Sang Burung Telah Terbang (Tinggi)

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Sang Burung Telah Terbang (Tinggi)

Kalau sudah jodoh tidak akan ke mana. Begitu kata bijaksana. Ikatan antara Liverpool dan sepakbola kembali terjalin erat di bawah kaki langit Madrid, kota tempat sepakbola menyebutnya sebagai rumah dalam tiga tahun terakhir.

Sepakbola itu rendah hati. Ia tidak pernah eksklusif. Ia adalah milik semua manusia di dunia; dari petinggi negara, penghuni penjara, hingga anak-anak di pengungsian.

Ia selalu bersedia membuka pintu kamarnya bagi siapapun yang ingin mencoba. Diajaknya mereka menghabiskan malam dengan sebotol anggur untuk menghangatkan perbincangan. Namun, sepakbola memiliki keadilannya sendiri.

Seiring waktu beranjak pergi, begitu juga sepakbola akan angkat kaki ketika pagi menghampiri. Hanya yang terbaik dari para terbaik yang mampu membuat sepakbola menetap; dalam dekapan erat dan tanpa ada yang berani menggugat.

Liverpool mengenal perasaan itu dengan begitu akrab. Bahkan dipertontonkan secara gamblang di The Champions Wall dan museum mereka. Pada suatu periode waktu (era 1970-an dan 80-an), Liverpool dan sepakbola adalah raja dan ratu dunia.

Liverpool pernah memiliki sepakbola, atau bisa juga dikatakan, sepakbola pernah memiliki Liverpool.

Sebagai sebuah permainan, sepakbola tidak bisa hidup sendiri. Selalu ada kehidupan di sekitarnya yang membuat bola berputar—menggelinding.

Peradaban memiliki saham besar dalam sepakbola. Lihatlah penggunaan teknologi garis gawang dan video assistant referee. Keduanya sama-sama berasal dari ketidakpuasan manusia (terutama penonton di rumah yang jelas-jelas memiliki privilese berupa teknologi tayangan ulang) terhadap ketidaksempurnaan manusia lain (wasit, yang tidak punya privilese serupa).

Pun sebaliknya, sepakbola turut berperan dalam membentuk peradaban, terutama terkait industri hiburan. Kota dan kesebelasan Liverpool tentu memiliki kisahnya sendiri.

Kota Pelabuhannya The Beatles

Sepakbola bukanlah satu-satunya kebanggaan kota Liverpool yang mengglobal. Sebelum kesebelasan Liverpool memperkenalkan diri kepada dunia, ada The Beatles yang membuat nama mereka melambung tinggi di tataran kota ternama terlebih dahulu. Siapa mengenal The Beatles, maka mereka juga mengenal Liverpool, yang nama bandar udaranya diambil dari nama sang vokalis, John Lennon.

Salah satu lagu paling populer yang pernah diciptakan oleh Lennon adalah "Norwegian Wood (This Bird Has Flown)"; lagu terbaik ke-12 The Beatles sepanjang masa menurut Rolling Stone. Lagu yang dirilis pada 3 Desember 1965 ini liriknya "hanya" bercerita tentang perselingkuhan Lennon, tetapi terasa begitu spesial oleh sebab petikan sitar George Harrison.

Suara sitar dalam "Norwegian Wood" diakui dunia sebagai "terobosan kreatif". Gitaris band legendaris Inggris lainnya The Rolling Stones, Brian Jones, memasukkan suara sitar ke dalam lagu hits "Paint It, Black" berkat kreativitas anak-anak The Beatles.

Ada makna penting lain yang terkandung di dalam penggunaan sitar ini: keberagaman. Liverpool merupakan kota yang dibangun dengan akar multikultural.

Komunitas orang-orang kulit hitam sudah terbentuk di Liverpool sejak pertengahan abad ke-18, yang tertua di Britania Raya. Bahkan, kawasan pecinan mereka merupakan yang tertua di seluruh penjuru Eropa (awal abad ke-19). Adapun komunitas orang India di Liverpool pertama kali terbentuk pada awal abad ke-20.

