Pembelajaran Dari Flu Spanyol

Cerita

by Stefanus Apridita

Stefanus Apridita

Sepakbola adalah candu // Gemar Melucui Sepakbola di Football Meter Podcast

Pembelajaran Dari Flu Spanyol

Dalam sebuah percakapan tongkrongan akhir pekan lalu, salah satu teman yang juga pendukung Manchester United melontarkan keluh kesahnya, “MU udah lama ga unbeaten, eh, pas lagi membaik malah liga ditunda. Mana hiburan weekend satu-satunya cuma MU”.

Teman yang lainnya menyahut tak mau kalah sedih, “Apalagi gue, udah nunggu seumur hidup lihat Liverpool juara EPL, udah mau juara malah diberhentiin liganya.”.

Terakhir, dengan penuh getir, teman lainnya yang seorang pekerja di Liga 1 mengatakan, “Lah gue, ilang deh duit gara-gara ga ada bola Indonesia.”

Ada hiburan, penantian, hingga mata pencaharian yang hilang karena satu alasan, COVID19.

VIDEO: Update informasi dampak Covid 19 di sepakbola



Liga top Eropa resmi ditunda akibat bencana virus corona yang menyebar hampir ke seluruh pelosok bumi. Liga 1 Indonesia pun ikut terkena imbasnya dan diberhentikan untuk sementara waktu. Sempat beberapa pertandingan UCL maupun UEL diadakan tanpa penonton, namun rasanya tak efektif.

Sepakbola lahir dari ikatan emosional bersama antara klub dan penonton. Jika sepakbola tak lagi dapat dinikmati oleh para pecintanya, apa pertandingan sebelas orang lawan sebelas orang masih bisa disebut sepakbola?

Selain itu, pertandingan memang bisa berjalan tanpa penonton di dalam stadion, namun nyatanya di luar stadion, ribuan orang tetap berkumpul. Apa bedanya?

Lain halnya dari sisi pelaku hiburan sepakbola. Bagaimana pendapatan mereka, jika hanya bergantung dari pertandingan sepakbola?

Sebagai contoh, La Liga memperkirakan pada Kamis, mereka akan kehilangan 678,4 juta Euro (11 triliun Rupiah), jika musim 2019/20 berhenti sekarang, di mana 549 juta Euro (8,79 triliun Rupiah) di antaranya berasal dari pemasukan mereka dari televisi.

Namun, mengutip apa yang dikatakan Bambang Pamungkas, “Tidak ada satu pertandingan pun yang sebanding dengan nyawa”, menggambarkan bagaimana keselamatan adalah yang paling utama.

Penundaan kompetisi sepakbola memang menyedihkan, tapi percayalah semua akan kembali normal. Kita harus belajar dari bangkitnya sepakbola dari keterpurukan usai pandemic panjang bernama Flu Spanyol, seabad lalu.

Flu Spanyol, Pandemi Pembunuh

Jauh sebelum mewabahnya virus corona, dunia sempat diguncang dengan pandemic bernama Flu Spanyol. Resiko kematiannya pun cukup besar, mampu mencapai 20 persen. Tak ayal jika virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menjuluki Flu Spanyol sebagai "The Mother of All Pandemics."

Belum jelas asal muasal dari virus flu Spanyol yang membunuh 50-100 juta jiwa sepanjang tahun 1918 (akhir PD I). Beberapa ahli mengatakan virus ini berasal dari Amerika Serikat. Adapula yang mengatakan virus ini pertama kali ditemukan di Swedia dan Rusia. Ada juga yang mengatakan Tiongkok dan Vietnam sebagai alfa dari virus ini.

Bukan hanya asal virus ini yang menjadi perdebatan, penamaannya pun tak konsisten. Disebut Flu Spanyol karena semua negara yang terlibat Perang Dunia I menyensor informasi terkait penamaan wabah virus ini. Spanyol yang saat itu berada di posisi netral melalui medianya menyebarkan berita terkait flu ini, maka disebutlah Flu Spanyol. Tapi anehnya, media Spanyol malah menyebut flu ini dengan flu Perancis. Kini kita mengetahui bahwa penyebab utama flu ini adalah virus influenza tipe A subtipe H1N1.

Layaknya flu biasa, penderita akan mengalami flu berat, batuk, bersin hingga sakit kepala. Gejala yang berlanjut menjadi mimisan, muntah-muntah, menggigil, diare, hingga herpes. Virus ini akan menyerang paru-paru dan berkembang menjadi pneumonia. Fase inilah yang dapat membunuh penderita.

