Mengenang Kobe Bryant Lewat Sepakbola

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Mengenang Kobe Bryant Lewat Sepakbola

Berhasil membobol gawang Lille OSC dari titik putih, Neymar merayakan gol keduanya tersebut dengan penuh hikmat. Ia tidak melompat dan memukul udara seperti perayaan gol pertama. Sejak pertama bola melewati garis gawang Neymar sudah memberikan sinyal pada teman-temannya untuk tidak mendekat dengan mengangkat kedua tangannya. Sinyal tersebut diabaikan oleh Angel Di Maria dan pemain Paris Saint-Germain (PSG) lainnya, namun hal itu tidak membatalkan perayaan Neymar yang sesungguhnya.

Setelah pemain lain pergi, Neymar merapikan kostumnya, membentuk angka 24 dengan jarinya, dan melepaskan doa di depan kamera. Sebuah penghormatan kepada temannya, Kobe Bryant. Usai laga yang berakhir dengan skor 2-0 untuk PSG itu, Neymar mengunggah fotonya bersama Kobe berserta ucapan bela sungkawa kepada teman dan keluarga dari sosok berjuluk Black Mamba tersebut.

“Ini adalah hari yang menyedihkan bagi kita semua di dunia olahraga, terutama penggemar dan keluarga Kobe. Seorang legenda sejati. Terima kasih sudah mewarnai dunia kami Kobe. Semoga penghiburan dari Tuhan diberikan kepada teman-teman dan keluarga Anda,” tulis Neymar.

VIDEO: Update informasi sepakbola dunia



Kobe Bryant meninggal di usia 41 tahun dalam kecelakaan helikopter bersama anak perempuannya, Gianna. Menurut laporan New York Times, keduanya sedang dalam perjalanan menuju Mamba Sports Academy ketika bencana itu terjadi. Seharusnya, mereka menjadi tuan rumah untuk turnamen pemain-pemain muda. Namun, kepergian Kobe dan Gianna memaksa turnamen itu dibatalkan. Dunia berduka.

Kobe dikenal melalui prestasinya di dunia bola basket. Masuk ke National Basketball League (NBA) sejak berusia 17 tahun, Kobe jadi pemain ke-13 yang dipanggil untuk mendapat kontrak profesional. Awalnya, ia direkrut oleh tim asal Carolina Utara, Charlotte Hornets. Tapi kemudian ditukar dengan pemain Serbia milik Los Angeles Lakers, Vlade Divac.

Sejak saat itu, kostumnya tidak pernah berubah lagi. Dirinya menjuarai NBA sebanyak lima kali, dua kali terpilih jadi pemain terbaik di final, terpilih sebagai pemenang kontes dunk di 1997, dan 18 kali masuk ke dalam tim All-Stars. Pertama di 1998, kemudian 17 kali berturut-turut selama periode 2000 hingga 2016. Hingga 2020, hanya sesama legenda Lakers, Kareem Abdul-Jabbar, yang pernah mewarnai All-Stars lebih sering dibandingkan Kobe.

Dia adalah salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Terutama untuk mereka yang mengikuti NBA setelah era Michael Jordan dan sebelum kemunculan LeBron James. Bahkan mungkin bagi sebagian orang, Kobe lebih baik dibandingkan kedua pemain tersebut. Sebuah status yang sangat sulit untuk bisa didapatkan. Apalagi mengingat Kobe masuk ke NBA bersama pemain sekelas Allen Iverson, Steve Nash, dan Ray Allen di 1996.

Ayahnya juga seorang mantan pemain NBA, Joe "Jellybean" Bryant. Ayahnya pernah membela Philadelphia 76ers, San Diego Clippers, dan Houston Rockets sebelum pindah ke Italia saat Kobe berusia enam tahun. Saat tinggal di Italia, kehidupan Kobe tetap tidak jauh dari bola basket, namun ia juga menjadi dekat dengan olahraga yang populer di sana, sepakbola.

