Memulai Siklus Baru Bersama Brahim Diaz

Cerita

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Memulai Siklus Baru Bersama Brahim Diaz

Babak belur. Label tersebut rasanya amat cocok untuk disematkan kepada Real Madrid sampai musim kompetisi 2018/2019 berjalan separuhnya. Kepergian Zinedine Zidane dari bangku pelatih, mengubah kapasitas Madrid dari sebuah tim kuat yang sukar ditaklukkan, menjadi kesebelasan yang rapuh dan mudah dibenamkan.

Tak percaya? Silakan tengok papan klasemen sementara La Liga dan lihat di mana Sergio Ramos beserta kawan-kawan berada.

Inkonsistensi permainan yang akut gara-gara transisi yang kurang paripurna dari era Zidane ke Julen Lopetegui lalu Santiago Solari di kursi pelatih serta berbagai macam intrik yang terjadi di sektor internal membuat tim dengan seragam utama berwarna putih-putih ini tertinggal jauh dari para pesaing. Alhasil, banyak pengamat yang mulai mengeluarkan Los Blancos dari kandidat peraih titel La Liga musim 2018/2019. Kalaupun Madrid masih menargetkan gelar juara, kans tersebut cuma tersedia di ajang Copa del Rey atau Liga Champions UEFA.

Makin pelik, keputusan Zidane buat angkat kaki dari Stadion Santiago Bernabeu juga dibarengi oleh hijrahnya sang megabintang andalan, Cristiano Ronaldo. Manajemen Los Blancos tak kuasa menahan keinginan Ronaldo untuk ke Juventus dan godaan uang senilai 100 juta euro yang ditawarkan oleh tim asal Italia, Juventus. Walau mengundang tanya, khususnya dari para suporter setia, banyak yang meyakini bahwa Madrid jadi pihak yang diuntungkan dari transfer tersebut lantaran di usianya yang sudah menginjak 33 tahun, masih ada kubu yang mau menebus Ronaldo dengan nilai fantastis tersebut.

Namun seperti lenyapnya figur Zidane dari tepi lapangan, hengkangnya Ronaldo langsung menggerus kekokohan Madrid dengan memperlihatkan lubang menganga di sektor depan. Siapapun tahu, dalam rentang 9 musim pengabdiannya, Ronaldo selalu muncul sebagai mesin gol utama Los Blancos. Keterampilannya dalam mencetak gol, entah lewat kepala atau kedua kaki, memang tiada tara. Praktis, rekan-rekan setimnya begitu kepayahan untuk mengimbangi keberingasan Ronaldo.

Keyakinan pihak manajemen bahwa Madrid akan baik-baik saja sebab sektor depan mereka masih dihuni striker dan winger kelas wahid plus berpotensi seperti Gareth Bale, Karim Benzema, Mariano Diaz, Lucas Vazquez, dan Vinicius Junior, berujung sendu. Tugas mencetak gol memang sanggup mereka lanjutkan, tapi sisi garangnya merosot drastis.

Sadar bahwa ada yang mesti dibenahi, manajemen Madrid pun rela merogoh kocek untuk mendatangkan pemain anyar. Terbaru, mereka sepakat untuk memboyong pemuda Spanyol berusia 19 tahun yang dimiliki Manchester City, Brahim Diaz, dengan biaya sebesar 17 juta euro dan langsung diganjar kontrak sampai Juni 2025. Tidak berposisi natural sebagai striker, tapi Diaz punya kemampuan spesial dalam mengokupansi lini serang. Dia dapat berperan sebagai gelandang serang, second striker, maupun winger dengan fasih.

Walau begitu, ada satu pertanyaan besar yang mengiringi kedatangan Diaz ke Valdebebas, markas latihan Los Blancos. Sebagus apa bocah yang satu ini hingga Madrid rela mengeluarkan duit dalam jumlah besar untuk merekrutnya?