Dengan jumlah penduduk dunia yang baru mencapai 1,7 miliar, 60 persen penduduk dunia di tahun 1918 terjangkit virus ini. Penyebaran ini juga ditunjang dengan mobilitas tinggi tentara akibat PD I. Lebih mengejutkan, korban Flu Spanyol paling banyak berasal dari rentang umur 20-40 tahun di mana semestinya imunitas sedang dalam kondisi yang baik.

Dengan resiko yang begitu tinggi, para epidemiologis menyimpulkan Flu Spanyol adalah penyakit menular paling mematikan saat itu.

Akibat Mengabaikan Flu Spanyol

Penamaan Flu Spanyol sedikit masuk akal jika melihat jumlah penderita di Spanyol. Negeri di Semenanjung Iberia itu menjadi salah satu yang terparah mengalami imbas dari flu ini dengan ratusan ribu orang tewas. Oleh sebab itu masyarakat dunia menyebutnya sebagai Flu Spanyol. Raja Spanyol saat itu, Alfonso XIII, turut menjadi korban virus ganas ini meski akhirnya sembuh.

Kurangnya kewaspadaan terhadap virus Flu Spanyol berdampak cukup besar bagi penyebaran pandemi ini. Selain dari mobilitas tentara saat PD I, kontribusi besar juga disumbangkan dari sektor sepakbola.

Sepakbola yang digilai masyarakat karena dianggap sebagai hiburan rakyat terus dimainkan di tengah wabah ini. Sejumlah kompetisi tak berhenti bergulir guna memenuhi dahaga para warga. Di Spanyol, meski La Liga belum lahir (La Liga baru muncul di tahun 1929), kompetisi amatir di tiap wilayah begitu digandrungi. Klub amatir menjadi representasi dan kebanggaan warga lokal.

Selain itu Copa del Rey alias Piala Raja pun terus bergulir. Pada edisi 1918, turnamen itu berjalan di tengah badai flu Spanyol. Seakan tak takut dengan ancaman flu Spanyol, Piala Raja terus berjalan dan melahirkan Real Unión sebagai juaranya setelah mengalahkan Madrid FC (kini Real Madrid) 2-0. Pertandingan ini memberikan dampak terhadap penyebaran virus Flu Spanyol kepada sebagian besar penonton yang hadir di stadion Campo de O’Donnell.

Bentuk pengabaian terhadap resiko penyebaran Flu Spanyol lainnya terjadi di Britania Raya. Penyebaran virus yang begitu cepat, diawali dengan kepulangan para serdadu dari Perancis usai PD I. Sontak 228 ribu jiwa melayang di Inggris akibat Flu Spanyol.

Bukannya melakukan isolasi, Inggris justru baru memulai sepakbola profesional pertamanya. Bahkan jumlah pesertanya bertambah, yang mana saat amatir hanya berjumlah 20, menjadi 25 di tahun 1918.

Walhasil, sepakbola Inggris memiliki korban yang positif terjangkit Flu Spanyol. sepakbola Inggris yang positif tertular Flu Spanyol, Penyerang sayap Newcastle United, Angus Douglas, serta manajer klub Skotlandia Hibernian, Dan McMichael tewas karena Flu Spanyol. Douglas wafat pada 14 Desember 1918 dan McMichael meninggal pada Februari 1919.

Di Brazil, penyebaran Flu Spanyol akibat sepakbola juga cukup meyedihkan. “Dari beberapa sumber disebutkan, kasus pertama Flu Spanyol di São Paulo berasal dari para pesepakbola amatir asal Rio de Janiero yang mengunjungi São Paulo. Para pemainnya jatuh sakit di São Paulo pada 9 Oktober, oleh karenanya mereka juga yang menyebarkan penyakitnya ke korban-korban lain di Hotel D’Oeste, di mana tim menginap,” ungkap Liane Maria Bertucci dalam artikelnya, “Spanish Flu in Brazil: Searching for Causes during the Epidemic Horror” yang dilansir The Spanish Influenza Pandemic of 1918-1919.

Hal-hal di atas membuktikan, bagaimana kurangnya kesadaran akan pentingnya keselamatan dapat membawa bencana. Bahkan, dari hal yang kita sukai, seperti sepakbola.

Belajar Sabar; Semua Akan Kembali Normal

Penularan virus Flu Spanyol di Brazil yang berawal dari kegiatan sepakbola mencapai 65 persen dari warga Brazil. Virus Flu Spanyol ini menewaskan 14 ribu penduduk Rio de Janiero, termasuk sang presiden, Francisco de Paula Rodrigues Alves.

