Bagaimana Jerman Memproduksi Pelatih-Pelatih Kelas Dunia

Cerita

by Fathru Qalbie Septizar Akbar

Fathru Qalbie Septizar Akbar

Gold, Goal, and Glory.

Bagaimana Jerman Memproduksi Pelatih-Pelatih Kelas Dunia

Sepakbola Jerman memang sudah bisa diakui dalam memproduksi talenta-talenta terbaik dunia. Jerman tidak pernah berhenti melahirkan pemain-pemain dunia dari generasi ke generasi. Empat gelar Piala Dunia yang dimiliki Jerman hingga saat ini menjadi salah satu bukti kualitas sepakbola yang dimiliki negara ini.

Namun bukan hanya pemain-pemain berbakat yang dimiliki Jerman. Mereka juga memiliki sederet pelatih berkualitas yang berkarir di kancah domestik maupun internasional. Sebut saja di antaranya, Ottmar Hitzfeld yang berhasil membawa Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund meraih gelar Champions League, Otto Rehhagel yang mengejutkan dengan membawa Yunani juara Euro 2004, hingga Jupp Heynckes yang berhasil meraih Champions League bersama Real Madrid dan Treble bersama Bayern Muenchen.

Nonton streaming Bundesliga 2020/21 di Mola TV

Kini era telah berganti, nama-nama berkualitas asal Jerman kian muncul membuktikan kemampuannya. Musim 2019/20 bisa dibilang menjadi pembuktian juru taktik Jerman di timnya masing-masing. Hansi Flick berhasil menjuarai Champions League sekaligus melengkapi raihan trofi Bayern Muenchen untuk mencatatkan treble winner yang kedua. Juergen Klopp berhasil memberikan gelar liga untuk Liverpool setelah 30 tahun dan trofi Champions League setahun sebelumnya. Catatan gemilang juga dilakukan Thomas Tuchel bersama Paris Saint Germain dengan menjuarai Ligue 1 serta menembus final Champions League untuk pertama kali dalam sejarah tim.

Prestasi pelatih Jerman berlanjut dengan menyumbang tiga pelatih di semi final Champions League, yaitu Hansi Flick (Bayern Muenchen), Thomas Tuchel (PSG), dan Julian Nagelsmann (RB Leipzig). Pertama kali dalam sejarah kompetisi tersebut, terdapat tiga pelatih dari negara yang sama di semi final. Hansi Flick dan Thomas Tuchel berhasil lolos ke final Champions League, mengulang duel pelatih Jerman di final UCL 2013 antara Jupp Heynckes vs Juergen Klopp.

Kejayaan tersebut dilengkapi dengan nominasi UEFA Men’s Coach of The Year musim 2019/20 dengan nama pelatih Jerman di tiga teratas. Hansi Flick, Juergen Klopp, dan Julian Nagelsmann mengisi tiga nominasi tersebut disusul Thomas Tuchel di posisi empat yang terlebih dahulu diumumkan. Lagi-lagi pelatih Jerman yang mendominasi bahkan hingga empat teratas pelatih terbaik Eropa.



Jerman juga selalu mempercayakan pelatih lokal untuk mengurus tim nasional, tercatat Der Panzer tidak pernah menggunakan pelatih asing sepanjang sejarah terbentuknya tim. Pelatih timnas Jerman saat ini, Joachim Loew, juga tidak luput dari kualitas dan prestasi dengan berhasil menjuari Piala Dunia 2014 serta Piala Konfederasi 2017. Joachim Loew menjadi pelatih kedua yang saat ini paling lama mengabdi untuk tim nasional setelah Oscar Tabarez untuk Uruguay yang ditunjuk 3 bulan sebelum Loew di tahun 2006.

Kegemilangan pelatih-pelatih Jerman tersebut tentu tidak mengejutkan dan tidak terjadi begitu saja. Sama seperti membentuk pemain muda, Jerman sudah lama memberikan perhatian khusus pada pelatih-pelatih sepakbola

Pembentukan Karier Pelatih di Jerman

Tidak hanya untuk menjadi pemain sepakbola profesional saja, meniti karier sebagai pelatih juga memerlukan kursus khusus untuk melakukan kegiatan pelatihan atau mengawasi pertandingan di level tertinggi. Di Jerman, para pelatih harus mendapatkan lisensi kepelatihan yang setara dengan lisensi Pro UEFA untuk melatih di tiga divisi teratas liga (Bundesliga, Bundesliga 2, dan 3). Lisensi tersbut biasa didapatkan dari kualifikasi Fußball-Lehrer atau guru sepakbola, satu-satunya tempat untuk mengikutinya adalah di akademi Hennes-Weisweiler di Cologne.

