Kemenangan Menghapus Rasa Lelah Bagi Wolverhampton

Cerita

by Stefanus Apridita

Stefanus Apridita

Sepakbola adalah candu // Gemar Melucui Sepakbola di Football Meter Podcast

Kemenangan Menghapus Rasa Lelah Bagi Wolverhampton

Sejak datang ke Liga Primer Inggris dengan status kampiun Sky Bet Championship 2017/2018, Wolverhampton Wanderers tidak menjadikan EPL sebagai tempat persinggahan semata. Setelah perusahaan asal Tiongkok, Fosun Internasional mengambil alih kepemilikan Wolves dari Steve Morgan, kesebelasan asal Black Country, Midlands Barat, tersebut telah bertransformasi. Ditambah penunjukan super agen asal Portugal, Jorge Mendes, sebagai penasehat klub, membuat Wolverhampton masuk dalam jajaran elit klub Inggris.

Pada musim pertama Wolves kembali ke kasta teratas sepakbola Inggris, Os Lobos (serigala dalam bahasa Portugal) langsung finish di peringkat ke-7 dan berhak atas satu tiket Liga Eropa. Musim ini, mereka melanjutkan tren positif dengan bersaing untuk tiket UCL dan juga berjuang di fase knockout UEL.

Dengan keberhasilan lolos ke babak 16 besar Liga Eropa, praktis Wolverhampton punya jadwal yang padat dan tentu melelahkan karena harus menjalankan perjalanan bahkan ke luar Inggris. Bahkan, perjalanan musim ini dimulai lebih awal karena Wolves harus menjalani babak kualifikasi UEL sebelum liga Inggris dimulai. Alhasil, Wolves pun tercatat sebagai kesebelasan Inggris yang paling banyak melakoni pertandingan.

Alih-alih menjadikan padatnya jadwal sebagai alibi, Nuno Espirito Santo justru mampu membawa anak asuhnya berjarak 3 poin dari zona Liga Champions.

VIDEO: Update informasi Liga Primer Inggris



Terinspirasi Jurgen Klopp

April 2019 adalah periode yang sibuk bagi Liverpool. Setelah mengalahkan Tottenham pada hari terakhir bulan Maret, mereka mengalahkan Southampton pada 5 April, Porto pada 9 April, Chelsea pada 14 April dan Porto lagi pada 17 April. Sebelum pertandingan melawan Cardiff City pada tanggal 21, Jurgen Klopp ditanya tentang kemungkinan efek kelelahan para pemainnya. Seperti biasa, respon Jurgen Klopp pada media selalu quotable.

"Kami ingin bermain," kata Klopp. "Jika kita lelah, kita tidak boleh memanjakannya. Kami ingin bermain dan menang, bukan duduk di rumah dan berharap yang lain kalah atau apa pun. " Klopp benar. Liverpool memenangkan setiap pertandingan liga hingga akhir musim (hampir berakhir manis di EPL) dan memenangkan Liga Champions. Mungkin kelelahan hanya alasan belaka bagi beberapa manager, namun tidak bagi Klopp. Saat Anda menang, Anda tidak merasa lelah.

Kutipan yang diakui Nuno Espirito Santo sebagai inspirasinya, menanamkan kepada pasukan serigala bahwa jika memenangkan pertandingan, tugas akan jadi semakin mudah. Seperti saat melakukan comeback di hari pertama Maret 2020, anak asuhan Nuno memberikan determinasi selama 90 menit, padahal 66 jam sebelumnya menjalani laga dengan tensi tinggi di Spanyol. Dua kali tertinggal di London Utara, Wolves seolah tak ingin membayar rasa letih dengan kegagalan.

Kisah comeback atas Tottenham bukan hanya mendekatkan keajaiban bernama tiket Liga Champions, tapi juga menjadi contoh konkret bagaimana kelelahan bukan alasan untuk kekalahan . Meski menurunkan delapan nama yang sama seperti saat menghadapi Espanyol, Wolves tetap melakukan serangan dengan intensitas tinggi, sebelum akhirnya, Diogo Jota menyediakan gol untuk Raul Jimenez 15 menit sebelum laga usai. Kemenangan yang menyebarkan hormon endorfin yang menghapus rasa lelah menjadi bahagia. Persis seperti yang dikatakan Klopp.

Jumlah Skuat Paling Sedikit di Inggris

Konsistensi permainan Wolves musim ini bukan hanya mengubah stigma bahwa Wolves sebagai sensasi satu musim semata, atau hanya sekedar batu sandungan bagi Big Four, Big Five, Big Six, atau apapun itu nama kelompok untuk yang katanya tim-tim besar Inggris. Lebih mengagumkan lagi, Wolves melakukan pencapaian ini dengan jumlah skuat yang minim. Hanya 20 pemain yang sudah melakukan pertandingan bagi Wolves di musim ini, paling sedikit di antara tim-tim Inggris lainnya.

Tujuh dari pemain Nuno sekarang telah bermain setidaknya 40 pertandingan kompetitif musim ini, dan menjadi komponen paling penting dalam tubuh Wolves: Rui Patricio, Conor Coady, Leander Dendoncker, Jimenez, Ruben Neves, Joao Moutinho dan Adama Traore. Masing-masing dari mereka bisa memainkan 17 pertandingan lagi hingga akhir musim jika Wolves lolos sampai ke partai final Liga Eropa di Gdansk.

