Terpeleset

Cerita

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Terpeleset

Pertandingan antara Liverpool melawan Chelsea di Anfield pada Bulan April, di saat Liverpool sedang di atas angin untuk menjadi juara Liga Primer Inggris, bersaing dengan Manchester City.

Kebetulan sekalitiga kali situasi ini terjadi pada 2014 dan 2019. Sayangnya hanya ada satu momen yang menghantui para pendukung Liverpool jika mengingat situasi yang seolah déjà vu ini: Steven Gerrard terpeleset.

Mundur sejenak ke 13 April 2014, Liverpool bertanding melawan Manchester City di Anfield. Setelah itu Liverpool dijadwalkan bertandingan melawan Norwich City (tandang), Chelsea (kandang), Crystal Palace (tandang), dan Newcastle United (kandang).

Pada pertandingan tersebut The Reds berhasil menang 3-2 atas Man City. Itu bukan hanya menjadi pertandingan dan kemenangan yang luar biasa bagi The Reds, melainkan juga membuat Liverpool berada sangat dekat dengan trofi Premier League setelah 24 tahun terpisah.

Saat waktu penuh, Gerrard—sang Kapten Liverpool—menangis terharu. Dia kemudian dikerubungi rekan-rekan satu kesebelasannya, dan memberi pidato penyemangat: “Hey! This does not fucking slip now! Listen! This does not fucking slip.” Atau dalam bahasa Indonesia: “Hey! [Gelar Premier League] ini tak akan terpeleset sekarang! Dengar! Ini tak akan terpeleset,” meski “slip” di sini lebih pas diartikan “lepas dari genggaman”.

Sangat menarik mendengar kata yang dipilih oleh Gerrard pada pidato agung tersebut. Sebuah kata sakti: “terpeleset”.

Liverpool Terlalu Jemawa Menghadapi Tim Pelapis Chelsea

Pada buku otobiografinya, My Story, Gerrard mempersembahkan kejadian terpelesetnya Liverpool untuk menjadi juara Liga Primer 2013/14 dalam satu bab khusus yang dia beri judul “The Slip” (“Terpeleset” dalam otobiografi terjemahan berbahasa Indonesia).

Setelah pidato mengharukan itu—yang pastinya membuat hati para pendukung Liverpool bergetar—Liverpool menang mendebarkan dengan skor 3-2 melawan Norwich di Carrow Road. Pertandingan selanjutnya mempertemukan mereka dengan Chelsea pada 27 April 2014. Ini bukan pertandingan biasa, karena Liverpool bisa memastikan gelar juara jika mereka berhasil menang.

Pada saat itu Liverpool dan Chelsea dipisahkan dengan jarak lima poin, sementara Man City berada di belakangnya dengan selisih enam poin dari Liverpool. Bedanya, Man City masih menyimpan satu tabungan pertandingan (bertandang ke Everton) dan juga memiliki selisih gol yang superior.

Kalau mau main aman, sebenarnya kesebelasan yang saat itu diasuh Brendan Rodgers tersebut tak perlu menang melawan Chelsea. Mereka cukup bermain imbang saja untuk menjaga peluang juara di sisa dua pertandingan berikutnya. Apalagi Liverpool juga seperti didukung situasi lainnya, karena sepanjang pekan itu José Mourinho—Manajer Chelsea saat itu—sedang uring-uringan.

Chelsea dijadwalkan bermain di Anfield hanya tiga hari sebelum leg kedua semifinal Liga Champions UEFA melawan Atlético Madrid (mereka bermain imbang tanpa gol di leg pertama di Madrid, dan akhirnya juga gagal melaju ke final). FA seharusnya bisa mendukung keterlibatan kesebelasan Inggris di Eropa dengan menggeser jadwal pertandingan Liverpool vs Chelsea, tapi FA tak melakukannya.

Mourinho mengancam akan menurunkan tim lemah sebagai bentuk protes. “Aku menerima dengan senang hati jika Chelsea menurunkan tim pelapis saat melawan kami,” kata Gerrard, yang sebenarnya cedera bahu sebelum pertandingan itu dan dipaksa tampil dengan banyak injeksi.

“Kami tak akan ikut ambil bagian. Kami tak akan menjadi kesebelasan yang mendorong Liverpool menjadi juara,” kata Mourinho, dikutip dari The Independent. Mark Schwarzer yang saat itu menjadi penjaga gawang pelapis Chelsea, menambahkan: “Jalan ke stadion [Anfield] atmosfernya seperti karnaval.”

