Premier League juga Diciptakan Para Pembangkang

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Premier League juga Diciptakan Para Pembangkang

Saat geger European Super League beberapa hari belakangan, Jamie Carragher bekerja seperti biasa sebagai pandit Sky Sports. Ia, bersama Garry Neville, memanfaatkan waktu tampil di layar kaca untuk mengecam wacana kompetisi sempalan tersebut.

“Kita menggugat soal pemisahan [European Super League] di sini. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa Sky Sports dan Premier League terlibat pemisahan pada 1992, dan itu berkisar di antara Big Five dulu,” kata Jamie Carragher saat siaran langsung Sky Sports.

Legenda Liverpool itu coba menjawab perbandingan mengenai pembentukan Premier League dan Super League. Pada mulanya, EPL memanglah kompetisi sempalan dan baru dibentuk pada 1992.

“Jadi, kita mengkritiknya [Super League] tetapi kita bekerja di perusahaan yang terlibat dalam pemisahan [Premier League]. Jadi apakah kita munafik, apakah kita salah?” lanjutnya.

Jauh sebelum Super League diumumkan, Inggris pernah memiliki konflik sepakbola yang berujung pemisahan liga. Akar konflik tersebut juga tak jauh-jauh dari penyebab ontran-ontran Super League sekarang, yakni perebutan uang dan kekuasaan.

Pada 1980-an, klub-klub besar First Division (divisi teratas Inggris sebelum Premier League) tidak puas dengan cara English Football League mengelola kompetisi. Ketidakpuasan ini vokal disuarakan oleh lima klub terbesar, The Big Five waktu itu: Manchester United, Liverpool, Arsenal, Everton, dan Tottenham Hotspur. Klub-klub tersebut menginginkan jatah yang lebih besar dari pendapatan hak siar.

Pangkal ketidakpuasan klub-klub itu sejatinya bukan hanya perkara uang hak siar. Menjelang dekade 1990-an, sepakbola Inggris berada dalam kondisi memprihatinkan. Hooliganisme menjamur dan daya tarik liga melemah.

Dua tragedi besar pun memperparah situasi persepakbolaan Inggris. Tragedi Heysel yang menewaskan 39 orang pada 1985 membuat klub Inggris dilarang berpartisipasi di turnamen kontinental selama lima tahun. Empat tahun setelah Heysel, Tragedi Hillsborough yang merenggut korban jiwa hingga 96 orang terjadi.

Tragedi Hillsborough membawa perubahan besar-besaran ke sepakbola Inggris. Setelah investigasi dilakukan, stadion sepakbola Inggris dilarang memasang tribun berdiri. Klub pun harus merenovasi tribun stadion menjadi sepenuhnya bertempat duduk.

Melemahnya daya tarik liga juga membuat klub-klub besar kesulitan bersaing, baik secara finansial atau merit, dengan tim-tim Jerman, Spanyol, Italia, dan Perancis.

Pada 1980-an, klub-klub mengancam hendak keluar dari EFL. Hal ini membuat pengelola liga terpaksa mengalah. EFL kemudian mengubah pembagian jatah hak siar menjadi 50% untuk klub-klub First Division, sedangkan sisanya dibagi ke tiga divisi di bawahnya.

Sebelumnya, distribusi pendapatan dari hak siar cenderung dibagikan lebih merata. Pada 1965, biaya siaran dari BBC untuk program “Match of the Day” dibagikan setara kepada 92 klub anggota.

Keinginan menyempal dari EFL hampir terwujud pada 1988. The Big Five mendapat dukungan dari lima klub lain, yakni West Ham, Nottingham Forest, Aston Villa, Sheffield Wednesday, serta Newcastle United. Keinginan membuat liga sempalan didukung ITV yang menawarkan 32 juta paun untuk hak siar.

Akan tetapi, rencana ini pada akhirnya gagal. Pasalnya, keputusan Pengadilan Tinggi Inggris membela EFL dan melarang sekelompok klub itu membicarakan kesepakatan eksklusif dengan televisi.

Para pembangkang mulai menemui titik terang pada 1990-an. Mereka mencari dukungan dari FA , PSSI-nya Inggris. FA merilis Blueprint for the Future of Football yang isinya mendukung pembentukan Premier League.

Alasan resmi dari dukungan FA adalah demi kepentingan tim nasional. Dalam proposal, liga yang baru akan mengakomodasi lebih sedikit klub. FA beranggapan bahwa semakin sedikit pertandingan maka kebugaran tim nasional menjelang turnamen akbar seperti Piala Eropa dan Piala Dunia akan lebih baik.

