Nils Petersen Perpanjang Napas Freiburg, Gol demi Gol

Cerita

by Hendi Abdurahman

Hendi Abdurahman

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Nils Petersen Perpanjang Napas Freiburg, Gol demi Gol

“Saya ingin melanjutkan karier saya di sini, di Freiburg. Saya berusia 30 tahun dan masih memiliki waktu tersisa dalam kontrak. Kita mesti melihat berapa lama saya bisa terus bermain pada level ini,” kata Nils Petersen.

“Selama saya masih bisa membantu tim, saya akan senang berada di sini. Saya merasa tidak perlu pergi ke mana pun, tetapi tentu saja Anda tak bisa mengatakan ‘tidak pernah’ dalam bisnis ini [sepakbola profesional],” lanjutnya.

Pernyataan tersebut dilontarkan Nils Petersen pada Oktober 2019. Sejauh ini, belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai kontrak Petersen yang akan berakhir Juni 2021. Namun, profesionalisme pemain yang baru saja merayakan ulang tahun ke-32 pada 6 Desember 2020 lalu itu patut diacungi jempol. Performa yang ia tunjukkan di atas lapangan bersama Breisgau-Brasilianer tergolong apik.

Musim ini, Petersen telah mencetak empat gol dari 10 penampilan. Ia merupakan tumpuan utama Christian Streich, pelatih Freiburg, di lini depan. Pencapaiannya tersebut hanya bisa disamai oleh Vincenzo Grifo. Kontribusi kedua pemain ini pun sangat besar bagi Freiburg, lebih dari 50% produksi gol dihasilkan oleh mereka berdua.

Link streaming pertandingan Bundesliga: SC Freiburg vs Arminia Bielefeld

Akan tetapi, terdapat satu perbedaan mencolok yang dimiliki Nils Petersen dan tidak dipunyai oleh pemain Freiburg lainnya: konsistensi. Dari catatan Transfermarkt, sejak bergabung pada Januari 2015 hingga musim 2019/20, hanya sekali Petersen gagal menjadi top skor klub (musim 2016/17), sisanya ia selalu jadi yang terdepan dalam urusan gol.

Petersen merupakan pemain aktif yang tercatat sebagai pencetak gol terbanyak klub, dengan torehan 91 gol dari 190 penampilan (dan akan terus bertambah sebelum ia pindah atau pensiun), melewati capaian Joachim Loew yang mencetak 83 gol ketika bermain untuk Freiburg. Memang, Petersen tidak selalu tampil sepanjang laga. Sesekali ia mengawali pertandingan dari bangku cadangan. Tetapi hal itu bukan disebabkan kualitas melainkan pertimbangan taktik dari pelatih.

Saat melawan Bayer Leverkusen pada Spieltag 6, misalnya, Petersen masih bisa memberikan impak bagi tim dengan mencetak satu gol kendati turun dari bangku cadangan. “Sangat penting bagi kami bahwa dia bekerja dangan baik, kami tidak memiliki banyak orang yang bisa mencetak banyak gol,” papar Christian Streich.

Jalan Berliku Nils Petersen: Dari Satu Klub ke Klub Lain

Lahir di Wernigerode, sebuah kota di distrik Harz, Sachsen-Anhalt, Jerman, Petersen muda menapaki mimpi untuk menjadi pesepakbola professional di klub lokal, FC Wernigerode. Ia kemudian pindah ke VfB Germania Halberstadt dengan tujuan mengembangkan diri. Nasib mujur mendekatinya pada 2005 ketika Carl Zeiss Jena memberikan kontrak di tim muda. Ia sempat bermain untuk tim cadangan klub tersebut di NOFV-Oberliga Sued.

Debutnya sebagai pemain professional pun akhirnya didapat pada Februari 2007 ketika Jena bersua FC Koeln di ajang Bundesliga 2. Ia dimasukkan pelatihnya saat itu, Heiko Weber, pada menit 89 menggantikan Mohammed El Berkani. Tak banyak yang bisa dilakukan di lapangan dalam waktu sesingkat itu. Tapi, satu menit tersebut memiliki arti penting bagi seorang Petersen lantaran dari enam laga sisa musim 2006/07, ia kembali diturunkan pada dua laga selanjutnya melawan SpVgg Unterhaching dan Karlsruher SC.