“Mereka ingin kita (Chelsea) menjadi badut di sirkus ini. Sirkusnya memang di sini: Liverpool akan menjadi juara [jika menang],” kata Mourinho pada pertemuan tim jelang pertandingan tersebut. “Tapi kita tak akan menjadi badut.”


Simak cerita dan sketsa adegan Rochi Putiray tentang cara menendang penalti menggunakan teknik Panenka:


Sayangnya melihat susunan sebelas pemain yang diturunkan Chelsea, terlihat di atas kertas jika mereka memang tidak serius. Mourinho menyimpan jagoan-jagoannya seperti Eden Hazard, John Terry, Willian, Ramires, David Luiz, Gary Cahill, dan Fernando Torres, sang mantan.

Chelsea menurunkan Schwarzer, Demba Ba, André Schürrle, Mohamed Salah (saat itu belum hot), dan yang paling mengejutkan adalah Tomáš Kalas sebagai bek tengah. Pemain Republik Ceko berusia 20 tahun itu sebelumnya tak pernah bermain satu menit pun di liga musim itu. Tiba-tiba dia langsung menjadi starter, melawan Liverpool pula.

Malam sebelum pertandingan itu, Kalas bahkan sempat bercanda kepada stasiun televisi Ceko: “Aku hanya pemain untuk sesi latihan. Jika mereka butuh cone, mereka akan memasangku di sana.”

Dengan 11 pertandingan sebelumnya Liverpool selalu menang, pertandingan melawan “Chelsea reserve” di Anfield sepertinya akan berakhir menggembirakan. Liverpool sedang dalam tingkat rasa percaya diri yang tinggi. Terlalu tinggi malah.

“Aku mencemaskan rencana kami melawan Chelsea. Aku tak pernah bisa mengatakan ini sebelumnya di muka umum, tapi aku sangat khawatir kesebelasan kami berpikir mampu mengalahkan Chelsea,” kata Gerrard di bukunya. “Aku mengendus sikap jemawa dalam rapat kesebelasan bersama Brendan [Rodgers].”

Setelah dipikir-pikir, mungkin Mourinho sengaja menurunkan para pemain pelapis. Itu bagian dari kecerdikan taktiknya. “Ada banyak hal yang harus kami buktikan dan balikkan. José membuat kami percaya kami bisa,” kata Schwarzer.

Taktik Mourinho Mengulur Waktu

Chelsea memulai pertandingan dengan negatif. “Aku ingat, untuk tendangan gawang pertama di pertandingan, José memberikan instruksi untukku dan Branislav Ivanovic,” kata Schwarzer.

“Dia bilang, ‘kamu ambil bolanya, dan Brana (Ivanovic), kamu bergerak sejauh mungkin ke garis pinggir lapangan. Mark, atur sedemikian rupa seolah-olah kamu mau mengoper dan bermain dari belakang. Lalu Brana, kamu angkat tangan seolah-olah bilang kamu minta bolanya.’”

“Itu adalah rencananya, untuk membuang-buang waktu. Karena mereka (Liverpool) ingin pertandingannya berjalan dengan tempo tinggi, mau langsung mengambil bola, mau membombardir gawang, seperti yang mereka lakukan sepanjang musim dengan sangat suksesnya. Jadi instruksinya adalah untuk menunda waktu sebisa mungkin sampai wasit memeringatkanmu,” lanjut Schwarzer.

Lebih lanjut, instruksi Mourinho sebenarnya adalah: “Lads, aku ingin setidaknya dua kartu kuning untuk mengulur waktu sebelum turun minum.” Selain kartu kuning, Mourinho mendapatkan semua yang dia instruksikan dari para pemainnya.

Instruksi Mourinho langsung kelihatan jelas. Schwarzer sampai menghabiskan 15 detik sebelum goal-kick pertamanya, César Azpilicueta menunda waktu ketika throw-in, Schürrle memainkan back-pass dari tengah lapangan. Para penonton di Anfield yang tadinya bergairah dengan semangat, berubah menjadi berisik marah-marah.

Di menit ketiga para pemain Liverpool sudah melayangkan komplain ke wasit, Martin Atkinson. Di menit keempat Luis Suárez bertanya marah kepada Azpilicueta kenapa mereka membuang-buang waktu. Di menit keenam Gerrard dan Jon Flanagan bergulat untuk mengambil bola lemparan ke dalam yang diambil Mourinho.