Pelabuhan merupakan alasan utama Liverpool menjadi kota multikultural. Kota ini pernah menjadi pusat pelabuhan dunia (terutama penjualan budak) pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Ekonomi mereka menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Baca juga: Dari Pelabuhan ke Pelabuhan

Sebagai gambaran kekuatan ekonomi Liverpool: banyak keluarga lokal Liverpool yang mampu membangun bank berkat jual-beli budak. Contohnya, bank bentukan keluarga Heywood, yang setelah melewati pelbagai proses perpindahan kepemilikan, berakhir sebagai bagian dari raksasa keuangan nasional dan sponsor utama Premier League, Barclays (berdasarkan arsip nasional Britania Raya dan BBC).

Miris. Pelabuhan juga yang membuat Kota Liverpool kolaps menjelang akhir abad ke-20, tepatnya setelah Pelabuhan Albert ditutup pada 1971. Resesi ekonomi dimulai.

Sejumlah pabrik susul-menyusul gulung tikar. Pengangguran berangsur meningkat, kemiskinan perlahan menyebar. Persebaran narkoba merajalela, begitu juga dengan tingkat kekerasan. Puncaknya adalah Kerusuhan Toxteth pada 1981.

"[Kota] Liverpool bertekuk lutut pada era 80-an karena tidak ada lapangan kerja, pelbagai demonstrasi, kerusuhan, dan lain-lain," ujar salah satu suporter The Reds, Paul Collins, kepada ESPN.

Collins adalah salah satu saksi mata keajaiban The Reds di era Bill Shankly dan Bob Paisley. Dia tahu betul bagaimana kesebelasan dan kota Liverpool dikorbankan oleh pemerintah Inggris.

Dalam sebuah dokumen resmi nasional yang dirilis pada 2011, diketahui Kota Liverpool hampir ditelantarkan selepas Kerusuhan Toxteth. Kanselir Sir Geoffrey Howe meminta Perdana Menteri Margaret Thatcher untuk membiarkan kota tersebut terbengkalai dengan cara membatasi subsidi.

"Kita [tentu] tidak ingin mencurahkan seluruh dana yang terbatas ini untuk Liverpool," tulis Howe dalam suratnya kepada Thatcher seperti yang dikutip The Telegraph.

Beberapa pihak menyangkal Thatcher tidak peduli terhadap Kota Liverpool, termasuk Profesor Jon Tonge asal University of Liverpool. "Nyonya Thatcher tidak mendukung proposal Tuan Howe," ujar dirinya.

Pun demikian, kondisi Kota Liverpool pasca Tragedi Toxteth sangatlah buruk. Anak-anak muda di usia produktif, yang mayoritas berasal dari keluarga kelas pekerja, paling terdampak. Mereka tidak memiliki pekerjaan, dan akhirnya menjadikan tribun stadion sebagai tempat melampiaskan kekesalan.

Meski bukan satu-satunya yang mempraktikkan hooliganisme (tengah mewabah di Inggris), suporter Liverpool tetap dicap sebagai salah satu biang onar terbuas. Mereka selalu cari ribut dengan suporter lawan, terutama saat bertandang. Toko-toko pakaian bermerek pasti habis dijarah (menjadi asal muasal sub-kultur kasual).

Puncaknya adalah Tragedi Heysel pada 29 Mei 1985. Sebanyak 39 penonton yang kebanyakan adalah suporter Juventus menjadi korban jiwa dan 600 orang menderita cedera. Berawal dari jiwa hooliganisme suporter Liverpool, berakhir dengan seluruh Inggris menanggung malu.

UEFA menjatuhkan sanksi. Seluruh klub Negeri Ratu Elizabeth tidak boleh berlaga di pentas Eropa selama lima tahun. Kesebelasan dan suporter Liverpool menjadi musuh bersama, terutama pemerintah Inggris.

"Karena Tragedi Heysel, kami tidak hanya [dilihat sebagai] kelas pekerja; kami adalah kelas pekerja yang bengis, buruk, dan hina," tutur Collins. "Lupakan The Beatles, lupakan para komedian, [kami] para Scouser (sebutan bagi penduduk Liverpool) adalah masyarakat hina sekarang."

Thatcher menunjukkan `tangan besinya`. Hanya suporter yang memiliki kartu identitas yang boleh masuk ke dalam stadion. Sebuah kebijakan yang memicu pergolakan hebat kesebelasan-kesebelasan Inggris karena membuat pemasukan utama kesebelasan terhambat.

Adapun suporter Liverpool merasa semakin terasing di antara keluarga besar sepakbola Inggris. Mereka merasa dianaktirikan oleh Thatcher. Maka, tercetus frasa: Scouse not English (Scouse, bukan Inggris).

