Wout Weghorst: Si Reliabel yang Terlalu Lama Diabaikan

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Wout Weghorst: Si Reliabel yang Terlalu Lama Diabaikan

“Semua orang berkata kepada saya: ‘Kamu? Menjadi profesional? Mustahil! Kamu tidak bisa melakukannya.’” Ucapan ini biasa didengar Wout Weghorst ketika masih anak-anak. Ia ingin menjadi pesepakbola, tetapi orang-orang meremehkannya. Bahkan saat ini, ketika Weghorst menggapai titik tertinggi kariernya, penyerang VfL Wolfsburg tersebut tak mendapat rekognisi yang seharusnya.

Hingga berusia 28 tahun, Weghorst baru tampil empat kali untuk Timnas Belanda. Di kalangan penggemar sepakbola, namanya pun kalah mentereng dibanding Andre Silva, Lucas Alario, atau Andrej Kramaric. Padahal, Weghorst adalah salah satu ujung tombak paling mematikan di Bundesliga.

Pada 2020/21, penyerang asal Belanda itu telah mencetak sembilan gol dari 13 pertandingan Hinrunde. Hanya Erling Haaland dan Robert Lewandowski yang mencetak lebih banyak gol darinya. Ia pun selalu jadi top skor Wolfsburg pada tiga musim terkini.

Weghorst sendiri sadar kalau gaya permainannya cenderung sulit untuk disukai. Sebagai penyerang berpostur tinggi besar, eks pemain AZ Alkmaar ini tidak menyerang lawan dengan sprint mengejutkan seperti Jamie Vardy atau dengan dribel penuh warna sebagaimana Neymar. Gaya permainannya komparatif dengan Olivier Giroud, mengganggu pemain bertahan demi pergerakan tim dan mengandalkan pemosisian serta postur tubuh untuk mengonversi peluang.

Kehadiran Weghorst amat berharga bagi taktik Oliver Glasner. Sebagai pemain no. 9, peran defensif Weghorst juga dibutuhkan Glasner. Ia menjadi lini pertama pertahanan, pemain yang paling awal bergerak untuk mengganggu build-up lawan.

Saat menyerang, selain bertugas di tahap penyelesaian, Weghorst juga sering merintangi pemain bertahan dan membuka ruang bagi rekan-rekannya. Di antara skuad die Wolfe, Weghorst menjadi pemain dengan jumlah press terbanyak (212); 125 dari keseluruhan press-nya terjadi di sepertiga akhir, nyaris tiga kali lipat dari penyerang Wolfsburg yang lain. Jumlah itu menunjukkan signifikansi Weghorst dalam skema pertahanan dari depan arahan Glasner.

Selain itu, striker berpostur 1,97 meter tersebut juga konsisten tampil klinis sebagai ujung tombak. Hanya butuh dua setengah tahun bagi Weghorst untuk masuk ke jajaran 10 besar top skor sepanjang masa Wolfsburg. Sejak 2018/19, ia telah mencetak 42 gol dari 79 pertandingan Bundesliga.

Weghorst mencatatkan rata-rata 0,53 gol per pertandingan. Catatan ini hanya diungguli oleh duo striker ikonis die Wolfe saat menjuarai Bundesliga 2008/09, Edin Dzeko (0,59) dan Grafite (0,53).

Eks pemain Heracles Almelo ini mungkin sulit disukai kalangan fans, tetapi, para pelatih sangat mudah menyukainya. Hans-Dieter Flick, pelatih yang bekerja dengan striker sekelas Robert Lewandowski, adalah salah satu fans Weghorst. Flick menyebutnya sebagai salah satu striker terbaik di liga.

Glasner bahkan mengakui bahwa timnya sedikit memilik ketergantungan terhadap Weghorst. “Dia adalah pemain yang mengorbankan diri demi tim, juga seseorang yang rajin mengover lebar lapangan hingga mencapai jumlah yang luar biasa demi membantu secara defensif,” kata pelatih asal Austria tersebut.

Link streaming pertandingan Bundesliga: Borussia Dortmund vs VfL Wolfsburg

Terlalu Lama Diabaikan

Wout Weghorst lahir di Borne, sebuah kota kecil di timur Belanda, pada 7 Agustus 1992. Kota ini hanya berjarak kurang dari 30 km dari perbatasan Jerman. Weghorst pun rajin mengikuti Bundesliga sejak kecil.

Pahlawan masa kanak-kanaknya adalah Niels Oude Kamphuis, gelandang yang pernah membela Schalke 04 dan Borussia Moenchengladbach. Pasalnya, Kamphuis sama-sama berasal dari Borne dan merupakan tetangga pamannya.