Tumbuh di akademi Malaga, kesebelasan asal kota kelahirannya, Diaz memperlihatkan potensi yang ciamik sedari masih belia. Berbekal teknik olah bola mumpuni, kemampuannya dalam menggiring bola bahkan disamakan dengan Lionel Messi dan David Silva, plus kecerdasan dalam bermain, mengantarnya terbang lebih tinggi dibanding rekan-rekan seusianya.

Kemampuannya itu sendiri memikat perhatian dari sejumlah pemandu bakat tim-tim raksasa Eropa. Barcelona dan City adalah kubu yang paling bernafsu mencomotnya. Namun lewat proses yang cukup panjang dan rumit, The Citizens akhirnya melaju sebagai pemenang dalam duel memperebutkan Diaz. Mahar yang kudu dikirimkan manajemen City ke Malaga pun tidak murah yaitu 400 ribu euro. Padahal saat itu Diaz baru berusia 14 tahun! Sebuah bukti kalau potensi Diaz dihargai tinggi.

Tatkala membela tim junior City, kemampuannya itu semakin terasah. Setahap demi setahap, Diaz pun lulus dari sejumlah tim kelompok usia. Hingga akhirnya, pada tanggal 21 September 2016 silam, Diaz melakoni debutnya di tim utama City yang saat itu sudah ditukangi Pep Guardiola manakala The Citizens bersua Swansea City di Piala EFL.

Perlahan-lahan, Guardiola yang tidak anti kepada pemain-pemain belia dengan kualitas menjanjikan, makin sering memberi Diaz kesempatan bermain bareng tim utama, khususnya di musim 2017/2018 kemarin. Mengacu pada statistik, dirinya diturunkan Guardiola di 10 laga dari seluruh ajang yang diikuti City. Kendati minimal, kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Diaz.

Di awal musim 2018/2019, hal serupa kembali diterapkan Guardiola terhadap Diaz. Suporter City pasti takkan lupa aksi brilian Diaz dalam laga Piala EFL melawan Fulham di Stadion Etihad. Dalam kemenangan 2-0 itu, seluruh gol The Citizens diborong Diaz. Bersama Phil Foden, namanya pun semakin melambung sebagai youngster City bermasa depan paling cerah.



Akan tetapi, sesaknya lini tengah dan depan City yang dihuni nama-nama seperti Sergio Aguero, Kevin De Bruyne, Gabriel Jesus, Riyad Mahrez, duo Silva, dan Raheem Sterling, membuat kesempatan Diaz merumput amat minim. Hal inilah yang menimbulkan hasrat pindah di dalam hatinya. Beruntung, keinginan itu disambut oleh kesebelasan sekelas Madrid yang dinilai Diaz sebagai tim terbaik di dunia.

"Aku tidak berpikir dua kali saat mengetahui bahwa Madrid menginginkanku. Aku ingin sering-sering merumput dengan kostum Madrid, dan memberi kontribusi maksimal. Menjadi bagian dari kesuksesan Madrid pada masa yang akan datang merupakan mimpiku", aku Diaz seperti dikutip dari realmadrid.com.

Bergabungnya Diaz, sejatinya menunjukkan satu upaya Madrid dalam berbenah. Wajib diakui, Los Blancos sedang memulai siklus baru dengan banyaknya pemain muda di tubuh skuat. Selain Diaz, ada pula Marco Asensio, Dani Ceballos, Marcos Llorente, Alvaro Odriozola, Sergio Reguilon, Federico Valverde, dan Vinicius. Semua pemain tersebut berumur 24 tahun ke bawah.

Sekarang atau dalam jangka waktu 1-2 musim mendatang, langkah Madrid mungkin terseok-seok dan bakal jadi bahan tertawaan para rival. Namun ketika pemain-pemain di atas, termasuk Diaz, telah sampai di level kematangan yang sempurna sehingga siap menerima tongkat estafet dari para senior macam Bale, Benzema, Marcelo, dan Ramos, Madrid pasti menyalak lagi dan bergegas merebut apa yang hilang dari genggaman mereka.

foto: Super Sport

Komentar