"Kami sering pergi ke Stadion Wembley untuk final kejuaraan pada pertengahan 80-an. Mereka memainkan `God Save The Queen`. Kami terbiasa menyanyikan `You`ll Never Walk Alone` ketika lagu kebangsaan. Saya ingat komentator sering mengatakan dalam siaran langsung `para suporter Liverpool ini sungguh memalukan` selama bertahun-tahun karena [dianggap] tidak menghormati ratu," kenang Collins. "Tetapi Dia hidup di istana emasnya dan banyak orang kesulitan untuk hidup sehari-hari di Liverpool."

Tidak pernah diketahui pasti apakah Thatcher beserta kabinetnya benar-benar membenci Liverpool atau tidak. Yang jelas, Liverpool ditumbalkan oleh Thatcher melalui Tragedi Hillsborough pada 15 April 1989.

Sebelum akhirnya terkuak adanya penutupan fakta terkait penyebab insiden pada 2012, yang disalahkan Thatcher adalah suporter Liverpool sendiri. Pemerintah Inggris memanfaatkan stigma terkait suporter The Reds yang liar dan beringas. Seakan-akan, mereka memang pantas mati. Sebanyak 96 nyawa menjadi harga `penebusan dosa`.

Tragedi Hillsborough digunakan Thatcher untuk merevolusi sepakbola Inggris. Seluruh sistem pengamanan wajib ditingkatkan. Pagar-pagar pembatas dirobohkan dan stadion harus all-seater.

Setelah sepakbola berubah menjadi tontonan ramah di televisi, tibalah saatnya untuk diindustrialisasi. Sepakbola Inggris yang dahulu lahan tandus mulai dilihat sebagai pasar potensial untuk digarap.

Penantian Premier League dan Petualangan Eropa

Pada 1992, Premier League lahir dan dunia tidak pernah lagi melihat tayangan sepakbola seperti sebelumnya, begitu juga dengan relasi Liverpool dan sepakbola; tidak pernah sama.

Liverpool pernah memiliki sepakbola, atau bisa juga dikatakan, sepakbola pernah memiliki Liverpool.

Meski hubungan di antara keduanya rumit, sebenarnya ada pertanda bahwa sepakbola selalu menaruh hati. Buktinya, ia sering mengajak Liverpool bermalam di kediaman, baik yang di Inggris maupun di Eropa.

Pada 2005, mereka bahkan pernah memadu kasih pada suatu hujan menjelang bulan Juni. Langit Istanbul yang menjadi saksi. Dunia pun setuju. Itu adalah salah satu kisah paling romantis sepanjang sejarah.

Permasalahannya, Liverpool era Premier League bukanlah Liverpool yang dahulu. Sepakbola enggan kembali berjanji setia. Ada banyak kesebelasan yang jauh lebih perkasa, yang membuat sepakbola dimabuk asmara.

Liverpool tahu. Butuh kesabaran dan kerja keras agar sepakbola mau kembali ke pelukan. Sepakbola, meski terbuka bagi semua, tidaklah murahan.

Banyak yang bisa menghambur-hamburkan uang, tetapi hanya segelintir yang menggunakannya secara dewasa dan bijaksana. Walau memberi keuntungan, terkadang membeli banyak hal mewah pun tidak berguna kalau ternyata tidak bermanfaat menurut sepakbola.

Sepakbola hanya bisa dimenangkan melalui permainan yang sesuai dengan keinginannya. Terkadang bisa yang atraktif, bisa juga yang pragmatis. Hanya mereka yang pintar membaca situasi yang mampu memenangkan hatinya.

Maka, ketika kesempatan kembali datang di pengujung Mei 2019, Liverpool tentu tidak ingin menyia-nyiakan. Masih terbayang jelas dalam ingatan tentang euforia yang membubung tinggi pada Mei setahun sebelumnya di Kyiv, hanya untuk luluh lantak di tangan Loris Karius.

Pada akhirnya, sepakbola luluh juga. Ia lebih memilih pinangan Liverpool ketimbang Tottenham Hotspur yang menawarkan kemewahan di London Utara.

Jika ada sosok yang paling pantas berbahagia, maka dia adalah Jürgen Klopp. Dia telah enam kali begitu dekat dengan garis finis sejak 2012, tetapi semuanya berakhir dengan kekecewaan.