Semua pemain, pelatih, dan penonton Liverpool terpancing energi negatif yang dirancang Mourinho. Padahal kalau dipikir-pikir, Liverpool bisa saja santai; imbang juga sudah cukup bagi mereka untuk memperlebar pintu juara. Liverpool tidak perlu menang, tapi maunya menang.

Terpelesetnya Gerrard Adalah Sesuatu yang Kompleks

Sepanjang babak pertama energi yang dipancarkan Liverpool tidak bagus. Namun momen kuncinya terjadi pada injury time babak pertama.

“Atkinson memberikan beberapa menit waktu tambahan untuk babak pertama. Kami tetap berusaha memecah kebuntuan,” tulis Gerrard di bukunya. Flanagan mengoper bola kepada Joe Allen yang mengoper lagi kepada Philippe Coutinho. Pemain Brasil itu berlari melintasi garis tengah sementara semua pemain Liverpool di depannya dibayangi dengan ketat, sehingga dia berbalik dan memainkan bola kembali ke belakang kepada Mamadou Sakho.

Di belakang ada Sakho, Gerrard, dan Martin Škrtel berdiri satu garis sejajar. Ba dan John Obi Mikel menjadi dua pemain Chelsea terdekat.

Ada alasan kenapa Gerrard berposisi terlalu dalam pada situasi itu. Michael Cox membeberkannya pada bukunya yang terkenal, The Mixer: The Story of Premier League Tactics, from Route One to False Nines.

Menjelang musim dingin sebelumnya, Gerrard tak terlalu senang dengan performanya yang lebih menyerang sebagai gelandang. Dia meminta Rodgers memerhatikan video dan statistik untuk meningkatkan performanya, yang sejujurnya sebenarnya sudah bagus pada saat itu. Rodgers menuruti keinginan kaptennya itu.

“Statistik yang melibatkan kemampuan fisik Gerrad memuaskan, tapi Rodgers mengindetifikasi sebuah masalah dari cara kaptennya menerima penguasaan bola,” tulis Cox di bukunya.

“Itu jelas bisa dilihat jika pergerakan kepalaku (head movement) kurang. Pergerakan itu sangat penting karena gelandang harus memiliki mata di belakangnya, bisa melihat situasi lapangan secara utuh,” kata Gerrard. Tinjauan itu membuat Gerrard meminta peran yang lebih dalam di mana dia bisa menemukan banyak space.

Sakho kemudian mengoper bola kepada Gerrard, yang dia deskripsikan sebagai “sekadar rutinitas, operan mendatar yang sangat biasa” di otobiografinya. Ba berlari diagonal menuju Gerrard, berusaha menutup pilihan-pilihan operan Gerrard. Pada saat menerima operan dari Sakho, Gerrard terpeleset.

Dalam The Mixer, Cox menyebut terpelesetnya Gerrard adalah sesuatu yang kompleks. “Terpelesetnya Gerrard adalah error kedua,” tulis Cox.

Menurut Cox, kesalahan pertama Gerrard terjadi sepersekian detik sebelumnya, ketika dia melepaskan pandangannya dari bola sehingga bolanya lewat di bawah kakinya. Sebelum bola datang, Gerrard sudah terlebih dahulu mendongak dua kali, mengecek opsi operannya dan posisi Ba.

“Namun kemerdekaannya mengambil pandangan (mendongak) ketiga, itu menghancurkannya,” tulis Cox. Gerrard kemudian mengaku kalau dia lebih berkonsentrasi kepada Ba alih-alih kepada bola. Itu yang membuatnya gagal mengontrol bola dan terpeleset. Bola kemudian diambil Ba dan mencetak gol mudah ke gawang Simon Mignolet.

Hal yang digarisbahawi Cox di sini adalah bahwa alasan Gerrard bermain di posisi yang lebih dalam itu karena kemauannya sendiri ketika dia merasa pergerakan kepalanya butuh peningkatan. Pada momen kunci itu, pergerakan kepalanya sendiri yang membuatnya kehilangan trofi Premier League.

Setelah itu Gerrard berusaha terlalu keras menebus kesalahannya. “Aku berlari ke depan terlalu sering, mencoba menembak dari sudut yang impossible,” aku Gerrard. Pada akhirnya Chelsea berhasil menambah gol pada injury time babak kedua. Liverpool 0, Chelsea 2.