“Setiap saya mengunjungi rumahnya, saya selalu memantau dari balik pagar dengan penuh semangat: Apakah Oude Kamphuis di rumah? Dia di rumah sekali itu — dan bermain bola dengan saya di kebun. Sejak itu dia selalu menjadi yang terhebat bagi saya,” kenang Weghorst kepada 11Freunde.

Weghorst memutuskan akan menjadi pesepakbola sejak berusia delapan tahun. Hal tersebut dipicu oleh perceraian orang tuanya. Menyaksikan rumah tangga yang runtuh membuat Weghorst dan keempat saudaranya memikirkan masa depan sejak dini.

Weghorst berusaha keras untuk menggapai cita-cita. Kecintaannya pada sepakbola pun makin menjadi. Dulu, ketika hujan dan anak-anak lain berhamburan mencari tempat berteduh, Weghorst mengambil bola dan menendanginya ke arah tembok. Weghorst memiliki renjana besar akan permainan ini sejak kecil.

Demi menjadi pesepakbola profesional, Weghorst memperhatikan asupan nutrisi sejak dini. Ketika masih bermain tarkam bersama klub setempat, pemain yang mengidolakan Jari Litmanen ini sudah mengatur pola makannya.

Weghorst memupuk profesionalisme sejak dini. Dan hal inilah yang membuatnya frustrasi di FC Emmen, klub profesional keduanya. Di Emmen, standar profesionalitas klub tak sesuai dengan ekspektasi Weghorst. Sang pemain bahkan harus mengatur makanan dan menggelar latihan khusus sendiri. Meskipun berstatus klub profesional dan berlaga di divisi kedua, Emmen waktu itu tak memiliki program layaknya profesional. Mereka bahkan menyediakan bakso, kroket, dan nuget ayam sebagai menu makanan sehari-hari.

Kekecewaan itu baru berakhir ketika klub Eredivisie, Heracles Almelo menggaet Weghorst pada 2014/15. Di Stadion Polman, Weghorst mengenalkan bakatnya ke publik sepakbola. Ia mencetak 20 gol dalam dua musim Eredivisie, yang membuat AZ Alkmaar meminati jasanya.

Heracles Almelo sendiri adalah klub yang berperan penting dalam pengembangan karier Weghorst. Saat sang pemain masih bertanding di kompetisi amatir dan belum memiliki kejelasan karier, Heracles mengikutkannya dalam latihan tim. Heracles adalah tempat pertama Weghorst merasakan sepakbola profesional, meskipun sebatas latihan.

Yang membuat Weghorst mendapat kesempatan istimewa itu adalah kekaguman Peter Bosz, pelatih Heracles saat itu. Ketika para pemandu bakat dan pelatih lain tak menyadari bakat Weghorst, Bosz memperhatikan perkembangannya. Namun, Bosz rupanya tak kunjung merekrut sang pemain. Weghorst pun akhirnya pindah ke Willem II, di mana ia jarang tampil di tim B sekalipun dan kemudian pindah ke Emmen.

“Saya punya masalah motorik saat remaja. Saya tidak memiliki kaki yang sama panjang. Dan di Belanda, yang menjadi perhatian utama para pemandu bakat adalah pemain yang memiliki kemampuan teknis luar biasa. Saya bukan pemain seperti itu. Itulah mengapa tak ada yang menyadari bakat saya. Saya tidak pernah diundang untuk menjalani percobaan (trial),” kata Weghorst.

Meski demikian, Weghorst tak patah semangat. Kerja keras dan mentalitasnya terbayar jika menilik trek kariernya sekarang. Dari pertandingan amatir ke tim mapan Bundesliga, via Heracles Almelo dan AZ Alkmaar, Weghorst selalu naik level dalam kariernya.

Musim ini, Weghorst pun berpeluang mengembalikan Wolfsburg ke papan atas sepakbola Jerman. Die Wolfe menempati peringkat empat pada pengujung 2020. Di bawah asuhan Glasner, Wolfsburg tak terkalahkan dalam 11 pertandingan awal dan terlihat sebagai kontestan tangguh di zona Liga Champions.

Wout Weghorst dan VfL Wolfsburg akan bertamu ke Signal Iduna Park untuk melawan Borussia Dortmund pada Minggu (3/1), dengan waktu kick-off pukul 21.30 WIB. Tayangan langsung pertandingan tersebut, seluruh pertandingan Bundesliga 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya, dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar