Mengupas Pengaruh Pertemuan Atalanta dan Valencia Terhadap Penyebaran Covid-19

Cerita

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Mengupas Pengaruh Pertemuan Atalanta dan Valencia Terhadap Penyebaran Covid-19

Tragedi Hillsborough boleh jadi sebagai salah satu tragedi yang mematikan pada pertandingan sepakbola. 96 orang tewas pada peristiwa tahun 1989 itu. Tapi siapa sangka pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Atalanta melawan Valencia di San Siro pada 20 Februari lalu diperkirakan menjadi salah satu faktor besar penyebaran Covid-19 di Italia. Total 44.236 orang hadir pada pertandingan yang dilabeli sebagai bom biologis itu.

Sejak babak grup, tim asal kota Bergamo itu memang tidak bermain di stadion mereka yaitu Stadio Atleti Azzurri d`Italia karena tidak memenuhi standar UEFA. MAPEI Stadium, stadion Sassuolo digunakan sebagai kandang Atalanta pada babak grup di mana Atalanta mampu meraih tujuh poin dan lolos ke fase gugur.

Menghadapi Valencia, Atalanta mendapatkan izin untuk bermain di kota Milan yang hanya berjarak 60 kilometer dari Bergamo, tepatnya di stadion San Siro. Euforia ultras Atalanta sangat besar, hal tersebut bisa terlihat dari waktu tempuh yang melonjak. “Itu adalah pertandingan historis bagi Atalanta, hal yang unik. Sebagai gambaran, istri saya membutuhkan tiga jam untuk ke Milan, di mana biasanya hanya memakan 40 menit,” ungkap Alejandro “Papu” Gómez, kapten Atalanta.

VIDEO: Informasi Trending Sepakbola Dunia



Bergamo merupakan kota yang hanya memiliki penduduk sekitar 122 ribu orang. Pada hari pertandingan Atalanta melawan Valencia, kurang lebih sepertiganya pergi ke kota yang juga berada di Provinsi Lombardy itu menggunakan mobil atau bis bersama-sama untuk mendukung Atalanta. Dilansir dari data John Hopkins University, Italia mengkonfirmasi dua kasus pertama Covid-19 pada 31 Januari, sekitar tiga minggu sebelum pertandingan dan bertambah satu menjadi tiga kasus pada hari tersebut.

Kurang lebih 2 ribu fans Valencia datang ke Milan dan terlihat berkeliling kota sebelum pertandingan, terutama di Piazza del Duomo, pusat kota Milan, seperti yang dilansir New York Post. Pertandingan berjalan lancar dan berakhir dengan kemenangan telak 4-1 untuk Atalanta. Sebuah modal berharga untuk menjalani leg kedua.

Tapi sayangnya keadaan Covid-19 di Eropa semakin memburuk sehingga leg kedua dimainkan tanpa penonton di Mestalla pada 11 Maret. Saat itu terdapat 12 ribu lebih kasus Covid-19 terkonfirmasi di Italia dan 2 ribu lebih kasus terkonfirmasi di Spanyol. Atalanta kembali menang, kali ini dengan skor 4-3 dan lolos ke perempat final.

Keadaan semakin memburuk, empat hari berselang Valencia menginformasikan bahwa lima orang dari pemain dan staf mereka positif Covid-19. Dua hari kemudian, Valencia mengungkapkan 35% dari skuat senior mereka terkonfirmasi positif, termasuk Ezequiel Garay, Eliaquim Mangala, dan Jose Gaya. Atalanta mengumumkan penjaga gawang mereka, Marco Sportiello positif Covid-19 pada 24 Maret.

Dikutip dari jurnal Cornell University, Lombardy mengkonfirmasi kasus pertama Covid-19 pada hari yang sama dengan pertandingan leg pertama. Laman resmi Kementerian Kesehatan Italia mengumumkan 172 kasus pada 24 Februari di Lombardy. Hingga data 31 Maret, terdapat 101.739 kasus di Italia,42.161 di antaranya di Lombardy, 8.664 di antaranya di Bergamo. Sementara Spanyol sudah mengkonfirmasi 87.956 kasus Covid-19.

“Pertandingan itu adalah bom biologis. Saat itu kami tidak mengetahui apa yang terjadi. Jika virus sudah menyebar, 40 ribu orang di San Siro dapat terinfeksi. Tidak ada yang mengetahui apakah virus sudah menyebar,” ujar Giorgio Gori selaku walikota Bergamo kepada Marca.

Namun Gori mengungkapkan bahwa pertandingan tersebut bukan satu-satunya peristiwa penyebaran besar Covid-19 di kota yang memiliki luas kurang dari sepertiga Jakarta Selatan itu. “Pertandingan tidak berakibat segalanya karena penyebaran juga terjadi di Rumah Sakit Alzano Lombardo, ketika pasien yang didiagnosa pneumonia menginfeksi (Covid-19) ke pasien lain, dokter, dan perawat.”

Meski tidak dapat dipastikan berapa orang yang terkena Covid-19 karena dua pertemuan Atalanta dan Valencia, namun Loca Lorini selaku Kepala Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Pope John XXII di Bergamo merasa pertandingan tersebut sangat berisiko penyebaran Covid-19. “Saya yakin 40 ribu orang berpelukan, berciuman satu sama lain sembari berdiri dengan jarak beberapa sentimeter. Empat kali, karena Atalanta mencetak empat gol, tentu saja itu menjadi akselerator penyebaran,” ujar Lorini pada The Associated Press.

Pertandingan sepakbola sejatinya adalah hiburan bagi orang yang menonton. Sedih jika melihat satu setengah jam pertandingan sepakbola menjadi sarana penularan virus dan memakan korban jiwa. Tapi sekarang saatnya untuk saling menguatkan, bukan untuk saling menyalahkan. Apapun yang terjadi di San Siro dan Mestalla, semoga Spanyol, Italia, dan seluruh dunia mampu menangani Covid-19 sebaik mungkin.

Tetap ikuti arahan pihak yang berwenang dan tetap #dirumahaja, stay safe!

Komentar