Namun, sebagian kalangan beranggapan bahwa dukungan FA bersifat politis. FA dituding mendukung pembentukan kompetisi baru untuk mengurangi pengaruh EFL. Dua lembaga ini terlibat rivalitas sebagai otoritas sepakbola Inggris.

“Saya sangat tidak yakin bahwa ini [pembentukan Premier League] adalah untuk Timnas Inggris yang lebih baik. Saya pikir ini berdasarkan keserakahan saja,” kata Graham Taylor, pelatih Inggris saat pembentukan Premier League.

Taylor bukanlah satu-satunya pihak yang menentang kompetisi baru. EFL, sebagai yang paling terdampak, jelas tidak setuju. Klub-klub Premier League dituding hanya ingin memperlebar ketimpangan dengan mereguk duit hak siar sendirian.

Menjelang era Premier League, pemasukan dari hak siar menunjukkan peningkatan yang menggiurkan. Pada 1986, kesepakatan siaran selama dua tahun dihargai 6,3 juta paun. Tetapi pada 1988, angkanya melonjak hingga mencapai 44 juta paun untuk empat tahun.

“Kami ingin dihargai secara adil untuk apa yang telah kami sumbangkan untuk permainan ini. Hubungan gaji [pemain] dengan seberapa besar pendapatan klub tidaklah relatif. Akan ada lebih banyak uang di permainan ini, jadi saya pikir itu [Premier League] tidak ada salahnya,” kata Tony Cottee, eks pemain Everton kepada FourFourTwo.

Premier League akhirnya disetujui dan pertama bergulir pada 1992/93. Sky menjadi pemegang hak siar utama dengan tawaran 304 juta paun untuk lima tahun, 60 pertandingan per musimnya. Uang itu dikelola dan dinikmati oleh 22 klub peserta. Sejak 1995, klub peserta berubah menjadi 20.

Perkembangan sepakbola Inggris meroket setelah peluncuran Premier League. Sumber dana baru meningkatkan daya saing klub-klub Inggris. Uang besar membuat klub bisa merenovasi stadion sesuai amanat usai Tragedi Hillsborough. Klub-klub Inggris pun lebih leluasa bermanuver di bursa transfer.

Melansir Transfermarkt, pada 1991/92, klub Inggris masih kalah dari Serie A soal pengeluaran di bursa transfer. Namun, setelah Premier League bergulir, klub Inggris langsung menjadi yang terboros. Pada 1994/95, Premier League bahkan menghabiskan dana transfer dua kali lipat lebih banyak dari liga terboros kedua, Bundesliga Jerman.

Di satu sisi, banjir uang siaran membuat klub semakin kompetitif. Tetapi, sebagai gantinya, suporter harus merogoh uang lebih banyak untuk menikmati sepakbola. Kesepakatan dengan Sky membuat Premier League tak lagi disiarkan di TV terestrial, melainkan di TV berbayar. Harga tiket pun melambung tinggi. Setelah tiga dekade, harga tiket pertandingan EPL meroket sebanyak ratusan hingga ribuan persen.

Volume uang yang berputar di sepakbola tak lagi sama. Investor asing pun bermunculan membeli klub-klub Premier League.

Meskipun sempat dirintangi penolakan, kini Premier League sudah berjalan lebih dari tiga dekade. Keputusan para pembangkang yang didukung FA terbukti membuat sepakbola Inggris lebih kompetitif.

Namun, apakah dana besar-besaran itu membuat sepakbola lebih baik? Cottee, yang dulu sekadar menginginkan “bayaran yang pantas” pun tidak yakin. “Ini mungkin agak kelewatan sekarang,” katanya.

Lalu, bagaimana dengan Super League? Baru dua hari diumumkan, liga baru itu sudah di ambang kehancuran setelah mundurnya Manchester City yang kemudian disusul klub-klub lain.

Super League dan Premier League memang sama-sama sempalan. Bedanya, EPL tak sepenuhnya menandingi tatanan yang lebih dulu ada. Premier League masih terintegrasi dengan piramida liga dan bukanlah kompetisi tertutup.

EPL pun bisa terwujud juga berkat peran FA. Sedangkan Super League, pada hakikatnya, adalah upaya segelintir klub elite untuk menyaingi UEFA.

Komentar