Paris Saint-Germain Mempersatukan Kota Paris

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes Saerong

Adrianus Eduard Johanes Saerong

"Losing my religion to football"

Paris Saint-Germain Mempersatukan Kota Paris

Paris, entah dari mana kalian mengenal kota ini, selalu ada satu kata yang identik dengan mereka: Romantis. Potret yang direfleksikan dari film atau karya seni lain tidak pernah jauh dari romantisme Paris. Secara tidak langsung membuat Prancis dikenal sebagai negara yang romantis. Prancis adalah Paris. Sama seperti Indonesia adalah Bali untuk para pelancong.

Padahal, Parisien –penduduk asli Paris- memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebanyakan orang Prancis lain. Menurut Kevin D. Aslan, penulis serial novel ‘Encore’, Parisien dikenal lebih pintar, melek teknologi, dan sangat mempedulikan karier mereka. Itu membuat mereka terlihat sombong dan arogan di mata penduduk lain.

Sepakbola sebagai ‘olahraga rakyat’ tidak dipandang oleh kelas menengah dan kaum intelektual di Paris. “Jika kalian bertanya ke orang-orang di Paris, ‘Apa yang kalian dukung?’, mungkin mereka tidak akan bisa menjawab. Mungkin mereka tidak mengerti apa yang kalian maksud. Orang-orang Paris selalu tertutup dan tak terlalu peduli terhadap sepakbola mereka,” kata Darren Tulett, analis sepakbola beIN Sports. Bagi orang-orang Paris, mengakui dirinya sebagai pendukung kesebelasan lokal seakan-akan merendahkan derajat mereka.

Pada 2011, Qatar Sports Investment (QSI) datang mengubah segalanya. Menguasai Paris Saint-Germain (PSG), QSI membentuk citra klub sesuai dengan kelas orang-orang di Ibu kota Prancis tersebut.

PSG merekrut pemain-pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Neymar, dan Kylian Mbappe. Orang-orang Paris mulai merasa bangga dengan tim mereka. Apalagi ditambah dominasi Les Parisien di Prancis. Lebih dari itu semua, PSG mulai menarik massa dari luar dunia sepakbola. Bintang-bintang terkenal Hollywood, politisi, semua mulai tertarik dengan sepakbola dan PSG jadi tim pilihan mereka.

“Untuk para suporter, target utama PSG adalah menjuarai Liga Champions. Namun mereka membentuk PSG lebih dari sekedar klub sepakbola. Mereka ingin membentuk klub masa depan. Klub yang membuat bangga Kota Paris. Ketika Anda berpikir soal Paris, PSG akan ikut terbayang. Ketika Anda merasa Paris sebagai Kota yang keren, PSG juga sama seperti itu,” kata Paul Piquard dari So Foot Magazine.

“Mereka tidak mengundang mantan pemain ke pertandingan Liga Champions. Mereka mengundang orang-orang seperti Kyile Jenner, Jay-Z, Kanye West. Itu membuat PSG menjadi bagian dari mode. Tak sekedar sepakbola,” lanjut Piquard.

“Langkah-langkah yang diambil PSG itu membuat mereka mulai masuk ke pasar dunia. Merambah pasar yang sebelumnya mungkin dikuasai klub-klub tradisional Eropa. Tapi sekarang para penikmat sepakbola modern mungkin mereka [klub-klub tradisional Eropa] tidak serelevan PSG,” tambah Jonathan Johnson dari ESPN. PSG bahkan jadi klub sepakbola pertama yang bisa menjalin kerja sama dengan Air Jordan.

Meski begitu, beberapa pihak justru menganggap PSG merusak sepakbola secara umum dan Ligue 1 itu sendiri. Dana tidak terbatas yang digelontorkan QSI membuat PSG dilihat sebagai klub yang menjadi besar dengan cara instan. Hal ini membuat hilangnya persaingan yang seimbang dengan klub-klub lain di Ligue 1. PSG pun berhasil mendominasi Ligue 1 tanpa adanya perlawanan yang berarti dari klub-klub Perancis lainnya.

“PSG merusak sepakbola. Masalah dari tim seperti PSG dan Manchester City adalah sosok yang mengendalikan mereka. Mereka adalah klub yang disokong oleh negara. Itu merusak sepakbola Eropa. Kemampuan mereka membayar pemain dengan harga dan gaji tinggi juga memaksa klub lain melakukan hal yang sama,” tutur Presiden La Liga Javier Tebas.

Bahkan ada juga perdebatan yang mengatakan bahwa PSG merusak sepakbola Perancis. Hadirnya dana tak terbatas ke PSG membuat hilangnya persaingan seru di papan atas Ligue 1 Perancis. Hal ini membuat Ligue 1 akan sulit berkembang dan tidak memiliki daya tarik karena terlalu mudah untuk memprediksi siapa yang akan juara. Klub lain selain PSG hanya bisa memperebutkan posisi kedua dan seterusnya dalam papan klasemen Ligue 1.

Ligue 1 memang masuk ke dalam 5 liga terbesar di dunia. Namun, Rivaldo dan El Hadji Diouf berpendapat bahwa sulit bagi seorang pemain untuk menjadi pemain besar jika bermain di Ligue 1. “Tanpa mengurangi rasa hormat kepada PSG, Mbappe perlu bermain di Inggris atau Spanyol andaikan dirinya ingin selevel dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo,” kata Rivaldo.

“Hanya satu pemain dari Ligue 1 yang berhasil mendapatkan Ballon d’Or, Jean-Pierre Papin,” tambah Diouf. “Itu pun karena Marseille lolos ke final European Cup 1990/1991. Anda bisa menang Ballon d’Or meski kalah di final. Namun mustahil meraih penghargaan tersebut jika hanya mencapai 16 besar [pencapaian terbaik PSG di Liga Champions sejak 2016/2017],” lanjut mantan penyerang Liverpool tersebut.

Akan tetapi, memang begitu ciri khas Kota Paris. Pada 1947, seorang ahli geografi bernama Jean-François Gravier pernah menulis buku berjudul ‘Paris et Le Desert Francais’ atau ‘Paris dan Gurun di Prancis’. Buku itu bercerita bagaimana Paris memonopoli semua sumber daya manusia terbaik milik Prancis. Membuat kota tersebut jadi yang terbaik di segala bidang.

QSI tidak menggunakan PSG untuk merusak sepakbola ataupun nilai kompetitif Ligue 1. Mereka hanya menonjolkan nilai-nilai yang sudah diyakini oleh Parisiens. Mereka justru mempersatukan penduduk Kota Paris karena sepakbola tidak lagi dipandang sebelah mata oleh mereka merasa kaum menengah dan intelektual. Melihat PSG kedatangan Jay-Z, Beyonce, dan lain-lain, sepakbola menjadi sesuatu yang berkelas di mata mereka.

Hasilnya ikut mempengaruhi situasi di lapangan. Pada 8 November 2019, PSG melaporkan bahwa Parc des Princes berhasil terisi penuh dalam 60 pertandingan secara beruntun. Entah itu di Ligue 1, Coupe de France, Coupe de la Ligue, ataupun Liga Champions, tiket yang disediakan selalu terjual habis.

QSI dan PSG bisa saja dilihat sebagai kelompok yang merusak sepakbola. Namun, mereka juga dapat dilihat sebagai kelompok yang memperluas jaringan sepakbola. “Sepakbola dulu dipandang sebelah mata oleh kaum menengah dan intelektual di Paris. Tapi sekarang mereka senang dengan sepakbola. Ikut membela PSG dan memenuhi stadion,” kata Darren Tulett.

Komentar