Kemenangan di Baku adalah Milik Sarri

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Kemenangan di Baku adalah Milik Sarri

Semua pelatih bisa membawa kesebelasannya memenangi pertandingan. Lain urusan kalau bicara gelar juara. Setelah menanti selama 20 tahun, mimpi Maurizio Sarri tercapai.

Trofi Liga Europa UEFA masih digilir oleh para pemain Chelsea di tengah Baku Olympic Stadium, sementara Sarri menyendiri di belakang keramaian. Kepalanya tertunduk, memandangi sebuah medali.

Mata Sarri berbicara tentang kelegaan, tentang keberanian dan perjuangan yang berbuah keabadian. Medali itu lebih bernilai dibanding seluruh nominal yang pernah dilihatnya semasa bekerja sebagai bankir di Firenze.

Sarriball Lahir dari `Dunia Perbankan`

Sarri lahir pada 10 Januari 1959. Dia memang punya latar belakang yang terbilang unik ketimbang pelatih-pelatih lain. Dia tidak pernah bermain secara profesional. Dia hanyalah seorang penggemar sepakbola yang menyempatkan diri bermain di sela-sela kesibukan kantor.

Kecintaan Sarri tidak pernah pudar seiring bertambah usia. Ketika fisik tidak mendukung lagi, adalah kepintarannya yang dicurahkan. Dia belajar menjadi pelatih pada 1990.

Anak dari mantan pebalap sepeda profesional Italia, Amerigo Sarri, itu memutuskan terjun penuh ke pinggir lapangan 12 tahun kemudian. Ditanggalkannya jas dan dasi, diganti dengan jaket dan celana olahraga.

"Saya akhirnya putuskan (bahwa) saya perlu fokus penuh melatih jika saya ingin meraih hasil. Saya berdeterminasi untuk hidup dari kecintaan saya terhadap sepakbola," tutur Sarri seperti yang dikutip These Football Times.

Sarri "Si Pelatih" langsung membawa Sansovino juara Serie D (divisi keenam sepakbola Italia) pada 2003. Kemudian, dia membantu Sangiovannese promosi ke Serie C1 semusim setelahnya. Keberhasilan itu membuat dia dipercaya menangani kesebelasan Serie B pertamanya, Pescara, pada 2005.

Meski demikian, kisah Sarri tidak semulus Cinderella. Dia harus bersusah payah menyelamatkan Pescara dari degradasi, sebelum akhirnya mundur pada pengujung musim dan menggantikan Antonio Conte di Arezzo per November 2006.

Sarri hanya mampu bertahan selama empat bulan di Arezzo, yang kembali menunjuk Conte sebagai pelatih. Kariernya pun stagnan selama lima tahun kemudian. Dia bahkan sempat `turun level` ke Serie C1 (melatih Hellas Verona, Perugia, dan Alessandria).

Baru pada 2012, peruntungan mulai berpihak pada Sarri. Dia kembali ke Serie B sebagai Pelatih Empoli.

Empoli menjelma menjadi kesebelasan yang ditakuti di tangan Sarri. Mereka langsung finis di peringkat keempat klasemen akhir. Padahal, mereka hampir terdegradasi ke Serie C1 di musim sebelumnya (memenangi play-off melawan Vicenza). Pada musim 2013/14, tiket promosi ke Serie A jatuh dalam genggaman.

Salah satu kunci sukses Sarri adalah kejeliannya dalam memilih dan mengembangkan pemain. Lebih tepatnya, dia merawat mereka.

"Di Empoli, para pemain muda bertumbuh berkat kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan," ucap sang allenatore. Daniele Rugani dan Riccardo Saponara adalah dua contoh nama yang berkembang pesat berkat tangan dinginnya.

Kemampuan Sarri membimbing pemain bukan keberuntungan semata. Dia menggunakan drone untuk memantau dan menganalisis kemampuan para pemain Empoli secara detail dalam sesi latihan.