Musim ini akan menghabiskan 308 hari dari awal musim Wolves. Kampanye Wolves sesungguhnya tidak masuk akal. Meskipun kualifikas Liga Eropa memberikan keuntungan “pemanasan” di awal musim, namun setelahnya Wolves hanya memenangkan dua dari 11 pertandingan liga pertama mereka. Ketika banyak anggapan Wolves akan mengalami akumulasi kelelahan di paruh kedua musim ini, nyatanya penampilan Wolves justru membaik. Sejak pertandingan liga ke-11 itu, hanya Liverpool dan Manchester City yang meraih lebih banyak poin di liga dibanding Wolves.

Wolves adalah tim di Inggris yang telah memainkan pertandingan paling banyak musim ini (47). Mereka juga tim di Inggris yang telah menggunakan pemain paling sedikit dalam pertandingan liga mereka (20). Namun mereka justru menunjukan semangat pantang menyerah saat tertinggal. Total 21 poin mereka dapatkan dari posisi tertinggal, enam lebih banyak dari klub Liga Premier lainnya, dan hanya Liverpool dan Manchester City yang memiliki rekor babak kedua yang lebih baik dari Wolves.

Goal Difference Wolves dalam 30 menit terakhir pertandingan tak kalah mencengangkan, plus 16; atau yang terbaik di Liga Primer Inggris. Mengingat jadwal mereka dimulai dari Juli hingga Maret, ini adalah statistik yang benar-benar luar biasa. Pada bulan Januari, Nuno berbicara tentang perlunya meningkatkan skuadnya untuk meringankan tekanan pada pemain kuncinya, tetapi saat Daniel Podence, satu pemain (Patrick Cutrone) justru pergi meninggalkan Wolves.

Pada bulan yang sama, kekhawatiran Nuno terbukti setelah kekalahan Piala FA dari Manchester United. Namun sejak itu, ternyata Wolves semakin membaik hingga menempel zona UCL.

Faktor Non-Teknis Berbuah Manis

Kehadiran Jorge Mendez sebagai penasehat klub tak bisa dipungkiri membawa pengaruh besar pada pencapaian Wolves sejauh ini. Bedol desa pemain Portugal yang merupakan klien Mendes adalah faktor utamanya. Ruben Neves, Diogo Jota hingga Nuno Espirito Santo adalah tulang punggung yang membawa Wolves menjuarai Championship. Rui Patricio dan Joao Moutinho melengkapi Wolverhampton rasa Portugis di Liga Primer Inggris.

Jika urusan pembajakan pemain dipercayakan pada ahlinya, Jorge Mendes, para petinggi Fosun tinggal fokus pada pembentukan citra Wolves sebagai fungsi marketing. Fosun mungkin tak paham soal sepakbola, tapi lain halnya dengan mode. Logo serigala milik Wolves punya nilai jual yang tinggi sehingga dimanfaatkan Fosun dalam dunia fashion. Secara identitas produk, tidak ada yang bisa mengalahkan Wolverhampton. Simbol serigala yang kami miliki adalah lambang terkuat di Liga Primer Inggris,” ungkap Ketua Pemasaran Wolverhampton Russell Jones.

Dari sisi keharmonisan ruang ganti, sudah menjadi tanggung jawab Nuno Espirito Santo. Nama adalah doa, Espirito Santo yang bermakna Roh Kudus seolah menaungi Molineux. Nuno harus memanfaatkan keterbatasan sumber daya yang ada secara optimal, hal yang sudah ia lakukan sejak di FC Porto. Dengan jumlah skuat yang tipis, para pemain memiliki jumlah pertandingan yang kurang lebih sama. Hal ini meminimalisir potensi konflik pemain dikarenakan minim menit bermain. Ketika konflik itu bisa dieliminasi, maka moral pemain bisa sampai ke puncaknya.

Setelah semangat tim mampu mencapai puncaknya, kekuatan pikiran positif dapat menjadi kekuatan saat bertanding. Atau seperti yang dikatakan Nuno kepada para pemainnya, menangkan pertandingan dan pekerjaan menjadi lebih mudah. Kepercayaan yang diterjemahkan menjadi kesuksesan memungkinkan pikiran untuk memikul sebagian beban kerja tubuh. Melihat Wolves bermain bukan seperti melihat sebelas bagian terpisah, melainkan seperti melihat kumpulan puzzle lengkap yang telah disusun rapih. Dengan jumlah pemain yang sedikit, membuat mereka memiliki kedekatan emosional satu sama lain. Belum lagi sosok motivator dalam diri Nuno Espirito Santo, yang telah membuat kesebelasan Wolverhampton seperti sebuah keluarga.

Jika musim ini ditutup dengan satu tiket Liga Champions, entah lewat perjuangan di Liga Primer Inggris atau hadiah sebagai juara Liga Eropa, Wolves telah membuktikan bahwa jadwal padat nan melelahkan di Inggris bukan alasan. Mereka memiliki tiga bulan lagi untuk menyelesaikan musim yang menakjubkan. Setelah itu, mereka akan mendapatkan waktu istirahat.

Di saat itulah para pemain Wolves dan jajaran staf akan sadar, rejeki bukan hanya prestasi, tapi juga waktu rehat.

Komentar