Ruben Vargas: Talenta Dominika di Skuad Multikultural Swiss

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ruben Vargas: Talenta Dominika di Skuad Multikultural Swiss

Oktober lalu, tepatnya di tanggal 31, Ruben Vargas mencetak gol pembuka FC Augsburg ke gawang FSV Mainz 05. Ia menyambut bola lambung dengan tembakan salto dari kotak enam yard. Tembakannya memantul tanah sebelum bersarang ke gawang lawan. Augsburg menang 3-1 hari itu.

Usai laga, Vargas mengaku bahwa tembakan salto itu tak terjadi sesuai niatnya. Vargas sedianya ingin langsung merobek jala lewat salto keras dari jarak dekat. Sedikit kesalahan teknis. Tapi ia tak perlu kecewa karena tembakannya tetap berujung gol.

Di lain sisi, gol tersebut menunjukkan bakat Vargas sekaligus kecenderungannya yang tak segan pamer kecakapan teknis. Eksekusinya yang tak sesuai harapan pun mencerminkan penampilan Vargas di Bundesliga: sangat menjanjikan tapi kadang inkonsisten dan belum matang dalam beberapa aspek.

Sebagai winger kiri, pemain berusia 22 tahun ini memiliki karakter permainan eksplosif dan tak ragu meladeni pemain bertahan lawan dalam duel satu lawan satu. Dengan postur setinggi 1,74 m, cukup pendek untuk ukuran Eropa, Vargas mengandalkan kecepatan lari dan kelincahan tubuhnya.

Sekilas, karakter permainan Vargas cenderung menyerupai pemain Amerika Latin. Tapi, Vargas bukanlah keturunan Amerika Selatan, melainkan anak dari pasangan Karibia-Swiss. Ayahnya, Victor, adalah warga Republik Dominika yang menikah dan menetap di Swiss.

“Ayah memberi saya darah ‘selatan’ dan kaki-kaki yang lincah,” ucap Vargas saat diwawancarai Luzerner Zeitung.

Link streaming pertandingan persahabatan Belgia vs Swiss

Vargas lahir di Adligenswil, sekitar 20 km dari pusat kota Luzern pada 5 Agustus 1998. Saat masih anak-anak, ia bergabung dengan klub lokal, FC Adligenswil. Vargas kemudian bergabung dengan tim muda FC Luzern.

Di Luzern, Vargas menjalani debut profesionalnya pada Agustus 2017. Ia diturunkan sebagai pemain pengganti dalam laga kontra FC Zurich yang berkesudahan 1-1.

Pelatih Luzern saat itu, Gerardo Seouane, terkesan akan talenta Vargas. Setelah memberinya kesempatan debut, Seouane rutin menurunkan Vargas untuk mengarungi Liga Super Swiss. Pada 2017/18, Vargas diturunkan 20 kali, mencetak dua gol dan empat asis.

Performa Vargas pun meningkat drastis pada 2018/19. Meski baru berusia 20 tahun, Vargas bermain 38 kali di lintas kompetisi. Vargas pun mengakhiri musim dengan catatan 10 gol dan sembilan asis, membantu Luzern finis di peringkat lima akhir musim.

Perkembangan Vargas pada 2018/19 membuat Augsburg kepincut dan merekrutnya dengan biaya sekitar empat juta euro. Saat pindah ke WWK Arena pada awal musim 2019/20, Vargas menjadi pemain berdarah Kepulauan Karibia pertama yang berkiprah di Bundesliga.

Winger Swiss tersebut tak butuh waktu adaptasi lama di Bundesliga. Bersama Augsburg, Vargas membuat sensasi dengan mencetak tiga gol dalam tiga pertandingan pertamanya. Namun, Vargas sulit tampil konsisten pada 2019/20. Setelah debut sensasional, Vargas harus menunggu hingga Spieltag 20 untuk kembali mencetak gol.

“Dia [Vargas] memikul serangan kami saat ini, bermain dengan kecepatan yang luar biasa. Tapi dia masih perlu banyak belajar!” ucap Pelatih Augsburg, Martin Schimdt.

Sosok Stephan Lichtsteiner, kini pensiun, membantu Vargas cepat nyetel bersama Die Fuggerstaedter. Mereka tak hanya berbagi kewarganegaraan, tapi juga sama-sama lahir dan tumbuh di Adligenswil.

“Saya tahu Stephan sejak masih anak-anak. Dia mungkin adalah atlet paling terkenal dari kota kelahiran saya. Sekolahnya pun sama dengan saya. Saya bahkan punya gambarnya di dinding rumah! Saya tahu bahwa saya berpeluang menjadi pesepakbola sukses setelah melihatnya pindah dari Luzern ke Serie A [Juventus],” jelas Vargas.

Penampilan di level klub pun membuat Vargas dilirik pelatih Timnas Swiss, Vladimir Petkovic. Kesempatan pertamanya datang pada September 2019. Haris Seferovic mendadak harus absen untuk menunggui kelahiran anak pertamanya. Vargas pun dipanggil untuk menggantikan Seferovic.

Vargas menjalani debut internasionalnya di partai kualifikasi Piala Eropa lawan Gibraltar. Dua bulan kemudian, ia mencetak gol perdananya untuk Swiss, juga menghadapi Gibraltar, 18 November 2019. Sejak November tahun itu, Vargas tak pernah absen dari skuad utama Swiss.

Vargas pun menjadi generasi baru skuad multikultural Schweizer Nati. Swiss memang sejak lama dikenal sebagai salah satu tim nasional paling beragam di dunia. Di Piala Dunia 2018 lalu, lebih dari setengah pemain Swiss adalah keturunan imigran atau lahir di luar negara itu.

Granit Xhaka, Ricardo Rodriguez, serta Xherdan Shaqiri adalah segelintir pemain inti Swiss yang punya latar belakang imigrasi. Nama terakhir sering disinggung dalam perbincangan mengenai Ruben Vargas. Gaya bermain winger berusia 22 tahun itu disebut mirip dengan Shaqiri.

Akan tetapi, jalan Vargas masih panjang untuk mencapai level Shaqiri. Ia pun harus mengembangkan beberapa aspek dalam permainannya, terutama keseimbangan tubuh untuk menghadapi duel-duel fisikal.

Talenta yang ditunjukkan Vargas memang membuatnya pantas dipertimbangkan sebagai penerus Shaqiri. Jika berhasil menjaga konsistensi dan mengembangkan permainan, masa depan cerah menanti seorang Ruben Vargas.

Di masa jeda internasional, Anda tidak akan kekurangan tontonan. Mola TV menayangkan pertandingan persahabatan, UEFA Nations League, dan Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pertandingan Belgia vs Swiss pada Kamis (12/11) pukul 02:45 WIB dapat Anda saksikan dengan mengeklik tautan ini.

Komentar