Teknologi dan statistik memang bukan hal asing bagi Sarri. Dia telah menggelutinya sejak masih bekerja di bank. Hal itu turut diterapkan ketika menjadi pelatih, bahkan sejak menangani Pescara.

"Saya menyiapkan sebuah program yang mampu menyimpan data para pemain, hasil tes, dan perbandingan. Saya mempelajari evolusi (perkembangan) setiap pemain," ujar dirinya dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport, 14 tahun silam.

Teknologi memegang peran penting dalam metode kepelatihan Sarri. Sejak lama, dia memiliki idenya sendiri tentang cara bermain sepakbola. Sebuah sepakbola menyerang berbasis kekompakkan. Sebuah permainan atraktif dalam keteraturan; Sarriball.

Sarri tidak pernah suka melihat kesebelasan yang lebih banyak mengoper ke belakang dan ke samping. Dia menuntut para pemainnya untuk mampu menaikkan bola dalam zona kecil secara bertahap. Kemampuan mengoper dalam tekanan dan mencari ruang kosong menjadi hal penting.

Permasalahannya, memilih pemain yang tepat menjadi tantangan tersendiri ketika menangani kesebelasan dengan kekuatan finansial terbatas. Sarriball tidak bisa diterjemahkan di atas lapangan jika para pemain tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan.

Di sinilah perpaduan teknologi dan karakter Sarri sebagai pekerja keras menjadi selaras.

"Saya bekerja dari pukul 8 pagi hingga 10 malam, setiap hari. Saya masih punya kemampuan untuk mengatur waktu dan rasionalitas dari [menjadi] bankir," Sarri menjelaskan. "Kami harus melakukan [persiapan] dalam waktu singkat, tetapi kami mampu mencari pemain yang dibutuhkan."

Kegeniusan Sarri, yang diakui langsung oleh pelatih legendaris Arrigo Sacchi, akhirnya tercium oleh presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis. Dia pun resmi menangani tim asal kota kelahirannya pada 2015.

Pahlawan di Kampung Halaman

Tidak semua orang setuju dengan De Laurentiis. "Sarri adalah orang baik, tetapi dia tidak pantas [melatih] Napoli," ujar legenda klub, Diego Maradona.

Sarri memang bukan figur besar. Namanya kalah tenar dibanding para pendahulunya, Rafael Benítez dan Walter Mazzarri. Banyak yang mengira bahwa De Laurentiis menunjuk Sarri karena tidak ingin mengeluarkan banyak uang. Dia adalah pelatih dengan gaji terendah di Serie A ketika itu.

Di tengah badai kontroversi yang mengelilingi, Sarri menunjukkan kualitas terbaiknya: kerendahan hati.

"Marah (karena dibayar murah)? Jangan bercanda. Mereka membayar saya untuk pekerjaan yang saya lakukan tanpa bayaran setelah bekerja. Saya beruntung," kata Sarri. "Jika tahun depan saya harus memulai kembali dari papan bawah Serie A atau bahkan Serie B, saya akan tetap senang."

Kita tentu sama-sama tahu. Sarri tidak mengawali musim berikutnya sebagai pelatih kesebelasan papan bawah (apalagi di divisi kedua). Dia membawa Napoli menjadi runner-up pada musim perdanannya.

Sarri selalu berbicara lebih banyak melalui pekerjaannya di atas lapangan. Berkat pengalaman menangani kesebelasan dengan keuangan minim, dia terbiasa `menciptakan` pemain. Hal itu pula yang dilakukan memasuki musim kedua.

Penyerang andalan Gonzalo Higuaín (yang mencetak 40% gol Napoli di musim 2015/16) hengkang ke Juventus. Penggantinya, Arkadiusz Milik, menderita cedera parah dan harus absen panjang.

Sarri tidak kehilangan akal. Dia mengubah peran winger Dries Mertens menjadi false nine. Sebuah langkah cerdik yang tidak pernah terbayangkan oleh publik San Paolo.

