Higuain di Persimpangan

Cerita

by Gilang Dejan (Gilde)

Gilang Dejan (Gilde)

Mengeja dan Menulis Sepakbola.

Higuain di Persimpangan

Gonzalo Higuaín pernah berada di persimpangan jalan antara menuju London atau Milan pada bursa transfer musim panas 2018. AC Milan datang sebagai tim yang paling serius memboyongnya. Tentunya hal tersebut bukanlah pilihan yang mudah bagi Pipita— julukan Higuaín—sebab dia harus rela meninggalkan panggung Liga Champions UEFA dan hanya bermain di Liga Europa musim 2018/19.

Pipita paham dengan segala risiko yang akan menimpanya jika dia bermain di kesebelasan yang tengah paceklik gelar. Namun dengan perlakuan Juventus kepadanya yang baru saja mendapatkan sang mega bintang dari Portugal, Cristiano Ronaldo, dia merasa berjalan sendirian. Higuaín butuh banyak motivasi di situasi sulit seperti itu. Maka dia pun berkilah jika di Chelsea yang menginginkannya hanya Maurizio Sarri yang mana adalah mantan pelatihnya di Napoli. Sedangkan di Milan, semua orang menginginkannya.

"Saya punya rasa hormat yang besar untuk Sarri, tapi cuma dia satu-satunya yang menginginkan saya di Chelsea. Di sini, di Milan, semuanya menginginkan saya. Jadi itulah mengapa saya memilih Milan. Motivasi dan keyakinan yang mereka perlihatkan di Milan adalah hal yang sangat penting," ungkapnya seperti dikutip dari ESPN.

Namun hanya lima bulan kisah manis Il Pipita dan Rossoneri berlangsung. Kini hubungan keduanya mulai mengalami keretakan. Mencetak delapan gol dalam 22 laga tentu bukanlah catatan yang sebanding dengan upah Pipita yang mencapai 9,5 juta euro (sekitar 153 miliar rupiah). Hal demikian cukup membuat petinggi Milan kecewa, pun dengan para tifosi yang dikenal tidak sabaran.

Bukan hanya pihak-pihak Milan yang akrab dengan narasi kecewa akhir-akhir ini, Higuaín pun mengalami hal serupa. Final Piala Super Italia yang berlangsung di Jeddah, Arab Saudi, jadi puncak kekecewaan kedua belah pihak. Tampil sebagai pemain pengganti di setengah jam terakhir laga, Higuaín tak memberikan perbedaan sama sekali. Dia malah menunjukkan sisi emosional dan rasa frustrasinya atas keputusan wasit Luca Bianti yang abai terhadap kesempatan penalti Milan.

Itu jadi kali kedua Pipita meledak-ledak di pertandingan melawan Juventus. Sebelumnya dalam lanjutan Liga Seri A pekan ke-12 dia mendapatkan kartu merah. Dua menit setelah gol Ronaldo, dia terlibat duel dengan Mehdi Benatia dan kartu kuning pun keluar dari saku wasit, Paolo Mazzoleni. Tak terima, Higuaín kembali melakukan protes keras yang berujung pada kartu kuning kedua. Muramnya lagi, dia gagal mengeksekusi penalti di pertandingan tersebut.

"Ketika bermain lawan bekas kesebelasan, tentu ada perasaan berbeda. Saya mengambil tanggung jawab, saya tahu itu tak harus terjadi, tapi saat itu kami kalah dan kami bukanlah robot. Kami adalah manusia biasa, punya emosi," ucap Higuaín, dikutip dari Sky Sports Italia.

Baca juga: Memahami Kartu Merah Pipita, Memahami Manusia

Merujuk dua pertemuan tersebut, Higuaín seolah tak bisa lepas dari bayang-bayang I Bianconeri dan oleh sebab itulah penampilannya menurun drastis di Milan. Serupa dengan saat dia hengkang dari Napoli, rasio golnya sempat menurun. Di saat bersamaan, tifosi di kota Naples begitu marah kepadanya; mereka membakar jersi Higuaín, bahkan dari foto yang beredar terlihat tifosi membuang jersi bertuliskan namanya ke toilet.

Di Napoli, dengan 36 golnya dalam satu musim, dia pernah menjadi capocannoniere dengan melewati rekor gol yang dibuat oleh Gunnar Norhdal (35 gol dari 37 pertandingan bersama AC Milan di Serie A 1949/50) yang sudah bertahan selama 66 tahun. Namun setelah itu, gelontoran golnya terus menurun dari musim ke musim.

Musim 2016/17 bersama Juventus, dia mencetak 24 gol di Serie A dan 32 gol di seluruh ajang. Semusim berselang, dia hanya mampu menghimpun 16 gol di Serie A dan 23 gol di seluruh ajang. Bahkan musim ini bersama Rossoneri catatan golnya bisa dibilang menjadi yang paling buruk sepanjang berkarier di Italia. Berdasarkan data tersebut, Higuaín tampak membutuhkan suasana baru agar tidak tertekan dengan bayang-bayang masa lalu (Juventus dan Napoli). Pipita bisa memilih opsi mencari kompetisi baru.

