Heel Turn Seorang Gareth Bale

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Heel Turn Seorang Gareth Bale

Heel turn, siapapun yang familiar dengan dunia gulat profesional pasti tahu arti kata ini. "Heel turn" merupakan terminologi yang digunakan saat pegulat baik, berkhianat atau memilih jalan menjadi orang jahat. Setidaknya itu yang dilakukan dalam cerita yang sedang mereka tampilkan. Contohnya mulai dari Hulk Hogan bergabung dengan NwO, hingga Seth Rollins memukul Roman Reigns dengan kursi besi. Itu adalah heel turn. “Joining the dark side," kalau kata penggemar "Star Wars".

Siapapun, di mana pun, melihat seseorang memilih jalur "hitam" adalah sesuatu yang mengejutkan, yang akan menjadi perbincangan. Perlakuannya Berbeda dengan saat "orang jahat" memilih jadi "orang baik".

Dalam dunia sepakbola juga sama seperti itu. Ketika Cristiano Ronaldo yang dikenal licik dan banyak bertingkah di atas lapangan memilih menjadi Duta Mangrove Indonesia, tidak banyak yang memberi respons. Tapi ketika Cristiano Ronaldo yang dikenal sebagai remaja penuh talenta mengedipkan mata pada wasit setelah Wayne Rooney diusir pada pertandingan Portugal kontra Inggris di Piala Dunia 2006, semua berkomentar. Heboh!

Mantan rekan satu tim CR7, Gareth Bale, baru saja melakukan "heel turn" setelah membawa Wales lolos ke Piala Eropa 2020 dengan mengalahkan Hungaria 2-0. Usai pertandingan, Bale menari-nari dan bernyanyi bersama rekan-rekan satu timnya sembari membawa spanduk bergambar bendera Wales. Masalahnya, spanduk itu juga memuat tulisan, “Wales. Golf. Real Madrid. In that order”. Dalam Bahasa Indonesia berarti, “Wales, golf, Real Madrid. Begitu susunannya (prioritas Gareth Bale)”.

Ketiga hal itu adalah sesuatu yang dekat dengan Gareth Bale. Bale merupakan pemain Tim Nasional Wales yang terbaik setelah era Gary Speed dan Ryan Giggs. Ia gemar bermain golf dan membela Real Madrid. Tahu bahwa mereka bukan prioritas Bale, pasti Real Madrid akan marah besar.

Los Blancos mendatangkan Bale dengan dana 100 juta Euro dari Tottenham pada 2013. Saat itu, Real Madrid memecahkan rekor transfer dunia untuk Bale. Sekarang, dirinya menari-nari dengan spanduk yang mengatakan bahwa Real Madrid bukan prioritas utama, yang bahkan lebih rendah dari golf!

Akan tetapi, Bale tidak bisa begitu saja disalahkan. Dirinya mengalami masa-masa sulit di Spanyol. Kemampuannya berbahasa Spanyolnya sangatlah terbatas. Kabarnya, hal itu membuat dirinya hanya memiliki sedikit teman di ruang ganti.

Ekspektasi klub dan para suporter untuk melihat Bale menjadi pemimpin dan tumpuan klub selepas kepergian CR7 juga gagal ia penuhi. Bahkan di bursa transfer musim panas 2019, Kepala Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, mengaku bahwa Bale tidak memiliki masa depan di tim asuhannya.

“Saya tidak punya masalah pribadi dengan Bale. Tapi demi kebaikan bersama, ia harus pergi. Situasi ini tentu masih bisa mengalami perubahan. Kita tunggu saja satu atau dua hari ke depan,” ungkap Zidane.

Kala itu, Bale dikaitkan dengan kesebelasan asal Tiongkok, Jiangsu Suning. Akan tetapi, Suning mundur dan lebih memilih Ivan Santini sebagai pelengkap kuota pemain asing mereka.

Situasi ini membuat Bale terlihat seperti sosok yang layak dikasihani. Ia seperti tertindas di Real Madrid. Batal pindah, Bale tiba-tiba menggila di awal musim La Liga 2019/2020. Bale berperan penting di tiga partai pertama Los Blancos dengan mencetak dua gol dan mengarsiteki satu lainnya, dan memberikan kemenangan untuk tim asuhan Zidane.

Bale naik daun menjadi "orang baik" atau "babyface" dalam terminologi gulat profesional. Bahkan Presiden Real Madrid, Florentino Perez, ikut melemparkan pujian untuk Bale. Casemiro dan Thibaut Courtois juga ikut melemparkan pujian kepada Bale.

“Dia adalah pemain penting bagi kami. Dirinya memberikan Real Madrid piala, mencetak gol di final Liga Champions, ia sosok yang hebat,” tutur Casemiro.

“Semua orang di sini [Real Madrid] mencintai Bale, kami senang ia bertahan,” tambah Courtois.

Performa positif Bale untuk Real Madrid memang hanya sesaat. Ia bahkan sudah tidak terlibat dalam pertandingan Real Madrid sejak pekan kesembilan La Liga 2019/2020 karena mengalami cedera betis. Kembali masuk dalam daftar pemain untuk pertandingan melawan Real Sociedad (24/11), Bale justru datang sebagai orang jahat karena insiden spanduk di pertandingan melawan Hungaria.

“Florentino Perez, buang saja Bale!,” kata Josep Pedrerol, pembawa acara di El Chiringuito TV.

“Bale bertingkah sangat kejam kepada Real Madrid,” tambah pengamat sepakbola Spanyol Edu Aguirre, yang juga teman dekat dari Cristiano Ronaldo.

Berbagai pihak tak ragu untuk memberikan opini mereka atas insiden spanduk tersebut. Bahkan Mantan Presiden Real Madrid Ramon Calderon juga ikut bersuara. “Hidup Bale di Real Madrid akan sangat sulit sekarang. Suporter pasti marah besar (tahu Real Madrid bukan prioritas). Ia sudah lama di sini, namun dirinya gagal menjadi pilihan utama Zidane. Dirinya juga terlihat kurang menyatu dengan rekan-rekan lainnya. Insiden ini hanya akan mempersulit dia dan semua adalah ulahnya sendiri,” kata Calderon.

Padahal, spanduk itu adalah pemberian suporter. Kasus ini sama seperti saat Cesc Fabregas dikerjai oleh Pepe Reina dan dipaksa untuk menggunakan kostum FC Barcelona saat perayaan Tim Nasional Spanyol juara Piala Dunia 2010. Itu bukan sepenuhnya salah Fabregas. Ini juga bukan salah Bale, sepenuhnya.

Bale sudah sekian lama berada di bawah bayang-bayang dan dibanding-bandingkan dengan Cristiano Ronaldo. Ia kerap dicemooh dan dijadikan lelucon. Ia pun secara terbuka diumumkan bahwa ia sudah terbuang dari tim. Dengan segala hal ini, wajar apabila Bale merasa muak.

Sama saja seperti saat Shawn Michaels muak ada divisi "tag team" dan mengkhianati Marty Jannety. Atau Chris Jericho muak dianggap memiliki badan yang terlalu kecil dan tak bisa bersaing untuk menjadi juara dunia. Mereka melakukan heel turn untuk mencapai puncak karier masing-masing.

Mantan pemain Real Madrid sekaligus rekan Bale saat masih di Tottenham, Rafael van der Vaart juga sudah sejak lama mengingatkan pemain asal Wales tersebut agar melakukan heel turn. “Anda harus bersikap seperti bajingan jika ingin besar di Real Madrid,” kata Van der Vaart.

Bale akhirnya melakukan hal itu dengan berpose bersama spanduk bertuliskan “Wales. Golf. Real Madrid. In that order”. Mungkin mulai dari sekarang ia akan mencapai level terbaiknya di Ibu kota Spanyol. Mungkin juga dirinya akan segera mendapatkan tawaran untuk pindah dari Real Madrid. Apapun itu, Bale tidak akan merugi.

Mengutip Scott Hall alias Razor Ramon, “Bad times don’t last, but bad guys do!”.

Komentar