Petualangan Mengejar Selisih Sembilan Gol

Pada hari yang sama dengan Gerrard terpeleset, Man City menang 2-0 di kandang Crystal Palace. Kemudian pada “pertandingan tabungan” The Citizens selanjutnya melawan Everton (rival Liverpool) di Goodison Park, Ross Barkley sempat membuat Everton unggul 1-0, seolah ingin membantu rival mereka juara. Namun akhirnya City menang 3-2.

Itu artinya dengan sama-sama dua pertandingan tersisa, Man City dan Liverpool sama-sama memiliki 80 poin. Bedanya Man City memiliki sembilan gol lebih banyak daripada Liverpool.

Man City dijadwalkan melawan Aston Villa (kandang) dan West Ham United (kandang), sedangkan The Reds melawan Palace (tandang) dan Newcastle (kandang). “Lawan Man City adalah dua kesebelasan yang tak punya alasan untuk menang dan sudah sibuk memikirkan liburan musim panas,” kata Gerrard.

Gerrad terdengar pesimis, tapi tidak dengan Suárez. Pada pertandingan tandang melawan Palace, Liverpool bisa unggul 3-0 sampai menit ke-53. Itu artinya “hanya” butuh enam gol lagi untuk menyamai selisih gol City.

“Entah bagaimana ide mengejar selisih gol Manchester City yang superior terlihat mungkin terjadi,” kata Suárez. “Itu yang ada di kepala kami: gol, gol, gol... kami pikir kami bisa melakukannya.”

Liverpool kembali terlihat jemawa. Daniel Sturridge yang ingin melakukan perayaan gol di gol kedua sampai-sampai disuruh cepat-cepat kembali ke sisi lapangan Liverpool agar sepak mula bisa cepat dilakukan (bisa dilihat pada waktu 2:01 di video di bawah). Setelah gol ketiga, Suárez juga mengambil bola dengan buru-buru dari gawang Palace (2:24 pada video di bawah). Sebuah tindakan yang biasa dilakukan oleh pemain atau kesebelasan yang sedang mengejar ketertinggalan gol.

Namun hal yang terjadi berikutnya di luar dugaan. Palace mampu mencetak tiga gol dalam waktu 11 menit terakhir. Palace 3, Liverpool 3.

“Saat peluit akhir pertandingan ditiup, aku jatuh tersimpuh (4:50 pada video di bawah),” kata Gerrard di buku otobiografinya. “Luis Suárez, yang menangis tak berdaya, menarik kaus putihnya menutupi wajah. Kamera televisi dan fotografer mengerubungiku dan Luis, berusaha menangkap derita terakhir kami. Aku mendorong mereka semua menjauh.”

Liverpool jatuh dari kesombongan mereka sendiri. Pendukung Liverpool hampir pasti mengingat momen itu, dan tak bisa melupakannya kecuali Liverpool bisa juara Premier League, kapanpun itu.

Dari kejadian-kejadian ini, kita tentu tersadar untuk tidak terlalu jemawa. Liverpool tak perlu mengalahkan Chelsea, tapi mereka berusaha keras melakukannya. Liverpool tak perlu menang 10-0 melawan Palace, tapi mereka berusaha keras melakukannya.

Itu semua pada akhirnya membuyarkan peluang mereka untuk juara. Dan dari semua momen di atas, yang paling ikonik tetap saja terpelesetnya Gerrard.

Dalam buku otobiografinya, Gerrard mengaku jika dia sering terpeleset selama hidupnya: “Aku terpeleset saat menuruni tangga. Aku pernah terpeleset di lantai dapur. Aku terpeleset di lapangan sepakbola berkali-kali, tapi tak pernah sesial ini, tak pernah harus dibayar seharga sebuah gol dan tiga poin krusial.”

Jika memang Gerrard sering terpeleset, terpelesetnya dia saat menghadapi Chelsea pada 2014 adalah terpeleset yang akan terus awet, tak pernah basi untuk diingat, dijadikan pelajaran, maupun diledek, untuk selamanya; bahkan kalaupun Liverpool berhasil juara pada suatu hari nanti.

Dan hey, ini bukan Al-Fatihah, jadi tak perlu dijawab “Amin”. Entah kamu ingin mengamini kepeleset lagi atau Liverpool juara.

Komentar