Pun demikian, cintanya terhadap sepakbola tidak pernah berubah sejak masih tinggal di Black Village di Glaten. Dia mencintai sepakbola yang membuatnya "berlari, menendang bola, dan kotor" bersama teman-temannya. Semangat kebersamaan itu menjadikan sepakbola sebagai candu.

Menjelang malam di Madrid kali ini, pria asal Jerman itu memastikan bahwa tidak ada cela lagi untuk sepakbola pergi pada pagi hari.

"Saya ingat ketika berdiri di antrean memasuki penerbangan di Kyiv, mengenakan tracksuits, kepala menunduk, menuju check-in, dan saya berpikir: saya ingin kembali," kata Klopp kepada The Independent. "Saya ingin melakukannya lagi. Saya tidak berpikir bahwa kami akan memiliki kesempatan ini begitu cepat ketika itu. Namun kami sekarang memilikinya."

Klopp selalu memegang filosofi permainan menyerang dan menghibur sepanjang kariernya sebagai manajer. Baginya, sepakbola bukan hanya tentang gelar juara. Harus ada banyak momen menarik untuk dibagi oleh para pemain, staf, dan fans dalam perjalanannya setiap tahun.

Namun, Klopp yang ada di pinggir lapangan Stadion Wanda Metropolitano pada Sabtu (1/6) malam (Minggu dini hari WIB) bukanlah Klopp yang sama seperti tahun-tahun lalu. Dia membuang filosofinya demi berada satu langkah di depan Spurs. Dia memahami keinginan sepakbola.

Kuartet bek Andy Robertson, Virgil van Dijk, Joel Matip, dan Trent Alexander-Arnold bermain ekstra rapat ketika bertahan. Hal ini membuat kotak penalti Liverpool terlalu padat untuk ditembus operan-operan pendek dan cepat khas skuat asuhan manajer Mauricio Pochettino.

Baca juga: Liverpool Unggul Kualitas Pemain Belakang

Winger Mohamed Salah dan Sadio Mané tak jarang terlihat turun hingga ke dekat kotak penalti sendiri ketika Tottenham menguasai bola di separuh lapangan Liverpool. Hal ini untuk mengisi kekosongan Robertson dan Alexander-Arnold.

Sementara, Jordan Henderson berperan sebagai libero. Sang skipper kerap berada di dekat Van Dijk dan Matip.

Berkat taktik ini, Liverpool keluar sebagai kesebelasan pertama yang menjuarai Liga Champions meski penguasaan bola mereka (35,4%) lebih sedikit daripada lawan sejak Internazionale Milan-nya José Mourinho pada 2010. Tak salah jika mengatakan bahwa Klopp belajar dari kesalahan Ajax Amsterdam, yang menurut Mourinho disingkirkan Tottenham pada babak semifinal karena terlalu patuh pada filosofinya; menyerang dan menghibur.

"Pandit Komputer" di Balik Kesuksesan Liverpool

Klopp patut berterima kasih kepada para pemainnya. Secara umum, penampilan individu skuat Liverpool memenangi pertandingan. Mereka sangat jarang membuat kesalahan fatal. Berbanding terbalik dengan Spurs. Dua gol yang bersarang di gawang mereka berawal dari kesalahan antisipasi.

Seperti yang dikatakan oleh Klopp, sepakbola adalah "contoh terbaik [orang-orang] dari kultur berbeda bekerja sama", baik di dalam maupun di luar lapangan. Dia tidak meracik tim ini sendiri. Ada banyak sosok penting yang turut bekerja di belakang layar.

"Departemen yang berada di balik gedung? Merekalah alasan saya [masih] berada di sini," kata Klopp.

Patut dicermati bahwa, dalam susunan stater, hanya Henderson yang telah berada di Liverpool sebelum Klopp datang ke klub pada 2015. Alexander-Arnold yang berasal dari akademi pun baru menjalani debut di bawah kepemimpinannya.

Maka, perkenalkan Michael Edwards. Seorang sarjana manajemen bisnis dan informatika yang membantu Klopp menciptakan tim juara.

Menariknya, pria berusia 39 tahun tersebut pernah bekerja bersama Harry Redknapp di Tottenham. Keduanya memang saling mengenal semasa Redknapp menangani Portsmouth pada 2003. Lebih menarik lagi, adalah mantan direktur olahraga Tottenham Damien Comolli yang merekrut Edwards ke Liverpool pada 2011.