Semusim berselang, jumlah penampilannya bersama Jena mengalami peningkatan yang signifikan. Ia tampil 20 kali dengan catatan empat gol dan satu asis. Namun demikian, perkembangan tersebut tidak berkelindan dengan prestasi klub yang mesti terdegradasi ke Liga 3 karena Jena menempati posisi juru kunci di akhir musim.

Januari 2009, Energie Cottbus menebus Petersen dengan mahar 300 ribu euro. Di klub inilah pasang surut penampilan dilalui Petersen. Untuk kali pertama pula, ia tampil di Bundesliga 1, tepatnya pada Spieltag 34 kala Cottbus melawan Bayer Leverkusen. Ketika itu Cottbus menang 3-0 dan Petersen tampil selama enam menit.

Nahas, menempati peringkat 16 di klasemen akhir, tim yang berdiri pada 1963 tersebut mesti melakoni partai play-off promosi-degradasi melawan FC Nuernberg. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: Cottbus kalah dalam pertandingan dua leg (agregat 5-0) dan mesti rela turun ke Bundesliga 2.

Lagi, jalan berliku sepertinya memang mesti dilalui Petersen. Dua musim di Bundesliga 2 bersama Cottbus, ia semakin diandalkan. Total Petersen tampil dalam 55 pertandingan dengan koleksi 35 gol dan sembilan asis. Ia menyabet gelar individual pada 2010/11, menjadi top skor meski gagal mengantarkan Cottbus promosi karena timnya hanya menempati urutan enam klasemen akhir.

Performa itulah yang kemudian membuat Petersen dilirik klub raksasa Jerman, Bayern Muenchen, pada musim 2011/12. Biaya senilai 2,8 juta euro membuat Cottbus rela melepasnya. Tetapi, pilihan Petersen kali ini tak semulus yang dibayangkan. Bersama klub asal Bavaria itu, ia justru gagal menunjukkan penampilan terbaik.

Padahal harapan besar diusungnya untuk membuktikan diri kepada pelatih Bayern Muenchen, Jupp Heynckes. Menurutnya, Mario Gomez yang kala itu menjadi juru gedor utama tak mungkin bisa tampil sepanjang waktu. Maka, Petersen bertekad untuk mencuri peluang ketika ia diberikan kesempatan oleh Heynckes.

“Saya mesti memanfaatkan kesempatan ini. Jupp Heynckes dikenal sebagai seseorang yang suka merotasi pemainnya. Itulah salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk pindah ke Bayern Muenchen, dan saya akan berjuang setiap hari,” paparnya penuh semangat.

Harapan tinggal harapan. Di Muenchen, Petersen hanya tampil dalam sembilan pertandingan. Alih-alih membuktikan kualitas, Petersen justru dipinjamkan ke Werder Bremen hingga akhirnya dibeli secara permanen. Bersama Bremen ia tampil selama tiga musim dengan catatan 72 penampilan, 18 gol, dan sembilan asis.

Jalan lain pun dipilih Petersen pada bursa transfer musim dingin 2014/15 dengan bergabung bersama Freiburg. Meski sukses mencetak sembilan gol dalam 12 penampilan selama setengah musim pertamanya, ia tak kuasa menahan Freiburg terdegradasi. Beruntung Freiburg hanya bertahan semusim untuk kembali ke level teratas sepakbola Jerman pada 2016/17 dan hingga sekarang terus berada di Bundesliga 1 kendati hanya menjadi tim langganan papan tengah.

Tentu banyak faktor yang memengaruhi Freiburg bisa terus bertahan di Bundesliga 1. Dan, catatan ciamik Nils Petersen dalam lima musim terakhir (empat musim di antaranya jadi top skor klub) membuat Freiburg berhasil menjaga eksistensi di level tertinggi sepakbola Jerman. Gol demi gol yang dibuat Nils Petersen, bisa jadi salah satu yang membuat napas Freiburg di Bundesliga 1 akan terus panjang.

SC Freiburg akan menjamu Arminia Bielefeld pada Sabtu (12/12) pukul 02.30 WIB. Pertandingan tersebut, seluruh pertandingan Bundesliga 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya, dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar