Persik dan Persita: Penantian Panjang yang Berbuah Manis

Cerita

by Hendi Abdurahman

Hendi Abdurahman

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Persik dan Persita: Penantian Panjang yang Berbuah Manis

Persik Kediri dan Persita Tangerang dipastikan lolos ke Liga 1 musim depan usai menorehkan kemenangan di semifinal Liga 2 2019 pada Jumat (22/11) lalu. Persik menang atas Persiraja, sementara Persita menang dari Sriwijaya FC. Lolosnya kedua kesebelasan tersebut sama-sama dilalui lewat adu penalti.

Penantian panjang Persik dan Persita pun disambut suka cita. Keduanya sama-sama terakhir merasakan bermain di level tertinggi sepekbola Indonesia pada musim 2014.

“Awal kompetisi kita dianggap remeh. Alhamdulillah tadi kami bisa menang melalui drama adu penalti. Respek dengan Persiraja, mereka tim yang kuat,” ucap pelatih Persik, Budiarjo Talib, usai laga.

Setali tiga uang, Kapten Persita, Egi Melgiansyah, mengaku senang. Pasalnya, keberhasilan yang dicapai musim ini seolah membalas kegagalan musim lalu yang kandas di babak semifinal lantaran kalah bersaing dengan Semen Padang, PSS, dan Kalteng Putra.

Di babak semifinal Liga 2 musim lalu, skuad yang dipimpin Wiganda Saputra itu kandas oleh Semen Padang dalam pertandingan dua leg dengan agregat 3-2. Sedangkan di laga perebutan juara ketiga, Persita dikalahkan Kalteng Putra 0-2.

“Nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Ini mungkin balasan kekecewaan kami tahun lalu. Bisa masuk Liga 1. Sangat hargai kemenangan tadi. Ini untuk masyarakat Tangerang. Saya pribadi musim lalu gagal bawa Persita ke Liga 1, tapi tahun ini alhamdulillah bisa bawa Persita. Ini berkat semua elemen sudah kerja keras,” tambah mantan pemain Pelita Jaya ini.

Progres Cepat Persik dan Kesabaran Persita

Jika melihat materi pemain serta dana yang sangat terbatas, siapa sangka Persik bisa lolos ke Liga 1 dengan progres yang terhitung cepat. Padahal, pada musim 2018, tim yang bermarkas di Stadion Brawijaya ini masih berkutat di Liga 3. Mereka bahkan sempat menunggak gaji para pemainnya.

Salah satu korbannya adalah Guy Bertrand Mamoun. Apa yang dialami sang pemain membuatnya mengadu kepada FIFA sehingga membikin Persik mau tau mau mesti melunasi kewajibannya jika ingin tetap mengikuti kompetisi. “Sulit mencari sponsor dengan posisi Persik di Liga 3,” kata Sekretaris Umum Persik, Subiyantoro.

Bermain tanpa beban dan target yang mencolok justru menjadi kunci bagi Persik. Tak dinyana, Macan Putih berhasil menjadi juara. Gelar ini semakin terasa istimewa karena Persik juga menyabet tim fair play serta dua gelar individu: Septian Satria Bagaskara menjadi top skorer dengan 28 gol, sementara Kapten Persik saat itu, Galih Akbar Febriawan, menjadi pemain terbaik.

Sedangkan untuk musim ini, Persik juga bukanlah favorit untuk melaju ke Liga 1. Sebagaimana yang diungkapkan Budiarjo Talib, timnya kerap dipandang sebelah mata. Kendati demikian, seiring berjalannya waktu, Persik justru menjadi pemuncak klasemen akhir Wilayah Timur. Dari 20 kali bertanding, Macan Putih meraih sembilan kemenangan, enam kali seri, dan lima kali kalah.

Tak hanya sukses secara tim, beberapa pemainnya pun mulai dipanggil timnas. Selain Septian Satria Bagaskara yang sempat dipanggil Timnas U22, Dodi Alekvan Djin pun kini diberi kesempatan oleh Indra Sjafri menjadi satu di antara 20 pemain yang akan berlaga di SEA Games 2019.

Kehadiran Persik di Liga 1 2019 diprediksi bakal kembali menyemarakkan kompetisi Liga 1 musim depan. Melihat sejarahnya, Persik merupakan peraih gelar juara Liga Indonesia pada musim 2003 dan 2006. Mereka juga sempat mencicipi Liga Champions Asia pada 2004 dan 2007 dengan mengandalkan sejumlah pemain bintang seperti Musikan (2004) serta trio Cristian Gonzales, Ronald Fagundez, dan Danilo Fernando (2007).

Berbeda dengan Persik, lolosnya Persita ke Liga 1 bisa dikatakan sesuai target klub. Peraih runner-up Liga Indonesia musim 2002 dan 2011/2012 ini mulai melakukan re-branding dengan dana besar. Selain mulai menggunakan Stadion Benteng Taruna yang kini bertaraf internasional, pemilihan Widodo Cahyono Putro sebagai pelatih juga mengindikasikan bahwa Pendekar Cisadane mempunyai ambisi besar. Sebelumnya, bersama Bali United, Widodo C. Putro membawa Serdadu Tridatu ke peringkat kedua Liga 1 2017 dan hanya kalah head to head dari Bhayangkara FC yang menjadi juara.

“Kami berterima kasih, sangat berterima kasih, kepada semua pemain yang sudah bekerja keras. Staf kami, (tim) kepelatihan, media, masseur, kitman, yang lain, manajemen, terutama Persita yang telah memerhatikan kami dari awal terbentuknya tim ini hingga petang ini dan tentu suporter kami yang tidak lelah berhenti mendukung,” katanya penuh syukur.

Meski telah memastikan lolos ke Liga 1, Persita dan Persik masih menyisakan satu partai pemungkas pada Senin (25/11) dalam laga final. Satu tiket lainnya akan diperebutkan oleh Persiraja dan Sriwijaya FC untuk melengkapi tiga tim yang lolos ke Liga 1 musim depan.

Menariknya, Persiraja dan Sriwijaya FC sempat bertemu di pertandingan terakhir Grup X. Saat itu keduanya seolah bermain aman dengan hanya ada satu shots on target yang tercipta. Namun, kini keduanya bakal bertemu kembali dan diperkirakan bakal bermain lebih serius.

Ralat: pada penayangan sebelumnya tertulis Persik Kediri terakhir tampil di level tertinggi sepakbola Indonesia pada musim 2009/2010, setelah dilakukan cek data ulang, Persik Kediri mengikutin kompetisi Liga Super Indonesia musim 2014.

Komentar