Ketika John Henry dan Fenway Sports Group-nya mengambil alih kepemilikan kesebelasan pada 2010, merevolusi manajemen dan perekrutan pemain menjadi prioritas. Comolli ditunjuk untuk merealisasikannya melalui kebijakan bernama `Moneyball`, sebuah proses perekrutan pemain berdasarkan analisis kemampuan, nilai pasar, dan kebutuhan tim; sebuah investasi.

Setiap pemain anyar hanya bisa tiba di Melwood jika: (1) disetujui manajer, (2) disetujui jajaran direksi, dan (3) memenuhi potensi investasi yang telah dianalisis.

"Saya bertanya ke orang-orang yang bekerja di Premier League, penyedia data, perusahaan semacam itu," ucap Comolli kepada The Independent. "Nama yang selalu muncul adalah Michael Edwards."

Karier Edwards di Liverpool terus meningkat sejak kepergian Comolli pada 2012. Mulai dari promosi ke direktur performa teknik, lalu menjadi direktur teknik, dan terakhir direktur olahraga pada 2016 hingga sekarang.

Edwards membuktikan kegeniusannya. Salah satu yang paling menonjol dari sisi investasi adalah Mohamed Salah. Dia direkrut dari AS Roma hanya dengan harga 37,5 juta paun (97,5 juta paun lebih murah dibandingkan harga pasarnya terkini menurut Transfermarkt).

Lihat pula Andrew Robertson (8 juta paun dari Hull City). Bahkan, Matip didapatkan tanpa mengeluarkan sepeser uang.

Kualitas lain Edwards adalah proses negosiasi. Barcelona sampai rela menandatangani kesepakatan membayar 100 juta paun jika mendekati pemain Liverpool lain sebelum 2020 demi mendapatkan Philippe Coutinho dengan harga 142 juta paun (lihat siapa yang tersenyum lebar sekarang).

Dia mengizinkan Naby Keïta yang membela RB Leipzig pada musim 2017/18, dengan jaminan jasa sang gelandang sudah dalam di genggaman per musim panas 2018. Dia bergerak satu tahun lebih cepat ketimbang kesebelasan lain.

Edwards juga tak sungkan mengeluarkan banyak uang jika memang dibutuhkan. Alisson Becker menjadi bukti teranyar. Harga sebesar 56 juta paun terasa murah jika melihat penyelamatan-penyelamatan krusialnya dalam final Liga Champions (juga sepanjang Premier League musim 2018/19). Lalu, masih perlu kah kita berbicara tentang Van Dijk?

"Mereka membayar 142 juta paun untuk Van Dijk dan Alisson. Orang-orang mengatakan mereka kemahalan, tetapi bagaimana jika mereka memenangi Liga Champions? Tidak ada yang akan mengatakan mereka kemahalan. Inilah prinsip Moneyball," kata Comolli.

Perjuangan pendekatan data dan statistik ini memang penuh halangan pada saat itu. Reaksi orang-orang hampir seragam; mereka dilecehkan. "`Laptop guys`, `Gak mengerti permainan`, Anda akan mendengarnya sampai beberapa bulan yang lalu," kata Barry Hunter, yang menjalankan departemen pemantauan bakat di Liverpool. "`Moneyball` banyak dilemparkan pada kita."

Istilah pandit yang hanya pintar di depan laptop atau komputer memang marak disematkan kepada para analis sepakbola, termasuk di Liverpool juga. Namun cara ini terus dijalankan secara konsisten. Nama penting lain yang dibawa Comolli dari Tottenham adalah Ian Graham. Seorang doktor teori fisika lulusan Universitas Cambridge yang ahli dalam menganalisis kemampuan pemain.

Baca juga: Apakah Statistik Selalu Bisa Dipercaya?

Graham tiba di Melwood hanya tiga pekan setelah Klopp resmi menjabat sebagai manajer. Dia membawa berkas berisi statistik pertandingan ketika Klopp masih menangani Borussia Dortmund.

Itu adalah pertandingan antara Dortmund dengan Mainz pada musim 2014/15. Dortmund mendominasi pertandingan dengan 19 peluang berbanding 10, menguasai bola hampir sepanjang 60 menit. Namun, pada akhirnya, Dortmund kalah 0-2.

