Virgil Van Dijk yang Diragukan di Masa Lalu

Cerita

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Virgil Van Dijk yang Diragukan di Masa Lalu

“Tapi semua pelatih dan semua pemandu bakat salah paham tentang dia (Virgil). Ketika Anda muda, terkadang Anda membuat pilihan yang salah. Contohnya, dia mengumpan dan terpotong lawan. Orang-orang menerjemahkan itu sebagai kehilangan konsentrasi. Saya rasa tidak. Dia masih muda, dia memiliki waktu untuk berkembang dan terkadang, dia bermain melawan pemain yang lebih berpengalaman. Dia kesulitan karena sebaliknya, dia sering membuat banyak hal terlihat mudah,” begitulah pembelaan Pieter Huistra, pelatih Virgil Van Dijk ketika masih membela Groningen.

Jika melihat pencapaian Virgil yang mampu membawa Liverpool juara Liga Champions musim lalu dan menduduki urutan kedua Ballon D’Or 2019, mungkin sekilas kita dapat membayangkan karir muda Virgil yang sangat indah. Contohnya seperti mendapat segudang pujian dan digadang sebagai penerus pemain legendaris. Semua hal tersebut tidak terjadi pada karir muda Virgil. Ia baru menjalani debut profesional klub di usia 21 tahun, bahkan ia baru dipercaya membela tim nasional Belanda pada umur 25 tahun. Ia diragukan banyak orang, sebelum Huistra membelanya.

Jan van Loon, direktur akademi Willem II mengatakan bahwa Virgil terlalu banyak memberi ruang kepada lawan ketika ia berusia 10 tahun. Begitu pula dengan pelatih Willem II yang bekerja dengan Virgil secara reguler, mereka bingung antara Virgil terlalu lambat untuk melihat bahaya atau ia merasa sepakbola itu mudah tapi tetap membuat kesalahan. Pelatih tim cadangan Willem II, Edwin Hermans juga merasa bahwa Virgil memiliki banyak kekurangan.

VIDEO: Virgil Van Dijk memberikan surprise kepada fans Liverpool



Ketika berusia 18 tahun, Virgil dan Willem II harus mengambil keputusan. Van Loon sebenarnya ingin mempertahankan Virgil namun semua staf pelatih tidak, bahkan direktur teknik Willem II pun tidak merasa bahwa melepas Virgil adalah sebuah masalah. Groningen mulai mendekati Virgil setelah Martin Koeman, ayah dari Ronald Koeman yang kala itu bekerja sebagai pemandu bakat Groningen, mulai mengamati Virgil.

Direktur olahraga Groningen, Hans Nijland merasa bahwa Virgil tidak berkembang di Willem II. Virgil dilatih oleh orang yang sama dan dengan instruksi yang sama. Virgil memerlukan suara baru untuk didengar dengan lingkungan yang baru pula. Nijland dan Huistra akhirnya memutuskan untuk mendatangkan Virgil ke Groningen.

Tantangan masih harus dihadapi Virgil di Groningen. Staf kepelatihan Groningen merasa bahwa Virgil tidak bekerja keras. Virgil cerdas dan berbakat tapi apakah ia memiliki keinginan untuk mendorong diri sendiri agar menjadi yang terbaik? Keraguan itu muncul di kalangan staf pelatih Groningen. Virgil sering memberi ruang kepada lawan dan terlambat turun. Ia juga kerap lupa untuk naik agar membuat lini pertahanan tinggi sesuai yang diinstruksikan oleh pelatih.

Virgil juga tidak hidup sehat kala itu. Ia kerap mentraktir teman-temannya McDonald’s. Gaya hidup yang tidak seharusnya untuk seorang atlet seperti itu disinyalir menjadi penyebab Virgil mendekap di rumah sakit selama 13 malam karena komplikasi infeksi di perutnya.

“Kami seharusnya bermain melawan Heerenveen dalam derbi tapi saya merasa sakit. Saya tidak makan dengan sehat dan itu kesalahan saya. Itu adalah dua minggu yang sangat berat sebelum akhirnya saya dioperasi. Setelah satu bulan, saya mulai latihan bersama fisioterapis untuk menguatkan otot saya,” ungkap Virgil pada sebuah wawancara dengan BBC.

Virgil akhirnya menjalani debut bersama Groningen pada Mei 2011, ketika masuk sebagai pemain pengganti dalam kemenangan 4-2 atas ADO Den Haag. Pada bulan yang sama, Groningen mengalami kekalahan tandang menghadapi lawan yang sama pada leg pertama play-off untuk lolos ke Europa League dengan skor 1-5. Huistra, yang pernah menjadi pelatih sementara tim nasional Indonesia periode 2015, memutar otak untuk membalikkan keadaan di leg kedua.

Virgil menjalani pertandingan pertama sebagai starter di leg kedua melawan Ado Den Haag sebagai bek kanan. Groningen sempat unggul satu gol namun sapuan Virgil yang buruk membuat Ado Den Haag mampu menyamakan kedudukan. Huistra kemudian memasang Virgil sebagai striker dan Groningen menggila di babak kedua dengan mencetak empat gol yang memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Hebatnya, dua dari empat gol di babak kedua dicetak oleh Virgil melalui tendangan bebas dan penyelesaian akhir yang tenang kala berhadapan satu lawan satu melawan kiper. Ado Den Haag keluar sebagai pemenang setelah unggul 4-3 di babak adu penalti.

Pelajaran yang dapat diambil oleh Huistra adalah ia dapat bergantung pada Virgil ketika tim berada dalam tekanan. Huistra akhirnya dipecat oleh Groningen pada musim 2011-12, sementara Virgil bermain reguler pada musim tersebut dan musim selanjutnya. Musim panas 2013 menjadi waktu yang krusial bagi Virgil yang mulai diminati banyak klub, termasuk Ajax. Namun akhirnya Ajax mendatangkan Mike van der Hoorn dari Utrecth. Huistra mengatakan bahwa Ajax melakukan kesalahan dengan akhirnya memilih Van der Hoorn, pemain yang sekarang bermain untuk Swansea.

“Ajax bukanlah satu-satunya yang tertarik dengan dia. Pemandu bakat mereka selalu mengatakan begini ‘Dia tidak melakukan ini, dia tidak melakukan itu’. Mereka selalu memiliki setidaknya dua alasan untuk memilih orang lain,” ujar Huistra.

“Saya rasa kasus Virgil mirip dengan Jaap Stam. Dia mulai di klub kecil, pergi lagi ke klub kecil, lalu ke klub kecil dan klub kecil. Ketika Anda memulai karir di klub kecil di Belanda, terdapat bias. Tim besar merasa ‘Ah, dia tidak cukup bagus untuk kami, pasti ada pemain dari akademi yang lebih baik darinya’. Kepercayaan Huistra terhadap Virgil terbukti benar mengingat pencapaian luar biasa yang didapat oleh Virgil sekarang dan ia juga merupakan salah satu bek terbaik dunia saat ini.

Komentar