Kobe sempat menceritakan saat ia bermain sepakbola dengan anak-anak di Italia. Posturnya yang tinggi dan tangannya yang panjang membuat dirinya langsung diminta untuk menjadi penjaga gawang. “Jarak antara lapangan dan rumah saya cukup jauh, saat sampai di sana sudah ada anak-anak lain yang menggunakannya. Saya kebingungan, tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi saya juga tidak ingin pulang. Akhirnya saya ikut main bersama mereka. Melihat bocah kurus dengan tangan panjang, saya dipercaya menjadi penjaga gawang. Itu adalah perkenalan pertama saya dengan sepakbola,” buka Kobe ke ESPN.

Strategi dalam permainan sepakbola juga sedikit banyak membantunya saat harus menerapkan strategi saat bermain bola basket. “Anda membagi waktu antara sepakbola dan basket. Semua bisa dijalankan secara bersamaan dan saya melakukan hal itu selama delapan tahun di Italia. Sepakbola adalah olahraga yang mengutamakan taktik dan strategi, Anda harus bisa membaca situasi, mengetahui arah gerak dan permainan sebelum hal itu terjadi. Sepakbola adalah tempat pertama saya belajar strategi segitiga. Saya senang bisa menggerakkan bola dengan cepat dan memanfaatkan ruang semaksimal mungkin. Itu membantu Anda untuk berpikir dan membuat keputusan dengan cepat,” jelasnya.

Taktik segitiga sudah ada di dunia basket jauh sebelum Kobe lahir. Menurut New York Times, skema tersebut pertama muncul 1940-an, namun masih sering digunakan di atas lapangan. Pelatih Kobe di mayoritas karier profesionalnya, Phil Jackson, merupakan salah satu sosok yang gemar dengan taktik tersebut. Berkat visi permainan yang didapat oleh Kobe selama bermain sepakbola, dirinya pun jadi tumpuan utama Jackson di Lakers.

“Basket hanya mengajarkan dua pola kepada Anda. Pertama operan satu-dua, kemudian pick and roll, atau oper lalu pergi. Sisanya adalah kombinasi dari kedua hal tersebut. Berkat sepakbola, saya sudah terbiasa dengan kombinasi seperti ini,” aku Kobe. Begitu handal mengolah bola, Kobe bahkan pernah melakukan nutmeg dalam pertandingan NBA!

VIDEO: Operan nutmeg Kobe Bryant



Kembali ke Amerika Serikat, sepakbola bukanlah olahraga populer, beda dengan di Italia. Oleh karena itulah Kobe kembali meneruskan kariernya di dunia basket. Namun, kecintaannya terhadap sepakbola tidak pernah mati. Saat sudah menjadi bintang sekalipun, ia sering menghabiskan liburan di Eropa dan menyaksikan pertandingan sepakbola. Ia juga beberapa kali ikut membantu mempopulerkan sepakbola di Amerika Serikat.

Ia pernah tampil di iklan Nike, FIFA, dan bermain di pertandingan-pertandingan solidaritas. Kobe juga terjun langsung membantu sepakbola dengan menggandeng sponsor ke Major League Soccer (MLS). Ia juga berusaha memberikan edukasi kepada generasi muda untuk melawan rasisme di dunia sepakbola, bahkan sempat dirumorkan akan mengakuisisi Bologna di 2014.

Pada tahun 2016, Kobe menyumbangkan uangnya sebesar seribu dollar atau sekitar 13,45 juta rupiah kepada apparel olahraga Hummel. Uang ini akan digunakan untuk memastikan tim sepakbola perempuan Afghanistan bisa bermain menggunakan hijab saat pertandingan.

https://twitter.com/AfghanistanWnt/status/731148936627396608">

Apapun yang dilakukan Kobe, ia selalu berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Ia menyebut sikap itu sebagai ‘Mentalitas Mamba’ dan sepakbola selalu jadi bagian di dalamnya. Melawan rasisme, menyumbang dana untuk produksi hijab, juga pasti bagian dari mentalitas tersebut. Pasalnya, mustahil untuk jadi versi terbaik diri sendiri apabila melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kita dipercaya.

Meski Kobe pergi terlalu dini, hanya dua tahun setelah pensiun, mentalitas tersebut tidak akan pernah mati. Entah itu basket, sepakbola, olahraga lain, atau hanya dalam kehidupan sehari-hari, Kobe adalah inspirasi bagi dunia. Terima kasih, Kobe.

https://twitter.com/Pirlo_official/status/1221538950902374401">

Komentar