Apakah Ini El Clasico Terakhir Messi?

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Apakah Ini El Clasico Terakhir Messi?

Pada 19 November 2005, Lionel Messi muda melakoni El Clasico pertamanya di Santiago Bernabeu. Frank Rijkaard menurunkan Messi sebagai penyerang kanan, melengkapi trio yang diisi Samuel Eto’o dan Ronaldinho. La Pulga, yang saat itu berusia 18 tahun, tampil baik dan membuat satu asis untuk timnya.

Messi membidani gol Eto’o yang membuka keunggulan Barca. Ronaldinho kemudian mencetak dwigol pada babak kedua, menggenapi kemenangan Blaugrana menjadi 0-3.

Selang 16 tahun dan 44 El Clasico kemudian, Messi menjelma ikon tak tergantikan dalam rivalitas Real Madrid vs Barcelona. Sejak 2010-an, jika membicarakan El Clasico, perbincangan mengenai Messi dan Cristiano Ronaldo tak terelakkan.

Tiga tahun lalu, bintang Portugal itu pindah ke Juventus dan membuat El Clasico tak lagi sama. Real Madrid memang tak kehilangan daya saing klub gara-gara kehilangan satu pemain. Namun, tetap saja, kehilangan seorang legenda adalah sesuatu yang tidak diinginkan.

Pada akhir musim ini, Messi berpeluang mengikuti jejak rivalnya itu. Kontraknya akan berakhir pada Juni 2021 dan belum ada kepastian mengenai pilihannya kelak.

Presiden baru Barcelona, Joan Laporta dan segenap manajemen klub ingin Messi bertahan. Pemain 33 tahun itu pun masih masuk dalam rencana Ronald Koeman. Messi diharap bersedia memimpin generasi baru Barcelona yang memuat talenta muda seperti Ansu Fati, Pedri, serta Ilaix Moriba.

Tak hanya publik Blaugrana yang menginginkan Messi bertahan. Sang rival, Real Madrid menyarankan pemain selegendaris Messi, skenario yang ideal adalah pensiun di Camp Nou.



Zinedine Zidane tahu betul betapa berharganya Messi bagi Barcelona dan sepakbola Spanyol. Ia menghadapi Messi di atas lapangan 16 tahun lalu, saat bintang Argentina itu memainkan El Clasico pertamanya. Kini, Zidane adalah pelatih Real Madrid dan melawan Messi sebagai juru taktik.

“Saya tidak ingin ini menjadi Clasico terakhir Messi. Biarkan dia bertahan, biarkan dia bertahan di Barcelona. Dia bagus di sana. Baik bagi La Liga jika dia bertahan,” kata Zidane dikutip Marca.

Messi akan memainkan El Clasico ke-45 di Stadion Alfredo Di Stefano, Minggu (11/4/2021) dini hari waktu Indonesia. Akankah ini menjadi El Clasico terakhir Messi?

Dalam sejarah panjang rivalitas Real Madrid vs Barcelona, El Clasico telah dimainkan 245 kali di kompetisi resmi. Messi berpartisipasi dalam 44 pertandingan. Hanya kapten Los Blancos, Sergio Ramos (45 pertandingan) yang memainkan El Clasico lebih banyak dibanding Messi. Sepanjang karier seniornya, Messi hanya tiga kali melewatkan El Clasico akibat cedera.

Ia pun menjadi pemain dengan gol terbanyak di El Clasico. Messi telah mencetak 26 gol ke gawang Real Madrid. Pemain kelahiran Rosario, Argentina ini juga menjadi satu di antara lima pemain yang berhasil mencetak lebih dari satu hat-trick di El Clasico.

Sebagaimana musim-musim sebelumnya, partai Real Madrid vs Barcelona krusial bagi perebutan gelar juara. Hingga jornada 29, Madrid (63 poin) dan Barca (65 poin) hanya terpaut dua angka di tabel klasemen. Mereka sama-sama berniat mengudeta Atletico Madrid yang memimpin La Liga dengan 66 poin. Kemenangan wajib diraih masing-masing tim jika ingin terus menekan Los Rojiblancos.

Pada 2020/21, Real Madrid memenangi El Clasico putaran pertama di Camp Nou. Anak asuh Zidane menang 1-3 pada 24 Oktober silam. Barcelona tentu ingin membalas kekalahan tersebut dan mencegah Los Merengues mempertahankan gelar La Liga.

Di putaran pertama lalu, Barca kalah di tengah inkonsistensi performa. Ronald Koeman baru dilantik pada Agustus dan kesulitan meraih hasil maksimal di awal-awal masa jabatannya. Namun kini, Blaugrana dalam kondisi lebih baik.

Barcelona baru menampakkan taringnya sejak Desember. Skuad besutan Koeman tak terkalahkan sejak dipermalukan Cadiz 2-1 pada 5 Desember 2020. Jelang melawat ke Madrid, Lionel Messi dan kawan-kawan menjalani 19 pertandingan tanpa kalah di La Liga.

Kebangkitan Barcelona tersebut membawa mereka ke persaingan gelar juara. Memasuki putaran kedua, Barca menjadi tim dengan jumlah gol terbanyak (68) di La Liga. Tim terproduktif kedua, Real Madrid dan Atletico, terpaut 17 gol dari Blaugrana.

Messi, sebagaimana mestinya, menjadi sosok vital di balik performa impresif Barcelona tersebut. Sebelum Desember, ia hanya mengemas empat gol dan dua asis. Setelahnya, Messi mencetak 19 gol dari 20 pertandingan dan mengambil alih puncak daftar top skor.

Memasuki usia 33 tahun, Messi jelas belum habis. Kontribusinya masih sangat krusial dan dalam waktu dekat, ia tak bakal tersingkir dari 11 utama.

Barcelona tengah berbenah. Tetapi, apakah Messi akan ambil bagian dalam era baru yang disongsong klub Katalunya ini?

Ronald Koeman yakin bahwa Blaugrana memiliki masa depan cerah. Pembenahan manajemen dan generasi baru pemain membuat pelatih asal Belanda itu optimistis. “Leo tidak akan ragu dengan masa depan tim ini,” tegasnya sebagaimana dikutip Sky Sports.

Barcelona kini dipimpin Joan Laporta. Ia adalah presiden yang mempromosikan Pep Guardiola dan membawa Barca ke masa kejayaan. Messi meraih empat titel La Liga dan dua Liga Champions ketika Laporta menjabat presiden pada 2003-2010.

Akan tetapi, terlepas dari upaya-upaya Barcelona, yang bisa memutuskan masa depan Messi adalah sang pemain sendiri. Memang banyak pihak yang mengharapkannya bertahan. Tetapi, terlepas dari status legendarisnya, Messi adalah manusia biasa dengan keinginan dan otonomi yang patut dihormati.

Komentar