Duvan Zapata Menghapus Label Figuran

Cerita

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Duvan Zapata Menghapus Label Figuran

Setiap kali menyebut penyerang-penyerang ganas di kancah Serie A, nama-nama seperti Andrea Belotti (Torino), Edin Dzeko (AS Roma), Mauro Icardi (Internazionale Milano), Ciro Immobile (Lazio), Dries Mertens (Napoli), Fabio Quagliarella (Sampdoria), Paulo Dybala dan Cristiano Ronaldo (Juventus), pasti dilambungkan para tifosi. Kemampuan mereka dalam menggetarkan jala lawan memang tak perlu diragukan lagi.

Namun khusus di musim 2018/19 kali ini, ada satu nama lain yang melejit sebagai mesin gol eksepsional: Duvan Zapata. Penyerang Atalanta berpaspor Kolombia ini datang dengan status pinjaman plus opsi penebusan dari Sampdoria. Pria berumur 27 tahun tersebut membelalakkan mata khalayak lewat gol-gol dari kepala dan kakinya.

Selama kurang lebih dua bulan pamungkas, nama Zapata begitu sering dibicarakan via media sosial karena gelontoran golnya yang seolah tak mengenal kata berhenti. Menengok laga-laga yang dilakoni La Dea sejak Desember 2018 kemarin memang tak ada satu pertandingan pun yang dilalui Zapata tanpa mencatatkan namanya di papan skor. Hebatnya lagi, ketajamannya itu tak muncul di laga melawan tim papan tengah atau papan bawah Serie A saja yang di atas kertas lebih mudah dibobol tapi juga partai-partai berat menghadapi para jagoan semisal Napoli, Lazio, Juventus, dan Roma.

Di ajang Serie A, Zapata kini sudah berdiri sejajar dengan megabintang Juventus asal Portugal, Cristiano Ronaldo, karena sama-sama mengoleksi 15 gol. Praktis, catatan mereka hanya kalah dari Quagliarella yang punya tabungan satu gol lebih banyak. Akan tetapi catatan Zapata terasa lebih manis dibanding Ronaldo karena dari seluruh gol itu cuma satu yang berasal dari titik putih sedangkan eks penggawa Real Madrid itu memborong lima gol penalti. Fantastis? Tentu saja karena tak ada satu orang pun yang menduga pencapaian ini, bahkan mungkin oleh Zapata sendiri.

Semenjak pindah ke Negeri Spaghetti di musim 2013/14 lalu, Zapata lebih identik dengan status figuran karena saat memperkuat Napoli, dirinya tak lebih dari seorang pelapis. Situasi serupa ditemuinya lagi ketika hijrah ke Udinese pada musim 2015/16. Walau sempat mencicipi nikmatnya peran utama, ketajaman Zapata tak terkatrol sampai level puncak. Kepindahannya ke Sampdoria per musim 2017/18 kemarin juga memaksa pemilik 5 caps bersama tim nasional Kolombia itu puas dijadikan deputi Quagliarella. Wajar kalau Zapata sangat jarang beroleh sorotan publik.

Gelontoran gol yang lahir secara konsisten dari kepala serta kakinya saat ini bikin mantan penggawa Estudiantes tersebut menorehkan sejumlah rekor. Antara lain jadi pemain pertama Atalanta yang berhasil mencetak gol dalam delapan partai secara beruntun di seluruh kompetisi yang mereka ikuti dan menjadi sosok pertama setelah Hasse Jeppson (penyerang La Dea di era 1950-an) yang mampu mengukir quattrick buat Atalanta di sebuah laga Serie A.

Pundi-pundi gol Zapata bertambah semakin banyak usai Kamis dini hari kemarin (31/1) menyudahi perlawanan sang juara bertahan, Juventus, via skor telak 3-0 di babak perempatfinal Coppa Italia. Lelaki kelahiran Cali tersebut mengemas sepasang gol di menit 39 dan 86 guna melengkapi gol yang dibuat Timothy Castagne pada menit 36. Total, jumlah gol yang ada di rekeningnya kini mencapai 20 buah. Bagi Zapata sendiri, hal itu merupakan rekor pribadinya dalam semusim selama berkarier sebagai pesepakbola.

"Zapata adalah penyerang tengah yang fantastis. Bila sanggup melanjutkan tren positifnya ini, Zapata akan diperhitungkan sebagai salah satu penyerang terbaik di Eropa," puji Gasperini seperti dilansir football-italia.

Gara-gara penampilannya yang luar biasa, Zapata pun berulangkali dicatut akan hengkang dari Stadion Atleti Azzurri d`Italia pada bursa transfer musim dingin kali ini. Salah satu kesebelasan yang dirumorkan ngebet pada Zapata adalah West Ham United. Namun konon, tawaran The Hammers senilai 40 juta euro ditolak mentah-mentah oleh pihak Atalanta.

Menariknya, berada di atas awan tak membuat Zapata jadi sosok yang lupa daratan. Dalam sejumlah wawancara, dirinya tak pernah menyebut bahwa pencapaiannya sejauh ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Secara terbuka, Zapata justru mengungkapkan kalau semua ini adalah buah dari kerja keras selama latihan, bantuan rekan-rekannya di atas lapangan serta masukan-masukan berharga dari Gasperini.

"Gomez dan Ilicic punya kemampuan yang luar biasa. Aku selalu bicara pada diriku sendiri usai latihan, jika aku tak bisa mencetak gol selama bermain bersama mereka, maka aku takkan pernah melakukannya. Aku belajar banyak hal dari mereka serta Gonzalo Higuain (saat bersama-sama membela Napoli) dan Quagliarella (ketika memperkuat Sampdoria). Mesti aku akui bahwa semua itu adalah keistimewaan yang wajib aku manfaatkan," papar Zapata seperti dikutip dari laman resmi FIFA.

Bagusnya penampilan Zapata berimbas pada apiknya performa Atalanta sejauh ini. Selain lolos ke semifinal Coppa Italia untuk dua musim berurutan, sekarang mereka pun duduk nyaman di peringkat tujuh classifica dengan bekal 32 poin. Hal tersebut membuka peluang bagi anak asuh Gasperini untuk memperebutkan tiket ke kompetisi antarklub Eropa di musim mendatang. Tak sekadar ajang kelas dua macam Liga Europa tapi juga kompetisi level wahid, Liga Champions. Pantas rasanya bila seluruh elemen yang ada di tubuh La Dea kini menyemai harapan besar.

Akankah Zapata bisa menjawab harapan-harapan itu sekaligus melenyapkan label figuran yang melekat padanya? Sungguh layak ditunggu.

Komentar