Bangkitnya Zambo Anguissa, Konduktor Lini Tengah Fulham

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bangkitnya Zambo Anguissa, Konduktor Lini Tengah Fulham

Andre-Frank Zambo Anguissa sempat disebut sebagai transfer gagal Fulham saat The Cottagers terdegradasi pada 2018/19. Pembelian pemain mahal macam Anguissa, Jean Michael Seri, Aleksandar Mitrovic, serta peminjaman Andre Schurrle dan Luciano Vietto tak mampu menyelamatkan Fulham. Setelah resmi di Championship, The Cottagers “cuci gudang”. Seri dan Anguissa dipinjamkan. Sedangkan para pemain pinjaman dikembalikan ke klub masing-masing.

Anguissa santer dirumorkan akan pindah secara permanen dari Craven Cottage. Menyusul performa gemilang bersama Villarreal, Real Madrid hingga AC Milan dilaporkan tertarik merekrutnya. Namun, Scott Parker dan sang pemain rupanya punya rencana lain. Anguissa bertahan dan berperan vital musim ini.

Gelandang asal Kamerun itu mulai menunjukkan kualitasnya bersama The Cottagers. Anguissa selalu bermain di pertandingan Premier League Fulham musim ini. Ia menjadi starter delapan kali serta dua kali turun sebagai cadangan.

Anguissa pun berniat menebus ketakberdayaannya saat Fulham terdegradasi pada 2018/19. Itu memang musim yang buruk bagi Fulham. Mereka berganti pelatih tiga kali dan seolah hilang arah setelah memecat Slavisa Jokanovic. Di lain sisi, Anguissa menderita cedera engkel yang memaksanya absen selama lebih dari dua bulan.

Link streaming pertandingan Premier League: Manchester City vs Fulham

***

Sepanjang hidupnya, Anguissa berulangkali menghadapi rintangan demi menjadi pesepakbola. Semasa remaja, pemain kelahiran Yaounde ini bermain di klub-klub amatir dan memainkan sepakbola jalanan. Kegemarannya bermain sepakbola ditentang sang ibu yang menginginkan Anguissa fokus sekolah.

“Ini dimulai dari jalanan. Saya akan menendang kaleng-kalengan, jeruk, bola tenis, bola plastik kecil, atau apa pun. Hari ini, saya hanya memiliki kenangan indah tentang itu,” kata Anguissa dalam dokumenter Le Coeur d’un Lion.

Ia tak memainkan sepakbola profesional hingga 2014 saat bergabung dengan Coton Sport pada usia 19 tahun. Enam bulan kemudian, Anguissa mengalami lompatan karier sekaligus tantangan berat: hijrah ke Eropa untuk membela Stade de Reims.

Kesan pertama di Eropa pun tak mengenakkan bagi Anguissa Setelah satu musim membela tim cadangan Reims, klub Perancis itu melepasnya. Reims menganggap Anguissa kurang layak — terutama dari segi taktikal — dan enggan menunggunya berkembang.

Kesempatan itu pun diambil Olympique de Marseille untuk merekrutnya. Pemandu bakat (scout) Marseille, Jean-Phillipe Durand, telah memerhatikan Anguissa sejak berkomeptisi di kejuaraan amatir Kamerun. Ia berhasil meyakinkan direksi klub dan pelatih Marseille saat itu, Marcelo Bielsa.

Di Marseille, etos kerja dan kemampuan Anguissa membuat Bielsa langung mempromosikannya ke tim utama. Setelah Bielsa pergi, Anguissa tetap diandalkan oleh Franck Passi, Michel, hingga Rudi Garcia.

Anguissa memulai karier profesionalnya di Eropa sebagai gelandang bertahan. Keberadaannya di lini tengah Marseille membantu Les Olympiens menembus final Europa League 2017/18. Duetnya bersama Luiz Gustavo membuat lini tengah Marseille amat solid waktu itu.

Pada 2019/20, pemain berusia 25 tersebut dioptimalkan sebagai gelandang box-to-box oleh Javier Calleja di Villarreal. Peran ini mengakomodasi insting menyerang dan kemampuan retensi bola Anguissa. Sewaktu masih di Kamerun, Anguissa memulai karier sebagai gelandang no. 10.

"Dia punya kemampuan untuk memengaruhi serangan dan melindungi area lapangan dan kemudian memasuki fase kedua serangan. Memainkannya terlalu defensif itu membatasinya. Meski dia solid dan intens dalam bertahan juga,” kata Calleja kepada The Athletic.

Pendekatan serupa dilakukan Scott Parker musim ini. Eks pemain Fulham itu memasang Anguissa sebagai box-to-box. Anguissa biasa ditandemkan dengan Harrison Reed atau Mario Lemina dalam formasi 4-2-3-1.

Statistik Anguissa pun menunjukkan peningkatan dibanding musim pertamanya di Craven Cottage. Dari aspek defensif, Anguissa membuat rata-rata 18,17 recovery per 90 menit, berbanding 13,17 pada 2018/19. Eks pemain Marseille ini juga membuat 5,8 tekel + intersep per 90 menit, berbanding 4,5 di musim pertamanya.

Anguissa juga berperan vital mejembatani gap antarlini Fulham. Sebagai “konduktor”, Anguissa mampu membawa bola dengan anteng melintasi lapangan tengah. Musim ini, Anguissa adalah pemain Fulham dengan jarak tempuh terjauh saat membawa bola (3.023 yard), dengan jarak progresif yang ditempuh mencapai 1.648 yard.

Setelah mengecewakan di musim debut, Anguissa ingin membayar kepercayaan Scott Parker. Gelandang internasional Kamerun ini memang terkenal loyal akan orang-orang yang memercayainya.

“Ketika Parker datang [pada 2019], semuanya berubah. Dia memberi saya... saya tidak tahu, saya belum pernah merasakannya sebelumnya. Dia memberi saya kepercayaan diri yang sangat besar,” kata Anguissa kepada Canal Plus.

“Sebelum pertandingan lawan Liverpool [Maret 2019], dia memanggil saya ke kantor sekitar pukul 11 siang. Dia berkata, ‘Frank, bagi saya, Anda adalah pemain top dan hari ini saya ingin Anda menunjukkan kepada Premier League pemain seperti apa Anda’. Bahkan sekarang, setiap kali saya mengingat frasa itu, saya merasa merinding,” pungkasnya.

Fulham akan menjalani pertandingan tandang melawan Manchester City pada Sabtu (5/12) pukul 22:00 WIB. Tayangan langsung pertandingan tersebut, semua pertandingan Premier League 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar