Kegilaan Vokalis Madness Terhadap Chelsea

Cerita

by Rahman Fauzi

Rahman Fauzi

Homo Narrans.

Kegilaan Vokalis Madness Terhadap Chelsea

Kisah grup band Oasis dengan Manchester City sudah menjadi cerita populer yang diketahui banyak orang. Kakak beradik, Noel-Liam Gallagher sudi menjadi `duta klub` sejak hari pertama Oasis menunggangi ombak Britpop pada dekade 1990-an. Mereka terlalu mudah tersorot kamera saat berada di Stadion Etihad. Keduanya tidak pernah segan memberi komentar soal isu terbaru The Cityzens.

Di dunia musik, Oasis beradu sengit dengan Blur untuk ambil kendali Britpop juga kadung menjadi kanon dunia musik internasional. Damon Albarn, vokalis Blur, juga mudah dipahami publik sebagai penggemar berat klub sepak bola Chelsea.

Untuk urusan sepak bola, personel Blur (yang memang orang Inggris) tentu tidak apatis. Antusiasme tentang sepak bola selalu hadir dari raksasa pop Britania ini.

Sejak musim 1990-91, Albarn memegang tiket terusan di Stadion Stamford Bridge. Tahun lalu dia pernah mengajak para penonton Blur menyanjung nama Eden Hazard di tengah-tengah konser Blur di Belgia. Pada Piala Dunia 2018, dia mendukung pemain yang kini membela Real Madrid itu untuk juara.

Tampak kesamaan lini masa soal bagaimana Britpop meledak dengan kelahiran Premier League yang menggeliat pertama kali pada 1990-an. Albarn pun mengakuinya.

"Ada sinergi yang luar biasa antara musik dan sepakbola selama periode itu," kata Damon Albarn dipetik Tribuna.

Kesampingkan dahulu rivalitas Oasis-Blur, nostalgia britpop, atau kaitannya dengan sepak bola. Khususnya dalam soal Albarn sebagai penggemar Chelsea. Tanpa mengukur-ukur besaran fanatisme Albarn, mari bahas musisi penggila Chelsea yang sangat penuh madness.

Mari Berdanska

"Saya dipecat dari band tepat sebelum rekaman One Step Beyond, album paling laku kami. Kami biasa latihan pada hari Sabtu dan rekan-rekan di band kesal, karena saya malah sering tidak hadir. Saya justru menonton Chelsea!".

Begitulah pengakuan Suggs, vokalis band ska, Madness. Suggs muda lebih memprioritaskan menonton Chelsea daripada latihan band, sampai akhirnya dia sadar kabar pemecatannya lewat iklan lowongan vokalis baru di majalah.

Suggs pun mengakui kesalahannya dan menatap ke depan. Seiring berjalannya waktu, dia lambat laun menjadi sosok penting di kancah musik ska dunia. Sebab, Madness pun termasuk salah satu band pelopor yang mendongkrak popularitas genre ini di tahun 1980-an.

Lagu instumental One Step Beyond yang diaransemen ulang dari trem milik penyanyi Jamaika, Prince Buster menuntun mereka masuk ke dalam perhatian publik. Disusul Our House sebagai tembang paling sukses di ranah arus utama. Sebut lagi, Baggy Trousers, House of Fun, Night Boat to Cairo, dan It Must Be Love yang tersaji secara komikal dan menyenangkan.

Paling penting: Sangat British. Dengan gaya jenaka, Madness memotret gaya pemuda Inggris yang terepresif di era Perdana Menteri Margaret Thatcher. Sedari awal, mereka memang sengaja mengusung perpaduan kerenyahan pop dan sirkus.

Tidak heran, Madness turut menjelma sebagai pemberi cetak biru Ska modern yang berkembang pada gelombang berikutnya. Gaya mereka terlacak pada banyak band ska lanjutan yang turut menyuntikan sentuhan punk.

Bayangkan, kisah sukses ini mungkin tidak terjadi kalau Suggs sulit menentukan prioritas antara bermusik dan menonton laga Chelsea. Pastilah ensiklopedia musik tidak akan mencatat namanya sebagai salah satu vokalis berkharisma otentik.

Dalam buku otobiografi Madness yang rilis pada Oktober 2019, Before We Was We: Madness by Madness, Suggs banyak bercerita pergulatannya di kancah hooliganisme. Kekerasan suporter di Inggris menemui puncaknya pada era Suggs muda di tahun 1970-an.

Ketika isi stadion belum banyak turis, tatkala ide sanksi berat suporter pengacau tidak terlalu digubris.

Suggs yang bernama asli Graham McPherson masih ingat betapa berdebarnya dia datang ke stadion sembari sabung nyawa. Dia menyamakan peristiwa menonton sepak bola saat itu dengan Perang Agincourt antara Inggris dengan Prancis di tahun 1415.

Bersama suporter Chelsea lainnya, Suggs bisa dengan mudah membuat perkara dengan suporter klub tetangga, West Ham United saat berkerumun di stasiun kereta.

Pernah ada peristiwa saat Chelsea bertandang ke markas Charlton Athletic, suporter kedua tim ditempatkan di tribune yang sama. Namun, fans Chelsea yang bertamu merasa bosan, lalu membuat gara-gara dengan membakar tribune.

Di luar stadion, mereka mengerjai polisi dengan menyebarkan kelereng supaya kuda yang ditunggangi terpeleset jatuh.

Bagi Suggs yang sekarang berusia 58 tahun, berurusan dengan penggemar Millwall selalu menjadi yang terburuk. Ketika Chelsea bertandang ke Stadion The Den, Suggs dan kawanannya malah memutuskan menyusup di tribune pendukung tuan rumah.

Dia tahu, kalau berada di tribun suporter tandang malah bisa-bisa digempur suporter Millwall. Benar saja, dari kejauhan mereka melihat kumpulan suporter Chelsea digulung.

Penyusupan Suggs dan rekannya berhasil. Sampai kemudian mereka menelusuri tangga stasiun kereta dan terdengar teriakan entah dari siapa kepada mereka yang baru disadari sebagai fans Chelsea. Suggs lari pontang-panting.

Relasi Suggs dengan Chelsea bukan sekadar kejadian mengerikan belaka. Pada tahun 1996, Suggs menciptakan lagu

>Blue Day sebagai apresiasi The Blues mencapai final Piala FA.

Kala itu, Chelsea belum juara apa-apa lagi sejak 1970. Alhasil, Suggs menciptakan anthem untuk tim yang dicintainya. Tidak tanggung-tanggung, skuat Chelsea juga dilibatkan dalam pembuatan video klip. Termasuk mega bintang, Gianfranco Zola.

Berjudul `Blue Day`, lagu tersebut menggambarkan suasana hati saat hari pertandingan tiba. Suggs bertutur soal kegundahan saat beriringan berjalan di jalan Fulham bersama teman, menengguk bir dan menumpahkan makian, serta mengendapkan rasa pilu akan bayangan kekalahan.

Pada lagu ini tersalur doa Chelsea bisa lewati masa sulit. Sebagai suporter, mereka percaya saat segalanya dilakukan bersama-sama, impian juara pasti menjadi nyata.

Sebelum akhirnya tiba pada reff yang berisi yel, "Chelsea, Chelsea! (2x). We`re gonna make this a blue day (Kami akan membuat hari ini hari biru)".

Pada verse kedua, Suggs menyempatkan memberi apresiasi kepada pemain terbaik Chelsea di era 1960-an, Peter Osgood. Menyinggungnya dengan sapa, "Ossie dan kawan-kawan mengembalikan kejayaan kami..., Biarkan bendera biru tetap berkibar tinggi!".

Suggs mampu menciptakan lagu sepak bola tanpa mengajak klise ikut serta. Senandung pemberi motivasi yang banyak pihak lain dapat pula ikut nikmati.

Terbukti, Chelsea juara Piala FA 1996-97 setelah mengatasi Middlesbrough 2-0. Sementara lagu Blue Day bertengger sampai di posisi ke-22 tangga lagu Inggris tahun tersebut.

Selain Blue Day, lagu One Step Beyond juga acap kali diputar di Stadion Stamford Bridge. Khususnya dalam momen spesial, seperti pasca meraih kemenangan penting atau suksesnya upaya mengejar ketertinggalan.

Laga Chelsea di turnamen Eropa pun sering berhias melodi One Step Beyond untuk menaikkan adrenalin situasi. Ketika Chelsea juara Europa League 2013 di Amsterdam, tribun pendukung Chelsea bergoyang-goyang akibat hentakan kaki suporter yang berjingkrak.

Tidak heran, Stadion Stamford Bridge terkadang penuh bendera biru-putih bermotif papan catur sebagai salah satu ciri khas musik ska. Juga tidak aneh, musim lalu N`Golo Kante, dkk. sempat memakai seragam latihan berpola checkerboard.

Sebab Suggs bersama Madness melalui karya dan kisah-kisahnya, kadung menuntun Chelsea melakukan skanking penuh gaya.

Putar lagi saja lagu One Step Beyond kalau tidak percaya.

Komentar