Dampak yang langsung menyadarkan Brazil bahwa sepakbola yang menjadi darah daging mereka justru membawa petaka. Pemerintah Brazil langsung memberhentikan semua aktivitas sepakbola yang memberikan sumbangsih terhadap penyebaran virus Flu Spanyol.

Bencana nasional itu juga memaksa otoritas Brazil untuk menunda turnamen Campeonato Sudamericano de Football (kini Copa América) ketiga di tahun itu. Kompetisi yang rencananya akan dihelat di Brazil. Hajatan empat tahunan itu baru kembali dimainkan pada 1919 di Rio, yang diikuti empat negara: Brazil, Argentina, Uruguay, dan Cile.

Gelaran dengan sistem klasemen itu menjadikan Brazil sebagai juaranya setelah unggul selisih gol dari runner-up kala itu, Uruguay. Trofi yang menjadi hadiah penghibur bagi masyarakat Brazil yang tengah sedih dihantam Flu Spanyol.

Dari peristiwa ini kita dapat belajar bahwa semua akan kembali normal ketika kita bersabar. Setelah badai Flu Spanyol hilang, tak lantas ikut menghilangkan animo masyarakat Brazil yang rindu menyaksikan pertandingan sepakbola.

Semua tetap sama, tak berubah. Para penonton tetap antusias dan memenuhi Estádio das Laranjeiras untuk menyaksikan pertandingan Campeonato Sudamericano de Football. Sebuah bukti bahwa semua akan kembali seperti sedia kala.

Di Inggris, pasca teguran berharga dengan tewasnya Douglas dan McMichael, Piala FA yang sedianya akan diadakan tahun 1918 langsung ditunda. Padahal Piala FA sudah diberhentikan selama 3 tahun sejak 1915 imbas dari PD I. Uniknya lagi penundaan Piala FA hanya menyisakan satu pertandingan puncak, laga final yang mempertemukan Aston Villa dengan Huddersfield Town.

Final yang tertunda selama 3 tahun tidak menyurutkan animo pendukung kedua kesebelasaan dan tetap memadati Stamford Bridge. Kerinduan melihat kesebelasan tercintanya terbayar lunas pada pertandingan yang menjadikan Aston Villa sebagai juara yang tertunda. Sukacita bukan hanya merayakan hilangnya virus Flu Spanyol, namun lebih dari itu, kebahagiaan menyambut kembalinya cinta bernama sepakbola.

Selain itu, solidaritas juga ditunjukan oleh para stakeholder sepakbola Spanyol. Sejumlah klub tercatat menggelar laga-laga amal demi menggalang dana bantuan para korban Flu Spanyol.

“Contoh terbaik diberikan Atlético de Madrid dan Athletic de Bilbao yang punya kegiatan rutin membantu masyarakat setempat selama wabah berlangsung. Bahkan Athletic de Bilbao beberapa kali menggelar laga amal, di mana keuntungan yang didapat dijadikan dana bantuan untuk para keluarga korban di masa sulit itu,” tulis McFarland dalam tulisannya yang bertajuk “Building a Mass Activity: Fandom, Class, and Business in Early Spanish Football”.

Kini Flu Spanyol seolah diganti dengan COVID19. Suatu pandemi yang mengingatkan akan bencana seabad lalu itu. Tapi kali ini, para otoritas sepakbola mengambil langkah cepat guna menghentikan penyebaran virus corona melalui kegiatan sepakbola.

Para penggiat sepakbola telah belajar dari Flu Spanyol, termasuk di Indonesia. Liga 1 yang resmi ditunda pekan ini merupakan langkah tepat. Jangan sampai sikap acuh yang mengabaikan Flu Spanyol di Indonesia kembali terjadi. Kegagapan pemerintah menghadapi serbuan virus Flu Spanyol membuat virus terus menjalar.

Stakeholder Liga 1 awalnya sempat diduga mengabaikan ancaman virus corona terhadap keselamatan dengan tak menghentikan kompetisi Liga 1. Tapi nampaknya otoritas Liga 1 belajar dari kasus Flu Spanyol di mana sepakbola sebagai salah satu kontributor penyebaran virus.

Penundaan kompetisi hanya sementara, ketika sudah mereda, semua akan kembali seperti sedia kala. Tidak perlu takut, tidak perlu cemas. Tugas kita hanyalah cuci tangan, dan bersabar. Ada hal yang lebih penting dari sepakbola. Hingga saatnya nanti, kita akan bersama, bersukacita, melepas kerinduan pada satu alasan, kembalinya sepakbola.

Komentar