Berkas lain yang dibawa oleh Graham adalah laga melawan Hannover. Dortmund lebih mendominasi ketimbang laga melawan Mainz dengan 18 tendangan berbanding tujuh, 55 operan ke kotak penalti lawan berbanding 13. Hasil akhirnya tetap sama: Dortmund kalah, 0-1.

"Apakah Anda menyaksikan pertandingan itu? Kami menghabisi (mendominasi) mereka. Saya tidak pernah melihat yang seperti itu. Kami seharusnya menang. Ah, Anda pasti menyaksikannya," ujar Klopp kepada Graham seperti yang dikutip The New York Times Magazine.

Graham, sama seperti Klopp, meyakini Dortmund pada musim tersebut (finis di peringkat ketujuh klasemen Bundesliga) adalah salah satu bukti bahwa ketidakberuntungan memang ada dalam sepakbola. Perbedaan antara keduanya: Klopp menyaksikan langsung pertandingan dari pinggir lapangan, Graham tidak sama sekali.

Pria kelahiran Cardiff yang telah menjadi suporter Liverpool sejak kecil itu baru menyadari tidak ingin menjadi peneliti justru ketika tengah belajar di Cambridge. Adapun kemampuannya diterjemahkan ke dalam kalkulasi untuk menganalisa kemampuan pemain yang diciptakannya sendiri.

Dia membuat sebuah model algoritma yang mampu menghitung peluang yang didapatkan sebuah tim sebelum terjadi operan, tendangan gagal, atau juga tekel. Kemudian, dia melihat peluang apa yang mampu didapatkan dari setiap aksi tersebut. Dengan model ini, dia mampu memperkirakan peran setiap pemain dalam membantu timnya meraih kemenangan.

Graham bekerja dengan Edwards dalam urusan transfer. Salah satu pemain yang direkomendasikannya adalah Keïta. Atas alasan ini juga Edwards bersedia menunggu selama satu tahun sebelum gelandang asal Guinea-Bissau itu berlabuh di Anfield.

Nama lain yang diajukan adalah Graham adalah Salah. Perhitungan Graham menunjukkan bahwa Salah sebenarnya tidak gagal di Chelsea, melainkan tidak cocok dengan sistem permainan tim.

Data penelitian Graham menunjukkan bahwa Salah dapat mengeluarkan kemampuan terbaik jika dipasangkan dengan pemain bertipe seperti Roberto Firmino. Ketika itu, Firmino adalah pemain yang menciptakan expected goals terbanyak di posisinya. Salah pun direkrut, dan sisanya adalah sejarah.

Graham dan Edwards adalah peninggalan berharga Comolli di Liverpool. Dia tahu, perpaduan kedua orang tersebut bisa membawa klub manapun ke level berbeda, dari sisi investasi (finansial) dan permainan (prestasi). Pendekatan dan peninggalan yang sama juga tetap dipegang Tottenham hingga kini.

***

"Jika Anda adalah FC Bayern, Real Madrid, Manchester United, atau Juventus, Anda memiliki seluruh uang di dunia dan Anda berpikir uang bisa membeli kesuksesan. Spurs dan Liverpool memiliki pendekatan yang sedikit berbeda," tutur Comolli. "Mereka memiliki uang yang lebih sedikit ketimbang yang lain, jadi mereka harus berpikir dengan cara berbeda. Inilah alasan kultur, nilai, serta memiliki orang-orang yang tepat di tempat yang tepat memainkan peran masif."

Liverpool kini telah terbang tinggi di langit Eropa, meninggalkan banyak kesebelasan ternama lain. Mereka membawa sepakbola ke level baru berkat perpaduan kegeniusan manajemen dan data, tanpa perlu menanggalkan etos, nilai, dan prinsip yang menjadi identitas kesebelasan.

Liverpool membuktikan bahwa sepakbola akan jatuh dalam pelukan dengan persiapan matang. Berkat kerja keras dan kesabaran, mereka bisa melihat dengan jelas proyeksi selama beberapa tahun mendatang. Sementara, kesebelasan lain masih sulit sadar dari masa keemasan yang ternyata sangat memabukkan.

Liverpool memiliki sepakbola, atau bisa juga dikatakan, sepakbola memiliki Liverpool.

Komentar