Kutukan Nomor Sembilan di Milan

Selain persoalan terkait perpisahan yang tidak baik dengan kesebelasan lama, Higuaín juga punya masalah lain. Di Milan, warisan nomor punggung dari Filippo Inzaghi masih menjadi misteri tersendiri. Setiap pemain yang datang dan menggunakan nomor punggung sembilan selalu sial. Hal tersebut berdampak pada raihan gol sang pemain. Kini nomor tersebut digunakan Pipita. Padahal di awal musim, juru gedor berpaspor Argentina ini sempat tak yakin terkait mitos kutukan tersebut.

"Saya sudah mengenakan beberapa jersi yang membawa beban berat, jadi jersi nomor sembilan di sini bukanlah masalah," kata Higuaín seperti dikutip dari Reuters.

Pipita bukan pemain pertama yang mendapatkan kejanggalan ini. Bersama nomor ini, Alexandre Pato (2012/13) hanya membukukan empat laga tanpa mencetak satu gol pun, di musim berikutnya Alesandro Matri hanya mampu menceploskan satu gol dalam 15 laga, pun dengan Fernando Torres dalam 10 laga pada musim 2014/15 yang hanya sanggup mencetak satu gol.

Nasib buruk tak berhenti di Torres. Pada Januari 2015, tongkat estafet nomor punggung sembilan ini dilanjutkan oleh Mattia Destro. Koleksi golnya hanya tiga dari 15 penampilan. Hal buruk tersebut terus berlangsung hingga 2015/16 ketika Luiz Adriano hanya mencetak 4 gol dalam 26 pertandingan.

Sejauh ini hanya Gianluca Lapadula yang boleh dibilang sebagai pemain terbaik saat mengenakan nomor warisan Inzaghi ini, sebab ia berhasil mengumpulkan 8 gol dalam 27 kali merumput di Serie A. Terakhir juga ada nama Andre Silva di musim 2017/18 yang mencetak dua gol dalam 16 kali merumput.

Bisa dibilang, kutukan ini terus menyerang siapapun yang menggunakan nomor tersebut tanpa melihat striker dengan banderol selangit, pemain bintang, maupun pemain ingusan. Siapapun pemain anyar yang berani menggunakan nomor punggung sembilan di Milan harus siap memikul beban dibandingkan dengan para legenda seperti Gunnar Nordahl, Marco van Basten, Jose Alfatini, George Weah, Patrick Kluivert, hingga Filippo Inzaghi.

Segera Reuni dengan Sarri

Maurizio Sarri mengaku tidak menghabiskan energinya untuk bursa transfer pada Januari ini. Eks pelatih Napoli itu hanya fokus di lapangan. Buktinya saat negosiasi Christian Pulisic rampung beberapa waktu silam, Sarri mengaku bahwa tak tahu menahu soal negosiasi tersebut. Pun saat dikonfirmasi oleh Sky Sports terkait opsi untuk mendatangkan eks anak buahnya di Napoli, Gonzalo Higuaín.

"Saya berbicara dengan [Direktur Chelsea] Marina [Granovskaia] dua pekan lalu dan dia tahu pendapat saya tentang cara meningkatkan tim. Kemudian saya memutuskan untuk fokus di lapangan, pada pertandingan, pada latihan. Sekarang saya yakin karena saya tahu Marina bekerja sangat keras tetapi saya tidak tahu apa-apa tentang pasar [transfer] karena saya ingin fokus pada pertandingan,” kata Sarri seperti dikutip dari Sky Sports.

Baik di Inggris maupun di Italia sendiri kabar Pipita menuju Stamford Bridge kian santer terdengar. Kabarnya Pipita sudah terbang menuju London demi menyelesaikan kepindahannya. Kedua belah pihak sebenarnya berupaya merampungkan negosiasi tersebut sebelum pertandingan melawan Arsenal semalam (19/01) di mana Chelsea kalah 0-2. Namun rencana itu gagal terlaksana.

Pun di Italia, Leonardo (Direktur Olahraga AC Milan) terus bergerak dengan mempelajari berbagai hal detail terkait Financial Fair Play demi bisa mencari pengganti sang striker. Dirinya mulai sibuk bernegosiasi dengan pihak Genoa untuk memboyong striker muda berusia 23 tahun asal Polandia, Krzysztof Piatek, yang kini tengah bersaing dengan Cristiano Ronaldo di daftar pencetak gol terbanyak Serie A 2018/19.

Jika Piatek berhasil diboyong, itu dianggap akan bisa lebih memuluskan lagi transfer Higuaín ke Chelsea. Sementara jika Higuaín sudah berseragam Chelsea, itu juga akan semakin memuluskan transfer Álvaro Morata dari Chelsea ke Atlético Madrid. ini mengingatkan situasi musim lalu untuk transfer Olivier Giroud (Arsenal), Mitchy Batshuayi (Chelsea), dan Pierre-Emerick Aubameyang (Borussia Dortmund) yang akhirnya saling bertukar seragam.

Namun apapun yang terjadi pada transfer Piatek, Higuaín, dan Morata, tifosi Milan hanya bisa menunggu Pipita segera menyelesaikan musim rumitnya di Serie A, baik dengan opsi mencari suasana baru di Liga Primer bersama Chelsea atau memperbaiki penampilannya bersama AC Milan.

Komentar