Lapangan Petak Sinkian Penuh Sejarah di Tengah Padatnya Jakarta

Cerita

by Gerry Putra

Gerry Putra

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Lapangan Petak Sinkian Penuh Sejarah di Tengah Padatnya Jakarta

Banyak yang dilakukan saat akhir pekan untuk sekadar jalan-jalan atau menikmati sore bersama teman-teman di kawasan Kota Tua Jakarta. Jika kamu kebetulan sedang berada di sana, coba sekali-kali tengok ke daerah Petak Sinkian dan kamu akan menemukan lapangan sepakbola di tengah pemukiman.

Kota Jakarta memang tidak pernah tidur. Mungkin hanya saat Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) atau saat diberlakukan karantina akibat pandemi virus corona (COVID-19) melanda. Setelah kelonggaran diberikan, Jakarta kembali norma seperti semula, walau statusnya adalah `kenormalan baru`.

Oke lupakan Jakarta saat `kosong`, Jakarta yang kita tahu adalah kota sibuk yang setiap trotoar serta alat transportasinya selalu padat. Pada pagi hari, orang-orang begitu bersemangat mengejar bus kota, kereta, ojek daring, MRT, dan moda transportasi lainnya, termasuk motor, mobil, atau sepeda. Semua mengejar waktu masuk ke tempat kerja atau sekolah.

VIDEO: Informasi terkini sepakbola dunia



Menulusuri kesibukan itu di jalanan Jakarta, tampaknya sudah sangat jarang kita melihat lapangan sepakbola. Dulu, dalam kisah para orang tua, Jakarta masih banyak tanah kosong pada 1950-an. Semua orang bisa bermain sepakbola, baik resmi maupun tarikan antarkampung (tarkam).

Ketika itu masih banyak lapangan-lapangan yang representatif digunakan sebagai permainan sepakbola. Sebut saja ada Lapangan IKADA (Ikatan Atletik Djakarta), Lapangan MBFA di kawasan Banteng, Lapangan Urip Sumohardjo di Jatinegara, atau yang elite Lapangan Menteng alias Stadion Persija.

Tapi ada satu lapangan yang cukup menarik perhatian, yakni Lapangan Petak Sinkian di daerah Mangga Besar dan berdempetan dengan Kota Tua. Bagi orang tua, lapangan itu punya sejarah mendalam apalagi bagi etnis Tionghoa di Jakarta. Lapangan itu merupakan milik klub Union Make Strength (UMS). Klub legendaris etnis Tionhoa Betawi yang berdiri pada 19 Desember 1905.

UMS bukan satu-satunya klub Tionghoa di Batavia atau Jakarta saat ini. Ada Chung Hua Tjing Nen Hui (Tunas Jaya) dan juga BBSA (Bangka Belitong Sport Association). Tapi, nama UMS sudah barang tentu menjadi yang pertama ketimbang dua rivalnya itu. Selain klub tua, UMS juga gudang pemain berbakat.

Catat saja sebelum era kemerdakaan, UMS merupakan klub tangguh yang kerap menjuarai kompetisi VBO (Voetballbond Batavia en Omstraken). Setelah era kemerdekaan, UMS terus menelurkan pemain-pemain hebat untuk Indonesia. Boleh dicatat, nama-nama Kwee Tik Liong, Djamiaat Dalhar, Chris Ong, Kwee Kiat Sek, sampai Yudo Hadiyanto merupakan nama legenda sepakbola Indonesia.

Lancarnya UMS saat itu dalam menelurkan pemain tidak lepas dari Lapangan Petak Sinkian. Saban hari, baik pagi, siang, ataupun malam, itu lapangan tidak pernah berhenti denyut nadinya. Pada mulanya, UMS menyewa lapangan klub Donar (Tjih Ying Hewi). Tapi akhirnya UMS menyewa kebun milik H. Manaf dengan tarif 6 gulden per bulannya.