Pria berkaca mata itu memang tak mempersembahkan trofi selama tiga musim di sana. Bagaimanapun, seluruh warga Naples sepakat dia berhasil membawa Napoli ke level permainan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sarri adalah seorang petualang tulen. Tidak pernah takut tantangan. "Bagi saya, sungguh memuaskan bisa memiliki karier panjang yang dimulai dari bawah. Ini mencerdaskan, terutama karena setiap tingkat membuat Anda belajar lebih banyak hal dan bertumbuh."

Berbekal permintaan maaf dari Maradona yang akhirnya mengakui kualitasnya, dia hijrah ke London pada musim panas 2018.

Mimpi yang Terwujud

Chelsea berada di tingkat berbeda ketimbang kesebelasan-kesebelasan yang pernah ditangani Sarri sebelumnya. Ini adalah klub elite yang penuh dengan tuntutan.

Chelsea bukan kesebelasan sekelas Real Madrid atau Barcelona. Dibandingkan Liverpool atau Manchester United saja, jumlah gelar mereka masih kalah jauh. Namun, tekanannya bisa lebih gila.

Belum pernah ada pelatih yang bertahan lebih dari 16 bulan di Stamford Bridge jika tak menjuarai liga sejak Claudio Ranieri. Lima bungkus rokok sehari, seperti yang diceritakan Mertens, nampaknya tidak akan cukup bagi Sarri.

Ada metode tersendiri untuk memahami kaliber Chelsea. Pertama, sepakati bahwa sepakbola (lebih tepatnya, olahraga) adalah bisnis yang rumit. Tolak ukur kesuksesan lebih ditentukan trofi ketimbang profit.

Sejak Roman Abramovich mengambil alih kepemilikan kesebelasan pada 2003, mereka telah meraih 15 trofi (hingga awal musim 2018/19). Hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka berada di antara golongan kesebelasan sukses.

Kedua, melahirkan filosofi permainan legendaris, seperti total football, tiki-taka, atau catenaccio hanyalah nilai tambah. Semua akhirnya ditentukan oleh keberhasilan meraih piala.

Faktor kedua ini yang sepertinya ingin diciptakan The Blues dengan menunjuk Sarri. Setidaknya, itulah yang awalnya dipikirkan orang-orang.

Masalahnya, saat Sarri ditunjuk sebagai pelatih, dia masih Sarri yang belum pernah memberikan gelar juara untuk kesebelasan yang dia latih selama lebih dari 20 tahun. Jadi, Chelsea pasti menunjuk Sarri karena alasan filosofi permainannya, bukan karena prestasinya. Pemahaman itu seharusnya membuat orang-orang yakin kalau Sarri tak akan dipecat dalam waktu singkat karena dia butuh proses panjang.

Chelsea ternyata tetaplah Chelsea. Kesebelasan London yang pendek sabar. Isu demi isu menghantam tanpa henti seiring performa tim yang naik-turun. Sarri diklaim kehilangan kuasa dalam ruang ganti pada pertengahan musim, terutama setelah kiper Kepa Arrizabalaga menolak diganti pada final Piala Liga Inggris (Carabao Cup).

Menjelang final Liga Europa pun suasana tak lebih kondusif. Kapten Gary Cahill mengungkapkan kekesalannya terhadap sang pelatih secara terbuka. David Luiz dan Higuaín bersitegang dalam sesi latihan.

Beruntung, Sarri tetaplah Sarri. Dia berbicara lantang melalui permainan kesebelasannya di atas lapangan. Arsenal luluh lantak oleh sebab Sarriball.

Maka rasanya wajar, pada gilirannya mengangkat trofi, keriangan tak terperi mewarnai wajah Sarri. Kerja keras dan pengorbanannya terbayar lunas.

Tidak akan ada yang mampu merenggut kebahagiaan itu dari Sarri. Tidak kritik dari fans Chelsea sendiri, tidak juga surat pemecatan.

Kemenangan di Baku adalah milik Sarri. Bukan Chelsea.

Komentar