Akademi kepelatihan sepakbola yang bergensi tersebut dibentuk pada tahun 1947, dinamakan berdasarkan pelatih legendaris Gladbach dan Cologne, yaitu Weiweiler. Akademi ini cukup kompetitif untuk diikuti, setiap tahun hanya 24-25 orang saja yang dipilih setelah mengikuti tes bakat yang cukup ketat. Siapapun yang ingin mengikuti pelatihan ini bahkan harus sudah memiliki lisensi DFB A, minimal pengalaman satu tahun melatih suatu tim, dan menjadi bagian dari salah satu klub DFB.

Pelatihan dilakukan selama 11 bulan, dalam waktu tersebut para calon pelatih akan mempelajari semua aspek sepakbola modern dengan penekanan kuat pada pengaplikasian praktis. Pelatihan ini mengalami perubahan pada semester 2019/20 dengan dibuat lebih individual. Para calon pelatih akan menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja di klub profesional yang dipilih, meski begitu mereka tetap akan datang ke Cologne delapan kali dalam semusim untuk mengikuti workshop.

Dalam lisensi Pro, UEFA menetapkan pelatihan setiaknya 240 jam, namun pelatih yang mengikuti akademi Hennes-Weisweiler akan menghabiskan paling tidak 800 jam selama masa pelatihan. Jadi, jangan terkejut dengan kinerja yang dilakukan Hansi Flick, Nagelsmann, atau Tuchel. Nagelsmann menyatakan, "Pendidikan pembinaan di Jerman itu bagus. Saya menikmati masa belajar yang baik sebagai pelatih dan puas dengan apa yang saya pelajari selama ini.



Kualitas pembinaan pelatih di Jerman sejalan dengan perubahan sistem yang dilakukan pada awal 2000an yang mengacu pada perkembangan pemain muda. DFB telah mendirikan pusat pelatihan di setiap regional, selain itu DFB juga mewajibkan klub-klub Bundesliga mendirikan akademi untuk pemain muda, masing-masing akademi klub akan membutuhkan setidaknya dua pelatih dengan lisensi. Prinsip sepakbola Jerman cukup sederhana, jika ingin memiliki pemain terbaik, dibutuhkan pelatih terbaik.

Hansi Flick adalah salah satu lulusan terbaik akademi Hennes-Weisweiler pada tahun 2003. Sebagian besar orang memang baru mengenalnya sejak menangani Bayern Muenchen awal musim kemarin, namun Flick telah membentuk karier kepelatihannya sejak lama. Pada tahun 2006, ia ditunjuk sebagai asisten pelatih Joachim Loew, yang lebih dahulu mendapatkan lisensi bersama Juergen Klinsmann dan Matthias Sammer. Peran Flick saat itu adalah menyusun database semua pemain Jerman di seluruh level usia dan membuka peluang untuk pemain muda.

Pencapaian lainnya dari produk akademi ini adalah ketika Hoffenheim menjadikan Julian Nagelsmann menjadi pelatih kepala pada Februari 2016. Kala itu, Nagelsmann hanya beberapa minggu lagi untuk mendapatkan lisensi kepelatihannya, dia menjadi yang terbaik kedua di angkatannya setelah mantan pelatih Schalke, Domenico Tedesco. Orang-orang memang terlalu fokus melihat umurnya yang tidak lazim sebagai pelatih, namun Hoffenheim mengetahui apa yang mereka lakukan.

Karier Nagelsmann kian naik setelah membawa Hoffenheim ke kancah Eropa hingga akhirnya bergabung dengan RB Leipzig dan menjadi semifinalis Champions League. Dalam kompetisi tersebut, Nagelsmann berhasil mengalahkan ‘orang lama’ sekelas Jose Mourinho dan Diego Simeone. Hal itu adalah bukti keberhasilan metode akademi pelatih Jerman yang luar biasa. Pelatih berusa 33 tahun ini dikenal sebagai inovator dengan menggunakan teknologi di tempat latihan serta menjadi ahli taktik yang tajam.

***

Tidak mengherankan jika saat ini pelatih-pelatih asal Jerman mendominasi kompetisi dan penghargaan di Eropa. Mereka adalah hasil dari proses panjang reformasi sepakbola Jerman pada tahun 2000an yang mengedepankan sosok muda sebagai ujung tombak.

Komentar