Setelah dirasa pas dengan kebun milik Haji Manaf, dua pendiri UMS, Oey Keng Seng dan Louw Hap Ic membeli lapangan itu dari Haji Manaf. Lapanhan kebon singkong itu menjadi Lapangan UMS di kawasan Petak Sinkian.

Setelah itu, dua di antara sekian banyak pendiri UMS, Oey Keng Seng dan Louw Hap Ic membeli lapangan tersebut dari Haji Manaf. Lapangan yang dahulu merupakan kebun singkong tersebut resmi dimiliki UMS.

Sempat Sengketa

Lapangan itu masih ada hingga sekarang. Tapi pada Januari 2011, cukup menjadi lembaran hitam bagi UMS. Penyitaan dan penggusuran lapangan menghantuin pengurus Yayasan UMS. Kondisi yang hampir sama ketika Stadion Persija digusur pada 2006 silam.

Ada pihak yang mengaku memiliki lahan tersebut. Bagi para pengurus UMS, tanah itu sudah menjadi milik UMS sejak transaksi jual beli dengan Haji Manaf. Para pengurus berang dan memperlihatkan dokumen resmi kepada juru sita Pengadilan Jakarta Pusat yang mengeksekusi. Lapangan itu masih berfungsi sesuai peruntukannya sebagai sarana olahraga dan sepakbola.

Saat akan mengeksekusi, tim eksekusi Pengadilan Jakarta Pusat cukup terkejut dengan banyaknya para murid Sekolah Sepak Bola (SSB) UMS tetap berlatih sepakbola seperti biasanya. Kabar yang diterima para juru sita selama ini bahwa lapangan tersebut adalah sebuah lahan tidur, bertentangan dengan fakta di lapangan. Tergugah melihat kenyataan yang ada, akhirnya eksekusi lahan pun urung dilakukan.

Pada 30 Januari 2011, Wakil Guberbur DKI Jakarta Prijanto menyebut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan bahwa lapangan sepakbola milik klub UMS akan tetap menjadi ruang terbuka hijau. Lapangan Petak Sinkian berstatus quo dan pengelolaan dipegang oleh Yayasan UMS.

Pantas Dijadikan Wisata

Lapangan UMS kini menyempil di perumahan padat penduduk. Tapi jika kita sedang jalan-jalan ke Kota Tua, coba langkahkan kaki ke Petak Sinkian. Kita bisa melihat kondisi stadion tua dengan tribune kayu dipenuhi penonton, baik itu orang tua, anak bocah, atau pedagang es buah.

Stadion tersebut memang tidak mengikuti perkembangan jaman dan menjadi stadion modern layaknya stadion-stadion kecil di Singapura. Tapi justru model lawas dan sejarahnya menjadi primadona bagi masyarakat sepakbola di Jakarta.

Pintu masuk Stadion UMS terbilang kecil. Stadion ini pun terasa mungil karena kini berada di tengah-tengah pemukiman. Hal menarik saat masuk ke dalam stadion, adalah deretan bangku-bangku kayu yang terkesan old school. Bangku-bangku tersebut sudah sejak lama mengisi keseharian stadion.

Meski masuk dalam lapangan dan stadion tua, tapi Stadion UMS masih terus bergeliat dengan pembinaan sepakbola Jakarta. Si Biru-Putih masih terus memproduksi pemain muda bagi induk amatir mereka, Persija Jakarta.

Sekola Sepak Bola (SSB) UMS berlatih pada pagi dan sore hari. Terkadang, sore hari dipakai untuk latihan bagi tim senior. Jika beruntung, pada sore hari eks UMS kerap melakukan pertandingan eksebisi untuk menjaga silaturhami.

Menariknya lagi, terkadang kita juga bisa melihat para legenda UMS dan Persija bertandang ke stadion tersebut. Kesempatan yang langka bagi para penikmat bola Tanah Air. Dengan deretan fakta itulah Lapangan Petak Sinkian begitu bersejarah. Nilai sejarahnya tak bisa dibeli dengan 100 jersey dan buku sepakbola Internasional yang biasa kita beli di E-bay.

Komentar