubahnya menjadi nyanyian dukungan berbahasa Spanyol. Sejak inilah Villarreal mulai dikenal sebagai The Yellow Submarine atau El Submarino Amarillo.



Menjelang 1990-an, Villarreal jatuh bangun di Divisi Segunda dan Tercera. Perubahan signifikan baru terjadi ketika klub dibeli oleh Fernando Roig, milyuner setempat yang memiliki usaha keramik. Pergantian kepemilikan ini terjadi karena pemilik sebelumnya, Pascual Font de Mora jatuh sakit dan pihak keluarga ingin mencari pemilik baru.

Salah satu petinggi klub, Jose Manuel Llaneza ditugasi untuk menemukan pemilik baru. Pemilik yang dicari pun harus memiliki ikatan dengan kota. Villarreal tergolong ketat dalam pergantian kepemilikan. Mereka tak ingin klub jatuh ke tangan sembarang pebisnis. Roig pun dipilih dan Llaneza mengurus kesepakatan dengannya.

“Ketika kami datang, hanya ada sebuah mesin tik dan Llaneza,” kata Roig. “Ya, hanya ada Jose Manuel [Llaneza] dan dua orang lain: Gumbau dan seseorang bernama Parra yang telah meninggal. Kini ada 500 staf [di Villarreal],” sambung CEO klub sekaligus putra Roig, Fernando Roig Negueroles.

Fernando Roig memasang putra dan putrinya ke dalam struktur petinggi klub. Namun, apa yang dilakukannya bukan sekadar nepotisme. Roig berkomitmen penuh mengembangkan Villarreal. Ia bahkan memasang target promosi ke La Liga tiga tahun setelah mengambilalih kepemilikan pada 1997. Target itu tercapai lebih cepat: Villarreal promosi ke La Liga pada 1998.

Pada era Roig, Villarreal membenahi infrastruktur dan berinvestasi di sistem pengembangan pemain muda. The Yellow Submarine mengelola pemasukan dan pengeluaran dengan hati-hati. Hasilnya kondisi finansial mereka cenderung stabil dari tahun ke tahun untuk berkiprah di La Liga.

Keseriusan mengembangkan pemain muda dipadukan dengan kebijakan transfer dan peminjaman yang sukses. Prinsip tersebut dipertahankan hingga sekarang. Saat menghadapi Man United, Villarreal memainkan delapan lulusan akademi: Gerard Moreno, Mario Gaspar, Manu Trigueros, Alfonso Pedraza, Pau Torres, Yeremy Pino, Moi Gomez, serta Dani Raba. Dua pemain yang ada di bench, Jaume Costa dan Fernando Nino pun berstatus lulusan akademi.

Di bursa transfer, manuver Villarreal dalam 30 tahun terakhir pun cenderung sukses. Mereka tidak membelanjakan uang lebih dari pendapatan. Meskipun demikian, The Yellow Submarine selalu bisa menambal kepergian figur penting seperti Diego Forlan, Giuseppe Rossi, hingga Santi Cazorla.

Pengembangan pemain muda dan transfer efisien adalah kunci sukses Villarreal. Kondisi finansial stabil membuat klub tak pernah didera kemunduran berarti kendati dua kali terdegradasi. Dipadu dengan pelatih yang tepat, klub “sederhana” ini dapat konsisten menjadi pengganggu triopoli Spanyol.

Unai Emery, pelatih yang mempersembahkan Villarreal gelar mayor perdana, pun memuji cara klub dikelola. “Klub ini didesain untuk melakukan hal-hal penting,” katanya sebelum final Europa League.

Baca juga: Cinta Sejati Villarreal

Sebelum kedatangan Emery, Villarreal telah melakukan banyak “hal penting”. Mereka lolos ke semifinal Liga Champions 2006. Pada 2008, mereka mengakhiri musim di peringkat dua La Liga. Yang kurang dari perjalanan The Yellow Submarine hanyalah trofi, dan Unai Emery memberikannya pada 2021.

Trofi Europa League adalah ganjaran pantas bagi kesabaran dan konsistensi Villarreal. Klub ini menunjukkan bahwa ambisi bisa diwujudkan secara pelan-pelan dan hati-hati. Tak perlu manuver terburu-buru yang bisa membuat klub dalam posisi merugikan. Sebagaimana lirik “Yellow Submarine”-nya The Beatles, Villarreal tenteram dengan cara hidup mereka sebagai The Yellow Submarine.

As we live a life of ease

Every one of us has all we need

Sky of blue and sea of green

In our yellow submarine

Foto: Marca

Komentar